Hpi Bandung West Java – Indonesia Tourist Guide Association (ITGA)

Himpunan Pariwisata Indonesia DPD Jawa Barat


Tinggalkan komentar

HAY OVERLANDER GUIDE! “INI DIA INFO CANDI CANDI DI JAWA”


Dalam menjalankan tugasnya sebagai guide overland sering kita dihadapkan pada beragam dan menjelimetnya informasi yang harus disimpan baik baik dalam otak kita, belum lagi susahnnya mencari sebuah tulisan yg informative dan lengkap. Dengan bangga namun dengan kerendahan hati saya sajikan tulisan berikut yang merupakan sebuah hasil retype dari sebuah buku lama. Mudah mudahan informasi ini dapat memberikan warna tersendiri dan melengkapi kurangnya informasi yang sering terjadi di sana sini.
Menjelaskan informasi candi kepada wisatawan layaknya sebuah aktifitas fitness, dimulai dari yang paling ringan sampai yang terberat. Katakan lah ini sebuah fitness otak yang memerlukan pengulangan demi melekatkan informasi kita kedalam alam bawah sadar, sehingga informasi itu bagaikan sebuah nomor hanphone yg apabila ditekan itu nomor pacar kita maka yang menerima bukan calon mertua kita, akan tetapi calon istri kita. “maaf ga bisa lupain guyon”.

Karena pembahasan yg ini sangat sulit maka perlu diingat syaratnyapun lebih berat untuk memahami ini, ingin tahu syaratnya. check this ou:
1. Minta ampunan dosa kepada ibu bapak kita, baik yg masih ada maupun yg sudah tiada.
2. khusus untuk guide yg masih punya utang iuran anggota kpd HPI segeralah bayar. Hihihihi
3. Berjanji saling menyayangi antar guide dan menjunjung tinggi aturan HPI
4. Berteriak keras keras ” I am a real guide ” 33 x
” I am a legal guide” 33 x
” I must be a professional guide” 99 x
5. Minum air teh hangat yg banyak supaya tidak serak. hahahaha

Okay brother n sister
‘let’s get it on”

Daftar Isi
Pengantar
Pendahuluan

CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH SELATAN
• Candi Prambanan
• Candi Kalasan
• Candi Sewu
• Candi Lumbung
• Cnadi Plaosan
• Candi Sojiwan
• Kraton Boko
• Candi Borobudur
• Candi Mendut
• Candi Pawon
• Candi Sukuh

CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH UTARA
• Candi-Candi Di Dataran Tinggi Dieng
• Candi Gedong Songo

CANDI-CANDI DI JAWA TIMUR
• Candi Badut
• Candi Kidal
• Candi Jago
• Candi Singosari
• Candi Jawi
• Candi Panataran
• Candi Rimbi
• Candi Ratu

CANDI-CANDI DI LUAR JAWA
• Kelompok Candi Muara Takus
• Kelompok Candi-Candi Gunung Tua
• Kelompok Candi Padas di Gunung Kawai-Tampak Siring

Ciri-ciri Candi Langgam Jawa Tengah
1. Bentuk bangunannya tambun
2. Atapnya nyata berundak-undak
3. Puncaknya berbentuk ratna atau stupa
4. Gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara
5. Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis
6. Letak candi ditengah halaman
7. Kebanyakan menghadap timur
8. Kebanyakan terbuat dari batu andesit
• Candi Prambanan
Sebelum kita melihat bangunan candi satu-persatu, terlebih dahulu kita perhatikan sebentar keadaan alam sekitarnya. Jika pada cuaca baik dan kita duduk di tengah candi di bawah pohon Ketapang yang rindang, kita akan merasakan udara yang tidak panas, tidak dingin, tidak basah, tidak kering atau dengan perkataan lain udaranya sejuk dan nyaman.
Bila kita menengok ke Gungung Merapi yang kebiru-biruan terlihat bermahkotakan awan yang putih. Memandang ke selatan terlihat deretan pegunungan seribu yang merupakan tembok penghalang dari angin laut kencang. Tanaman padi tumbuh subur menghijau di tanah yang datar dan subur. Memang, tanah daerah Prambanan termasuk subur karena letaknya di kaki Gunung Merapi. Maka tidak salah jika banyak onderneming-onderneming memilih daerah tersebut, untuk usaha perkebunan.Menilik dari pemilihan tempat yang demikian itu, kita dapat membayangkan bertapa pandainya nenek moyang kita memilih tampat untuk mendirikan candi-candinya. Sebelum melihat dan meneliti candi, kita lihat dahulu maket yang terdapat di kantor Dinas Purbakala yang terletak di sudut sebelah timur lapangan candi. Maket tersebut seperti tertera di bawah ini:

Maket tersebut menggambarkan keadaan candi secara keseluruhan, sebelum mendapat kerusakan atau dengan kata lain sebagai pola untuk pembangunan kembali seluruhnya. Sesudah melihat maket dan kemudian melihat candi dalam keadaan sekarang, kita akan membandingkan serta mengetahui kekurangannya. Begitu juga dengan melihat maket, kita akan menggambarkan keadaan semula bentuk candi, kemudian baru dapat menetapkan menghargai nilainya.
Maket yang kita lihat mengambarkan rekonstruksi, seperti sudah diterangkan di atas, dari ujud yang asli dan terdiri dari latar persegi panjang dikelilingi tembok batu berbentuk bujur sangkar dengan garis tengah agak menyimpangbeberapa derajat dari jarum kompas. Latara belakang yang dikelilingi tembok ini, luasnya kira-kira 390 meter persegi dan untuk memudahkan uraian selanutnya kitsa sebut saja latar bawah.
Di dalam latar bawah terdapat latar lagi, kita sebut latar tengah yang temboknya keliling berjalan tidak sejajar dengan tembok dari latar bawah. Latar tengah ini bentuknya segi empat dan luasnya 222 meter persegi. Di tengah-tengah latar terdapat latar, kita sebut latar atas, bentuknya persegi empat dan tembok kelilingnya berjalan sejajar dengan tembok dari atar tengah: luasnya 110 meter persegi.
Latar bawah, tengah, dan atas masing-masing mempunyai empat pintu gerbang. Pada latar atas dan tengah, pintu gerbang tterletak di tengah-tengah tembo masing-masing. Sedangkan pada latar bawah, yaitu gerbangnya tidak terletak ditengah-tengah tembok keliling, tetapi dihaapkan sejurus sehingga3 intu gerbang dari 3 latar itu letaknya segaris. Latar bawah sama tingginya dengan tanah sekitarnya, sedangkan latar tengah sifatnya mendaki, terdiri dari datran-dataran yang meningkat dari bawah ke atas hingga empat deretan candi yang mengelilingi latar di atasnya. Sedangkan latas atas yang letaknya di atas sendidri, sifatnya rata dan mendatar, jika dibandingkan dengan latar bawah letaknya beberapa meter lebih tinggi dan merupakan latar yang terpenting.
Bila kita melihat di latar ke 3 kita mulai dengan latar bawah. Dalm maket , latar bawah terdapat kosong, kakrena sampasekarang belum dapat diketahui apa sebenarnya yang terdapat di atas latar bawah pada waktu dahulu. Mungkin juga candi-candi seperti di latar tengah, mungkin juga hanya ditanami pohon-pohon yang indah dan rimbun serta diergunakan sebagi hiasan atau tempat berteduh.
Kemudian kita beralih pada latar tengah sebagaimana diterangkan di muka, merupakan 4 dataran yang meningkat ke atas. Di atas dataran yang paling rendah terdapat 68 buah candi kecil, berderet dengan teratur sejalan dengan tembok yang mengelilingi latar tengah dan terbagi dalam 4 deretan oleh jalan penghubung antara pintu gerbang latar tengah dengan pintu gerbang latar aatas. Di atas dataran ke dua yang terhitung dari bawah, terdapat 60 buah candi kecil seperti di latar bawah. Selanjutnya diatas dataran ke tiga sterhitung dari bawah terdapat 52 buah candi dan di atas dataran ke empat yang tertinggi terdaat 44 buah candi. Deretan candi tersebut juga melingkar, sejajar ddengan dua deretan yang dibawahnya. Semua candi di latar tengah sama bentuknya, masing-masing mempunyai luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter.
Sesudah selesai melihat keadaan latar tengah, sekarang beralih pada latar atas yang merupakan latar terpenting danseperti sudah diterangkanbahwa sifatnya mendatar rata. Di latar atas terdapat 2 candi besaar yang berhadaan satu sama lainni. Asing-masing deret terdiri dari 3 buah candi yang ada di dalamnya dan semua menghadap ke barat, yang ada di ujung utara bentuk dan besarnya sama dengan yang ada di ujung selatan, masing-masing mempunyai luas dasar meter persegi dengan tinggi 22 meter. Dalam deretan sebelah barat terdapat juga tiga buah candi menghadap ke timur dan semuanya lebih besar dari pada candi candi dalam deretan timur yang dihadapi.
Dari 3 buah candi yang letaknya di ujung selatan dan ujung utara, bentuk dan besarnya sama yang masing-masing mempunyai luas dasar meter persegi dengan tinggi 23 meter. Sedangkan candi yang berada di tengah, yakni candi terbesar dan tertinggi yang merupakan candi induk, memunyai uas dasar 34 meter persegi dengan tinggi 47 meter.
Di antara dua derertan dan 3 candi tersebut di atas, di ujung selatan dan utara dari jalan yang memisahkan dua deretan candi tersebut, terdapat sebuah cand kecil yang mempunyai luas dasar 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter.
Di latar atas, kecuali terdapat 8 buah candi tersebut, masih ada 8 buah candi kecil lainnya. Empat bah terletak di pintu gerbang latar atas. Masin2masing candi kecil ini mempunyai luas dasar1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter.
Perlu diperhatikan bawa bila kita sudah melihat susunan dari keseluruhan candi, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa orang-orang yang membangun candi tersebut menganggaa bahwa candi induknya kurang penting yakni, bila dibandingkan dengan mercu kecil yang tidak seberapa menarik perhatian. Meercu tersebut terletak di sudut sebelah selatan dari tangga rtimur dan kelihatannya sebagai salah satu titik pusat lapangan percandiaan seluruhnya.
Candi Loro jongrang yang megah dengan 5 buah candi besar dan 2 bah candei apinya, terpaksa harus mengalah terhadapnya dan terdesak sediklit ke sebelah utara. Penemuan ini didapat selama penelitian dan hal yang demikian dapat juga dilihat pada candi-candi lain. Jika sejenak kita memperhatikan sisitim pembangian seperti yang terdapat di Candi Prambanan, yaitu ada 3 latar yang berbeda letak dan isinya, maka kita akan ingat akan pembagian ruangan pada rumah Jawa Asli(Jogja, Solo), rumah dan kuil Bali serta susunan Kraton (jogja, Solo).
Ruamah asli Bali juga terdiri dari 3 ruangan. Ruang pertama yang letaknya paling depan adalah kosong digunakan, didgunakan untuk bekerja sehari-hari atau untuk kandang ternak, rauang ke dua yang letaknya dibelakangnya. Merupakan tempat tinggal keluarga. Sedangkan ruang ke tiga yang letaknya paling belakang adalah ruang terpenting, karena dipergunakan untuk upacara keagamaan. Kuil di Bali juga terdiri dari tiga ruangan dan yang terpenting ialah ruang ke tiga, yakni berisi patung Siwa, Wisnu dan Brahma..

CANDI SIWA

Sesudah kita memperhatikan maket dan mengetahui garis-garis besarnya, sekarang kia melihat candinya satu demi satu. Kita mulai daricandi induknya yang disebut candi Siwaatau yang telah dikenal dengan sebutan Candi Loro Jongrang. Candi siwa ini sudah rusak. Mulai dibangun kembali pada tahun 1918, selesai dan dibuka dengan resmi oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 Desember 1953. Candi Siwa ini adalah candiyang terbesar, terletak di tengah deretan sebelah barat menghadap ke timur.
Candi ini disebut Candi Siwa karena didalamnya terdapat patung terpenting dan terbesat yanmg letaknya di kamar terbesar. Dengan gambaran demikian , dewa Siwa mendapat penghormatan lebih dari pada dua dewa lainnya. Sedangkan menurut pelajaran agama Hindu yang mendapatkan penghormatan tertinggi ialah Dewa Brahma yakni sebagai pencipta alam, kemudian Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam dan Dewa Siwa sebagai perusak alam.
Tetapi untukdi Jawa, penghormatan dan kedudukan dewa-dewa tersebut agak berlainan. Yang terpentin adalah Dewa Siwa, ke dua Dewa Wisnu dan ketiga Dewa Brahma. Dewa Siwa mendapat enghormatan tertinggi, karena ada anggaan bahwa sesudah merusak ia akan menciptakan kembali. Oleh karena itu ada yang menghormatinya sebagai Maha Dewa, tetapi ada juga yang menghormat Siwa sebagai Dewa Kal, yakni dewa Perusak yang mempunyai empat tangan. Pandangan yang demikian ini, sekarang masih terdapat di Bali.
Jika kita, sebelum melangkahkan kai di tangga batu dan melihat menghadap candi Siwayang terdapat disebelah kanan kiri dinding tangga, maka terlihat pada kaki candi suatu candi kecil yang beratap tinggi seerta mempunyai kamr kecil yang berisi sebuah patung. Patung-patung kecil yang terlepas berdiri di antara 2 tiang, di atasnya terlihat menonjol ke luar gambar gabungan ka makara. Candi kecil semacam ini, terdapat di kanan kiri tiap tangga masuk.
Bila kita mengelilingi kaki candi dari luar, akan terlihat pada dinding kaku dua macam gambar yang berdampingan berganti-ganti. Yang pertama menggambarkan gambar kecil yang menonjol keluar dan berisi seekor singa berdiri diantara dua tiang, di atasnya terdapat kala makara. Gambar yang demikian ini juga terdapat pada semua didndin 5 candi besar lainnya, yang ke dua menggambarkan suatu pohon yang daunnya terphat halus dan dikanan bawah terdapat gamba hewanhewan yang terdiri dari: kijang, merak , kambing jantan, kelinci, kera , angsa dan lain lain. Sedangkan pada 5 candi besar lainnya, berupa burung berkepala manusia yang disebut Kinara.
Bila memasuki Candi Siwa, kita harus mendaki melalui tangga yang menghadap ke selatan, barat atau utara. Kemudian naik tangga ke atas, kita sampai di kamar besar yang letaknya di tengah- tengah bangunan candi dan di dalamnya berdiri patung Siwa yang besar.
Sebelum masuk ke dalam kamar, pada tangga terakhir dan sebelum sampai di pintu gerbang yang berdidri sendiri, beraatap dan di bagian depan akan terlihat gambar makara. Dikanan kiri pintu gerbang tersebut, pada setiap sudut luar terdapat suatu kamar yang beratap. Di dalam kamar berdiri sebuah patung Siwa yang membawa alat pemukul, menggambarkan penjaga pintu masuk. Patung penjaga semacam itu juga terdapat pada kebanyakan candi siwa yang ditempatkan di kanan kiri pintu masuk utama. Dipintu masuk lainnya, tidak terdapat penjaga-penjaga pintu seperti tersebut di atas. Pintu gerbang berata dan bermakara, kecuali pada tangga tersebut di atas yang juga terdaat pada semua tangga dari semua candi besar. Bangunan semacam ini pada waktu sekarang kita dapati juga pada rumah-rumah para bangsawan yang disebut regol, merupakan tempat penjagaan bagi peronda.
Sesudah melalui pintu gerbang yang beratap dan bermnakara ini, kita sampai pada gang terbuka. Dari tempat ini dengan membelok ke kanan atau ke kiri, dapat masuk di gang yang terus naik masuk di bagian depan kamar Siwa. Sebuleum masuk ke kamar depan, jika menengok ke atas akanterlihat gambar makara yang sangat besar. Kemudian kita masuk ke kamar depan yang agak pnjang dan lebar, merupakan salah satu dari 4 kamar yang melingkari kamar Siwa dan tempatnya di tngah-tengah.

Gambar 1. Candi Induk Kelompok Loro Jongrang
(Photo Lembaga Purbakala)

Perbedaannya, bahwa 3 kamar lainnya berisi patung seperti Guru, Ganesha dan Durga. Tetepi dikamar ini tidakl terdaat suatu apa, hanya sebagai kamar depan yang merupakan jalan masuk ke kamar Siwa. Baru sesudah melalui kamar depan, kita masuk dalam kamar Siwa. Di tengh-tengah kamar di atas landasan batu, berdiri patung Siwa yang dengan khidmat seperti mengheningkan cipta. Jika kita amati antara batu dan landasan kaki patung terdapat batu bundar berbentuk bunga teratai. Pada landasan bagian atas dibuat saluran keliling dan keluar melalui mulut naga di bagian utara batu landasan. Pada waktu dahulu jika patung dicuci dengan cucican yang mengalir ke bawah masuk di saluran kemudian keluar melalui mulut naga dan ditampung di jambangan air. Air cucian ini dianggapa mempunyai kekuatan gaib dan banyak orang ingin memilikinya.
Di atas landasan yang tingginya satu meter ini, berdiri atung Siwa yang menggambarkan raja Balitung.patung ini terbuat dari batudan tingginya 3 meter terhitung dari kakinya. Tanda-tandanya sebagai Siwa dapat dilihat: tengkorak dan sabit di mahkotanya, bermata tiga di dahinya, kulit harimau yang terganutung di pinggangnya, tangan kanan belakang memegang tasbih, tangankri belakang memegang penyapu lalat dan di belakang nya berediri senjata trisula.tangan depan kanan kiri dalam sikap sesuai dengan rautmuka dan pandangan matanya yang sedang bersemedi. Lengan kanan dan kiri menggenakan gelang (kelat bahu), berkalung susun di lehernya, tangan dan kaki memakai gelang, bermahkkota penuh dengan mutu manikam dan selendadng ular yang kealanya terlihat dari atas.
Semuaperhiasan tersebut mengambarkan seorang raja yang berpakaian kebesaran. Memang Raja Balitung digambarkan sebagai Dewa Siwa. Mengingat hal yang demikian sudah selayaknyalah bahwa Raja Balitung dipandang sebagai penjelmaan Dewa Siwa dan dihormati sebagai Dewaq Siwa. Maka setelah wafat raja Balitung dicandikan sebagai Siwa, untuknya dibuatkan patung yang dihormati dan dipuja oleh keturunan dan rakyatnya. Raja Balitung kecuali seorang raja, tettttapi juga seorang pendeta atau pemimpin agama.
Di bawah landasan patung terdapat suatu sumur yang dalamnya 13 meter dan berisi tanah. Pada kira-kira 5.75 meter didtemukan sebuah peti batu dengan tutup yang terletak di atas tanah berecampur arang dan barang serta tulang-tulang hewan. Tulang-tulang tersebut berasal dari kambing dan ayam, di antaranya terdapat lembaran-lembaran kecil dari emas dengan tulisan yang berbunyi Waruna sebagai nama Dewa Laut, dan Prawata sebagai Dewa Gunung. Di dalam peti terdapat lembaran-lembaran kecil dari emas dan kuningan, yang di bagi-bagi dalam petak-petak dan bercat, juga campuran arang, abu dan tanah. Abu tersebut berasal dari hewan yang dibakar. Ddalam peti itu juga terdapat 20 buah mata uang, berupa batu permata, merjan, potongan lembaran emasyang 5 diantaranya berbentuk kura-kura, naga, bunga teratai, tempat upacara agama, telor, sedangkan yang lainnya memuat tulisan tulisan.
Kita msih di dalam kamar itu juga. Jika kita melihat dengan teliti, ternyat terlihat bahwa pada didinding kamar ternyata dihias dengan sangat halus. Jika kita amati benar-benar ternyata hiasan itu aada tiga bagian yang terpisah dan berlainan. Bagian tengah dihias dengan gambarcakra dan trisula dalam bentuk bunga, sedangkan bagian kanan kirinya dihias dengan gambar bunga mawar. Sesudah melihat-lihat isi kamar tersebut, kemudian kita keluar dan membelok ke kiri. Gang ini adalah gang bagian pertama menuju ke pintu masuk dan menuju kamar Guru, yang sebenarnya mempunyai tangga masuk tersendiri, menghadap ke selatan dan sama keadaannya seperti tangga di depan kamar Siwa serta tangga-tanga yang lain. Gang ini berbelok-belok dengan menyudut dan belokan tersebut membagi dinding gang dalam enam bagian. Pada dinding tersebut digambarkan relief cerita Ramayana yang terdapat pada dinding.
Relief sebelah atas terdapat dua macam bentuk gambar. Gambar pertama menggambarkan kamar kecil bertiang dua, di atasnya terdapat kala atau makara. Di dalam tiap-tiap kamar kecil tersebut, terdapat tiga buah patung yang menggambarkan laki-laki dan perempuan saling berpelukan. Sedang gambar ke dua menggambarkan para penari dan pemukul bunyi-bunyian dalam sikap yang beraneka ragam. Yang sangat menarik perhatian ialah, bahwa bentuk dan sikap yang digambarkan sangat sesuaidengan sikap menusia seseungguhnya.
Sesudah melihat gambar-gambar di gang pertama, kita naik tangga batu sampai kepada jalan masuk ke kamar Guru yang menghadap ke selatan, menghadap candi Brahma. Dari luar sebelah selatan, kita dapat juga sampai di kamar ini dengan melalui tangga. Kita masuk kek kamar Guru yang berbentuk patung Siwa. Kamar dan patungnya lebih kecil, bila dibandingkan dengan patung Siwa yang lain. Dinding kamar tidak terhias.
Dari kamar guru ini kita keluar dan membelok ke kanan, masuk gang ke dua yang keduanya sama dengan gang pertama. Relief cerita Ramayana yang terdapat pada dinding gang merupakan kelanjutan cerita yang terdapat pada dinding gang pertama. Dari gang ke dua kita masuk ke kamar yang ke tiga.Kamar ke tiga ini menghadap ke barat dan berisi patung Ganesha yang berkepala gajah melambangkan Dewa Bahagia, sedang duduk dengan perut yang gendut. Pada patung tersebut terdapat tasbeh di tangan kanan belakang, kampak di tangan kiri belakang, satu kotak di tangan kiri depan yang sedang dihisap oleh belalainya dan salah satu dari gadingnya yang terputus dipegang ditangan kanan depan. Pada mahkotanya terdapat tengkorak dan bulan sabit sebagai tanda bahwa Ganesha adalah anak dari Siwa. Patung Ganesha ini melambangkan putera mahkota, juga sebgai patih dan panglima perang dari Raja Balitung.
Sesudah melihat kamar Ganesha, kita keluar membelok ke kanan masuk gang ke tiga yang sama keadaannya dengan gang terdahulu, hanya gambarnya melakukan cerita Ramayana yang terlukis pada dinding. Gambar tersebut merupakan cerita lanjutan dari cerita Ramayana. Dari gang ke tiga ini, kita masuk kamar ke empat yang menghadap ke utara Candi Wisnu. Di dalam kamar ini Patung Durga sebagai istri Siwa. Durga digambarkan berdiri di atas banteng Nandi yang sudah dikalahkan. Banteng tersebut sebetulnya adalah mahluk jahat yang menyamar dan sesudah dikalahkan, mahluk jahat tersebut ditarik dari badan banteng, lalu menunjukkan sifat sesungguhnya. Durga adalah Dewi Kematian, oleh karena itu menghadap ke arah utara yang merupakan mata angin kematian. Patung Durga ini dimaksudkan utnuk menggambarkan permaisuri Raja Balitung.

