Hpi Bandung West Java – Indonesia Tourist Guide Association (ITGA)

Himpunan Pariwisata Indonesia DPD Jawa Barat


Tinggalkan komentar

BATU KARAS PANTAI CANTIK PENUH DAYA PESONA NAMUN RAMAH DOMPET WISATAWAN


Pantai Batukaras, Surga Peselancar Pemula

I Made Asdhiana | Selasa, 1 Mei 2012 | 11:18 WI

KOMPAS/CORNELIUS HELMY HERLAMBANG Peselancar menjajal ombak di Pantai Batukaras, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kondisi pantai yang cukup dalam dan tanpa karang menjadi tantangan tersendiri bagi peselancar pemula dari dalam dan luar negeri.

Oleh Cornelius Helmy

Ciamis tidak hanya memiliki Pangandaran. Daerah di Jawa Barat itu juga memiliki pantai molek lain, Batukaras. Berjarak 35 kilometer arah barat Pangandaran, Batukaras siap menyuguhkan sensasi baru sekaligus menjadi surga bagi peselancar pemula.

Dannie (25), wisatawan asal Swedia, mengatakan, akhirnya menemukan pantai yang ia cari untuk mengasah kemampuan selancarnya. Sebagai peselancar pemula, selama ini ia mencari pantai berombak landai dengan gugusan pantai panjang tanpa karang di dasarnya.

”Angin kencangnya khas pantai selatan Jawa. Namun, karena pantainya tersembunyi di antara dua bukit karang, ombaknya jadi tidak tinggi. Saya tinggal bawa nyali,” kata Dannie, yang sudah delapan bulan terakhir melakukan penjelajahan dari Bali hingga Jawa Barat, khusus mencari pantai berombak landai.

Hal yang sama dikatakan Kirana (32), penikmat olahraga selancar asal Bandung. Ombak di Batukaras tidak sebesar di Bali atau Sukabumi. Perairan Batukaras cocok bagi pemula yang ingin memperdalam kemahiran berselancar. Namun, tidak tertutup kemungkinan ombak besar juga mengentak Batukaras. Bulan Desember-Januari, gulungan ombak setinggi 1-1,5 meter bisa memuaskan penggila selancar.

”Saat itu, di tempat ini juga dilakukan perlombaan selancar nasional bagi pemula atau profesional. Tak jarang pesertanya datang dari luar negeri,” kata Kirana.

Pasti mahir

Batukaras adalah satu dari tiga kawasan wisata unggulan Kecamatan Cijulang di Kabupaten Ciamis. Dua lainnya adalah Green Canyon dan Batu Hiu.

Tidak sulit bila ingin mengunjungi Batukaras. Ipik Taupik, pemandu wisata dari Paguyuban Pemandu Wisata Pangandaran, mengatakan, berkunjung ke Batukaras bisa lewat darat atau udara.

Batukaras sendiri berlokasi sekitar 315 kilometer (km) dari Bandung, atau sekitar 6 jam perjalanan dengan bus umum. Turun di Terminal Cijulang, wisatawan bisa melanjutkan perjalanan menuju Batukaras, berjarak sekitar 5 km. Perjalanan sambungan itu menggunakan ojek bertarif Rp 5.000-10.000 per orang. Atau, bisa juga menyewa angkutan umum Rp 60.000 per unit.

Jarak itu bisa dipersingkat bila menggunakan pesawat terbang berpenumpang 8 orang milik Susi Air rute Soekarno Hatta-Nusawiru di Cijulang dengan waktu terbang 3 jam. Perjalanan dari Nusawiru bisa dilanjutkan dengan ojek atau angkutan umum menuju Batukaras selama setengah jam.

Persewaan mobil dan sepeda motor juga bisa jadi alternatif. Tarif sewa mobil Rp 350.000 – Rp 400.000 per hari atau sepeda motor Rp 50.000 per hari. Pemandu wisata juga bisa diajak menemani perjalanan, yang jasanya bertarif Rp 350.000 per hari. Wisatawan akan dibawa mengunjungi sejumlah taman wisata alam, Pangandaran, Green Canyon, Penangkaran Penyu Batu Hiu, dan Batukaras.

Lalu bagaimana bila tidak punya peralatan selancar?

Jangan khawatir karena di Pantai Batukaras banyak persewaan papan selancar berbagai ukuran bertarif Rp 75.000 per setengah hari. Bila benar-benar buta perihal cara menggunakan papan selancar, bisa menyewa instruktur dengan tarif Rp 150.000 per jam. Biasanya instruktur akan membawa wisatawan ke tempat favorit di sekitar Batukaras seperti Karang, Legok Pari, dan Bulak Bendak.

Pengurus Batukaras Surf Club, Husni Ridwan, mengatakan, sekitar 50 instruktur di Batukaras sudah terlatih. Mereka mayoritas warga lokal yang lahir dan besar bersama Batukaras. Bahkan, ia berani menjamin bila dilakukan secara intensif selama 3 hari berturut-turut, wisatawan bisa menantang ombak sembari berdiri di atas papan selancar.

Pesona Batukaras tidak hanya perairannya yang ideal bagi peselancar pemula. Mirip dengan Batu Hiu dan Pangandaran, di Batukaras pun wisatawan bisa menikmati keindahan pantai selatan dari atas Karang Cikabuyutan dan Karang Bungalow. Pengunjung dimanjakan dengan pemandangan horizon Samudra Indonesia dari balik rimbunya pepohonan pantai.

”Coba Anda naik ke puncak karang. Anda akan melihat lautan lepas Samudra Indonesia di antara karang dan ranting pohon seperti Pantai Geger di Nusa Dua, Bali. Sempurna bagi Anda bila melihatnya saat matahari terbenam,” ujar Herlina, pemandu wisata dari Himpunan Pramuwisata Indonesia Jabar.

Bila belum puas juga, muara Batukaras menawarkan potensi wisata. Arnold Andi Madong, pemilik Hotel Riversider, salah satu hotel di Batukaras, mengatakan, menawarkan wisatawan menyusuri muara menggunakan perahu motor atau jet ski. Ada juga kawasan wisata Pantai Batu Payung, batu karang di tengah pantai berbentuk payung.

”Terjun dari batu karang setinggi 7 meter itu kerap jadi atraksi favorit wisatawan,” katanya.

Perbaikan infrastruktur

Arnold mengatakan, tidak cukup hanya mengandalkan alam dan keramahan warga setempat membangun kawasan wisata ideal. Perbaikan infrastruktur harus dilakukan bila ingin menarik wisatawan lebih banyak.

Pembangunan hotel representatif perlu dilakukan. Saat ini di kawasan itu sedikitnya ada 10 hotel dan penginapan bertarif Rp 150.000 – Rp 250.000 per kamar per hari. Namun, dengan jumlah kamar kurang dari 20 unit per hotel, wisatawan biasanya menyewa rumah warga bertarif Rp 100.000 – Rp 150.000 per malam.

Perbaikan jalan juga harus menjadi perhatian. Arnold mengatakan, saat ini jalan menuju Batukaras dari Bandara Nusawiru sepanjang 5 kilometer hanya selebar 2,5-3 meter. Dengan jalan selebar itu, kerap kali timbul kemacetan saat musim libur. Akibatnya, banyak wisatawan dari Batu Hiu atau Pangandaran enggan mampir ke Batukaras.

”Jalan sekarang hanya cukup untuk satu bus. Saat akhir pekan atau hari libur dipastikan macet. Kalau sudah begitu banyak kendaraan balik arah sebelum sampai ke Batukaras,” kata Arnold.

Kasubag Tata Usaha Unit Pengelolaan Teknis Daerah Dinas Pariwisata di Cijulang, Andang Koswara, sepakat dengan usulan itu. Alasannya, Batukaras sudah menjadi kawasan wisata kelas 1 tingkat nasional, sejajar Pangandaran. Bukan tidak mungkin bila ditingkatkan kualitasnya, Batukaras akan memberikan kontribusi lebih banyak bagi Kabupaten Ciamis. Data selama tahun 2011, pendapatan dari Batukaras mencapai Rp 637 juta, lebih banyak dari target awal Rp sebesar Rp 350 juta.

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2012/05/01/11182359/Pantai.Batukaras..Surga.Peselancar.Pemula


Tinggalkan komentar

Menguasai teknik berbicara di depan publik adalah nyawa seorang tour guide


oleh: Ir. Kriswanto Widiawan

Kemampuan berbicara di depan umum tidaklah dimiliki setiap orang karena kemampuan ini berkaitan erat dengan citra pribadi. Biasanya orang yang memiliki  kemampuan ini  sering  disebut  dengan “pemimpin”. Kemampuan berbicara di depan umum  dapat  dimiliki   karena  adanya bakat alam (sering disebut “dilahirkan”), dengan menjalani pelatihan atau secara spontan muncul dalam situasi darurat (bersifat sementara).


Public Speaking yang berhasil, ditentukan oleh empat faktor penting, yaitu dengan “Mengatasi Hambatan Kepribadian”, “Penggunaan Body Language Secara Tepat”, “Metode Penyampaian yang Sistematis dan Tepat Sasaran”, serta “Penggunaan Alat Peraga.” Selain itu, tentu saja diperlukan persiapan yang mantap, pelaksanaan yang meyakinkan, feeling dan finishing touch yang manis.

Berikut ini adalah penjelasan delapan komponen yang disebutkan di atas.

1. Mengatasi Hambatan Kepribadian

  • Pada umumnya, seseorang yang belum biasa berbicara di depan orang yang banyak akan gugup, gemetar, berkeringat dingin, gagap, tegang, sakit perut (mulas), salah tingkah, demam panggung yang biasa kita sebut “cemas”.
  • Kiat menghadapi kecemasan: (tambahkan keterangan sendiri waktu ceramah)
    – Organisasikan bahan presentasi Anda.
    – Visualisasikan.
    – Berlatih.
    – Bernafas dalam – dalam.
    – Berfokus pada relaksasi.
    – Melepas ketegangan.
    – Kontak mata.

 

2. Penggunaan Body Language Secara Tepat

  • Bahasa isyarat dan gerakan tubuh merupakan hal penting namun sering dilupakan orang. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
    – postur tubuh.
    – Perpindahan tempat.
    – Gerak isyarat.
    – Mimik wajah.
    – Mata yang bersinar.
  • Hal -hal yang perlu dihindarkan:
    – memasukan tangan ke saku.
    – Tangan ditangkupkan di belakang punggung.
    – Lengan disedekapkan.
    – Bertolak pinggang.
    – Meremas-remas tangan.

 

3. Metode Penyampaian yang Sistematis dan Tepat Sasaran

  • Urutan presentasi: (tambahkan keterangan sendiri waktu ceramah)
    – pendahuluan
    – Kalimat prepandangan.
    – Gagasan utama dan sub gagasan.
    – Keuntungan dari penyampaian materi.
    – Kalimat peninjauan.
    – Kesimpulan.
  • Sebelum membahas public speaking lebih jauh, kita tinjau pengertian komunikasi lebih dahulu. Dalam proses komunikasi, komunikator menyampaikan pesan dan komunikan memberikan umpan balik. Umpan balik ini dapat berisi hal yang positif sebagai tanda mengerti pesan yang disampaikan, atau hal yang negatif sebagai tanda salah mengerti, atau bertanya sebagai tanda tidak mengerti.
  • Berbicara merupakan bagian dari komunikasi. Jika umpan balik dalam proses komunikasi itu lebih bersifat positif, berarti penyampaian pesan komunikator telah efektif. Dalam melakukan public speaking tidak selalu ada kata sepakat namun selalu tercapai pengertian bersama (komunikan mengerti maksud komunikator dan sebaliknya, walau tidak setuju).
  • Supaya tepat sasaran dalam melakukan public speaking, hal-hal berikut ini harus diperhatikan :
1.                            Kenali latar belakang komunikan, baik budayanya, sukunya, pendidikannya, pekerjaannya, hobinya, status sosialnya, kepentingannya maupun hal-hal yang nampaknya tidak ada artinya.