Gambar 2. Durga Mahisauramardani ( Loro Jonggrang )
[Gambar. Lembaga Purbakala]

Patung Durga oleh penduduk sekitarnya juga disebut Patung Loro Jongrang. Disebut Loro Jonggrang, yakni menurut legenda penduduk Prambanan akhirnya berkembang menjadi cerita rakyat. [baca Bandung Bandawasa: karya Pak Soet [drs. Soetarno], cetakan 1983. menceritakan Bandung dengan dibantu oleh ayahnya dan badan halus yang lain, membuat candi].
Garis besar cerita dari Lara Jonggrang adalah sebagai berikut: Seorang raja bernama Baka, yang bertahta di keraton atas gunung Baka sebelah selatan Prambanan, mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Lara Jongrang. Seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti menginginkan meminang Lara Jonggrang sebagai istrinya, tetapi Lara Jongrgrang tidak menyukainya. Untuk menolak secara harus pinangan Bandung (nama kesatria yang meminang itu). Lara Jonggrang mengajukan tuntutan agar Bandung dapat memenuhi permuntaannya sebagai mahar. Mahar itu berupa 1.000 buah candi yang dibuat dalam waktu semaam. Bila Bandung dapat memenuhi permintaannya, Lara Jongrang bersedia dijadikan istrinya.
Bandung yang perkasa dan sakti, karena ingin sekali memenuhi permintaan Lara Jonggrang yang dicintainya, maka dia memanggil beribu-ribu badan halus untuk membuat candi yang diminta oleh Lara Jonggrang. Bandung dengan dibantu oleh beribu-ribu badan halus bekerja giat membuat candi sejak matahari terbenam, hingga semalam suntuk. Ketika malam hampir berakhir, tinggal sebuah candi yang belum jadi, Lara Jonggrang yang semalam suntuk tidak tidur dan selalu mengikuti jalannya pembuatan candi, merasa gelisah settelah mengetahui bahwa pembuatan candi hampir selesai yang berarti Bandung dapat memenuhi permintaannya. Apa yang akan terjadi ? padahal Lara Jonggrang ridak mencintai Bandung dan tidak sudi menjadi istrinya. Akhirnya Lara jonggrang menemukan akal baru, ia bermaksud menggagalkan pekeerjaan Bandung. Maka segera saja Lara Jonggrang keluar dari istana dan memerintahkan pada semua perawan untuk bangunserta mulai menumbuk padi dengan sekejap mata, seluruh daerah sekitar istana terdengah pukulan lesung bertalu-talu sangat ramainya. Para badan halus yang mendengar suara gemuruh disekitarnya dan suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, mengira bahwa waktupajar sudah tiba, maka mereka segera lari terbirit-birit mewninggalkan tempat kerjanya karena takut kesiangan dan diketahui oleh manusia.
Melihat kejadian tersebut, Bandung merasa cemas. Dan ketika mengetahui tipu muslihat yang dilakukan oleh Lara Jongrang, Bandung sangat murka. Lara Jonggrang diumpat dan dikutuk menjadi patung yang sangat indah, yakni untuk melengkapiseribu candi permintaan Lara Jonggrang yang kurang satu. Para peerawan Prambanan disumpahi agar menjadi perawan tuabaru laku kawin.
Hingga sekarang timbul suatu kepercayaan, bahwa candi Durga yang beerada di Candi induk Siwa itu adalah penelmaan Lara jonggrang. Candi tersebut merupakan tempat Ziarah muda mudi yang ingin lekas mendapatkan jodo dan para pasangan yang ingin mendapatkan anak. Sayang arca ini yang indah ini telah rusak hidungnya, disebabakan tangan-tangan jahil. Memang arca itu indah sekali. Bila dilihat dari kejauhan tampak seperti hidu dan tersenyum.
Setelah melihat dan mengagumi kecntikan Lara Jonggrang, kita turun masuk gang yang ke empat sebagai yang terakhir. Keadaaannya sama dengan gang lainnya, dindingnya dihiasi relief Ramayana dan merupakan lanjutan dari cerita Ramayana. Dari gang keempat dan terakhir ini, kita keluar dari candi melalui tangga asalkita mula-kula memeasuki candi tersebut.
Adapun ceritra Ramayana yang terdapat pada relief di dalam gang Candi Siwa, urutan-urutannya seperti di bawah ini.

1. Di sebelah kiri, terlihat Wisnu duduk di atas luar dunia Ananta yang baru timbul dari laut dimana terdapat banyak ikan. Dibelkang Wisnu terlihat Garuda sedang memberikan bunga teratai biru kepada Wisnu. Didepan Wisnu, terlihat para raja yang meminta agar Wisnu suka turn ke dunia untuk memberantras perbuatan Rahwana yang sedang membuat kekacauan.
2. Terlihat keadaan petamanan Kraton Dasarata dari Ayodya. Sang mata sedang duduk bersama permaisuri dan membicarakan sesuatu, tiba-tiba datanglah seoerang abdi yang mengatakan ada tamu ingin menghadap. Di belakang sang Nata, terlihat seorang puteri dan di depan sang Nata terlihat ke empat orang puteranya, di antaranya terdapat Rama sebagai titisan Wisnu yang sudah ditaakdirkan untuk membunuh rahwanan yang sedang membuat kekacauan. Gajah dan kuda, merupakan lambang kebesaran raja.
3. Terlihat keadaan keraton dan sang pertapa Wisnu mitra sebagai tamu duduk di tempat yang agak tinggi, sedang minta kepada sang Nata agar memberikan izin pada puteranya untuk turut dengan sang pertapa untuk membunuh para raksasa yang menggangu sang pertapa sewaktu mengadakan sajian sebagai korban. Di depan sang pertaa duduk sang Nata dan dibelakangnya duduk para istrinya. Di sebelah kanan terlihat Rama bersama saudaranya, yaitu Laksamana.
4. Wiswamitra, Rama dan Laksanan dalam perjalanan ke tempat pertapa Wiswamitra melalui hutan yang sedang tidak aman, karena perbuatan raksasa perempuan bernama Tataka. Mereka berjumpa dengan Tataka dan Rama berhasil membunuhnya.
5. Terlihat tempat pertapa Wiswamitra yang sedang dirusak oleh para raksasa. Sesudah Wiswmitra, Rama dan Laksamana datang di situ dan para raksasa dibunuh oelh Rama. Marici pemimpin raksasa terlemar ke laut dan raksasa lainnya terbunuh. Sesudah aman kembali Wiswamitra mengadakan korban dengan saji-sajian.
6. Dalam Keraton Raja Janak sahabat Wiswamitra, hadir Wiswmitra, Laksamana Rama dan Raja Jenaka. Atas anjuran Wiswa mitra, dealam perlombaan Rama dapat menarik p[anah gaib dari Jenaka (di sebelah kanan) dan dilihatnya terlihat Sinta, yakni puteri raja Janaka beserta para pengiringnya, yang kemudian (Sinta) yang kemudian menjadi idtrinya karena Rama menang dalam perlombaan.
7. Sesudah kawin Rama kembali ke Ayodya bersama dengan Sinta dan Laksamana. Dalam perjalanan pulang, mereka berjumpa dengan Paracurama (berjanggut) yang mendengar bahwa Rama kuat menarik panah Janaka. Paracurama menantang Rama untuk menarik panahnya dan jika berhasil boleh membunuhnya, tetapi jika gagal Paracurana akan membunuh Rama.
8. Rama terbukti dapat menarik padnah Paracurana dan memenangkan perlombaannya. Tetapi Rama tak mau membunuh Paracurana dan minta kepda Paracuranan untuk emberikan apa yang ingin dilepaskan sebagai miliknya. Paracurana memilih melepaskan sorganya yang sudah dimiliki dan kemudian Rama memanahnya hingga lenyap.
9. Di keraton Ayodya, Dacarat sudah memutuskan untuk mengangkat Ramasebgaai penggantinya. Di luar istana sudahdiadakan sajian-sajian dan seluruh kota dihias, tiba-toiba isteri ke dua dasarata, yaitu kekayi yang mengetahui bahwa Rama akan diangkat jadi raja pengganti Dacarat berjanji kepaada kekeyi akan meluluskan dua peermintaaannya. Kekaki minta agar Rama dibuang ke hutan dan mengangkat Bharara, anak Kekayi diangkat sebagai penggantinya.
10. Terlihat penobatan Bharata, saudara Rama anak Dacarata dari istrinya ke dua, yani kekeyi. Do kota diadakan keramaian, terlihat rombongan penari dan seperangkat alat bunyian.
11. Sesudah Rama dibuang, Sang Nata dengan permaisuri Kansaliya (ibu Rama)sedang bersedih karena putusannya.
12. Terlihat Rama. Laksamana dan Sinta meninggal keistanan danpergi ke hutan.
13. Dacarata, karena menanggung sedih meninggal dunia.jenazahnya terlihat sedang diistirahatkan dalam peti sebelum di bakar. Olej kausaliya dan Barata dibagi-bagikan zakat kerpada para Brahmana.
14. Batara mengunjungi Rama di hutan dan minta kepada Rama agar mau kembali ke ayodya untuk memegang kerajaan. Rama menolaknya, tetapi Baraata memaksanya. Timbul kata sepakat antara Rama dan Barata, bahwa Barata tetap menjadi raja di Ayodya untuk mewakili Rama, karena Rama akan melanjutkan darmanya. Sebagai wakil dari Rama, kepada Barata diberikan tanda sandal Rama sebagai bukti bahwa barata menjalankan pemerintahan Ayodya atas nama Rama.
15. Perjalanan Rama, Sinta dan Laksamana didalam hutan. Sinta diculik oleh Raksasa Wirada, tetapi kedua satria itu dapat merebutnya dan raksasa raksasa tersebut berhasil dibunuhnya.
16. Cerita Rama, Sinta dan Burung Gagak. Sinta meletakkan dangin kijang di luar (tergantung di atas pohon, terlihat dua ekor kera). Seokor burung gagak akan mencuri daging itu, namun ketika diusir oelh sinta burung gagak menyerangnya, sehingga Sinta lari kepada Rama yang kemudian melepaskan panahnya kearah si burung. Burung melarikan diri dan terus dikejar oleh panah, sehingga burung tersebut kembali kepada Rama utnuk meinta pertolongan. Tetapi panah harus mengenai sasarannya dan Rama meminta p[ada siburung agar memilih, mana yang harus dikenai dan burung minta agar salah satu dari matanya saja. Panah (diu bawah lengan Rama) terlihat menembus kepala si burung, kemidian lenyap.
17. Seorang putri raksasa, adik Rahwana yang bernama Cupanakka menyamar sebagai putri cantik, menyatakan cintanya pada Rama dengan membri hadiah-hadiah agar dikawini.
18. Rama menolak permintaan Cupankka untuk mengawini dan menunjukkan Laksamana, tetapi Laksamana juga menolaknya.
19. Sinta dijaga oleh Laksamana, sedang Rama mengejar kijangkencana yang memperlihatkan diri. Memang ,seperti yang dimaksud oleh kijang, agar Rama meninggalkan Sinta.
20. panah Rama mengenai kijang. Raksasa Marici yang menyamar kijang kencana atas perintah Rahwana, sesudah terkena panah Rama keluar dari badan kijang kencana. Marici dengan meniru susara Rama mengaduh kesakitan, suara tersebut terdengar oleh Sinta, kemudian memerintahkan kepada Laksamana agar menolong Rama.
21. Rahwana menyamar sebagai pertapa mendekati Sinta dan menangkapnya.
22. Rahwana yang sudah berganti rupa lagisebagai Raksasa, terbang membawa lari Sinta. Burung Jatayu yang melihatnya terus menyerang dan berkelahi melawan Rahwana, tetapi kalah.Sinta sempat memberikan cincicnnya kepada Jatayu.
23. Jatayu yang sudah kalah dalam perang datang pada Rama dan sebelum menghembuskan nafasnya penghabisan , menyerahkan cincin Sinta kepada Rama. (dalam gambar Jatayu kelihatan masih segar bugar)
24. Seorang dewa yang terkutuk dan berganti rupa menjadi raksasa tidak berkepala (dalam gambar dengan kepala), tetapi mukanya terdapat dalam perut bernama Kabandha, menjumpai Rama dan Laksamana dalam perjalanannya. Raksasa itu menantang perang. Rama dalam berperang melepaskan anak panahnya untuk membinasakan Kabandha. Kabandha bergati rupa, kembali menjadi dewa dan terbang ke surga.;
25. dalam perjalanan lebih lanjut, Rama dan Laksamana menjumpai seekor buaya penjelmaan dewi dari surga yang terkutuk. Sesudah terkena anak panah Rama, buaya tersebut kembali lagi menjelma dewi dari khayangan dan kemudian terbang ke surga.
26. Rama dan Laksamana berjumpa dengan Hanoman yang menganjurkan agar pergi ke Sugriwas, Raja Kera.
27. Rama sudah lelah dan haus. Laksamana mengambil air dengan tempat anak panah ( Jawa, Endhong) tetapi airnya berasa asin, karena air itu sebetulnya air mata Sugriwa yang sedang menangis di atas pohon karena kehilangan kedudukannya sebagai raja dan permaisuri direbut oleh saudaranya., Walin.
28. sugriwa berjanji akan melawan Rahwana dan mencarikan Sinta, apabila Rama bersedia membantunya merebut kembali kerajaan dan permaisurinya yang direbut oleh saudaranya, yakni walin Sugriwa mweminta Rama agar menunjukkan kekuatan dan kecakapannya memanah, lalu Rama melepaskan anak panahnya yang dapat menmbus tujuh batang pohon kelapa yang beerderet.
29. Rama akan membunuh Walin dengan melepaskan anak [panahnya, kalau Sugriwa dan Walin sedang berperang. Tetapi karena sugriwa dan Walin anak kembar dan berwajah sama, Rama tidak dapat mengenali mana Sugriwa dan mana Walin. Oleh karena Rama tak berani melepaskan anak panahnya. Pertempuran antara sugriwqa dan Walin sangat seru. Ternyata Sugriwa kalah dalam perang tanding tersebut.
30. sesudah Sugriwa menggenakan daun-daunan agar dapat dikenali oleh Rama, maka perang antara Walin dan Sugriwa dimulasi lagi. Dengan adanmya tanda pengenal tadi, Rama dapat membunuh Walin dengan anak panahnya.
31. Sugriwa kembali menjadi Raja kera dan mendapatkan kembali permeisurinya yaitu Dewi Tara. Untuk mersyakan kemenangan tersebut, diadakan pesta meriah bersama para kera ank buah Sugriwa.
32. rama,Laksamana dan Sugriwa bersam-sama pergi ke tempat perundingan di pantai untuk mengatur rencana selanjutnya.
33. Rama dan Laksamana serta Sugriwa sedang berunding.
34. sugriwa dengan diikuti oleh parapanglima kera yang ada di belakangnya, mengusulkan kepada Rama dan Laksamana agar mengirimkan pemimpin-peminpin kera untuk mencari Sinta. Di belakanng Rama terdapat istri-istri Sugriwa yang berparas manusia ayu, sebagai pengisi ruangan digambar istana kera dan kelihatan terdapat gambar kera yang berada di atas atap.
35. hsanoman dalam mencari Sintasudah sampai di petamanan istana Rahwana, raja raksasa di Alengka. Hanoman bersembunyi dio belakang tumbuh-tumbuhan dan diketahui oleh seorang abdi perempuan Sinta. Hanoman bertemu dengan Sinta dan menceritakan tentang maksud dan tujuannya.
36. hanoman tertangkap oleh para raksasa dan akan dihukum bakar. Untuk membakarnya Hanoman dibungkus dan diikat dengan kaiin.
37. sesudah dibungkus, ekor Hanoman disiram minyak kemudian dibakar. Hanoman dapat melepaskan diri dan dengan ekornya yang terbakar ia meloncat-loncat diatas atap rumah-rumah serta membakar istana Rahwana.
38. Sesudah Hanoman kembali dari Alengka, ia menceritakan kejadian yang telah dialaminya kepada Rama, Laksamana dan Sugriwa.
39. Rama marah kepada dewa laut, karena diminta agar menunjukkan dirinya dan memberikan nasihat kepadanya tetapi tidak dihiraukan. Apabila dalam waktu dekat permintaan Rama tridak dihiraukan, laut akan dipanahnya hingga menjadi kering. Dewa laut takut kepada Rama, sehingga kemudian menampakkan dirinya dan memberikan nasihat kepada Rama. Dewa laut menasehatkan agar Rama membuat jembatan menuju Alengka.
40. para kera mengngkut batu dan melmparkannya ke laut, sedang ikan membantunya untuk menyusun bat-batu.
41. sesudah jembatan selesai, Rama, Laksamana dan Sugriwa dengan diikuti oleh tentara kera menyebrangi jembatan menuju Alengka.

CANDI BRAHMA

Candi Brahma letaknya disebelah embatan Candi Siwa, bentuknya lebih kecil dari Candi Siwa. Bebentuk empat , sudutnya mewnonjol ke luar. Bila dilihat dari luar pada dinding batu terdapat kamar kamar berisi singa berdiri yang terletak di antara dua tiang dan di atasnya terdapat gambar kala-makara. Candi Brahma berlainan dengan Candi Siwa. Candi Siwa hanya mempunyai satu pintu masuk yang menghadap ke timur. Dengan melalui pintu tersebut, kita naik tangga dan melalui pintu gerbang masuk ke satu-satunya kamar yang ada. Di dalam kamar terdapat patung Brahma sebagai dewa yang berkepala empat. Dewa tersebut adalah Dewa Pencipta Alam.
Patung Brahma itu sesungguhnya sangat indah, tetapi sekarang sudah rusak. Di bawah patung juga terdapat sebuah sumur. Sumur tersebut tidak berisi sesuatu apa pun kecuali tanah. Dinding kamare tersebut tidak dihias, hanya terdapat pada tiap sisi dinding satu batu yang menonjol tempat lampu minyak penerangan. Dari bawah membelok ke kiri, dari kiri membelok ke kanan, ssampailah di kamar melalui gang. Gang ini mengelilingi kamar Brahma dan pada dindingnya terdapat relief gambar lanjutan dari cerita Ramayana yang ada di candi Siwa. Diceritakan perang antara Rama, Laksamana dan tentara kera melawan Rahwana. Di antara nya kelihaatan Kumbakarna yang besar dan gagah perkasa diserang oleh beratus-ratus kera hingga mati, juga dalam perang ini Rahwana mati terbunuh. Sinta ditemukan kembali. Tapi Rama meragukan kesuciannya. Rama pada saat itu sudah mendapatkan kembali pimpinan atas kerajaannya dan terpaksa mengusir Sinta. Sinta pergi mengembara ke hutan dan melahirkan anaknya. Seorang pertapa menemukan dan memberikan perlilndungan padanya.