2.                           Hilangkan / dekatkan kesenjangan-kesenjangan dengan cara mengubah diri, ikuti “arus” namun tidak sampai “hanyut” dan akhirnya perlahan-lahan mempengaruhi “arus”.

3.                           Ciptakan suasana yang menunjang, tergantung pada komunikan yang kita hadapi, pada umumnya mereka senang dengan keramahan / keakraban dan keterbukaan yang tidak sampai tahap mencampuri urusan orang lain.

4.                           Tentukan maksud dan tujuan pembicaraan kita; sekedar pengisi waktu / obrolan ringan, diskusi, brainstorming, informasi, negosiasi, atau mempengaruhi orang lain.

5.                           Arahkan materi pembicaraan dan gunakan strategi sesuaidengan tujuan pembicaraan yang telah ditetapkan.

6.                           Gunakan kata-kata yang tidak menimbulkan pengertian ganda agar tidak membingungkan.

7.                           Gunakan logika berpikir. Cobalah untuk kritis, kreatif, kembangkan pola pikir yang logis, dan sistematis. Biasakan bertanya mengapa, bagaimana, seandainya, …..

8.                           Evaluasi terus secara sadar.

 

4. Penggunaan Alat Peraga

  • Alat peraga khususnya yang visual dimaksudkan untuk :
    – Memfokuskan perhatian audience
    – Mengukuhkan pesan verbal
    – Merangsang minat
    – Mengilustrasikan faktor-faktor yang sulit diverbalkan
  • Hal yang harus diingat adalah : alat peraga hanya sebagai alat bantu, jangan menjadi pusat perhatian. Interaksi dan hubungan anda dengan audience yang menentukan keberhasilan public speaking.
 
 

 

5.Persiapan

  • Faktor nonteknis seringkali tidak diperhitungkan namun membawa akibat fatal bila ternyata muncul tiba-tiba. Misalnya :
    – penampilan (rambut, pakaian, sepatu, bau badan, . . .)
    – Fisik (kesehatan, makan dulu, minum glucose, buang air besar/kecil, cukup tidur, . . .)
    – Latihan gaya, menghitung waktu, . . .
    – Kesempurnaan berkas/bahan, transparan cadangan, spidol.
    – Ketersediaan alat peraga dan cadangannya, . . .
    – Sound sytem, pengaturan tempat duduk, letak layar dan alat peraga, . . .
    – Kreativitas.
6. Pelaksanaan yang meyakinkan

  • Intonasi suara, semangat, rasa percaya diri, keyakinan yang sempurna, rasa optimis, mata yang berbinar, senyum dikulum, komunikatif, mengajak (berdialog dengan) seluruh audience, membangkitkan inspirasi, data yang akurat, peraga yang baik dan lain-lain sangat mempengaruhi keberhasilan berbicara di depan umum.

7. Feeling

  • Otak manusia terdiri dari optak kanan dan otak kiri. Otak kiri berpikir hal-hal yang rasional, sedangkan otak kanan memikirkan hal-hal yang berbau senidan mengandalkan perasaan, emosi dan nuansa-nuansa ketidak pastian. Dalam berbicara di depan umum, otak kanan juga harus difungsikan, tidak hanya otak kiri. Untuk apa? Agar kita dapat mengatasi gejala-gejala yang dapat merusak presentasi kita. Contoh : jam presentasi yang tidak tepat (membuat ngantuk), kebosanan karena acara yagn monoton dan berlebihan, kelelahan, kurang minat dan sebagainya. Sebaiknya presentasi segera di break dengan humor, tanya jawab, demonstrasi alat atau visualisasi sesuatu yang merangsang minat. Selain itu ciptakan suasana yang hangat dan interaksi yang “hidup”.

8. Finishing Touch

  • Setelah kesimpulan di akhir pembicaraan, ungkapkanlah tantangan, pertanyaan, penegasan, demo atau apa saja yang dapat audience terpana, tercengang, berpikir, atau bahkan protes. Hal ini akan memberi kesan positif dan rangsangan untuk bertanya.

 

Sumber : http://ummahattokyo.tripod.com/kepribadian/teknik_public_speaking.htm

seorang pemandu lokal sedang menjelaskan proses pembuatan teh dihadapan tamu Singapura (Pabrik teh Subang Jawa Barat)


Tinggalkan komentar

INFO SINGKAT TEH UNTUK BAHAN GUIDING


Proses Produksi Teh Dari Awal Hingga Akhir
by Himpunan Pramuwisata Indonesia Jabar

Teh adalah jenis minuman yang sudah lama dikenal orang. Bahkan Meminum teh di pagi hari mungkin menjadi kebiasaan kita. Di berbagai negara, banyak dijumpai perkebunan teh, termasuk di Indonesia.

Indonesia termasuk salah satu negara penghasil teh terbesar di dunia. Namun, tingkat konsumsi teh per tahunnya lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.

Untuk lebih mengenal proses pembuatan teh sampai ke tangan kita berikut prosesnya:

1. Proses Penanaman Teh (Tea Plantation) Tanaman teh merupakan tumbuhan berdaun hijau yang termasuk dalam keluarga Tumbuhan Camellia yang berasal dari Cina, Tibet dan India bagian Utara. Tanaman teh terutama tumbuh di daerah tropis dan memerlukan curah hujan hingga 1000-1250 mm per tahun, dengan temperatur ideal antara 10 hingga 20 °C. Pohon teh mampu menghasilkan teh yang bagus selama 50 – 70 tahun.