CANDI WISNU

Candi wisni terdapat disebelah utara Candi Siwa. Benmtuk, ukuran, serta relief dinding dan perhiasan dinding luar, sama dengan candi Brahma. Candi tersebut juga hanya mempunyai satu jalan masuk menuju kamar. Dalam kamar tersebut terdapat patung Dewa Wisnu. Dewa Wisnu digambarkan sebagai dewa yang mempunyai empat tangan dan mempunyai alat-alat seperti alat pemukul, tiram dan cakra. Di bawah Patung Wisnu, juga terdapat sebuah sumur yang hanya berisi tanah. Dinding kamar tidak dihias. Hiasan hanya terdapat pada tiap sisi dinding, satu batu yang menonjol tempat lampu minyak untuk penerangan.

UNTUK Dewa wisnu seperti di bawah ini.

Dari kamar kira masuk gang yang melingkari Candi pada dinding gang terdapat gambar-gambar dari verita Krewsna sebagai berikut.
1. Puteri Raksasa bernama Putana sedang mencari anak-anak kecil dan sedang menyusui Kresna serta saudara laki-lakio Kresna yang bernama Balarama, sedangkan air susunya mengandung racun ayng dapat mematikan. Karena tahu bahwa susu itu beerisi racun, maka Krewsna memegang susu iotu dengan sekuat tenaganya dan menghisap nyawa Putana hingga mati.
2. Kresna diikat pada lesung oleh ibu angkatnya yang bernama, Yakoda dan sedang sibuk mengaduk susu/untuk dijadikan mentega; waktu itu seharusnya Kresna sudah diberi minum, tetapi karena iar susunya sedang dimasak oleh ibu angkatnya dan susunya masih sangat panas, maka Kresna diletakkan di lantai. Karena itu Kresna menjadi marah, ia mengambil mentega dan menggosokkna badannya sendiri dan kera-kerea yang sudah jinak dengan mentega. Tentu saja ibu angkatnya marah.kresna diberi hukuman diikat pada lesung. Tetapi tali pengikatnya selalu kurang panjang, walaupun tali tersebut senantiasa disambung, namun masih kurang panjang. Tali pengikat Kresna akhirnya mengikat dirinya sendiri. Kemudia Kresna [pergi dan menyeret lesungnya, lesung beserta talinya menyangkut di antara pohon-pohon. Pohon yang tersangkut tali dan Kresna tumbang, sehingga lesungnya tertahan.
3. pohon nyiur di sebelah kiri mengambarkan hutan kelapa yang dialami oleh Dhenoeka, si Raksasa jahat yang menyamar sebagai keledai dan bersama dengan teman-temannya mengacau di hutan. Balarama memegang keledai pada kaki belakangnya dan memutarnyasedemikian rupa samapi lama di ataskepalanya, hingga keledai itu tak bernafas lagi. Sesudah itu keledai dilemparkan ke atas pohon kelapa dan dengan demikian raksasa yang jahat itu terbunuh.
4. anak-anak gembala sedang bermain-main. Satu di antaranya terdapat rambutnya ikal, dan sebutuknya adalah raksasa Palemba yang menyamar dengan maksud akan menggangguKresna dan Balarama.
5. menggambarkan perkalian antara Balarama dengan Pralemba. Berkali-kali Pralemba dapat dibunuh oleh Balarama, tetapi hidup kembali. Untuk membuat tipu muslihat, Kresna mengusulkan dalam perang nanti bahwa siapa kalah harus mendukung yang menang. Pralemba kalah mendukung Balarama di opunggungnya, dan sesudah di punggungnya balarama memukul kepala Pralemba sampai mati.
6. Terlihata banyak gambar sapi dan anak-anak gembala. Kresna sedang duduk membelakangi raksasa Arista yang menyamar sebagai banteng besar, dan sedang mengamuk di antara sapi-sapi lainnya. Karena ketakutan, sapi-sapi menggugurkan kandungannya. Balarama berdiri di belakang kresna dan menganjurkan agar jangan takut. Kresna menunjuk pada dirinya sendiri, seperti mau mewngatakan”saya akan membunuh banteng” seekor sapi mati mengambarkan semua sapi yang sudah mati dibunuh oleh Arista. Selanjutnya Arista menyetubuhi seekor sapi yang sedang menyusui anaknya. Kemudian Kresna mambanting raksasa dan banteng. Ini adalah Arista yang dibunuh oelh kresna, yang dengan kakinya menginjak lehernya.
7. dua orang perempuan sedang bermain-main dengan seorang anak kecil.
8. agaknya tentang matinya Tarunawarta. Dalam gambar terlihat dengan tangan, kepala dan kakinya ke atas menggambarkan raksasa Tarunawarta yang menyamar sebagai taufan dan melarikan Kresna. Tetapi Kresna membuat badannya menjadi sangat berat sehingga tidak dapat terangkat. Di dalam badan raksasa yang melengkung sebagai busur, terdapat seorang anak dan meurut penafsiran barangkali Kresna yang membunuh raksasa itu.
9. menggambarkan Kresna dan Balarama terjepit dalam lingkaran raj Ular Kaliya. Lalu dengan membesarkan badannya sedemikian besarnya, hingga ular terpaksa melepaskannya. Kresna dapat menghindarkan diri, kemudian membunuh ular tersebut.
10. barangkali gambar ular dengan mulut menganga keluar, gambar masih termasuk gambar nomer 9. ular yang mulutnya menganga itu berada di tengah hutan, di mana Kresna sedang menggembalakan ternaknya bersama-sama dengan anak gembala yang lain. Anak-anak gembala mengira, mulut ular tersebut adalah gua. Mereka kemudian masuk ke mulut ular yang menganga tersebut. Ketika Kresna ikut masuk, mulut ular itu menutup, Kresna membesarkan badannya sedemikian rupa, hingga mulut ular itu pecah dan dengan demikian anak-anak dapat tertolong semua.
11. menggambarkan matinya Sangkhacoeda. Dua orang anak mengejar seorang raksasa dan salah satu sudah memegang ikat pinggangnya, sedangkan yang lainnya menyepak dengan kakinya. Di kepala raksasa tersebut terdapat gambar tengkkorak. Pada gambar berikutnya, seorang raksasa dicekik oleh kresna dengan ikat pinggang. Cerita tersebut merupakan lanjutan dari cerita di depannya. Aa yang menafsirkan, bahwa cerita itu termasuk cerita Sankhacoeda.
12. dua orang Brahmana sedang sibuk berkorban. Barangkali dua Brahmana ini menggambarkan semua Brahmana yang dimaksud, dikirim sebagai utusan Kresna (seorang abdi berdiri di belakang seorang Brahmana) untuk minta makan (tetapi ditolaknya)

CANDI NANDI

Candi Nandi terletak dideretan sebelah timur. Candi ini mempunyai satu tangga masuk yang menghadap ke barat, tepat dijlan masuk Cndi Siwa, satu gang yang melingkari candi dan satu kamar. Jika dibandingkan dengan candi di sebelah kanan dan kirinya sama bentuknya, hanya kebih besar serta lebih tinggi. Dilihat dari luar, pada dinding kaki terdapat dua macam gambar yang berdamingan. Gambar pertama, merupakan kamar-kamar yang berisi seekor singa di antara dua tiang dan di atasnya gambat kala makara. Gambar ke dua merupakan suatu pohon yang daunnya terpahat halus dan di bawahnya di kanan kiri terdapat dua ekor burung. Gambar-gamabar semacam ini terdapat juga pada candi-candi lainnya di deretan sebelah timur. Juka kita msuk dengan melalui pintu masuk, kemudian masuk ke kamar, di dalmnya terdapat patung seekor lembu jantan besat berbaring menghadap candi Siwa. Lembu ini adalah Nandi, seekor lembu kendaraan Siwa.. kecualu patung Nandu,sseekotr ;emb kemdarran Siwa . kecuali patung Nandu dalam kamar terdapat dua patung llaunnya., patung yang satu menggambarkan dewa marahari “ Surya” berdiri di atas kereta ang ditarik oleh tujuh ekor kuda. Patung yang satunya lagi dmenggmbarkan dewa bulan “ Candra” berdiri di atas kereta yang ditarik oleh sepuluh ekor kuda. Dinding kamar seperti juga kamar dari dua candi lainnya, tidak dihias dan adanya batu menonjol pada sisi-sisi dinding untuk menempatkan lampu minyak sebagai pennerangan. Jika kita masuk gang, terlihat bahwa dinding gang belum berisi gambar seperti pada tiga candi besar dalam deretan barat.

CANDI ANGSA

Candi ini letaknya disebelah selatan Candi nandi, berhadapan dengan Candi Brahma. Hanya mempunyai satu tanga masuk, suatu kamar dan satu gang. Sepeerti candi Nandi dan candi lainnnya, belum dibangun kembali sehingga tidak dapat dilihat bentuk aslinya.
Dilihat dari luar, diding batu dihias dengan gambar sseperti pada Candi Nandi. Jika kita memasui kamar, di dalamnya kosong. Kita hanya dapat mengkiaskan bahwa candi ini dipergunakan untuk tempat/kandang binatang yang biasa dikendarai oleh dewa Brahma, karena tempatnya di depan Candi Brahma. Heewan kendaraan Brahmaadalah seekor angsa. Maka candi tersebut bernama Candi Banyak atau candi Angsa. Meskipun tidak terdapat banyak patung di dalamnya, namun terdapat sumur yang berisi tulang-tulang anjing bercampur tanah. Barangkali ini dimasksudkan sebagai sajian korban waktuk candi tersebut dibagun. Dinding kamar tidak dihias, hany terdapat batu untuk menempatkan lampu minyak sebagai penerangan. Jika kita masuk gang yang dilingkari kamar, didndingnya ternyata tidak dihias dengsan gambar-gambar.

CANDI GARUDA.

Candi ini letaknya disebelah utara Candi Nandi, berhadapan dengan Candi Wisnu. Keadaannya semua sama dengan Candi Angsa, baik bentuknya besarnya, perhiasan dinding, jumlah kamar, gang dan tangga masuk. Jika kita msuk ke kamar, terlihat di atas lantai sebuah patung Siwa yang lebih kecil dari pada patung Siwa di Candi Siwa. Patung ini ditemukan tertanam di bawah candi, tetapi sebetulnya tidak pada tempatnya untuk dipasang di kamar candi ini. Seharusnya yang harus ada di kamar ialah seekor burung Garuda. Karena menurut biasanya, seperti Nandi dan Angsa yang merupakan kendaraan, dei dalam seharusnya terdapat garuda sebagai kendaraan Wisnu yang berwujud burung Garuda. Kendaraan Wisnu yang disebut Garuda itu, berwujud burung yang badan atasnya berbentuk manusia dengan dua tangan, tetapi b erparuh. Bagian bawah berbentuk burung yang besayap, berekor, berkaki dua dan beerkuku tajam. Di punggungnya terdapat suatu tempat duduk untuk Wisnu, bila burung sedang terbang. Beberapa patung Garuda terdapat di halaman kantor Purbakalan hanya dalam ukuran kecil. Di bawah lantai terdapat sebuah sumur yang berisi tuang manusia bercamp;ur tanah, dan barangkali dimakskud sebagai korban sewaktu candi dibangun.

CANDI APIT

Candi ini ada dua buah. Letaknya satu di utara dan lainnya di selatan. Masing-masing dekat pintu masuk ke latar atas, ditengah-tengah deretan candi candi. Diberi nama candei apit, karena letaknya terapit oleh dua deretan candi. Kedua candi ini letaknya berhadap-hadapan, yang utara menghadap ke selatan dan yang selatan menghada ke utara. Masing-masing mempunyai tangga masuk, satu kamar dan tak mempunyai gang yang melingkar . hanya da hal yang istimewa tentang candi ini, ialah ketika candi ini suddah selesai dibangun kembali, kelihatan sangat indah.
Yang menimbulkan ertanyaan, aakah fungsi kedua candi tersebut? Apakah candi tersebut diergunakan untuk pos penjagaan? Bila pos penjagaan, mengapa letaknya dekat jalan masuk disebelah timur dan barat tidak ada ? hal tersebut mengingat sanggah di Bali. Mengingat adat agama Hindu pada jaman Raja Balitung yang begitu ketat, yakni sebelum menuju ke candi-candi induk mereka harus bersemedi terlebih dahulu dalam candi apit tersebut. Boleh jadi Candi apit yang satu khusus untuk bersemedi bagi wanita dan yang satunya khusus untuk pria,
Candi Apit merupakan tempat untuk semedi yang kecil bagi pemeluk Agama Hindu, kedudukannya sama dengan kapel (gereja kecil), danggah (pura kecli), langgar (musolla) dan terletak di suatu tempat tertentu. Candi Apit kelihatan indah, apakah untuk menanamkan rasa keindahan (estetika) dalam komplek Canadi yang megah tersebut.

CANDI PENJAGA

Kecuali 8 buah candi yang telah diuraikan di atas, masih terdapat delapan buah candi lainnya, kecil-kecil dan juga terdapat di atas latar atas. Candi-candi ini, empat buah masing-masing ditempatkan di tiap sudut latar dan emat buah lainnya masing-masing ditempatkan pada tiap pintu masuk. Bentuk candi ini sangat sederhana dan sangat kecil.

LAIN-LAIN

Candi-candi di komplek candi Prambanan, merupakan Candi Hindu terbesar di Jawa. Pembangunan pemeliharaan Candi Prambanan pada saat ini dilestarikan terus. Di sekitar candi yang berada di deepannya dibangun taman wisata Candi Prambanan dan tempat pentas sendratari Ramayana.
Wajah Prambanan sekarang lebih cantik, bila dibandingkan dengan keadaan pada tahun lima puluh-an. Didepan komplek candi di bangunpanggung pentas sendratari Ramayana dan taman Wisata Prambanan yang dapat mempercantik wajah kompleks Prambanan sehingga merupakan taman budaya yang sangat menarik para wisatawan luar dan dalam negeri.

CANDI KALASAN

Candi Kalasan disebut juga Candi Kalibening, terletak di sebelah kanan jalan pada kilometer ke tiga belas jurusan Jogjakarta-Surakarta. Candi tersebut dulu sangat indah, tetapi sekarang sudah rusak dan belum dibangun kembali. Menurut perkiraan candi tersebut dibangun oleh Raja Panangkaran, raja ke dua dari kerajaan Mataram Hindu. Pembangunan candi Kalasan erat hubungannya dengan Prasaasti Kalasan.
Prasasti Kalasan ditulis dengan huruf Pra-nagari, dalam bahasa Sansekerta dan berangka tahun 778 Masehi. Isinya ialah, bahwa para guru sang Raja “mustika keluarga Sailendra”’ (Sailindrawamasatilaka) telah berhasil membujuk maharaja Tejapurnapana Panangkaran (di tempat lain dalam prasasti ini disebut Kariyana Panangkaran) untuk mendirikan bangunan suci Dewi Tara dan sebuah biara untuk pendeta dalam kerajaan keluarga Sailendra. Kemudian Panangkaran menghadiahkan desa Kalasa kepada Sanggha.

Gambar 7 Candi Kalasan

Bangunan yang didirikan ini adalah Candi Kalasan di desa Kalasan, terletak di sebelah timur Jogjakarta. Candi ini sekarang kosong. Dahulu di dalam candi tersebut terdapat arca Dewi Tara yang besar dan sangat mungkin terbuat dari perunggu. Tejapurpana Pangangkara adalah Rakai Panangkara, pengganti sanjaya dan ini terbukti dari Prasasti Raja Balitung pada tahun 907. prasasti ini memuat daftar lengkap raja-raja yang mendahului Balitung; bunyi prasasti itu sebagai berikut” TULIS BELAKANGAN AJA
Jelaslah bahwa pemerintahan Sanjaya berlangsung terus, disamping pemerintahan Sailenra. Keluarga Sanjaya beragama Hindu dan memuja Siwa, sedangkan keluarga Sailendra beragama Budha beraliran Mahayana yang sudah condong kepada Tantrayana. Menilik kenyataan, candi-candi dari abad ke 8 dan 9 yang ada di Jawa Tengah utara bersifat Hindu, sedangkan yang ada di Jawa Tengah selatan bersifat Budha, maka daerah kekuasaan Sanjaya ialah bagian utara Jawa Tengah dan daerah kekuasaan Sailedra adalah selatan Jawa Tengah.
Pada pertengahan abad ke 9 kedua wangsa ini bersatu dengan sebuah perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramodhawardhani, raja putri dari keluarga Sailendra. Demikianlah, maka dapat dikatakan bahwa keluarga Sailendra itu memegang kekuasaan di Jawa Tengah kira-kira satu abad (+700 – 850 Masehi). Dalam masa pemerintahan ini banyak sekali bangunan-bangunan suci didirikan utuk memuliakan agama Budha. Sudah kkita kenal Candi Kalasan memuliakan Dewi Tara, menurut prasasti tahun778.
Usia Candi Kalsan sama dengan usia Prasasti Kalasan. Bangunannya berbentuk persegi empat dengan sudut-sudutnya yang menonol keluar, dihias sangat indah dan pada tiap sisinya terdapat1pintu masuk ke kamar berukuran 3,5 meter persegi. Pada sisi ke empat yang letaknya menghadap ke timur, terdapat pintu masuk ke kamar terbesar dan letaknya di tengah-tengah bangunan. Didepan pintu masuk sebelah Timur terdapat dua patung raksasaduduk memegang alat pemukul dan ular. Didalam kamar tengah yang besar ini dahlu terdaat patung Dewi Tara.
Denah Candi Kalasan seperti tercantum di bawah ini. Denah Candi Kalasan ini dikutip dari Yzerman: Beschryving der Oudheden nabij de grens der recidentie Soerakarta van Yogyakarta. DIGAMBAR BELELAKANGAN AJA DENAH CANDI Kalasan.
Candi ini berdidri si atas sebasemen yang luasnya 14,20 meter persegi dan merupakan dasar bagi kaki candi, tetapi sekarang senagian sudah rusak dan bagian lainnya tertimbun tanah, yakni karena tanah disekitarnya makin lama makin menjadi tinggi. Di atas subasemen, melingkari candi, ada gang lebarnya 4,6 meter yang pada waktu dulu bertanding seperti gang-gang yang melingkari candi pada umumnya. Dari bawah ada empat tangga batu menuju gan dan dengan melalui pintu gerbang masing-masing tangga dari gang menuju ke 4 kamar yang sedah disebutkan di atas.

Di dinding sebelsh selatan, di kanan kiri jalan masuk dihias dengan sangat indah, terdapat dua kamar yang memuat gambar Bodhisatwa. Dalam kamar kamar ini dindidng-dinding sisi tidak terdpat sesuatu, barangkali dahulu berdiri atung Bodhisatwa, karena sekarang tinggal terlihat landasannya saja.

Di atas badan candi, terdapat atap candi yang pdada puncaknya terdapat suatu dago seperti juda terdapat di puncak Candi Borobudur. Atap tersebut bertingkat tiga, satu dengan yang lain berbeda. Di bawah sendiri dari badan candi, dipisahkan oleh suaatu kaki atap yang dihias pada sisi luarnya. Atap yang di bawah sendiri bentuknya masih bentuk badan candi, ialah berbentuk persegi 20 dan dihias pada sisinya dengan kamar-kamar yang dulu berisi patung Bodhisatwa duduk di atas bunga teratai. Sekarang masih tingal tiga buah.atap tingkat dua berbentuk persegi delaan dan tiap sisinya mempunyai kamar-kamaran yang yang berisi Dhiyanibudha dan di kanan kiri kamar-kamaran terdapat gambar Bodhisatwa yang berdiri. Dikamar-kamar tersebut, masih terdapat satu patung Dhiyanibudha. Atap tingkat tiga mempunyai delapan kamar-kamaran yang juga berisi patung Dhiyanibudha dan sekarang tinggal sebuah.