2. Pemanenan Daun Teh (Plucking)

Pemetikan dilakukan tergantung pada cuaca; tumbuhan baru dapat dipetik dengan interval 7 – 12 hari selama musim pertumbuhan. Pemanenan teh membutuhkan banyak tenaga dan tenaga kerja intesif . Teh yang benar-benar baik umumnya berasal dari pucuk daun atau daun teh muda yang belum mekar. Untuk menghasilkan 1 pound (0,45 kg) teh berkualitas paling baik, diperlukan lebih dari 80.000 petikan. Pemetik teh, belajar mengenali dengan tepat pucuk daun mana yang harus dipetik. Hal ini penting, untuk memastikan kelunakan daun yang dipetik menghasilkan teh yang terbaik. Setelah pemetikan, daun teh dibawa ke pabrik untuk diproses lebih lanjut. Lokasi perkebunan teh pada umumnya berdekatan dengan pabriknya.

3. Tahap Pelayuan (Withering) Daun teh segar yang telah dipetik harus melalui tahap pelayuan. Pada tahap ini, daun teh dilayukan dengan melakukan pemanasan agar kadar air yang terkandung berkurang 65-70 persen. Pemanasan dilakukan dengan mengalirkan udara panas (bisa juga dijemur). Hal ini dilakukan agar daun teh dapat digiling dengan baik.

4. Tahap Penggilingan (Rolling) Selanjutnya, daun teh yang telah dilayukan masuk pada tahap penggilingan. Pada tahap ini, daun teh digiling untuk memecah sel-sel daun. Pemecahan daun teh disesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan pasar. Daun teh ada yang digiling kasar dan ada yang digiling sampai menjadi serbuk.

5. Tahap Oksidasi (Oxidation) Daun teh yang telah digiling disimpan pada tempat atau ruangan khusus yang bersih dan bebas bau. Pada tahap ini, daun teh dibiarkan mengalami oksidasi. Enzim dalam teh akan bekerja dan membentuk warna, rasa, dan aroma teh.

6. Tahap Pengeringan (Drying) Daun teh selanjutnya dikeringkan. Pengeringan daun teh menggunakan mesin agar suhu yang dihasilkan stabil dan menghasilkan kualitas teh yang baik. Daun teh dikeringkan oleh mesin pengering dengan suhu sekitar 49°C kurang lebih selama 20 menit sampai kadar air dalam daun teh mencapai 2-3 persen.

7. Tahap Sortir dan Pengemasan (Sorting and Packaging) Selanjutnya, teh yang telah dikeringkan dikemas. Sebelum dikemas, dilakukan penyortiran teh, agar dapat dikemas sesuai permintaan pasar. (Ada yang dikemas dijadikan Teh Celup, Teh Saring, Teh Seduh, dll)

MANFAAT TEH DARI SUDUT PANDANG KESEHATAN
1.Memperlebar pembuluh darah
2.Menangkap fat atau kolesterol dalam darah dan membuangnya melalui saluran pembuangan.
3.Menghindari serangan jantung
4.Menghindari serangan stroke
5.Meningkatkan produksi Haemoglobin sbg zat pelarut udara dlm darah
6.Memperkuat gigi agar terhindar dari rapuh atau mudah goyang
7.Membunuh bakteri yg merugikan dalam pencernaan
8.Memiliki daya anti oksidan utk menetralisir toxic dalam darah
9.Bersifat antiseptik yg dapat digunakan utk menggantikan alkohol
10.Menghambat pertumbuhan kanker hingga 92%
11.Parameter kwalitas air. Untuk mengecek air dari pencemaran logam berat. Air jernih mentah dicampur dengan teh maka akan menghasilkan ragam warna. Bila berubah menjadi hitam, merah atau purple maka sudah dipastikan air itu mengandung logam berat. Untuk menguji apakah air itu tercemar bakteri maka air mentah dicampur dengan teh dan tunggu hingga beberapa hari apabila terjadi gelembung dan berawan putih maka sudah pasti air itu sudah tercemar bakteri yg berbahaya.

MANFAAT TEH DARI SUDUT PANGDANG KEPERCAYAAN
Orang Belanda menganggap selain memiliki manfaat kesehatan, teh juga dianggap memiliki manfaat lain:
1. Bila minum teh maka orang sedih akan menjadi ceria
2. bila minum teh maka orang hyperkatif akan menjadi berkurang tingkat hyperaktifnya
3. Bila minum teh orang yg kedinginan akan berasa hangat
4. Bila minum teh orang yg sedang gelisah akan menjadi tenang.

Meskipun teh ini baik dan memiliki keunggulan akan tetapi untuk penderita penyakit ginjal harus lebih sedikit bijaksana dalam mengkonsumsinya karena minum teh akan membuat ginjal bekerja 5 kali lebih keras dibandingkan minum air putih biasa.


Tinggalkan komentar

SEJARAH JAKARTA UNTUK BAHAN GUIDING


SEJARAH JAKARTA I

Keadaan Tanahnya

Ditinjau dari sudut geologi Daerah Jakarta Raya dan sekitarnya termasuk daerah yang pembenrtukkan buminya lebih muda dari pada bumi di bagian selatan dengan gunung-gunungnya yang terbentang dari Baanten hingga Priangan timur. Daerah Jakarta oleh ahli geologi van Bemmelen digolongkan sebagai daerah Batavia (Jakarta) yang terbentang dari Serang — Rangkasbitung sampai Cirebon yang lebernya diperkirakan 40 Km.

Daerah Jakarta dan sekitarnya diperkirakan terbentuk karena peletakkan dan pengendapan Lumpur-lumpur yang dibawa sungai-sungai daari Gunung Salak dan Gunung Gede di daerah Bogor. Pada akir abad 16 dan 17 letak pusat Jakarta Kota di Muara Cilincing dan berbatasan dengan laut. Lebih–lebih letak benteng-benteng Kompeni Belanda pada sekitar tahun 1519 tampaknya di tepi laut. Letak bekas Kota Jakarta lama dengan laut/air kini lebih kurang 2 Km, proses pengendapannya rata-rata 6-7 meter.