Denah Candi Kalsan berbentuk silang Yunani dengan ruang-ruang dalam (Latin: Cella) berisi empat. Diatasnya semula terdapat sejenis stupa dihiasi pahatan-pahatan dan plester yang hingga kini masih tampak sisa-sisanya. Lengkung-lengkung kala makara, penyungkup sebuah relung dengan hiasan khayangan di atasnya, dipahat sangat indah di Candi Kalasan itu.
GAMBAR CANDI KALASAN BELAKANGAN AJA

Keistimewaan Candi Kalasan seperti halnya Candi Sari, berbeda dengan candi-candi yang lain. Perbedaan tersebut adalah, bahwa dua candi tersebut dilekati dengan campuran pasir, seperti halnya dengan pembuatan tembok pada waktu sekarang. [lester tersebut sampai sekarang masih dapat dilihat. Candi Kalasan merupakan Kuil Budha.
CANDI SARI
Candi Sari sidesbut juga Candi Bendah, letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan, tetapi di sebelah kiri jalan agak masuk ke Desa dan terlihat dari jalan besar.
Dalam abad ke 19 didapatkan pada kira-kira jarak 130 meter dari Candi Kalasan, suatu runtuhan candi yang menurut perkiraan candi ini sebagai tempat tingal para pendetra pada zaman dahuu. Candi Sari yang sekarang letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan. Jadi jelaslah bahwa Candi Sari hanyalah meruakan sebagian saja dari kumpulan candi yang telah hilang. Candi Sari dibangun bersamaan dengan Candi Kalasan.

Diperkirakan dahulu terdapat tembok batu yang mengelilinginya. Pintu masuk candi dijaga oleh patung raksasa memegang gada dan ular, seperti yang trerdapat di depan Wihara Palaosan. Banyaknya patung penjaga ada dua buah. Candi itu bertingkat dua, berbentuk persegi panjang dan dibuat dari batu alam. Diddalamnya terdapat tiga cella; dalam cella yang sebelah selatan terdapat bekas-bekas tangga. Gayanya hampir menyerupai Candi Kalasan.

Candi Sari merupakan Wihara dengan panjang bangunannya 17,32 meter dengan lebar 10 mewter. Lantai vihara letaknya 1,60 meter lebih dari tanah dan dapat didcapai melalui tangga batu di sebelah timur yang sekarang sudah tiada. Dari tangga ini , sampai pada sebuah gang ( pada wakti ini sudah hilang) yang mengelilingi bangunan candi. Bila mengelilingi candi melalui gang, terlihat bahwa dinding luarnya dihias sangat indah. Kecuali hiasan dinding terlihat juga dua baris jendela, baris atas dan baris tengah. Fungsi jendelan untuk penerangan di waktu siang dan pertukaran udara keluar dan masuk dalam kamar-kamar yang berhubungan. Dari depan terlihat tiga jendela dibagian atas, dibagian tengah dua jendela dan diantara dua jendela tersebut terdapat intu masuk kedalam wihara. Pada dinding belakan bagian aatas terdaat juga tiga jendela dan dibagian tengah juga tiga jendela. Pda dinding kanan dan kiri di bagian atas masing-masing mempunyai dua jendela, di bagian tengah masing-masing juga dua jendela tetapi salah satu tertutup dan terukir. Atap candi sudah tidak terlihat lagi. Agaknya atap tersebut terletak diatas psasangan batu-batu yang menutup kamar-kamar di bawahnya dengan kuat dan mempunyai dua talang untuk mengalirkan jalan air hujan ke luar.

Sesudah mengelilingi wihara dengan melalui gang, kita pergi ke kamar tengah yang mempunyai pendoipo dengan melalui pintu yang menghadap ke timur. Di dalamnya terdapat tiga kamar, masing-masing berukuran panjang 5,80 meter, lebar 3,46 meter dan letaknya berjajar. Dua kamar yang ada di kanan dan kiri, berhubungan dengan kamar tengah melalui pintu dan jendela. Pada tia-tiap kamar, di dinding kamar bagian belakang terdapat suatu tempat yang agak tinggi, yang dahulu dipergunakan sebagai tempat upacara agama dan menempatkan p[atung-patung. Di dinding kamar kanan dan kiri , terdapat kamar-kamran ayng dipergunakan untuk menempatkan penerangan. Dinding dalam tidak terhias.
Mula-mula wihara tersebut memp[unyai dua tingkat kamar, tingkat atras memunyai tiga kamar dan tingkat bawah juga mem[unyai tiga kamar. Di tingkat atas masih kelihatan terdapat bekas tangga yang menuju ke ata. Sesuai dengan barisan jendela bagian atas. Akan tetapi lantai kamar-kamar tingkat atas sudah tidak ada lagi hanya msaih terlihat tempat balok-balok kayu yang menjadi pendukung lantai atas. Rupa-rupanya kamar atas hanya dipergunakan sebagai tempat tinggal, terbukti bahwa jendela-jendela di barisan atas semua mempunyai bekas yng menunjukkan bahwa daun-daun pintu atau jedelanya dapat dibuka. Hal tersebut terihat dengan adanya lubang-lubang kecil utnuk tempat paku/pen, berputarnya daun jendela.

Dibandingkan dengan Candi Kalasan, Candi Sari agak lebih lengkap. Di bawqah ini kami sajikan denah Candi Sari yang dikutip dari J.W Yzerman dalam bukunya “Beschrijving der Oudhedennabij de grens der residentie Soerakarta on Jogjakarta”.

Denah Candi sari ditulis belakangan
Gambar 9 di tulis belakangan

CANDI SEWU

Candi Sewu terletak di sebelah utara Peambanan, di tapal batas antara daerah Jogjakarta dan Surakarta. Candi tersebut seledai dibangun ira-kira tahun 1098 M.
Candi Sewu terdiri dari sebuah Candi induk, dikelilingi oleh kurang lebih dua ratus lima puluh buah candi-candi pewrwara yang tersusun dalam empat baris. Candi ini termasuk Candi Budha. Semua bangunannya terbuat dari batu candi Sewu mempunyai pagar tembok batu yang melingkari lapangan candi dan berbentuk persegi empat.

Pada tiap sisinya, terdapat pintu gerbang sebagai jalan masuk lapangan candi. Pada tiap pintu masuk, terdapat dua buah patung raksasa yang duduk menjaga dan bersenjata ganda.

DENAH CANDI SEWU ditulis belakangan

Apabila memasuki lapangan candi dari arah timur, akan terlihat ditengh-tengah candi pusatnya. Candi pusat tersebut berbentuk persegi empat dengan sudut-sudutnya yang meniljol ke luar. Pada tiap sisinya, terdapat bentuk candi bujur sangkar yang menonjol ke luar dan masing-masing mempunyai kamar yang dapat didcapai dengan melalui tangga batu depan. Dengan melalui tangga dan kamar di bagian timur, kita dapat masuk ke kamar tengah, kamar terbesar, sedangkan tiga kamar lainnya tidak berhubungan dengan kamar tengah. Setiap kamar mempunyai atap yang rendah, sedangkan kamar tengah atapnyalebih tinggi dan menjulang ke atas ditengah-tengah empat atap lainnya.
Dengan melalui gang yang sempit, kita dapat mengelilingi candi dan dapat melihat bagian luar dari candi yang penuh dengan gambaran. Dengan melalui gerbang, kita dapat sampai pada gang dalam dari kamar depan. Di semua kamar, baik kamar depan maupun kkamar tengah, tidak terdapat lagi patung-patung.

GAMBAR 10 ditulis belakangan.

Candi psat ini terletak di tengah-0tengah deretan candi kecil, bejumlah 240 buah, berderet dalam empat deretan melingkari candi pusat dan berbentuk hamir persegi empat. Antara deretan ke dua dengan deretan ke tiga, terdapat lima buah candi yang lebih besar tetapi sudah rusak.

CANDI LUMBUNG

Candi Lumbung terletak di sebelah selatan Candi Sewu, dan bentuknya lebih kecil daripada CandiSewu. Terlihat bahwa kelompoktersebut terdiri dari candi pusat yang sudah rusak dilingkari oleh enam belas candi kecil berbentuk persegi empat. Candi ini sudah masuk dalam daerah Kabupaten klaten Surakarta.
Candu pusatnya berbentuk persegi 20. dilihat dari luar, disamping pintu masuk dan semua dinding terdapat gambar- gambar sebesar orang, baik lakilaki maupun perempuan, seperti yang terdapat di Candi Kalasan dan Candi Sari. Di dinding luar terdapat kamar-kamr yang barangkali untuk emnempatkan patung-patung Dhyani Budha. Atap ‘candi sudah ‘runtuh dan agaknya dahulu beratap seperti CAndi Sewu.

Dari sebelah timur, melaluli gang dapat masuk ke kamar candi yang berbentuk persegi empat dan berukuran 350 meter persegi. Pada dingng belakang terdapat tiga kamar-kmaran juga pada dinding selatan dan utara.
Pada dinding depan sebelah timur, di kanan kiri pintu masuk, masing-masing terdapat satu kamar-kamaran. Di semua kamar-kamaran tersebut tidak terdapat patung. Bentuk candi- candi kecil yang melingkari hampir sama bentuknya dengan candi-candi kecil di Candsi Sewu, tetapi semua tidak atau belum dihias dan tak mempunyai pendopo seperti di candi Sewu. Hanya bedanya candi kecil menghadapkan candi pusatnya..

CANDI PALAOSAN

Dandi Palaosan terletak di sebelah timiur Candi Sewu. Candi Palaosan bisa juga dicapai dari stasiun kereta api, kemudian menyebrangi jalan raya Jogja-Solo ke arah utara. Candi Palaosan agak jauh letaknya dengan Candi Prambanan.
Candi palaosan ini baru ditemukan pada pertengahan abad ke-19 dan keadaannya sangat rusak. Candi Palaosan yang dibangun Rakai Pananagkaran, merupakan hadiah pada permaisurinya yang beragama Budha. Hal tersebut dapat dilihat dari tulisan ada dua bangunan stupa percandian di kanan kiri jalan masuk ke candi induk sebelah utara, yang bertuliskan asthupa sri maharaja rakai pikatan, dan anumoda rakai gurunwangi dyah saldu.

CATATAN KAKI BELAKANGAN hal 66

Bangunan atau tulisan di atas bangunan stupa itu merupakan tambahan pada waktu kemudian. Hal ini dapat dilihat dari [erbedaan tulisan yang ada dengan tulisan pada candi Perwara yang lain. Denah candi Palaosan terlihat seperti di bawah ini. Denah tersebt dikutip dari M>L. Van Goor, dalam bukunya “ Korte Gids voor de tempel-bouwvallen in de Pembananvlakte, Diengplateau en Gedong Sanga.

GAMBAR DENAH DAN KETERANGAN BELAKANGAN

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa Candi Palaosan baru diketemukan sekitar pertengahan abad 19.di sekitar candi ada tembok batu yang melingkarinya, berbentuk bujur sangkar. Lapangan tersebut dibagi menjadi dua bagian dan bentuknya hampir persegi empat.
Untuk dapat memasuki lapangan tersebut kita harus memasuki dari barat, melalui gerbang dari masing-masing lapangan yang terpisah satu dengan yang lain. Di atas tiap lapangan berdiri saatu bangunan dan tidak merupakan candi, tetapi suatu wihara yang bentuk dan susunannya sama dengan wihara yang sudah diketahui di candi sari. Wihara-wihara tersebut menghadapa ke barat dan juga terdiri dari dua tingkat, tetapi bangunan tersebut sudah rusak.
Seperti halnya pada candi Sari, tingkat atas diergunakan sebagai tempat tinggal poara pendeta dan tingkat bawah untuk keperluan keagamaan. Terdapat banyak patung disini, tetapi sekarang sudah dipindahkan/ditempatkan di museum Jogja. Wihara ini mempunyai pendopo dan dari sii kita dapat masuk kedalam yang terdapat tiga kamar. Pada dinding kamar terdapat kamar-kamaran yang berisi patung-patung. Pada dinding belakang di tempat yang agak tinggi dan dipergunakan untuk mengadakan korban, juga ditempatkan patung*)
Diluar tembok batu yang melingkari dua vihara, ada tembok batu lagi yang melingkat sejajar dengan tembok dalam. Di antara tembok dalam dan luar ini, terdapat deretan candi-candi kecil melingkar sejajar dengan jalannya dua tembok tersebut di atas. Deretan pertama terdiri dari candi-candi kecil, sedangkan deretan kedua dan ketiga terdiri dari batu-batu bundar tempat bekas berdirinya stupa. Di atas batu-batu ini, terdapat stupa kecil berupa sangkar yang bagian atasnya sekarang masih kelihatan.
Dalam deretan stupa-stupa ini, pada sudut-sudutnya terdapat satu candi yagn diddalamnya berisi satu patung dhyanibudha dan sew3aktu diteliti oleh Yzerman patungnya patungnya masih berada di tempat tersebut.*)
Disebelah utara dari kelompok candi yang dilengkapi oelh tembok batu ini, terdapat kelompok lain yang juga dilingkari oleh kelompk batu dalam bentuk bujur sangkar, yaksni sebgai tembok lajutan dari kelompok pertama. Di tengah-tengah lapangan yang dikelilingi tembok batu ini, terdapat suatu teras kosong dan berbentuk persegi empat. Disekitar teras tengah dalam tembok batu, terdapat batu-batu bundar tempat berdiri stupa seperti lapangan yang pertama.**)
Disebelah selatan dari kelompok candi yang pertama, dimana terdapat dua wihara, terdapat lapangan kosong yang juga dikelilingi dengan tembok batu dalam bentuk bujur sangkar dan tembok tersebut merupakan bagian dari tembok sebelah utara. Sebelah selatan dari lapangan kosong ini, terdapat lagi lapangan lain yang juga dikelilingi oleh tembok batu dalam bentuk bujur sangkar. Di tenagh-tengah juga terdaat teras, dahulu di atasnya tiga buah patung. Sekitar teras yang ditengah-tengah bagian utara, timur dan selatan terdapat tiga dereran batu bndar tempat berdirinya stupa, sedangkan di bagian barat terdapat dua deret candi.

Jadi bila dilihat keseluruhannya, empat lapangan tersebut merupakan satu lapangan candi yang luas, dikelilingi oleh tembok batu dengan bentuk bujur sangkar yang dibagi dalam empat lapangan oelh tembok penghubung. Sedangkan bila dilihat dari jalannya tembok bagian luar menuju ke barat, menunjukkan bahwa lapangan didepan kelompk tersebut merupakan satu gugusan lanjutan yang masih kosong.

CANDI SOJIWAN

Candi Sojiwan letaknya kira-kira 2 km sebelah selatan jalan kereta api, sebelah selatan Prambanan; merupakan bagian dari suatu kelompok candi dan bentuk wihara. Candi Sojiwan berlandaskan agama Budha dan merupakan tempat pendarmaan Rakritan Sanjiwana yang menganut agama Budha. Rakiyan Sanjiwana adalah nama lain dari Sri Pramodawardani, anak Samarotungga yang kawin dengan Rakai Pikatan.*
CATATAN KAKI DI TULIS BELAKANGAN HAL 71

Lapangan candi dikelilingi oleh tembok batu. Sekarang tinggal fondamennya saja, berbentuk bujur sangkar dan jaraknya kira-kira 40 meter. Untuk memasuki lapangan, melewati bagian barat. Di depan candi, terdapat dua patung raksasa yang memegang gada dan ular. Salah satu patung ini, sekarang berada di halaman bekas rumah asisiten residen Klaten.
Denah Candi Sjiwan seperti tampat di bawah ini:
DIGAMBAR BELAKANGAN
CATATAN KAKI JUGA DITUIS BELAKANGAN.

KERATON BOKO
Keraton Boko letaknya kira-kira 2 kilo meter dari Candi Prambanan. Apabila dari Candi Prambanan kita melihat ke selatan, terlihat membentang dari timeur ke barat suatu deretan gunung yang merupakan lanjutan lari pegunungan seribu dan biasa disebut Gunung Kidul. Lanjutan gunung ini berhenti pada aliran kali Opak yang mengalir dari utara ke selatan, juga melalui sebelah barat candi Prambanan. Hampir pada akhir lanjutan gunung tersebut, di atas terdapat bekas-bekas reruntuhan kereaton dan pada umumnya disebut Keraton Boko.
Disebut Keraton Boko, karena menurut legenda di situlah letak istana Ratu Boko, saudara Loro Jonggrang. Mungkin juga keraton, tersebut milik raj-raja Mataram yang membuat Candi-candi di dataran Prambanan. Bahwa peninggalan tersebut bukanlah berupa candi, melainkan bangunan keraton. Karena di tempat tersebut terdapat bekas tembok benteng dan juga gang yang kering (selokan lebar dan dalam, terdapat disekeliling keraton di samping benteng sebagai alat pertahanan). Kecuali keraton, juga terdapat bekas perumahan yang banyak jumlahnya disekitar keraton tersebut.

Sebagaimana telah diterasngkan, untuk mencapai keraton tersebut harus melalui gunung, dan ditengah-tengah perjalanan ke atas harus melalui dua goa. Goa ini tidak sama besarnya. Yang satu tingginya 1,30 meter, lebar 3, 70 meter dan masuk 2,90 meter sedangkanyang lain lebar 3 meter dan masuk 1,70 meter. Di dalam goa ini, pada dinding belakang terdapat dua kamar-kamaran dan tidak berisi patung. Machenzie, ketika mengadakan penelitian menemukan sebuah patung di depan goa yang petrtama.
Apabila kita sampai di atas, terlihat bahwa tembok keraton hanya tinggal fondamennya saja. Panjangnya 54 langkah dari selatan ke utara, dan 45 langka dari barat ke timur.
Pada tembok bagian utara, terdapat pintu masuk dan pada tembok bagian selatan, kecuali pintu masuk juga terdapat suatu pendopo. Di sebelah timur keraton terdapat tempat berukuran kecil yang digali dan lebih ke timur lagi lebih besar.
Ketika MaCkenzie mengadakan penelitian, juga menemukan sebuah patung yang menggambarkan seorang laki-laki dan perempuan berkepala dewa sedang berpeluk-pelukan.. dan diantara tumpukan batu-batu diketemukan satu tiang batu yang digambari binatang-binatang seperti: gajah, kuda, dan lain-lain. Dalam tembok yang melingkari keraton, diketemukan suatu batu dengan tulisan Nagari yang dapat memberi kesan, bahwa raja dan orang yang membuat keraton tersebur beragama Budha. Menurut cerita dari mulut ke mulut dua goa tersebut digunakan oleh sang Prabu untuk bertapa jika sang Raja akan memutuskan suatu hal yang penting. Di gunung itu, diketemukan tempat-tempat pengambilan batu-batu yang dipergunakan untuk pembuatan candi-candi di dataran Prambanan. Batu-batu di tempat ini, tergolong Zandsteen (batu Besar) yang hanya dapat digunakan untuk landasan dan isi candi, tetapi tidak dapat dipahat untuk dijadikan patung.
Berhubung yang didapat di tempat tersebut hanya fondamennya, dapat diperkirakan bahwa dinding dan atapnya terbuat dari bahan yang mudah rusak dan bukan dari bahan batu, melainkan terbuat dari kayu serta atapnya terdiri dari sirap atau genteng biasa.
Di atas gunung sebelah utara keraton boko, terdapat sebuah candi Dowang dan sebelah timur Candi Ijo.
Di sebelah selatan keraton Bokobawah, kita dapati Candi Ngaklik, Watu Gudig, Geblog, Bubrah, Singa dan Grimbiangan yang kesemuanya sudah rusak. Ada kemungkinan bahwa candi-candi ini didirikan oleh raja-raja yang menganut agama Siwa.

CANDI BOROBUDUR

Lokasi dan Keadaan Alam Sekitarnya.
Candi Borobudur terltak si pusat jantung Pulau Jawa, dengan puncaknya yang menjulang ke angkasa dikelilingi bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat dan gunung- gunung berapi: Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Sumbing dan Sindoro di sebelah barat, dengan pemandangan yang hijau indah membentang sejauh mata memandang. Kesemuanya itu menimbulkan suasana tenang, aman dan tenteram.
Borobudur termasuk dalam wilayah Kabupaten Magelang, Karesidenan Kedu, Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Tengah. Dari Jogjakarta, jaraknya 41 Km ke arah utara melalui jalan raya menuju Magelang.
Temat candi itu dapat ditempuh dengan mudah dan sarana perhubungannya sudah baik. Apabila tidak mempergunakan kendaraan sendiri, orang dapat menempuhnya dengan memakai kendaraan umum seperti bis, taksi, atau colt. Kendaraan-kendaraan umum itu ada yang mengadakan trayek ke Borobudur. Tetapi apabila tidak menggunakan kendaraan bermotor , dapat turun di Muntilan, kira-kira 27 km dari Jogjakarta dan dari sana dapat melanutkan perjalanan dengan dokar atau andong. Dengan kendaraan seperti ini, akan lebih enak menikmati suasana sepanjang perjalanan.