Meskipun demikian dari sudut keletakkannya Jakarta Raya terletak di pesisir laut Jawa, dialiri sungai Ciliwung dan diapit oleh sungai-sungai besar yaitu, Cisadane di bagian barat, kali Bekasi dan Citarum du bagian Timur. Sungai itu kesemuanya menjadi factor penting bagi sasaran manusia untuk mencari, mempertahankan dan mengembangkan kehidupan social – ekonomi maupun budaya.
Muara-muara sungai Ciliwung, Bekasi, Cisadane, Citarum, itu kesemuanya terkenal sejak zaman sejarah sebagai Bandar-bandar yang penting di pesisir utara Jawa Barat, di samping Cibanten dengan Bantennya, Ciujung dengan Pontangnya, Cimanuk dengan Indramayunya dan Cirebon.

Zaman Batu

Peninggalan-peninggalan kebudayaan manusia yang ditemukan dari daerah Jakarta Raya dan sekitarnya diperkirakan berasal dari zaman kebudayaan batu baru atau neolitikum yang usianya secara relatif berasal dari 1500-1000 sebelum masehi. Alat-alat dari zaman tersebut yang berasal dari Jakarta Raya pernah dicatat dalam daftar himpunan benda-benda prasejarah di Museum Pusat oleh Dr. T. van der Hoop. Benda-benda prasejarah itu pada umumnya hasil dari pembelian dari penjual benda-benda antik dari tahun 1941. Sedang benda-benda yang ditemukan dan dihimpun setelah tahun itu juga terdapat beberapa puluh buah.

Tahun 3500 atau 3000 tahun yang lalu ada yang berua kapak, beliung, gurdi, pahat, pacul dan lain-lain. Benda- benda kebudayaan itu bahannya dibuat dari batu-batu jenis batu api, agaat jaspis, batu-batuan pasir yang mengeras, kapur peras, chacedoon/batu koral dan sebagainya. Benda benda tersebut pada umumnya sudah diupam halus dan telah memakai tangkai dari kayu.
Zaman Perunggu Besi

Alat-alat kebudayaan dari zaman perunggu besi itu antara lain berua kapak corong atau kapak sepatu telah ditemukan dari daerah Tanjung Barat di pinggir Ciliwung dekat bekas rumah tuan tanah di Pasar Minggu, dekat Cirancas di Tanjung Timur Ciliwung ke Cililitan.
Dari kelapa dua banyak ditemukan bekas-bekas pancoran besi atau tali besi bersama benda benda kapak persegi atau pahat dan pecaha-pecahan tembikar. Kapak corong telah ditemukan pula dari Lenteng Agung dan daera-daerah lainnya di sekitar Bekasi, Kerawang dan Tangerang.

Dari benda-benda logam perunggu dan besi yang ditemukan di beberapa tempat di daerah Jakarta dan sekitarnya itu jelaslah memberikan bukti bahwa tempat-taempat itu pernah dihuni oleh masyarakat dari zaman berikutnya. Dengan demikian masyarakat sendiri mengalami perkembangan baik dalam masalah kehidupan dan penghidupan sosial ekonomi maupun kulturilnya. Karena untuk menemukan, membuat dan mencairkan logan tersebut memerlukan ilmu pengetahuan.

Kedatangan Pengaruh Kebudayaan India Hingga Munculnya Tarumanagara dan Pajajaran.

Kedatangan orang-orang India, baik dari golongan pendeta atau Brahmana maupun pedagang ke Indonesia, diperkirakan sejak abad pertama Masehi. Demikian halnya dengan daerah-daerah pesisir utara Jawa Barat dimana bukti-buktinya yang tertua ditemukan di lingkungan Jakarta Raya. Tempat yang dimaksud ialah desa Tugu, desa Tugu yang kini termasuk Jakarta Utara.

Menurut laporan tempat penemuan sebenarnya ialah Kampung Batu Tumbu, desa Tugu yang dulu msuk Bekasi. Pemindahan prasasti tersebut dari tempatnya ke museum diajukan oleh Chijs pada tahun 1879. Batu bertulis tersebut berasal dari tahun 400 Masehi (pertengahan abad 5 M). Sejak ditemukan prasasti tersebut sudah ada beberapa ahli yang mentranskripsi dan menelaahnya antara lain: Prof. H Kern tahun 1885, Dr. J.P. Vogerl tahun 1925 dan Dr. R.M Purbatjaraka tahun 1952. kecuali itu masih banyak ahli yang mempergunakannya dalam penafsiran sejarah seperti Dr. H.J Kern, Dr. W.F Stuterhceim, Dr. Chabra dsb.

Bagi pulau Jawa prasasti ini merupakan bukti adanya kerajaan bercorak Indonesia -Hindu yang pertama, sedang bagi seluruh Indonesia merupakan bukti yang kedua setelah Kutai di Kalimantan Timur.

Isi dari prasasti Tugu itu menceritakan tentang Raja Purnawarman dari Tarumanagara yang menggali sungai Chandrabhaga dan Ghomati yang panjangnya 6122 busur atau kurang lebih 11 Km diselesaikan dalam tempo 21 hari, selamatannya dilaksanakan oleh para Brahmana dengan mengorbankan 1000 ekor sapi. Hal ini berarti pengerahan masa yang bukan sedikit dalam hal gotong royong. Karena pembuatan ini terjadi pada bulan-bulan Phalguna dan Caitra, yang menurut Dr. J.h. Vogel bersamaan dengan bulan-bulan Maret, maka penggalian sungai tersebut mengingatkan pada bulan setelah terjadinya musim penghujan yang amat lebat Januari- Februari.

Penggalian sungai ini ditinjau dari sudut keadaan tanahnya yang rendah, sehingga sering terjadi banjir. Pada masa kedatangan Belanda pertama kali di tahun 1596, diberitakan bahwa tanah-tanah sekitar Bandar Jakarta itu terendam air. Dewasa ini dapat pula disaksikan pada musim-musaim hujan, daerah-daerah tertentu di Jakarta mengalami banjir.

Raja Purnawarman meskipun pada masa penobatannya memakai nama Sangsekerta tidaklah perlu dianggap bahwa ia orang India, melainkan ia mungkin orang Indonesia yang berdiam di Jawa Barat. Pada waktu itu mendapat pengaruh kebudayaan India dan nasibnya baik menjadi raja besar. Agama yang dianutnya ialah Hindu terutama dari sekte Waisyana, penganut Wisnu dan menurut Ir. Moors adalah penganut desa Surya.

Tentang keagamaannya, dapat kita saksikan pada prasasti Tjiarunteun dan Kebon Kopi yang memuat sebutan, bahwa kedua telapak kakinya seperti telapak dewa Wisnu dan telapak gajahnya seperti telapak Gajah Airwata.

Batas kerajaan diperkirakan meliputi di sebelah timur di daerah Tjiarunteun dan bagian barat sampai Banten. Di sini ternyata ditemukan prasastinya di desa Munjul kabupaten Lebak. Sedang di daerah selatan sampai di daerah Bogor dimana juga ditemukan prasasti-prasasti dari Tjiarunteun, Pasir Awi, Kebon Koi, Muara Tjianten dan dari Djambu.

Masa Pajajaran

Pusat Pajajaran ialah “Dayuh” di daerah Bogor seperti dikemukakan oleh beberapa ahli: Dr. Purbatjaraka, Ten Dam, Krom dll berdasarkan adanya batu tulis didesa Batu Tulis yang memuat nama-nama raja Cribaduga, dan ayahnya serta kakeknya masing-masing bernama Rahiang, Dewa Niskala dan Rahiang Niskala Wastukancana. Batu bertulis di Bogor itu Candrasangkalannya oleh Dr. Purbatjaraka dibaca “Panca Pandawa Emban Bumi” atau tahun Caka (1333 M).

Dari daerah-daerah seperti Kalapa Dua pernah ditemukan sebuah batu kali yang digoresi huruf Jawa atau Sunda Kuno yang mungkin bersal dari abad-abad tersebut. Batu itu kini disimpan di Museum Fatahilah, Jl. Taman Fatahillah no.2 (Museum Jakarta). Kecuali itu pecahan-pecahan keramik Cina berasal dari abad-abad ketika masih berkembangnya kerajaan Pajajaran abad ke-14 – 15.

Bandar Kalapa sebagai Bandar yang penting pada zaman Pajajaran ternyata pula menjadi sasaran tempat perdagangan bangsa-bangsa asing. Pada tanggal 21 Agustus 1522 antara raja Pajajaran dengan pejabat-pejabat Syahbandar serta Tumegungnya mengadakan perjanjian dengan orang-orang portugis dibawah pimpinan Hendrique Leme dalam hal ini pendiri antar dagangnya atau loji.

Dalam perjanjian itu selain perihal izin mendirikan kantor dagangnya juga dinyatakan tentang perdagangannya serta serangan dari pihak musuh mereka. Setiap tahun raja Sunda Kalapa akan memberikan 1000 karung lada kepada portugis. Batu itu dibuat dan didirikan disertai upacara pesta-pesta. Batu peringatan atau “Padrao” tersebut ditemukan tahun 1918, dari pinggir sungai Ciliwung di Molenvit. Tetapi batu “Padrao” itu kini disimpan di Museum Pusat, Merdeka Barat 12 Jakarta.

Dari kampung kebantenan di daerah Bekasi, pernah ditemukan prasasti logam tembaga yang menyebut nama-nama raja antara lain ayah serta kakek raja Cribaduga yang pernah disebut pada batu tulis di Bogor. Sayangnya nama raja Cribaduga sendiri tidak disebut kecuali sebutan raja yang mendiami di Pakuan.

Zaman Fatahillah

Daerah Jakarta Raya dengan pusatnya dahulu Kalapa menjadi dasar bagi perkembangan daerah Metropolitan, jelas dengan bukti-bukti pemberitaan tentang kumpulnya bangsa- bangsa dengan kapal-kapal dagangnya serta juga suku-suku bangsa Indonesia lainnya.

Setelah hubungan portugis dengan raja Sunda Pajajaran terputus karena kedatangan Faletehan dengan tentaranya dari Demak, Banten dan Cirebon, maka tahun 1527 dikuasailah Bandar Jakarta. Menurut Dr. Sukanto tepatnya tanggal 22 juni 1527 (hari Jadinya kota Jakarta).

MASA BELANDA

Sejak menjadi Bandar di bawah kekuasaan muslim, Jakarta tetap berkembang dan terbuka bagi segala bangsa juga selama tidak mencampuri urusan politik kekuasaannya.

Jakarta di bawah pemenrintahan Tubagus Angke, pangeran Jakarta Wijayakarma, mengalami perkembangan yang pesat di bidang social ekonomi dan budaya. Sejak Jakarta direbut oleh kompeni Belanda di bawah pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pieter Zoon Coen tanggal 30 Mei 1619 dan menjadi Batavia, maka perkembangannya sebagai pusat perdagangan, politik dan pemerintahan kolonialnya makin pesat (untuk menguasai seluruh Indonesia).