Kenikmatan dari Tuhan yang diberikan kepada mahlukNya dapat kita rasakan, betapa Mahakuasa dan Mahamurah anugerah Tuhan terhadap hambaNya. Disepanjang jalan yang dilalui dengan dokar atau andong, terbentang sawah-sawah nan hijau dan menguning memberikan pemandangan yang demikian indahya. Air yang melimpah mengalir di parit-parit sepanjang jalan. Angin meniup sepoi-sepoi basah, sungguh segar dan nyaman rasanya ditengh-tengah daerah yang kaya dan makmur itu. Dari kejauhan, apabila kita melepaskan pandangan ke arah barat laut Bukit Manoreh, tamaklah bentuk bangunan Borobudur yang berwarna ke hitam-hitaman. Hal ini mengikatkan kepada umat manusia kepada Tuhan, bahwa manusia yang pandainya luar biasa pun tidak akan dapat menyamai kekuasaan Tuhan yang dapat menciptakan alam sedemikian indah dan menakjubkan.
Alangkah bahagia nya, apabila umat manusia senantiasa dapat memelihara lingkungan hidup pemberian Tuhan itu. Memang benar-benar indah pemandangan di perjalanan yang menuju Borobudur. Nampaknya yang memprakarsai dan membangun Borobudur terlebih dahulu mengadakan penelitian mendalam, sehingga yang akan dibuatnya benar-benar mengagumkan. Sampai di desa Mendut, kita akan melalui sebuah candi yang juga terkenal, ialah Candi Mendut yang akan diuraikan pada bab 10.
Dua kilometer kemudian, kita memasuki desa Borobudur dan searah jalan lurus akan tampak di hadapan kita bangunan megah menulang di atas bukit. Itulah Borobudur. Sekarang Taman Wisata Borobudur sudah selesai dibangun, sehingga menambah keanggunan cagar budaya Borobudur yang megah.
Apabila memasuki halaman Borobudur, kita berada di sebelah timur. Memang dari arah inilah seharusnya kita memulai perjalanan ke Borobudur. Bila kita naik ke atas, mengitari tiap-tiap lorong dan selasar Borobudur, maka kita harus berpradaksina; artinya pada tiap tingkat kita mengarah ke kiri. Jadi bangunan ini ada di sebelah kanan kita.

Arti Borobudur sampai sekarang belum diketahui secara jelas. Namun, kata Borobudur berasal dari gabungan kata- Bara dan Budur. Bara berasal dari kata Sanskerta “ Vihara”, yang berarti kompleks candi dan bihara atau asrama ( Prof. Dr. Poerbocaraka dan Struterheim). Sedangkan kata Baudur mengikatkan kita pada bahasa Bali : Beduhur, yang artinya di atas. Jadi nama Borobudur kira-kira berarti asrama atau bihara (kelompok candi) yang terltak di atas bukit. Memang di halaman sebelah barat laut Borobudur sewaktu diadakan penggalian ditemukan sisa-sisa bekas sebuah bangunan, yang mungkin sekali bagunan bihara.

Pendapat lain dikemukakan oleh J.G Car4paris, erdasarkan Prasasti Cri Kaluhunan (842 M). Di dalam prasasti itu terdapat sebuah kuil bernama Bhumusambhara, yang menurut pendapat beliau nama itu tidak lengkap. Agaknya masih ada sepatah kata lagi untuk “gunung”di belakangnnya, sehingga nama seluruhnya seharusnya “ Bhumisambharabhudira”. Dari kata inilah akhirnya terjadi nama Borobudur. Tidak jauh dari Borobudur sekarang masih ada desa yang bernama “Bumisegara”. Dan masih banyak lagi teori teori dari ara ahi tentang arti nama Borobudur.

Borobudur jelas merupakan bangunan suci agama Buddha. Di India bangunan yang berhubungan dengan nama Buddha disebut stupa. Stupa ialah bangunan berbentuk kubah, berdiri di sebuah lapik dan diberi payung di atasnya.
Adapun arti stupa ialah:
• sebagai tempat menyimpan reliek ( penginggalan-peninggalan yang dianggap suci): benda-benda, pakaian, tulang belulang sang Buddha, arhatdan bhiksu terkemuka yang dinamakan juga dhatugarbha (diagoba).
• Sebagai tanda peringatan dan penghormatan kepada sang Budhha serta Snggha (Yang Mahatinggi),
• Sebagai lambang suci agama Buddha pada umumnya.

Akhirnya stupa itulah yang dipuja dan disebut Caitya.

Bangunan Borobudur, pada hakikatnya adalah stupa juga. Karena mengalami erkembangan, sehingga yang lama menjadi bentul arsitektur lain dari pada yang terdapat di negara-negara beragama Buddha lainnya. Apakah dengan demikian Borobudur juga mempunyai arti dan fungsi seperti disebut di atas? Pada waktu diadakan penggalian tanah di bawah stupa induknya dalam tahun 1842 oleh residen Kedu Hart Mann, sama sekali tidak ditemukan Reliek.

J.G de Carparis mengemukakan suatu pendapat yang sangat berbeda. Dia menghubungkan Borobudur dengan asal usul keturunan raja-raja Sailendra. Pada piagam dari tahun 842 M, terdapat kalimat” kamulan I Bhumi sambhara”. Kata “Kamulan” berasal dari kata Sansekerta “ mul” (akar, asal), berarrti tempat suci yang berhubungan dengan asal mulanya kerajaan (Wangsa Sailendra). Sedangkan arti “Bhumisambhara” sebagaimana telah diutarakan di atas. Dengan demikian bangunan Borobudur menurut sarjana tersebut adalaha tempat pemujaan atau penghormatan nenek moyang dari wangsa Sailendra. Bila demikian maka Borobudur merupakan perpaduan dari dua unsur kebudayaan yaitu kebudayaan Indonesia asli dan kebudayaan dari luar. Begitu pula bentik bangunannya, merupakan sebuah bentuk campuran; stupa di atas punden berundak (ciri khas kebudayaan zaman pra sejarah di Indonesia).

GAMBAR SEBELAS DITULIS BELAKANGAN.

Waktu didirikan, Keturunan dan Penemuannya Kembali

Hingga sekarang, belum pernah ditemukan sumber-sumber tertulis yang menyebutkan kapan, bagaimana dan berapa lamacandi Borobudur dibangun, sehingga secara pasti tidak dapat ditentukan usianya. Beberapa bukti telah dikemukakan oleh para ahli untukl menentukan usia candi Borobudur. Pada bagian kaki Borobudur yang tertutup, terdapat tulisan-tulisan singkat berbahasa Sansekerta dengan huruf Kawi. Dengan menbandingkan huruf-huruf tersebut dan dihubungkan dengan prasasti-prasasti bertarikh yang terdapat di Indonesia, maka sementara sarjana berpendapat bahwa Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M. Pada tahun tersebut di Jawa Tengah berkuasa raja-raja Wangsa Sailendra yang menganut agama Buddha Mahayana, sehingga daatlah dikatakan bahwa Borobudur yang juga bersifat agama Buddha Mahayana itu ada hubungannya dengan Wangsa Sailendra.
Kurang lebih 1 ½ lamnya Borobudur menjadi pusat temat berziarah bagi penganut agama Buddha di Jawa. Akan tetapi dengan runtuhnya kerajaan Mataran Hindu, kira-kira dalam perempat abad ke 10 M yang dibarengi dengan perpindahan kekuasaan politik dan kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, maka sejak itulah bangunan-bangunan suci Jwa Tengah, termasuk Borobudur diserahkan kepada nasibnya sendiri, terbengkalai, tak terurus di alam terbuka dan akhirnya dilupakan orang. Tumbuh-tumbuhan mulai merajalela merusak bangunan susci itu. Alam pun memeinkan peranannya dengan adanya gempa bumi yang disebabkan letusan Gunung Merapi. Sebagian bangunan dan terutama bagian-bagian atasnya runtuh, sedangkan sebagiannya lagi tertimbun tanah. Sejak itu pula Borobudur hilang dari pandangan.

Baru dalam abad ke 18 M menurut Babad Tabah Jawi, terdapat berita singkat tentang larinya Mas Dana yang memberontak melawan Pakubuwono I (1709-1710) dan ditangkap di Deswa Borobudur. Lima puluh tahun kemudian, 1775-1758 seorang Pangeran Jogjakarta mengunjungi Borobudur untuk melihat seribu arca”.

Kemudian pada tahun 1884 perhatian orang mulai tertuju lagi ke Borobudur, Sir Thomas Standford Raffles sebagi Gubernur Jenderal yang memerintah jajahan Inggris di Jawa (1811-1815), sewaktu berkunjung ke Semarang mendapat berita bahwa di desa Borobudur ada sebuah bangunan purbakala yang masih terpandam di dalam tanah. Rafles segera mengirimkan seorang perwira bernama H.C. Cornelius untuk melihat sebuah bukit yang penuh ditumbuhi pohon-pohon dan semak belikar.

GAMBAR 12 DITULIS BELAKANGAN

Tamapak di atas bukit itu batu-batu berserakkan. Dengan bantuan penduduk desa H.C Corneslius segera melakukan pembersihan dengan menebangi pohon-pohon , membakar semak belukar dan menyingkirkan tanah dari atas bukit it. Pembersihan memakan waktu yang cukup lama, sehingga baru pada tahun 1835 atas usaha residen Kedu, bentuk candi dapat ditampakkan seluruhnya, menjulang ke atas.

Dalam tahun 1842, Hart Mann melakukan penyeidikan terhadap stupa induk Borobudur yang menjadi mahkota bangunannya. Stupa ini oelh Cornelius sudah kedapatan terbongkar dan menganga pada bagian tubuhnya. Maka Hart Mannn hendak mengetahui, apa yang tersimpan dalam rongga stupa itu. Dalam penyelidikannya itu tidak ada laporan sama sekali, sehingga cerita yang tersebar tentang didapatkannya sebuah arca Buddha dalam rongga trersebut kemudian diragukan kebenarannya. Soalnya ialah, bahwa arca tersebut yang dibuat dari batu dan berukuran sama dengan arca-arca Buddha lainnya, belum selesai pembuatannya dan rendah mutu seninya. Selain jelas wajahnya, lengannyapun tidak sama panjangnya. Stupa bukanlah digunakan untuk menyimpan arca, apalahi arca seperti barang yang diafkir. Sebaliknya dikemukakan juga pendapat bahwa arca yang tidak sempurna itu justru dimaksudkan sebagai penggambaran Adi Buddha atau Buddha tertinggi, yang karena sempurnanya tidak dapat terlukiskan.*)
CATATRAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

Bagaimanapun juga berkat usaha Har Maan maka berubahlah pemandangan di desa Borobudur. Kini, pedesaan datar itu diberi mahkota berupa sebuah bangunan kuko yang emnjulang tinggi di atas kebun dan sawah penduduk. Kiranya pemandangan yang indah ini dianggap perlu juga dinikmati pengunjung, sehingga di puncak stupa induk didirikan sebuah bangunan dari bambausebagai tempat untuk menikmati pemandangan sambil minum teh.*)
Pada tahun 1945, didatangkanlah seorang ahli potret bernama Schaefer untuk mengabadikan relief-relief candi Borobudur. Ternyata hasilnya sangat memuaskan, sehingga pada tahun 1849 diambil keputusan untuk melukis Candi Borobudur dengan lukisan tangan. Yang kemudian dilaksanakan oleh F.C Wilsen dari Zeni Angkatan Darat, selam empar tahun bertugas untuk menyelesaikan seluruh gambar bangunan beserta reliefnya. Karena suatu hal, tugas penyusunan monografi Borobudur diserahkan kepada pemerintah. Kemudian pemerintah menyerahkan penyusunan monografi Borobudur kepada Leremans, monografi tersebut baru selesai tahun 1859, dan hasilnya diterbitkan dalam tahun 1873.*) CATATAN KAKI DIDTULIS BELAKANGAN

Sangat disayangkan, karena kurangnya pengertian dari para pejabat pemetrintah pada waktu itu, tidak sedikit batu-batu candinya yang hilang karena perbuatan tangan-tangan jahil. Tidak kurang dari delapan cikar, penuh dengan arca-arca dan batu-batu berukir dari bangunan Borobudur (tentunya dipilih yang baik), telah diangkut ke Thailand sebagai hadiah atas kunjungan raja Chulalangkon di Indonesia dalam tahun 1896.
GAMBAR 13
GAMABR 14

Residen kedua yang ditugaskan untuk memberikan hadiah tersebut, rupanya ingin menunjukkan jasa-jasa baiknya terhadap raja Thailand, sehingga dipilih jenis dan bentuk yang baik. Antara lain lima Dhyani Buddha, tiga diantaranya diambilkan dari tempat-tempat aslinya dilerung-lerung, dua arca singa yang tidak ada cacatnya, sebuah pancuran makara, kepala-kepala singa dari sayap-sayap tangga, kepala-kepala penghias dari relung-relung serta gapura-gapura dan masih banyak lagi yang lain.

Sejak ditemukannya kembali Borobudur, dimulailah usaha-usaha memperbaiki dan memugar bangunan Borobudur. Mula-mula hanya dilakukan perbaikan-perbaikan kecil di sana sini, serta pembuatan gambar dan photo relief-reliefnya. Pemugaran pekerjaan yang dapat dikatakan agak besar, pertama diadakan pada tahun 1907-1911 di bawah pimpnan Th. Van erp.

Pemugaran oleh Th. Van Erp itu, dimaksudkan terutama untuk menghindarkan kerusakan-kerusakan lebih lanjut dari bangunan borobudur. Dengan [ekerjaan Van Erp itu, untuk sementara candi Borobudur dapar diselamatkan dari kerusakan yang lebih parah. Walaupun bagian\bagian dari tembok-temboknya terutama tiga tinggkat dari bawah di sebalah barat laut, utara dan timur laut masih banyak yang tampak miring dan menghawatirkan. Gapura-gapuranya hanya beberapa saja yang dapat disusun kembali, pagar-pagar langkah, relief-relief dan patung Buddha masih banyak pula yang masih belum terpasang kembali di tempat asalnya.

Menurut pendapat Van Erp, miringnya tembok-tembok induk itu tidak membahayakan bangunan Borobudur. Pendapatnya tersebut sampai 50 tahun kemudian, ternyata benar. Tetapi sejak 1960, pendapat Erp mulai diragukan. Pada tahun 1956, atas permintaan pemerintah Republik Indonesia kepada Unesco, datanglaj Prof. Dr.C Coremans dari Belgia ke Indonesia untuk mengadakan penelitian sebab-sebab kerusakan batu-batu candi, khususnya Vandi Borobudur. Sebagai hasilnya, ia berkesimpulan bahwa air merupakan penyeban utama dari semua kerusakan itu. Air hujan yang meresap kedalam dasar tanah bangunan candi dan melalui celah-celah batu, telah mengikis permukaan tanah dasarnya sehingga memperlemah daya tahan tanah yang berfungsi sebagai fondasi bangunan. Lama kelamaan tanah dasar menjadi jenuh, air terkumpul di tempat-temat tertentu dan membentuk kantong-kantong air. Hal ini menyebabkan tanah pada akhirnya menjadi lunak.

Selanjutnya salah satu kepustusan sidang umum Unesco ke 15 di Paris dalam tahun 19668, Unesco sangat menaruh minat da perhatian terhadap masalah yang dihadapai Indonesia untuk pembangunan Borobudur. Sebagai tindak lanjut Unesco berjanji untuk memberikan bantuan kepada Indonesia guna menyelamatkan Candi Borobudur, yang juga merupakan satu keajaiban dunia. Kemudian pada tahun berikutnya, unesco mengirimkan tenaga-tenaga ahlinya dari berbagai bidang ilmu pengetahuan untuk mengadakan survey dan penelitian antara lain penelitian microbiology terhadap batu-batu candi Borobudur dan erencanaan teknis rekonstruksinya. Dalam melaksanakan tugasnya itu, para ahli unesco bekerja sama dengan para ahli Indonesia. Dengan bekal yang ada sebagai hasil kerja tenaga-tenaga bangsa Indonesiasendiri di Borobudur, berhasillah beberapa jenis pekrjaan lebih ditingkatkan dan disempurnakan lagi.

Dalam rangka mencari dan mengumpulkan dana untuk membantu anggaran biaya penyelamatan pusaka budaya bangsa itu, maka pada tahun 1970 Presiden Republik Indonesia telah menugaskan kepada Menteri Perhubungan untuk membentuk sebuah tim atau panitia yang dapat menangani masalah-masalah tersebut. Pembangunan Candi Borobudur tahun 1969 dimasukkan dalam rencana Pembangunan Lima Tahun, sebagai Proyek Pembangunan Lima Tahun, sebagai proyek pembangunan kebudayaan nasional. Dengan demikian, dapat diharapkan adanya anggaran pembiayaan secara berturut-turut bagi pemugaran Candi Boreobudur. Inilah yang menjad paktor okok guna berhasilnya suatu pekrjaan yang dihadapi.

Mengingat begitu kompleks masalah Borobudur ini, maka untuk menangani semuanya itu diperlukan suatu ioeganisasi yang teratur dan terkoordinasi/ akhirnya pada tahun 1971, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Badan Pemugaran Candi Borobudur (BPCB) yang diketuai oleh Prof. Ir. Rooseno, sebagai sekretaris diangkat Prof. R. Soekmono, disamping tugasnya selaku pimpinan proyek, kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN). Badan inilah yang akan menangani semua masalah Borobudur, baik yang bersifat nasional mauupun internasional. Juga dibantu oelh staf ahli dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, antara lain dari LPPN, Mikrobiologi danMekanika tanah dariFakultas Teknik Universitas Gajah Mada, ahli Geologi dari ITB dan ahli beton dari Universitas Saraswati. Sebagai konsultan ialah Nedeko (Nederlands Engineering Consultants).
Adapun rencana pemugaran itu meliputi tiga macam pekerjaan pokok, yaitu: pembongkaran dan pemasangan batu-batu candi (tekno Arkeologis), pembetonan Fondasi (teknik sipil), pembersihan serta pengawetan batu-batunya (Cemiko-Arkeologis). Bagian candi yang dipugar ialah empat tinggkat dari bawah berbentuk bujur sangkar (Rupadhatu). Sedangkan kaki candi (Kamadhatu) dan bagian atas candi, berupa teras-teras bundar dengan stupa=stupa (Arupadhatu) tidak akan diopugar karena keadaannya masih cukup baik.
GAMBAR 15 DITULIS BELAKANGAN.

Pemugaran Borobudur memekan waktu selama 6 tahun, dengan biaya US $ 16.500.000 dan selesai pada akhir tahun 1982.

BANGUNAN BOROBUDUR

BANGUNAN Borobudur didirikan di atas dan si sekitar lereng sebuah bukit, berbentuk punden berundak. Berbeda dengan bangunan-bangunan suci lainnya, di mana orang-orang yang akan melakukan ibadat dapat masuk ke dalamnya. Di Borobudur orang hanya bisa naik ke atasnya melalui tangga-tangga pada ke empat sisinya.

Bangunan Borobudur pada hakikatnya adalah bangunan stupa, namun tidak sebagaimana lazimnya stupa yang berbentuk kubah, tetapi merupakan punden berundak dengan enam tingkat berbentuk bujur sangkar. Tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa induk sebagai puncaknya. Semua bagian itu merupakan satu kesatuan, dan secara keseluruhan m,erupakan bangunan satu bangunan stupa.

Disamping sebagai lambang tertinggi agama Buddha, stupa Borobudur juga merupakan tiruan dari alam semesta, yang menurut filsafat agama Buddha terdiri dari tiga bagian besar yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu adalah sama dengan alam bawah, tempat manusia biasa. Di Borobudur adalah bagian kaki.. Rupadahatu sama dengan alam antara, setelah manusia meninggalakan segala keduniawian. Di Borobudur ada empat tingkat yang berbentuk bujur sangkar. Arupadhatu sama dengan alam atas, tempat para dewa.. di Borobudur ada tifga dataran berundak (teras), termasuk stupa induk.
Ukuran pada dasar bangunan Borobudur 123 meter persegi(di sudut yang membelok hanya 113 m), tingginya 31,5 m sampai pinakelnya yang sekarang sebagian tidak ada lagi. Batu andesit yang dipergunakan untuk membnuatbangunan-bangunan Borobudur, sebanyak 55.000 meter kubik.