Sejak itu pula bangsa bangsa lain termasuk bangsa Indonesia dari berbagai suku -karena kepentingan perdagangan serta karena sering diambil dalam hubungan peperangan- berkumpul dan mendirikan kampong-kampung, seperti: kampong Bali, Kampung Bugis, Kampung Ambon, Kampung Banda dan lain lain. Demikian garis garis besar sejarah daerah Jakarta Raya dan sekitarnya dari zaman Prasejarah hingga Zaman Pajajaran dengan sedikit lintasan sampai kekuasaan Belanda

SEJARAH JAKARTA II

1. JAYAKARTA DARI TAHUN 1618
a. Dr. J.W. Ijzerman 1917 peta Jogjkarta
b. Kyai Arya, Patih Jayakart
c. Pasar Ikan, Kampung dan Mesjid Luar Batang
d. Belanda 1596 di Banten dan 1917 di Jayakarta
e. Gudang Nassau, Mauritius dan Het Fort van Jakarta
f. 1619 perang Inggris dgn Belanda J.P Coen ke Maluku
g. 30 Mei 1619 serangan balasan J.P Coen menang dan mendirikan kota Batavia
h. Pulo Gadung dan Kampung Gusti di Angke
i. Banten, Cirebon dan Demak
j. Pangeran Jayakarta dan Pangeran Wijayakusumah
k. Peta 1618 dan 1619

2. BATAVIA 1619 DAN 1627
a. Benteng Jacatra menjadi Kastel Batavia
b. Kota intern bagi Kota Batavia kuno:
a) Parel
b) Diamond
c) Saphir
d) Rabijn
c. Peta tahun 1627
d. Couritme/ Gordijn, Landfort and waterpoort
e. Parit-parit/grahten dan kali Baru
f. Di Tijgersgracht/ Jalan Bos-Kali Besar Princesstraat/ Jalan Lada – Stadhuis

3. BATAVIA 1632 DAN 1635

a. Mendali emas Jacques Speck hadiah masyarakat China
b. 1627 -1629 Sulatan Agung Mataram
c. 1629 J.P. Coen meninggal diganti Jacques Speck
d. G.G. Antonie Van Dremen 1636-1645
e. Peta tahun 1635

4. Batavia tahun 1630
a. 1650 Peta dibuat oleh Clemendt de Longhe
b. Kasteel, Voorstad dan De Voorstad
c. 1672 perbandingan dengan peta
d. Molenvliet (molen:kincir, vliet: aliran)
e. Phoa Bingan, Kapten China
f. Rijkwjk Straat (Jl. Majapahit)
g. 1740 peta Batavia

5. BATAVIA ABAD 18

a. Masa pemukinan ke luar kota
b. Jacatraweg (jalan Pangeran Jayakarta)_ Jacatraweg Fort
c. pagar pagar monumental dalam gaya Barogur
d. tempat mandi dan pangakalan perahu
e. Orebaai (saling mengunjungi) perahu dan budak pendayung
f. Sepanjang Molenvliet masih ada tapi di jalan Jacatra sudah lenyap
g. Singerland (Ancol) gedung-gedungnya sudah punah
h. 1761 _ 1775 Peta Van dan Varra dan G.G Van der Parra
i. Direproduksi Dr. F. de Haan – Betawi Lama
j. Akhir abad 18 perpindahan besar besaran ke Weltrevreden yang lebih tinggi dan
sehat

6. WELTEVREDEN ABAD 17 SAMPAI 18

a. 1648 milik Antony Paviliun – nama Weltevreden.
b. Daerah hutan, rawa dan padang rumput
c. Orang Cina menyewa dan menanam tebu dan sayuran
d. Bersawah dan berladang
e. 1697 Cornelis Chastelein mendirikan gedung
f. Terdapat dua kincir penggilingan tebu
g. 1733 Tanah Abang dijual kepada Justinus Vinek
h. 1735 Pasar Tanah Abang dan Pasar di Weltevreden
i. Jl. Gunung Sahari – P senen – Kramat dahulu namanya Grote Zuiderweg (Jl. Raya Selatan
j. Vinek – Passer (Pasar Senen)
k. Dijual kepada G. DJ Jacob Mossel, pembuat Kalilio yang sejajar dengan “de Grote Zuiderweg”
l. “Het Landhuis Weltevreden “ semenanjung buatan Kalilio dibuat oleh Jacob Mossel
m. Gang Kenanga menuju “ Het Land Huis Weltevreden”
n. 1780 Peta dasar kebun dan rumah di Weltevreden
o. 1767 Weltevreden milik Van der Parra batas-batasnya:
a) Postweg dan Schoolweg – utara (jl pos) – (jl. Dr. Sutomo)
b) De Grote Zuiderweg – Timur
c) Kramat/Jambatan – selatan
d) Ciliwung – Barat
p. Waterlooplein dan Hertogspark – batas-batasnya Weltevreden
q. 1797 weltevreden Kwintang dibeli oleh Van overstraten.
r. Asli Pasar Senen – Simpang Tiga Gang Kenanga Jl. Senen sekarang. Buka setiap hari senen saja

7. JAKARTA ABAD 19
a. 1807 Herman Willem Daendels >Asia – Eropa semakin pendek jaraknya. Lalulintas perdagangan dan bongkar muat barang perlu waktu singkat.
b. Pelabuhan lama Pasar Ikan semakin lama tidak sesuai dengan perkembangan tersebut.Bongkar muat jauh jaraknya dari pantai pelabuhan lama sebagai sebab utama diperlukannya pelabuhan baru yang modern
c. Dalam jangka waktu pembangungan 6 tahun (1877-1883) berdirilah Pelabuhan Tanjung Priok Km sebelah kanan Pelabuhan lama yaitu Pasar Ikan atau Sunda Kelapa.
d. Pelabuhan dalam I (1879 – 1883) diresmikan 1886, panjang 200m dan luas permukaan air 20 Ha
e. Pelabuhan dalam II (1910-1817) untuk kapal-kapal penumpang dari maskapai-maskapai Nederland, Roterdamsche Loyd dan Ocean.
f. Perkembangan lalu-lintas didarat mengikuti dengan dimulainya pemasangan jaringan jalan kereta api 1873 antara Batavia _ Buitenzorg (Bogor). Kemudian diikuti ole jaringan kereta api lainnya di dalam dan di sekitar Batavia.
g. Mulai tahun 1881 “Tram Uap” mulai dipergunakan dalam kota dan 16 tahun kemudian (1897) dipergunakan trem listrik.
h. Tahun 1930 peleburan perusahaan angkutan darat seleruh lalu linta trem mempergunakan trem listrik, akan tetapi alat pengangkut ini kurang efektif dan mengganggu pemandangan kota.
i. Lalu lintas pos, telegrap dan telepon turut berkembang dan perkembangan ekonomi baru berkembang dimulai dengan munculnya pabrik-pabrik.
j. Akibat dari perkembangan tersebut timbullah masalah masalah perumahan penduduk Eropa sebagai prioritas saat itu.
k. Penduduk yang dating dari desadesa mendirikan rumah-rumah dan kampong-kampung dibeberapa tempat diberi nama sesuai dengan kampong/daerah asalnya