Tingkat Kamadhatu yang sekarang, tidak lah sebagaimana aslinya. Batu-batu polos yang banyak jumlahnya, tidak kurang dari 11.600 meter kubik, telah menutupi kaki asli bangunan Borobudur ketika bangunan itu longgar sebelum pembangunannya selesai seluruhnya. Pada tahun 1885, Yzerman secara kebetulan telah menemukan kaki bangunan yang asli di bawah tembok batu bagian ini. Pada tembok kaki yang asli itu, disekeliling Borobudur terdapat 160 relief yang menggambarkan adegan-adegan dari Karmawibhangga, yaitu melukiskan tentang hukum sebab akibat. Relief ini telah dibuat fot-fotnya oelh Chepas pada tahun 1891, dengan terlebih dahulu menyingkirkan batu-batu penutup kaki bangunan aslinya. Di sudut Tenggara Borobudur sebagian kaki bangunan aslinya sekarang masih dapat dilihat.

Kira-kira seperempat dari jumlah relief-relief itu, bagian atasnya masih terdapat tulisan-tulisan singkat yang dimaksudkan sebagai petunjuk bagi para pemahat, adegan apa yang harus dipahatkan disana. Di antara relief-relief itu terdapat tanda-tanda belum selesai pengerjaan. Jadi besar kemungkinan ketika pekrjaan pemahatan itu belum seesai seluruhnya, bangunan Borobudur mulai longsor sehingga terpaksa harus segera ditutup kaki aslinya berhubung adanya sesuatu hal teknis dan alasan keagamaan.

Tingkat Rupadhatu terdiri dari empat lorong bujur sangkar, dan di bagian luar dari tiap=tiap lorong itu diberi pagar langkah. Di atas pagar-pagar langkah, terdapat relung-relung dengan puncak-puncak stupa kecil yang di dalamnya berisi arca-arca Buddha. Di tengh-tengah dari tiap lorong pada ke empat sisi bangunan Borobudur, terputus untuk tempat tangga yang menghubungkan masing-masing lorong pada tingkat-tingkat berikutnya. Pada dinding lorong dari tingkat ini berisi relief yang menggambarkan cerita-cerita dari naskah Sansekerta: Gandawyuha, Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Tingkat ini juga kaya akan hiasan-hiasan beraneka ragam, seperti Kalamakara, daun-daun spiral, bunga-bungaan, dan sebagainya.

Sebelum orang sampai ke tingkat Arupadhatu yang sebenarnya, terdapat tingkat peralihan suatu dataran ayng batas luarnya masih berbentuk bujur sangkar tetapi tembok dalamnya sedah berbentuk bundar, lingkaran yang atidak berula dan tidak berakhir. Setingkat kemudian, orang akan berada di tingkat ini. Orang akan merasakan suatu suasana yang tenang, murni, dan tenteram. Dari dunia atau alam maya, orang berada di alam samadi.

GAMBAR 16 DITULIS BELAKANGAN.

Berlainan sekali dengan tingkat terdahulu, tingkat ini yang terdsiri dari tiga dataran (teras) berundak berbentuk bundar (lingkaran), sama sekali tidak terdapat relief maupun hiasan-hiasan. Di atas masing-masing memuat berturut-turut dari bawah ke atas : 32,, 24 dan 16 buah stupa yang do dalamnya berisi arca-arca Buddha.

Deretan teratas dari stupa-stupa ini, lubang-lubang yang terdapat pada dinding stupanya berbentuk segi empat dan harmikanya (bagian antara badan dan puncak stupa) bersudut delapan. Sedangkan stupa-stupa pada dua deretan bawahnya, lubangn-lubangnya bewrbentuk selah ketupat dan harmikanya bersudut empat. Apa arti dari perbedaan-perbedaan itu, semuanya belum dapat diketahui.

Stupa induk berukuran lebih besar daripada stupa-stupa lainnya dan terletak di tengah-tengah merupakan mahkota dari seluruh monumen. Garis tengah stupa induk ini 9,90 m dan tingginya sampai di bagian bawah pinakel 7m. Terletak si atas Padmaganda dan pinakel dahulunya diberi payung (chattra) bertingkat tiga (sekarang tidak terdaat lagi). Stupa induk ini tertutup rapat, sehingga orang tidak bisa melihat bagian dalamnya. Da dalamnya terdapat kamar (ruangan) yang sekarang tidak berisi. Ada pendapat yang mengatrakan, bahwa ruangan itu untuk tempat menyimpan arca atau relief, tetapi pendapat itu masih diragukan kebenarannya.*) CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

RELIEF BOROBUDUR
Seluruh monumen memuat sebelas sei relief dengan tidak kurang dari 1.460 buah adegan dan di antaranya dikenal dari naskah-naskah tertentu, sedangkan sebagian lainnya ada yang masih belum jelas. Memeang, tidak begitu mudah untuk mengenal kembali cerita atau adetgan-adegan pada relief-relief di Borobudur. Pertama-tama, mungkin karena cara kerja dari pemahat atau perencanaannya, yang kadang-kadang menyiompan dari naskah-naskah yang dipakai. Umpamanya saja, dengan menghilangkan bagian dari cerita tertentu yang sekiranya dapat mengganggu atau menimbulkan perasaan kurang senang dari pengunjung-pengunjung bangunan suci itu. Jadi adegan-adegan yang sifatnya sensasional atau menakutkan tidak dipahatkan.

Hal yang ke dua ialah mengenai teknik engerjaannya. Di dalam menggambarkan tokoh-tokoh pada relief, tidak dibedakan antara masing-masing pribadi. Memang ada bentuk-bentuk khusus untuk tiap-tiap jenis orang, seperti bentuk atau tipe utnuk raja atau dewa, tipe brahman atau pendeta, dan tipe manusia yang lainnya. Akan tetapi, selanjutnya tidak diberikan tanda-tanda yang jelas dari masing-masing tokoh itu. Dengan demikian apabila dalam satu adegan ada dua orang raja brahman, maka orang tidak bisa mengetahui dengan pasti raja dan brahman siapakah yang dimaksudkan dalam adegan tersebut.

Selain telah kita ketahui sebelumnya tentang cerita dari naskah-naskah tertentu, maka selebihnya hanyalah dugaan atau kira-kira saja. Untuk mengikuti jalannya relief-relief, orang memulai dari pintu gerbang Borobudur sebelah timur dan tiap-tiap tingkat berjalan ke kiri. Jadi monumen selalu ada di sebelah kanan kita.*).

Pada tembok kaki asli yang sekarang tertutup, terdapat relief-relief yang menggambarkan tenteang kehiduan sehari-hari di dunia, adegan-adegan di neraka dengan siksaan-siksaan bagi orang berdosa dan adegan-adegan di surga. CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN,
GAMABR17 DITULIS BELAKANGAN.
Certa-cerita ini diambil dari naskah asli Karmawibangga. Naskah tersebut melukiskan hukum karma atau hukum sebab akibat. Jadi, tia-taiap perbuatan manusia yang jahat atau tidak baik akan mendapatkan pambalasan berupa siksaan-siksaan bagi orang-orang yang berdosa itu di neraka. Sebaliknya, mereka yang semasa hidupnya berbuat baik akan mendapat pahala di surga.

Dengan mengikuti adegan-adegan dari hukum karma yang sangat mengesankan bagi yang melihatnya, maka timbul keinginan bagi penganut agama Buddha untuk berusaha mematikan hidup ayng berulang kali, karena hidup adalah menderita (samsara/dukkha). Jalan untuk mencapai tujuan itu ialah dengan mengikuti ajaran-ajaran sang Buddha Gautama, yang terdapat pada relief di lorong-lorong Borobudur tingkat berikutnya.

Lorong 1
1. 1.Pagar Langkah : memuat dua deret relief (atas dan bawah). Keduanya melukiskan tentang kehidupan sang Buddha di masa lalu (awadana dan jantaka) sampai dengan adegan ke 135 deret atas, dikenal dari naskah Sansekerta Jarakamala.
2. Tembok Induk :memuat dua deret cerita(atas dan bawah). Deret atas menggambarkan riwayat hidup sang Buddha Gautama, dimulai pada saat ia berada di surga Tushita sampai untuk yang pertama kali mengajarkan pengetahuannya di Taman Lumbini. Riwayat hidup sang Buddha Gautama ini, dikenal dari naskah Sansekerta Lalitawistara. Sedangkan deretan bawah, emnggambarkan kehidupan sang Buddha di masa-masa lalu dan hanya sebagian saja yang dapat dikenal kembali atau awadana dan jantaka.

Lorong II
1. Pagar Langkan mungkin lanjutan kehidupan sang Buddha di masa-masa lalu, hanya berbeda adegan daripadanya dikenal kembali. Antara lain yang terdapat pada sudut barat laut, yaitu Bodhisatwa menjelma sebagai burung merak dan tertangkap memberikan ajarannya.
2. Tembok Induk: memuat 128 relief yang menggambarkan cerita dari naskah Gandawyuda (nashkah ini beum pernah diterbitkan). Menurut riwayat, bodhisatwa Sudhana yang mencapai pengetahuan tertinggi dengan berkelana kian kemari menemui berbagai macam orang utnuk berguru. Pertama ia datang kepada Manjucri dan setelah mengunjungi berbagai orang serta dewa-dewa, akhirnya kembali lagi ke Manjucri (berakhir). Relief-relief 15, merupakan proolog dari cerita Gandawyuda. Relief 16 relief 127, Sudhana dihadapan Manjucri, ia dikenal, di bawahnya dipahatkan kantong-kantong uang (menurut cerita karena ayahnya orang kaya raya.). relief 128 (terakhir) menemui Maitreya. Di sini ternyata adegan terakhir menemui Maitreya, sedangkan menurut naskah masih ada dua adegan lagi, yaitu waktu keunjungannya kepada Bodhisatwa, Samantabhadra dan Manjucri.
Lorong III
1. Pagar Langkan: seluruh lorong ini memuat riwayat Bodhisatwa Maitreya, sedangkan relief selanjutnya memuat adegan-adegan yang sampai sekarang masih belum dikenal.
2. Tembik Induk: memuat riwayat hidup seorang Boddhisatwa (Samantabhadra), yang di Jawa dianggap sebagai calon Buddha terakhir di masa mendatang. Keterangan dan kesimpulan relief tersebut ialah sebagai berikut: Pada umumnya, dapat dikatakan bahwa susunan arca Buddha di Bodobudur sesuai dengan sistem enam Dhayani Buddha. Pada relung-relung di tingkat II – V, ditempai lima Dhyani Buddha dan Dhyani Buddha.. yang ke enam, yaitu Wairasatwa menempati stupa-stupa berlubang didataran berundak. Sedangkan stupa induk sebagai pusat, merupakan titik pusat dari selruh bangunan Borobudur semestinya ditempati oleh Adi Buddha, berupa Wairadhara, yang merupakan asal dari segala permulaan sehingga dengan sendirinya berasa di atas ke enam Dhyani Buddha. Adi- Buddha ini tidak harus berwujud arca, sesuai dengan sifatnya yang niskala. Dengan demikian, maka seluruh arca Buddha yang terdapat di Borobudur berjunlah 504 + 1. Adapun mengenai susunan relief juga sesuai dengan filsafat agama Buddha, yakni dengan adanya sepuluh tingkatan kehidupan Boddhisatwa (Dacabodhisattaabhumi), yang bercita-cita dan bertujuan untuk mencapai kedudukan terakhir yaitu sebagai Buddha, dengan terlebih dahulu melalui tingkat-tingkat terrendah sampai ke tingkat tertinggi. Kakai bangunan Borobudur yang merupakan tingkat terrendah, menggambarkan kehidupan keduniawian dengan adegan-adegan Karmawibangga*.) GAMABR 18 DAN CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN. Kemudian tingkat-tingkat selanjutnya menggambarkan riwayat hidup sang Buddha di masa lalu, sebagai contoh tentang kehidupan yang penuh dengan kebajikan dan kebaikan budi sampai dapat mencapai tingkat kebudhaan (terlepas dari sifat-sifat keduniawian). Kemudian, dilanjutkan dengan riwayat hidup Maitreya sebagai calon Buddha pertama di masa mendatang. Terakhir, memuat riwayat hidu Samantabhabadra sebagai caolon Buddha terakhir di masa mendatang.

ARCA-ARCA BUDDHA

Arca-arca Buddha menghiasi Borobudur mudah di kenal, karena selalu digambarkan serwujud manusia dan tidak pernah beranggota badan banyak. Pakainanya selalu jubah seorang rahib, yang terdiri dari tiga bagian ( yang kelihatan hanya dua) yaitu:
a. Pakaian Luar: pada sikap duduk, bahu kanannya terbuka.
b. Pakain Dalam: tampak pada kakinya. Di atas kepalanya ada semacam gulungan rambur (ushisha) dan rambut yang keriting melingkar ke arah kanan. Di antara dua kening (alis mata) ada tonjolan kecil (urba), juga pada Boddhisatwa. Arca yang berdiri sendiri tidak pernah memegang sesuatu di tangannya ( kecuali dalam cerita relief, seperti Cakhyamuni memegang memegang mangkok minta-minta), tetapi tangannya bersikap tertentu (mudra) dan setiap mudra mempunyai arti tertentu pula. Mudra-mudra itulah yang dapat membedakan masing-masing Buddha, sebab hal-hal yang lainsemuanya sama, baik Dhyani maupun Manushibuddha (erutama Cakhyamuni) bermudsra seperti Dhyani Buddha.

Di dalam relung-relung di atas pagar langkan tingkat pertama yang menghadap ke luar, terdapat arca-arca manusia Buddha yang menjelmakan dirinya di dunia fana. Pada tia-tiap arah, detempati oleh masin-masing manushi –Buddha tertentu: kanakamuni (timur), Kacyapa (selatan), Cakhyamuni (barat), dan Maitreya ( utara). Jumlah ini ada 92 bauah.

Di dalam relung-relung yang mengellingi tiga lorong terdapat Dhyani- Buddha, masing-masing dapat dibedakan kerena tempat dan sikap tngannya. Pada tiap tingkat sekeliling lorong terdapat 92 arca. Jadi, keseluruhan arca di dalam relung-relung ini berjumlah 3×92= 276 buah.

Di sebelah timur : Aksobhya dengan bhumispar camudra (bumu dipanggil menjadi saksi)
Disebelah Selatan: Ratna Sambhawa dengan Waramudra (memberi anugerah atau berkah).
Di sebelah Utara : Amogasiddha dengan abhayamudra (tidak takt bahaya).
Di sebelah Barat : Amithba dengan dhyanamudra (mengheningkan cipta/semadi).

Pada tiap tingkat lima keliling lorong, terdapat arca Buddha yang menghadap ke semua arah (keseluruhannya berjumlah 64 buah), ialah Dyani Buddha Waicocana, yang menguasai zenith dengan witarkamuda (sedang mengajar artau berbicara). Di atas rtelah dikemukakan, bahwa sistem Dyani Buddha yang terdapat di Borobudur ialah sistem atau susunan enam Dyani Buddha. Jadi, di atas lima Dyani Buddha yang telah diutarakan (yang menempati relung-relung pada tingkat II-IV) ada Dyani Buddha yang ke enam, yaitu Wajrasatwa dengan darmacakramudra (memutar roda darma= hukum atau ajaran kebenaran).
Dyani – Budha Wajrasatwa inilah yang menempati stupa-stupa berlubang pada tingkat Arupadhatu, seperti telah diutarakan di atas.
GAMBAR 18 DITULIS BELAKANGAN

Susunan Dhyani Buddha pada Candi Borobudur, seperti gambar di bawah ini.
1. Dhyani Buddha dalam relung- relung yang menghadap ke timur.
2. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang menghadap ke selatan.
3. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang menghadap ke barat
4. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang menghadap ke utara
5. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang pada lorong tingkat pertama
6. Dhyani Buddha dalam dalam stupa-stupa di tingkat Arupadhatu.
7. Arca Buddha yang belum selesai. Menurut beberapa pendapat berasal dari stupa induk, tetrapi kebenarannya masih dipertentangkan oleh para ahli dan kini masih merupakan tanda tanya.

GAMBAR 19 DIDTULIS BELAKANGAN,

SEJARAH HIDUP SANG BUDDHA GAUTAMA

Sejarah hidup sang Buddha Gauatama yang erat sekali hubungannya dengan
Borobudur, dilukiskan pada tembok induk, lorong I deret atas, berdasarkan Lalitawistara.
B
Bila kita masuk gapura timur, sang Boddhisatwa berada di surga Thusita dan memberitahukan kepada dewa-dewa tentang penjelmaannya yang akan datang sebagai manusia. Para dewa turun ke dunia dengan menjelma sebagai kaum brahman dan mengajarkan kitab-kitab Weda. Setelah mendengar bahwa Buddha akan turun ke dunia, para Pratyeka Buddha ( orang yang telah mencapi pengetahuan tinggi, tetapi belum dapat mengjarkan kepada orang lain) yang ada di dunia segera berangkat ke surga. Sang Boddhisatwa memberi pelajaran kepada dewa-dewa di surga Tushita. Sebelum turun ke duna, sang Boddhisatwa mewnyerahkan mahkotanya kepada Maitreya, calon pengganti Buddha di dunia yang akan datang. Para dewa bermusyawarah tentang ujud penjelmaan sang Bodhisatwa di dunia nantinya.

Gambar Raja Cuddhona dari Kapilawastu dan permaisuri Maya dalam kamarnya sebagai calon orang tua Sang Boddhisatwa. Permaisuri Maya dalam kamarnya sedang menghadapi dewi-dewi. Para dewa setuju untuk mengantarkan sang Boddhisatwa ke dunia. Sang Boddhisatwa turun ke dunia. Sang Bodhisatwa mendapat penghormatan terakhir di sura Tushita.
Dengan pengiring-pengiringnya, sang Bodhisatwa turun ke dunia. Dewi Maya bermimpi, bahwa seekor gajar putih telah masuk ke pangkuannya. Dewa-dewa menyampaikan hormat dengan menyembahnya. Dewi Maya ke hutan Acoka. Hal ini digambarkan dalam relief Borobudur yang ke-16 sampai dengan ke 30/
Gambar ke-31 sampai dengan ke-45, menceriterakan peristiwa kelahiran yang diikuti kemangkatan Dewi Maya. Sang Boddhisatwa yang sejak lahir ditinggalkan ibunya, diasuh oleh Dewi Gutami. Cinta kasih Dewi Gutami kepada Boddhisatwa, tidak ubahnya seperti kepada puteranya sendiri.
Dalam relief itu menceriterakan juga sang Boddhisatwa sejak kecil, belajar di sekolah, gurunya pengsan melihat sang Boddhisatwa, sang Boddhisatwa menuju seorang dewa, sang Boddhisatwa duduk di bawah sebatang pohon, sang Boddhisatwa kawin dengan Puteri Gopa. Kemenakan raja Dewadata, karena dengki membunuh seekor gajah dengan sekali pukul. Sang Boddhisatwa melemparkan gajah itu sendiri dengan kedua jari kaki sehngga melampaui tembok kota. Relief ke 46-75 menggambarkan peristiwa lanjutan sang Bodhisatwa mengikuti sayembara ketangkasan, sejak dari ilmu hitungf sampai memanah, yang mana Bodhisatwa memperoleh kemenangan dan ia akhirnya dapat kawin dengan Dewi Gopa. Tetapi setelah kawin sang Bodhisatwa ingin meninggalkan keduniawian. Sebenarnya maksud sang Bodhisatwa itu dihalang-halngi oleh orang tuanya secara tidak langsung, dengan melalui berbagai cara agar sang Bodhisatwa mengurungkan niatnya. Namun dengan keteguhan hatinya yang membaja, sang Bodhisatwa tetap meninggalkan istana untuk meneruskan tujuannya.

Relief 76- hingga 90, menggambarkan pejalanan sang Bodhisatwa sesudah menggalkan istana dan kisah perjalannnya hingga sang Bodhisatwa akan memperoleh wahayu sebagai Buddha.

Relief 91 hingga 105, menceritakan sang Bodhisatwa setelah mendapat wahyu dan rintangan-rintangan yang dhadapinya setelah mendapatkan wahyu. Segala godan dapat diatasinya, sehingga sang Bodhisatwa dapat penghormatan dar para dewa dan biddadari.

Relief 106 -120 menceritakan para dewa agar sang Buddha menyebarkan pengetahuannya. Selanjutanya, sang Budha mulai mengajarkan agama Buddha. Mula-mula ada yang menentangnya, tetapi akhirnya banyak murid-murid yang mengikutinya. Murid-murid memandikan sang Buddha dengan air dari segala telaga padma, dan sejak itu sang Buddha mulai mengjarkan agama Buddha.
GAMBAR 20 DITULIS BELAKANGAN

LAIN-LAIN
Untuk mempelajari Borobudur lebih lanjut dapat membaca Borobudur Selayang Pandang, karya Ders. R. Soetarno, Ak (Pak Soet), Penerbit; Tiga Serangkai, Solo.

Satu Abad Usaha Penyelamatan Candi Borobudur, karya: Soekmono, Penerbiat; Yayasan Kanisus.

Borobudur, karya: Jurgan D. Wickert, PT. Intermasa.

GAMBAR 21 DITULIS BELAKANGAN

CANDI MENDUT

Candi Mendut terletak 2 km dari Candi Borobudur. Candi ini adalah candi Buddha, didirikan oleh raja pertama dari wangsa Sailendra yang bernama Raja Indra pada tahun 824 Masehi. Di dalam candi ini terdapat tiga buah patung, masing-masing patung Buddha Cakyamurti yang duduk bersila, bersikap sedang berkhotbah, patung Avalokiteswara yaitu Bidhisatwa penolong manusia, patung Maitreya yaitu Bodhisatwa pembebas manusia di kelak kemudian hari.
Awalokiteswara, ialah sebuah arca dengan Amitabha di mahkotanya. Sebagai Padmapani, ia memgang sebatang bunga teratai merah ditangannya. Pada dinding candi, terdapat pahatan-pahatan yang merupakan dongeng kanak-kanak.
GAMBAR 21 DITULIS BELAKANGAN

Candi ini sering kali dipergunakan untuk melakukan upacara agama Buddha. Pada upacara Waisyak, candi Mendut dibanjiri umat Buddha dari seluruh penjuru tanah air yang akan melakukan upacara agama tersebut.
Usia candi Mendut lebih tua dari pada Candi Borobudur. Candi ini berbentuk persegi empat, mempunyai ruang masuk di atas teras bertangga. Di atas ruang persegi empat tersebut, terdapat atap bertingkat-tingkat; pada setiap tingkat terdapat banyak stupa dan tingkap-tingkap. Hiasannya sangat indah..
GAMBAR 22 DITULIS BELAKANGAN

CANDI PAWON.

Candi Pawon letaknya kira-kira 1 km dari Candi Mendut dan tidak jauh dari Candi Borobudur. Candi Pawon adalah candi Buddha. Bila diteliti lebih lanjut, pahatan-poahatan yang terdapat pada candi Pawan adalah pendahuluan dari Candi Borobudur. Mungkin Candi Pawon adalah makan dari raja. Candi ini terbuat dari batu, letajnya di tengah-tengah antara Candi Mendut dan Candi Borobudur, dalan satu garis sumbu. Agaknya dibangun untuk Kubera. Berdiri di atas, teras agak lebar-lebar dan bertangga. Seluruhnya dirias dengan dagoba-dagoba dan dingdsing luar dengan gambar-gambar simbul.
GAMBAR 33 DITULIS BELAKANGAN.

CANDI SUKUH

Candi Sukuh terletak di lereng sebelah barat G. Lawu wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Karang Anyar, Surakarta Jawa Tengah. Merupakan punden berundak-undak yang menghadap ke barat dan makin meninggi ke arah timur. Ada beberapa tingkat teras punden ini sebenarnya tidak jelas lagi. Yang tinggal sekarang hanya empat tinggkat paling atas saja. Candi ini berasal dari abad ke 15, dengan unsur-unsur Indonesia asli, sangat kelihatan menonjol dari pada unsur-unsur India. Candi tersebut meruakan bangunan suci agama Syiwa, yang di Indonesia berbentuk lingga dan digambarkan secara realistis sebagai alat kelamin laki-laki.

Candi Sukuh dan Cetha terletak pada ketinggian 910 dan 1470 m di atas permukaan laut. Jaraknya dari Kota Solo kurang lebih 35 km, dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat sampai di tempat. Meskipun tidak merupakan peninggalan purbakala yang terbesar di Indonesia, namun merupakan candi yang sangat menarikl, karena ke dua candi itu memiliki rahasia dan sampai sekarang belum terungkakan seluruhnya. Dibandingkan dengan Candi Borobudur dan Prambanan, maka relief-relief yang terdapat pada ke dua candi itu tampak wagu dan sederhana, seakan-akan merupakan karya seni orang-orang terpencil dan bukan ahli pahat batu.

Agama yang dianut pada waktu itu adalah Hindu, terutama di kalangan keraton dengan dewa-dewa sepert i Syiwa, Brahma dan Wisnu.sedangkan para puiteri yang serba sederhana tetap pada kepercayaannya, bahwa roh-roh para leluhur serta badan-badan halusnya merupakan sumber pengaruh dan kekuatan hidupnya. Candi yang oleh agma Hindu dipakai sebagai tempat untuk memuja dewa-dewa, oelh orang Jawa dianggap sebagai kediaman leluhurnya.

Meskipun orang-orang Hindu berusaha sekuat-kuatnya untuk menggantikan pemujaan terhadap leluhur itu dengan pemujaan kepada dewa-dewa, namun pemujaan terhadap leluhur berjalan terus, karena bagi oeng Jawa pemujaan terhadap leluhurnya senantiasa menjadi unsur pokok di dalan hidunya.

Halaman Candi Dukuh terdiri dari tiga teras. Dahulu apabila orang hendak mencapainya harus melewati tangga batu yang panjang dari dataran samai di halaman candi tersebut.
Relief candi ini mengisahkan cerita Kuno Sudamala. Cerita ini dimulai dengan relief seorang yang diikat pada batang pohon “ Kepuh Randu”, sedangkan didepannya berdiri seorang dewi yang berwajah menakutkan sambil mengangkat sebilah pedang, dikawal oleh serombongan hantu (kepala lepas, tangan lepas, dan lain sebagainya,). Orang yang diikat ini adalah Sadewa, Pandawa termuda yang dipersembahkan kepada Batari Durga (ratu dari para hantu) oelh Dewi Kunti yang kerasukan hantu pula. Sadewa akan dapat meruwat atau membebaskan durga dari kutukan yang berewajahraseksi, menjadi dewi yang cantik kembali. Awalnya sejak Durga dikutuk oleh Batara Guru, karena berbuat serong dengan seorang gembala. Durga menjadi raseksi dan diusir seta harus turun ke dunia di Setra Gandamayu. Kutukan itu telah dilaksanakan.
Durga berhasil dibebaskan oleh Sadewa, sebagaimana tampak pada relief.
Selanjutnya, tampak Sadewa yang oelh Dewi Uma diberi nama Sudamala (artinya: Suda berarti bersih dan mala artinya dosa) berlutut penuh hiormat dihadapan Batari Durga beserta pengikutnya yang juga telah pulih kembali menjadi dewata. Semat, punakawan setia dari pandawa yang dalam relief terdahulu tampak jongkok penuh ketakutan, sekarang menirukan majikannya menyampaikan sembah pula. Tiga wanita tampak berdiri di atas bantal teratai, menandakan kedudukan mereka sebagai penghuni Kayangan yang telah terbebas dari kutukan.

Relief berikurnya, yang dapat kita lihat adalah adegan pertemuan antara Sadewa beserta pengikutnya dengan pendeta buta Tambrapetra dari prangalas beserta anaknya Ni Padapa bersama pankawannya. Cerita Sudamala mengisahkan, bahwa atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskan dan menjadi Dewi Uma kembali itu, Sadewa harus melangsungkan perkawinan dengan anak seorang pendeta buta. pertapa itu pun berhasil pula dibebaskan dari kebutaannya oleh Sadewa.
Kemudian kita melihat seorang raksasa bernaka Kalantaka diangkat dan ditusuk oleh Bima, yaitu kakak Sadewa. Pada bidang relief ini, terdapat inskripsi dengan anggka tahun 1371 caka (1449 M). Bima yang kita jumpai pada beberapa tempat di Candi Sukuh, daat kita kenal dari pahatannya yang telanjang, dan juga dari kainnya dengan motif kotak-kotak. Ia mempunyai kuku panjang, yang dipergunakannnya sebagai senjata untuk menyobek perut musuhnya.

Di pelataran yang agak tinggi, kita lihat di sebelah utara ada relief raksasa yang tidak berbahaya lagi karena sudah mati dan dipukuli oleh dua orang punakawan, sedangkan pahlawan yang mewmenangkan peperangan pergi ke sebelah kiri. Kita lihat pula relief Sadewa sedang berlutut dihadapan Kalanjaya, saudara Kalantaka ang berdiri di hadapannya dalam ujud asli sebagai dewa.
Sebelum peninjauan dilanjutkan, baiklah kita kemukakan bebrapa catatan tentang adanya gaya seni pahat di Candi Sukuh. Bagi mereka yang mengenal dunia pewayangan, akan segera menarik kesimpulan bahwa relief-relief yang dibuat seolah-olah begitu saja diambil dari adegan-adegan pakeliran, seperti adegan Bima yang mengangkat musuhnya dengan tangan dan membantingnya atau melemparnya jauh-jauh.

Bedasarkan [enelitian yang pernah dikerjakan, menunjukkan bahwa seni orang Hindu yang dimasukkan ke Nussantara pada permulaan tarikh masehi, telah diresapi dengan cepatnya oleh orang Jawa. Kemudian oleh orang Jawa pengaruh tersebut telah dikembangkan sedemikian rupa, sehingga timbul bentuk-bentuk baru, wajah-wajah baru dan ungkapan-ungkapan baru. Sifat dari seni itu berubah-ubah, mengikuti perkembangan-perkembangan sejarah alam pikiran orang Jwa, yang memiliki norma hukum sendir dan tidak dinilai menurut norma atau hukum yang lain.

Sementara di atas teras ke tiga, kita melihat sebuah tugu yang berdiri sendiri di atas sepetak tanah dengan tinggi 85 cm dan luas 11,60 X 7,80 m. Bentuk tugu ini persegi dan dihiasi dengan relief:di satu sisi ada berdiri dua orang wanita, sedang dil sisi lain seekor burung Garuda sedang terbang. Pada kedua sisi lainnya kita lihat sederetan naga yang merayap berurutan. Gambar-gambar ini termask didalam cerita dua orang wanita bersaudara, Kadru dan Winata, dikisahkan dalam cerita Hindu kuo yang terbesar.

Kadru dan Wibnata bertaruh tentang warna ekor kuda Uccha Icrawa, dan barang siapa yang kalah harus mengabdikan diri kepada yang lain. Kadru memenagkan pertaruhan ini. Oelh karena dibantu oleh anak-anaknya yang berujud 1.000 ekor ular dan secara licik telahmemberi bisa kepada ekor kuda tersebut ssehingga warnaya berubah, sedangkan
Winata hanya mempunyai anak seekor garuda dan seorang anak yang tidak berkaki, bernama aruna. Akhirnya Winata mengabdi kepada Kadru, tetapi akhirnya Winata berhasil dibebaskan dari perbudakan oleh Garuda.
Agak jauh dar tempat ini, terdapat sebuah tugu lagi yang dihias pada dua sisi. Bagian belakang menampakkan seorang raja bersenjatakan sebilah keris, dan raksaasa yang terbang di angkasa. Sangat disayangkan, bahwa tidak jelas siapakah yang dimaksud sebenarnya. Tetapigambar pada sisi muka artinya jelas, dimana digambarkan seekor Garuda yang membumbung tinggi ke angkasa sambil mencengkram seekor gajah pada cakar yang satu dan seekor kura-kura pada cakar yang ain. Ada pun cerita yang dikisahkan adalah sebagai berikut:

Pada susatu hari, Sang Garuda mendengar bahwa untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan, ia harus mampu merebut air minuman dewa-dewa amerta dan menyerahkannya kapada para naga. Seketika ia mengambil keputusan untuk melaksanakannya dan pergilah ia, setelah mendapatkan petunjuk-petunjuk yang baik. Di tengah perjalanan ia merasa lapar dan membuka paruhnya lebar-lebar seperti goa. Suara sayapnya yang bergemuruh, menyebabkan seluruh anggota suku ketakutan dan lari memasuki paruh sang Garuda tersebut, kemudian ditelannya.
Akan tetapi tenggorokaannya menjadi gatal, karena diantara orang-orang yang ditelannya itu terdapat beberapa orang brahmana, maka Sang Garuda memuntahkannya kembali.
Untuk menghilangkan laparnya, ia menyambar seekor gajah dan kura-kura (sebenarnya dua bersaudara yang kena kutuk, menjatuhkannya lalu memakannya. Dengan demikian dua bersaudara yang bernama Supratika dan Wibhawasu tertebus dari kutuk, kembali menjadi manusia. Kemudian sang Garuda terus menuju tempat penyimpanan Amerta di Kayangan, tetapi adanya tombak-tombak dan roda-roda yang terdiri dari manusia tidak memungkinkannya untuk masuk. Dengan cara memperkecil dirinya sang Garuda berhasil menyelinap masuk dan merebut amerta setelah melawan para dewa yang mengejarnya. Akhirnya amerta tersebut diserahkan kepada para naga. Sewaktu para naga tersebut memeandikan diri dan akan meminum amerta yang dapat memberikan hidup abadi, datanglah Batara Indra merebutnya. Para naga menjilat-jilat tempat dimana air tersebut diletakkan, dan karena tajamnya rumput-rumput disitu, lidah para naga itu terbelah, sebagaimana kita lihat sampai sekarang.
Namun demikian, hanya sebagian kecil dari cerita yang menarik ini terpahat di tugu ini, sedangkan sebagian besar lengkapnya dapat kita kemukakan di bagian atas dari sebuah tugu yang berdiri di pojok petak terngah dan tinggi. Di ditu kita lihat, sang Garuda di muka gubug tempat penyimpanan amerta dengan tombak-tombak dan pisau-pisaunya. Di sana kita melihat Garuda berlindung di belakang Wisnu yang memberikan karunia kepadanya, karena selama perjalanan ia tak mencicipi amerta sedikitpun. Dan di sana , ada pula adegan-adegan lain yang kurang jelas.
Tugu ke tiga bagian bnelakangnya memperlihatkan kepada kita Arjuna, kita kenal dengan adanya yang bergambar kera, dan rombongan punakawan berbaris dengan membawa sebuah gong peperangan.
Tugu yang ke empat, memperlihatkan seorang tokoh pahlawan kera seperti (Hanoman) dari cerita Rama, bersama-sama dengan seorang tokoh raja berdiri di muka seorang pertapa yang menundukkan kepalanya di tugu tersebut.
Akhirnya kita berdiri dimuka sebuah hiasan yang aneh, berbentuk tapal kuda di kanan kirinya berujung kepala kijang, sayang sekali sudah rusak. Di dini kita sekali lagi menemukan Bima berdiri di muka Batara Guru, penguasa kayangan.
Di bawahnya, masih ada pahatan-pahatan yang menggambarkan seorang wanita dengan anak kecil dan di dekatnya terdapat hiasan rumah panggung.
Di bawahnya lagi terdapat gambar dua tokoh yang seolah-olah memperebutkan bayi. Mungkin ini ada hubungannya dengan upacara “ ruwatan” untuk anak tunggal, agar tidak terkena bala (bencana).
Untuk pada monumen pokok, terlebih dahulu kita melewati dua ekor kura-kura yang besar (kura-kura adalah lambang dari dunia). Seterusnya dengan mendaki tangga yang terjal, maka samailah pada bagian atas dari monumen pokok. Dari tempat ini, kita dapat memandang serta menikmati keindahan alam pegunungan di sekitarnya, dan jauh kedataran kota Solo. Apakah yang terpendam di dalam monumen itu, tak seorangpun mengetahuinya karena tidak pernah diselidiki. Satu hal yang menarik perhatian, yaitu adanya relief sepasang naga yang melingkar pada kepala pintu gerbang di atas tangga dan di dalamnya sebagian kosong.
Tentunya air hujan dapat mengalir turun dari bangunan asli melalui temat ini; menilik dari adanya beberapa saluran air dalam batu-batu, maka kita sekarang dapat mengetahui, bahwa di situ pernah ada suatu jaringan saluran air.
Hal yang demikian kita jumpai pada dua pelataran yang ditinggikan, terutama di sebelah utara, di mana suatu jaringan saluran yang agak rumit sangat menarik perhatian.
Di depan bangunan pokok tersebut, kita dapati pula bangunan yangserupa candi dengan deretan relief ganda.
Di dalam bangunan ini dan yang dari Sukuh, yaitu Kyai Sukuh berdiam diri. Di situlah biasanya orang bersaji dan membakar kemenyan di depan relung.
Di smping monumen pokok, kita dapati beberapa patung Garuda yang berdiri sendiri.
Di bawah ini disajikan gambar Candi Sukuh dan Relief yang memberikan kesan kepada pengunjungnya, bahwa permulaan hidup adalah tergantung kepada Lingga dan Yoni
GAMBAR 24 DITULIS BELAKANGAN
GAMBAR 25 DITULIS BELAKANGAN
GAMBAR 26 DITULIS BELAKANGAN.

CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH UTARA

CANDI-CANDI DI DATARAN TINGGI DIENG.

Di atas dataran tinggi Dieng masih terdapat beberapa candi Hindu. Candi-candi yang berada di dataran tinggi Dieng, antara lain: Candi Gatutkaca, Arjuna, Semar, Srikandi, Punta dewa, Sembadra. Candi-candi ini, letaknya kurang lebih 2km dari Kawah Sikidang.
Dieng termasuk daerah Tingkat II Kabupaten Wonosobo, Dati I Propinsi Jawa Tengah. Dieng mrupakan daerah pariwisata, pemandangannya sangat indah dan memiliki peninggalan-peningglan sejarah. Suhu-suhu rata-rata berkisar antara 13 sampai 17 derajat Celcius. Di situ terdapat empat telaga vulkanik, yaitu Telaga Warna, Telaga Pelingon, Telaga Siterus dan Bale Kambang. Peninggalan sejarah berbentuk candi-cand, jumlahnya 7 buahdan candi-candi ini sangat tua umumnya.
GAMBAR 27
GAMBAR 27 DITULIS BELAKANGAN.

Candi-candi tersebut dibangun oleh Wangsa Sanjaya. Pada abad ke 8 dan 9, yang ada di Jawa Tengah Utara bersifat Hindu. Candi-candi ini, merupakan tempat Ziarah raja-raja di Jawa Tengah yang beragama Hindu.

CANDI GEDONG SONGO

Candi Gedodng Songo terletak 10 Km dari Ambarawa, di lereng Gunung Unggaran. Candi ini berjumlah sembilan buah dan terpencar di atas bukit-bukit.
GAMBAR 29 DITULIS BELAKANGAN
Antara satu dengan lainnya saling berjauhan letaknya. Candi Gedong Songo termasuk candi tertua di Jawa. Dibangun oleh raja-raja Wangsa Sanjaya. Candi ini dibangun kira-kira pada abad ke 7-8 MCandi ini dibangun kira-kira pada abad ke 7-8 Masehi.

Ciri-Ciri Candi Langgan Jawa Timur

1. Bentuk bangunannya ramping
2. Atapnya merupakan perpaduan tingkatan,
3. Puncaknya berbentuk kubus,
4. Makara tidak ada, dan pintu relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala,
5. Reliefnya timbul sedikit saja, dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit,
6. Letak candi di bagian belakang halaman,
7. Kebanyakan menghadap ke barat,
8. Kebanyakan terbuat dari bata.

CANDI BADUT

Untuk pertama kali Jawa Timur muncul dalam sejarah , pada tahun 760 Msehi. Di desa Dinoyo (sebelah barat laut Malang) ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 760 M, bertuliskan huruf Kawi dan berbahasa Sansekerta. Prasasti ini menceritakan, bahwa pada abad ke 8 ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (desa Kajuron sekarang) dengan rajanya bernama Dewa Sinha. Ia berputra Limwa, yang setelah menggantikan ayahnya menjadi raja bernama Gajayana. Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Agastya. Arcanya yang melukiskan Agastya ini dahulu dibuat dari kayu Cendana kemudian diganti dengan arca batu hitam.
Peresmian arca ini dilakukan ada tahun 760 dan upacara dilakukan oleh pendeta-pendeta ahli Weda. Pada kesempatan itu sang Raja menghadiahkan tanah, lembu, budak-budak dan segala yan dierlukan untuk melangsungkan upacara. Juga diperintahkan mendirikan bangunan-bangunan untuk keperluan para Brahman dan para tamu.
GAMBAR 30 DITULIS BELAKANGAN.
Bangunan purbakala yang terdapat di dekat desa Kejuron itu adalah Candi Badut, yang untuk sebagian masih tegak. Dalam candi ini, ternyata bukan arca Agatya yang didapat, melainkan sebuah lingga. Mengingat adanya perkataan “ Putrikeswara” dalam prasati Dinoyo tersebut, mungkinsekali lingga itu merupakan lambang Agastya, yang memang selalu digambarkan seperti Syiwa dalam ujud sebagai Mahaguru.
Apa hubungan kereajaan Kanjuruhan dengan kerajaan Mataram, tidak diketahui. Agama di kedua kerajaan itu adalah agama Syiwa, memuja Agastya menggunakan lingga sebagai lambangnya. Menitik darisudut seni bangunannya. Candi Badut termasuk candi yang berlanggam Jawa Tenga. Kenyataan-kenyataan ini dihubungkan dengan berita Tionghoa, dikatakan oleh Holing antara tahun 742 dan 755 dipindah ke timur, ke Po-lu-kia sieu, oleh Raja Ki-yen.
Jadi jelaslh bahwa candi Badut dibangun pada jaman kerajaan Hindu Mataran.*)
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN
CANDI KIDAL.

Candi Kidal letaknya 7 km sebelah tenggara candi Jago di daerah Pakis, satu tempat antara dua kota Malang dan Tumpang sebuah candi Syiwa, tempat menyimpan abu jenazah raja Anusapati dari kerajaan Singosari. Bangunan ini mulai dipakai sebagai candi, sekitar tahun 1248 M. Candi Kidal terbuat dari batu alam. Denahnya berbentuk persegi empat, dengan bagian bawah yang tinggi dan tangga yang menjorok serta hiasan yang dipahat sangat indah.
Bila kita melihat Candi Kidal, akan teringatlah pada sejarah kerajaan Singosari. Yang menurut Kitab Pararaton kita mengetahui bahwa Anusapati bukanlah anak Ken Dedes dengan Ken Arok, melainkan anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung. Pada waktu Ken Dedes diperistri oleh Ken Arok, ia sedang hamil tiga bulan.sesudah dewa Anusapati mengetahui dari ibunya, bahwa Ken Arok bukanlah ayahnya. Ayahnya yang sebenarnya ialah akuwu Tunggul Ametung, yang telah mati dibunuh oleh Ken Arok. Setelah mengetahui kematian ayahnya, Anusapati ingin membalas kepada Ken Angrok. Kemudian dengan menyuruh seorang pangalasan dari Batil, ia berhasilmelenyapkan Ken Angrok.
GAMBAR 31 DITULIS BELAKANGAN
Sepeninggal Ken Angrok, Anusapati menjadi raja. Ia memerintah selama lebih kurang dua puluh satu tahun (1227 s/d 1248 M). Akhirnya berita kematian Ken Angrok yang dibunuh oleh Anusapati terdengar pula oleh Tohjaya, anak Ken Angrok dari Ken Umang. Panji Tohjaya tidak senag akan kematian ayahnya se4perti itu, dan berusaha pula untuk menuntus balas. Lalu pada tahun 1248 Anusapati dapat dibunuh oleh Tohjaya, ketika keduanya sedang menyambung ayam. Anusapati didharmakan di Kidal*.)
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

CANDDI JAGO

CANDI Jago terletak18 km dari timur Kota Malang, di daerah Tumpang. Candi ini dibangun oelh raja Kertanegara untuk ayahnya, Raja Jaya Wisnuwardhana dari Candi Tumpang; di dalam Nagara Kertagama dinamakan Jajaghu.arsitekturnya khusus, karena dibuat seperti punden di gunung teras punden. Ataponya yang dahulu terdiri darei konstruksi ijuk, kini telah hilang. Candi Jago dihiasi ornamen sangat mewah seta gambar timbul yang melukiskan cerita-cerita binatang, hikayat-hikayat Kunja rakanda, Arjuna dan Kresna. Tokoh-tokohnya berbadan bungkuk, berkepala besar; dikelilingi bunga-bungaan dan tumbuh-tumbuhan; sikap kaki, bahu dan lengan yang tak biasa, menimbulkan kesan seperti wayang. Pada gambar timbul tersebut, sering terdapat lukisan pekarangan rumah dengan bale; seperti yang masih terdapat di Bali dewasa ini, yakni teras (tingkat) dari batu. Di atas teras terdapat empat tiang dengan sebuah atap di atasnya; antara teras dan atap terdapat lantai tempat duduk dari kayu.
GAMBAR 32 DITULIS BELAKANGAN
Gambar di Candi Jago, mirip dengan yang terdapat dei Candi Panataran. Semula ada sebuah arca perwujudan Wisnuwardhana berbewntu amoghapasya, berlengan delapan. Arca-arca lain yang mengelilinginya antara lain Bhrkuti, Symatara, Sudana kumara dan Haygriwa disimpan di museum pusat, Jakarta. Beberapa arca kecil ada di Brit Meuseum London. Pada tahun 1286, kerta negara mengirim sebuah arca yang disatukan dengan arca candi Jago*) ke Jambi agar dipuja rakyat Melayu dan rajanya di Dharmasyraya menjadi sekutu Singosari dalam penaklukan Sriwijaya.
Di halaman Candi Jago, ada pula sebuah arca kecil Bhariwa, yang meungkin merupakan perwujudan Adityawarman ketika masih Werdhamantri di keraton Majapahit. Setelah menjadi Maharajadiraja di suwarnadwipa, adityawarman membuat arca Manjusri di Candi Jago memuat tulisan, sedang dibagian lainnya menyebutkan nama Adityawarman yang mengaku lahir dari keluarga Rajapatni.
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

CANDI SINGOSARI

Candi Singosari letaknya 10 km dari Kota Malang. Candi ini merupakan kuil Syiwa yang besar dan tinggi. Dahulu termasuk dalam kompleks kota Singosari lama. Sekarang tinggal pondamen dan reruntuhan di sana-sini. Banyak patung di candi ini, beberapa diantaranya kini tersimpan dalam museum-museum di Jakarta dan di luar negeri. Kapan candi itu didirikan belum dapat dipastikan, mungkin dalam abad ke 13.
Candi Singosari tempat memuliakan Raja Kertanagara sebagai Bhairawa. Kecuali dimuliakan di Candi Singosari, juga dimuliakan di Candi Jawi sebagai Shyiwa dan Buddha, di Sagala bersama dengan permaisurinya Brajadewi sebagai Jina (Wairocana dan Locana).
GAMBAR 33 DITULIS BELAKANGAN.
Candi ini dibangun tinggi seperti menara dengan dasar tinggi, cella kecil; pintu masuk berhias patung Kala. Pada pintu dan tangga tidak terdapat lagi makara, hanya motif yang serupa garis-garis dan salur-salur bunga. Gaya Singosari kelihatan sekali pengaruhnya di Sumatera, yakni kerjaan Minangkabau, seperti terbukti pada patung Bhairawa di sungai Langsat (Bukittinggi).
Arca Ken dedes sebagai Dewi Prajnaparamita di Candi Singosari, melambangkan kebijaksanaan agung.
GAMBAR 34 DITULIS BELAKANGAN.

CANDI JAWI

Candi Jawi terletak di kaki gunung Welirang, Jawa Timur. Candi ini adalah makan Raja Kertanagara, Raja Singosari, sesuai dengan tradisi agama syiwa-Buddha. Cerita Candi Jawa ini dimuat dalam Negara Kertagama pupuh 56 dan seterusnya, dengan nama Jajawa. Dari tahun 1938 -1940, dilakukan pengerukan dan perbaikan pada candi Jawi, kita akan mengingat peristiwa yang terjadi yang berhubungan dengan peristiwa tersebut.
Demikian ceritanya:
Kmitab Pararaton menceritakan bahwa dalam usaha meruntuhkan kekuasaan Kertanagara, Jayakatwang mendapat bantuan adai Arya Wiraraja, Adiati Sumenep yang telah dijauhkan dari keraton oleh Raja Kertanagara. Wiraraja itulah yang memberitahukan kepada Jaktwang mengenai waktu yang tepat untuk menyerang Singosari, yaitu pada saat sebagian kekuatan tentara Singosari berada di Melayu.*)
Serangan Jakatwang, dilancarkan antara pertengahan bulan Mei dan pertengahan bulan Juni 1292**). Pasukan Kediri di bagi dua, menyerang dari dua arah. Pasukan menyerang dari utara ternyata hanya sekedar untuk menarik pasukan Singosari dari keraton. Dan siasat itu berhasil. Setelah pasukan Singosari di bawah pimpinan Wijaya dan Ardaraja menyerbu ke utara serta mengejar musuh yang selalu bergerak mundur, maka pasukan Jakatwang yang menyerang dari arah selatan menyerbu ke keraton, dan berhasil membunuh Kertanagara yang menurut Pararaton sedang bermabuk-mabukan. Sumber lain menyebutkan bahwa Raja Kertanagar meninggal bersama para Brahmana.

Jadi rupanya raj sedang melakukanm upacara ke agamaan. Dengan gugurnya raja Kertanagara pada tahun 1292, seluruh kerajaan Singosari dikuasai oleh Jakatwang. Raja Kertanagara dicandikan di Singosari dengan tiga arca perwujudan, yang melambangkan Trikarya, yaitu sebagai Syiwa _ Buddha dalam bentuk Bhairawa yang melambangkan Nirmanakaya, sebagai Ardhanari lambang Sambhogakaya, Sambhogakaya, dan sebagai Jina dalam Aksobhya yang melambangkan dharmmakaya*). Masih ada satu tempat lagi ayng biasanya ditafsirkan tempat pecandian raja Kertanegara, ialah Candi Jawi.
Candi Jawi, menurut Kakawin Nagara kertagama, dibuat oleh Raja Kertanagara sendiri. Di dalam kitab ini, Candi Jawi dilukiskan sebagai bersifat Syiwa dibagian bawah danbersifat Buddha di puncaknya. Di dalamnya terdapat arca Syiwa yang sangat indah dan Aksobhya di atas mahkotanya. Tetapi karena Kelurahan dhatnya, yaitu sunyata, maka arca Aksobhya itu hilang. Di bagian lain, dikatakan bahwa hilangnya arca tersebut disebabkan jarena candinya disambar petir ada tahun 1331.**)
Penelitian di candi Jawi menunjukkan, bahwa ternyata memang pernah dilakukan pemugaran terhadap candi itu pada masa yang lampau. Antara lain karena kelihatan dengan nyata, bahwa kaki candi dan sebagian tubuhnya terbuat dari jenis batu lain dari puncaknya yang berbentuk dagob. Seklain itu sebagian besar arcanya terdapat dalam keadaan hancur. Sperti dinyatakan di dalam kakawin Negarakertagama, memang arca induknya ialah Syiwa Mahadewa yang tinggal kepala saja. Juga dengan masih didapatkan bagian-bagian arca Ardhanari, Brahmana, Ganesya dan dua arca lainnya, serta sebuah arca Durga dan Nandiswara yang masih utuh. Didapatkan juga sebuah batu candi berangka tahun saka 1254 (1332 M). Mungkin sekali angka pemugaran Candi Jaei, setelah disambar petir pada tahun 1331.
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

CANDI PANATARAN

Candi Panataran terletak 11 km dari kota Blitar. Kompleks pecandian terletak di Desa Panataran, Kecamatan Ngelengok, Daerah Tingkat II Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur. Kompleks ini, semula di kelilingi tembok dengan gerbang masuk di sisi barat dan kini tinggal sisa-sisanya. Antara lain dua buah arca Dwarapala, yaitu arca raksasa penjaga pintu.
GAMBAR 35 DITULIS BELAKANGAN
Luas kompleks percandian 180 m x 60 m, terbagi dalam tiga halaman. Pada halaman paling barat terdapat tiga bangunan utama, yaitu: di sudut barat laut, sebuah teras memanjang dari utara ke selatan (di Bali disebut “ Bale Agung”) sebuah teras lain yang biasa disebut “Pendopo Teras”, terdapat di tengah halaman dan berpahatkan angka 12 97 Saka (1375 M); bangunan utama ke-3 ialah sebuah candi indah yang biasa disebut “ Candi Angka Tahun”, karena di atas pintu masuk terdapat pahatan angka 1291 Saka ( 1369 Masehi); candi inilah yang dikenal umum sebagai Candi Panataran.
Pada halaman tengah, terdapat candi Naga sebagai bangunan penting. Diberi nama demikian , pelipit atas tubuh candinya dihias pahatan ular besar melingkar disekelilingnya. Di halaman timur, terdapat Candi induk yang terdiri dari tiga tingkat. Pada tingkat pertama terdapat pahatan relief Ramayana, dan adegan Hanoman datang di Alengka sebagai utusan Rama, sampai dengan tewanya Kumbakarna.
GAMBAR 36 DIDTULIS BELAKANGAN

Jalan cerita relief ini, mulai dari atas halaman tempat candi induk dan dengan mengikuti arah yang berlawanan dengan jalannya jarum jam, dimulai dari sudut sebelah barat. Pada tingkat kedua dipahatkan cerita Kreisynayana; cerita yang mengisahkan bagaimana Krisyna mem[eroleh istrinya, Rukmini. Rellief ceritanya dimulai dari sisi barat, tepat disebelah kanan (utara) tangga naik menuju tingkat ke dua dan berkeliling menurut arah jarum jam. Tingkat ke 3 tidak berpahatkan relief cerita, hanya berhiaskan pahatan naga dan singa bersayap yang amat indah. Bagian atas dan atap candi induk sudah tidak ada; mungkin dahulu dibuat dari kayu. Di luar komplek halaman masih ada dua peninggalan penting, sebuah di sudut tenggara halaman, berupa sebuah pemandian dengan pahatan angka 1337 Saka ( 1215 Masehi); sebuah lainnya terletak kurang lebih 200 meter di timur laut halaman, juga sebuah pemandian yang menghadap ke arah barat.

CANDI RIBI

Candi Ribi terdapat di Desa Pulosari, kecamatan Bareng, daerah Tingkat II Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur. Bangunannya dibuat dari batu dan merupakan peninggalan jaman Majapahit, kira-kira pada abad ke 14. beberapa arca yang indah ialah arca Parwati, yang m,erupakan p[erwujudan Tribuwana. Arca ini disimpan di museum Pusat Jakarta.
Tribuwana Tunggadewi Jayawisnuwardani adalah Raja Majapahit yang bertahta pada tahun 1328-1350. dari masa pemerintahan Tunggadewi, telah terjadi pemberontakan di Sadeng. Pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Gajah Mada*).
CATATAN KAKI DITULIS SBELAKANGAN
Dalam kitab Pararaton, menyebutkan sebuah peristiwa yang kemudian amat terkenal dalam sejarah, yaitu Sumpah Palapa Gajah Mada.
GAMBAR 37 DITULIS BELAKANGAN.

BAJANG RATU.

Bajang Ratu adalah gapura yang terbuat dari batu bara di daerah Trowulan, situs Kota Majapahit. Gapura ini beruliran dari atas sampai bawah. Jenisnya: gapura tertutup yang berbeda dengan Waringin Lawang, sebuah Gapura, di daerah Trowulan juga yang bentuknya termasuk candi bentar.
Melihat kelaziman di Bali, maka candi bentar adalah gapura masuk ke gugusan kraton. Sedangkan gapura tertutup ada dalam gugusan keraton, maka Bajang ratu termasuk di dalam keraton Majapahit atau gugusan sebuah tempat kediaman anggota kerajaan. Menurut cerita setempat, gapura ini dilalui bangsawan Majapahit yang lari ketika Majapahit diserang oleh tentara Raja-raja Islam pada tahun 1478. menurut tradisi setempat, seorang pegawai negeri tak boleh naik ke atas gapura, karena ia dapat terkena sial dan akan diecat dari jabatannya
GAMBAR 38 DITULIS BELAKANGAN..

CANDI-CANDI DI LUAR JAWA

KELOMPOK CANDI MUARA TAKUS
Kelompok Candi Muara Takus teroetak di daerah Propinsi Riau, Sumatera. Letaknya antara Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Banyak terdapat peninggalan peradaban agama Buddha dari abad ke II dan ke 14; berupa komplek berpagar tembok batu dengan gerbang di utara. Di dalamnya terdapat tempat bangunan, yaitu stupa-stupa: Candi Tua, Candi Bungsu. Mahligai Stupa, dan sebuah teras Candi palangka. Kecuali komplek itu, masih ditemukan bekas-bekas bangunan yang lain.
GAMBAR 39 DIDTULIS BELAKANGAN

KELOMPOK CANDI-CANDI GUNUNG TUA

Gunung Tua adalah kota kecil di Tapanuli Selatan. Di tempat tersebut, pernah ditemukan sisa-sisa biara Buddha dan sebuah arca Lokanantha dengan satu Tara yang mengandung tulisan dalam bahasa Batak, bahwa arca tersebut dibuat oleh juru pandai Surya 1024.
Candi-candi kelompok Gunung Tua ini, terdiri dari berbadai “ Biaro” sebagai candi induk yang letaknya berjauhan. Dari tulisa-tulisan yan didapatkan, dapat dikertahui dengan jelas sifat=sifat Trantayana. Bangunan kuno tersebut oleh orang Tapanuli disebut Bahal, dan kemudian diberi nama “ Biaro Bahal”
Biaro Bahal I,II dan III saling berhubungan dan terdiri dalam satu garis yang lurus. Biari Bahal I adalah yang terbesar, kakinya berhiaskan papan-pap[an disekelilingnya dan berukiran tokoh yaksa yang berkepala hewan sedang menari-nari. Rupa-ruanya para penari itu memakai topeng hewani, se[erti pada upacara di Tibet. Di antara semua papan berhiasan itu ada ukiran singa yang duduk. Di Bahal II, pernah ditemukan sebuah arca Heruka, ialah arca Demonis yang mewujudkan tokoh panteon agama Buddha aliran Mahayana, sekte Bajrayana atau Tatrayana. Heruka berdiri di atas jenazah dalam sikap menari; pada tangan kanannya memegang tongkat. Bahal III berukiran hiasan daun.

KELOMPOK CANDI PADAS DI GUNUNG KAWI-TAMPAK
SIRING
KELOMPOK Candi padas di Gunung Kawi ini, terletak di daerah Tampak Siring, Bali. Candi ini merupakan makam Raja Bali yang bernama Anak Wungsu. Raja Anak Wungsu ioni adalah putera dari Raja Udayanna yang bungsu. Putera Raja Udayana yang sulung adalah Airlangga, yakni memerintah di Jawa Timur. Anak Raja Udayana, yakni Airlangga yang kemudian kawin dengan puteri Raja Darmawangsa di Jawa Timur.
Marakata yang kemudian menggantikan raja Udayana dan Anak Wungsu, menggantikan kakaknya Marakata. Marakata wafat antara tahun 1025 Masehi. Marakata dimakamkan di Camara. Dimana Camara ini, nelum diketahui secara tepat. Namun letaknya di kaki Gunung Agung.
GAMBAR 41 DITULIS BELAKANGAN.
Permaisuri Udayanga yang bernama Mahendradatta, wafat pada tahun 1010 dan dimakamkan di Burwan (Kutri dekat Gianyar) serta diwujudkan sebagai Durga.
GAMBAR 42 DITULIS BELAKANGAN.

Anak wungsu adalah pengganti Marakata. Raja ini memerintah sekitar tahun 1049. selam masa pemerintahannya, Anak Wungsu meninggalkan cukup banyak prasasti, yaitu 28 buah. Di samping itu masih ada lagi beberapa buah prasasti di Goa Gajah, Gunung Panulisan dan Sangit.
Anak Wungsu memerintah Bali paling sedikit 28 tahun. Pemerintahannya berjalan dengan aman dan tenteram. Anak Wungsu sangat dicintai oelh rakyatnya. Ia dekat dengan rakyatnya. Hal tersebut terbukti dengan oeninggalan prasatinya yang menyebar diseluruh Bali. Oleh rakyatnya, Anak Wungsu dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Anak Wungsu merupakan pengganti aliran Waisnawa, dengan catatan bahwa ia tidak melupakan pula kebaktiannya terhadap dewa-dewa Trimurti lainnya, terutama Dewa Syiwa. Sedangkan rakyatnya menganut agam Syiwa dan agama Buddha.
GAMBAR 43 DITULIS BELAKANGAN.
Pada saat pemerintahan raja Anak Wungsu perdagangan juga sangat maju sehingga sudah melakukan perdagangan dengan negeri lain. Pada saat itu terkenal adanya wanigrama (saudagar laki-laki) dan wanigrami ( saudagar wanita), yang ikut melaksanakan p[erdagangan demi untuk kemakmuran rakyat/bangsanya. Nama Anak Wungsu harum, seperti nama Airlangga (kakaknya). Be;iau wafat sekitar tahun 1080 Masehi dan dimakamkan di Candi Padas Tampak Siring.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.