10. JAKARTA AWAL ABAD 20

a. Tahun 1909 diterapkan peraturan mengenai pengawasan dan perencanaan pembangunan perumahan.
b. Pada dasarnya “Gemeente Batavia” telah menetapkan tahun 1917-1918 sebagai tahun dimulainya rencana pengembangan Batavia.
c. Dengan persetujuan Gemeeteraad (Dewan Kota Praja) Pada tahun 1912 perusahaan pembagnunan perumahan “Gondangdia” merencanakan pembangunan perumahan dan prasarananya seperti jalan-jalan, taman-taman dan saluran air buangan.
d. Secara berangsur kota Praja telah membeli tanah-tanah partikelir Menteng, Sentiong, Jati Wetan, Petojo dan sebelah terusan Krukut untuk daerah perumahan.
e. Tahun 1920 dibeli pula tanah Gondangdia, Karet duku, Bendungan Udik, Kramat Lontar dan Jati Baru. Tanah Kotapraja seluruhnya saat itu luasnya menjadi * juta m2
f. Pembangunan taman-taman penghijauan diperhatikan sekali sehingga pemandangan Batavia dan Weltevreden menyedapkan pandangan.
g. Taman-taman seperti “Wilhemia Park (kompleks Mesjid Istiqlal sekarang), Frombergs Park (depan M.B.A.D) sekarang, “Deca Park” (depan Istana Merdeka) dan “Burgemeester Bisschoplein “ (Taman Surapati Sekarang) merupakan tempat rekreasi utama penduduk.
h. Pendirian badan “Bouwploeg”(ingat pasar Baplo di Gondangdia) untuk dimulainya pembangunan Gondangdia baru dan Menteng Baru.
i. Sejak Taruma Nagara usaha-usaha pengendalian banjir sebagai suatu masalah sehingga dibuatlah saluran banjir (banjir Canal)
j. Sungai Ciliwung dan Sungai Krukut dapat dikendalikan sebagai penyebab banjir dipimpin oleh Prof. Dr. Van Breen.
k. Sejak tahun 1925 dimualilah usaha-usaha perbaikan kampong setelah pengendalian banjir berhasi sampai dengan menjelang perang duaniaII.
l. Sejak tahin 1969 Pemerintah DKI Jakarta memulai lagi perbaikan-erbaikn kampong hingga sekarang.

11. LAPANGAN MERDEKA (KONNINGSPLEIN)

a. G.G. H.W . Daendels tahin 1818 membuka sebidang tanah berukuran 1x 0,85 Km diberi nama “Konningsplein” untuk latihan perang dan parade.
b. Lapangan ini sekarang kita kenal sebagai Medan Merdeka atau Lapangan Monas, karena ditengah ada Monumen Nasional yang didirikan oleh almarhum Presiden Soekarno pada tahun 1961 dan selesai tahun 1968.
c. Mula-mula dipasang jalur rel kereta api dengan emplasemen dan stasiun Gambir di bagian timur.
d. Dulu di Lapangan Monas ada kantor telepon di depan Istana pada tahun 1909 berturut-turut dierluas hingga tahun 11928.
e. Disebelah timur tahun 1913 dibuat Taman Deca Park dengan gedung bioskop dan lainnya.
f. Di antara taman Deca Park dan jalan kereta api terdapat taman segitiga ‘Frombergpark”.
g. Sebelah selatan taman Fromberg diisi dengan lapangan lapangan leh raga dari Bataviasche Sporrt Club (BSC), lapangan pacuan kuda dari Batavia Buitenzorg Wedloop Societeit (BBWS) tahun 1905 dan lapangan balap sepeda tahun 1936.
h. Gedung-gedung sekitar lapangan berubah dari rumah-rumah besar dan megah, karena besarnya ongkos pemeliharaan berubah fungsinya menjadi gedung perusahaan dan pemerintahan.
i. Di jalam Medan Merdeka Barat di samping kanan Gedung Museun tahun 1928 dibangun gedung “ Rechthogeschool” (sekolah Tinggi Hukum). Sekarang dipakai oleh Departemen Pertahanan dan Keamanan.
j. Sebelah kiri museum dibangun gedung kantor-kantor maskapai pelayaran Nederland dan Roterdam Loyd dan gedung siaran Radio NIROM kini tetap gedung RRI yang dibuat oleh arsitek Blankenberg.
k. Di jalan Medan Merdeka Selatan, rumah-rumah kuno dipergunakan oeleh Gubernur Jawa Barat (dahulu), Dewan Rakyat Gemeente Batavia dan rumah dinas Dirktur Javaasche Bank.
l. Ujung barat Jalan Merdeka Selatan Tahun 1937 didirikan gedung “Koloniale Petroleum Verkoop Maatschappy”
m. Di jalan merdeka timur (kecuali gereja Immanuel) terdapat gedung K.P.M dibangun tahu 1916 dengan bangunan bercorak dekoratif
n. Pada tahun 1938 di jalan Merdeka Timur dibangun gedung dan menara “Bataafche Petroleum Maaatschappy” (BPM).
o. Sejak tahun 1918 Jalan MKuseum sebagai jalan utama menghubungkan lapangan Merdeka dengan daerah Petojo sebagai pangkal erkembangan kota kea rah barat.

12. KOTA SATELIT KEBAYORAN

a. Perusahaan-perusahaan perkebunan asing, bank, pertambangan pelayaran dan usaha-usaha dagang lainnya memerlukan rumah-rumah dan kantor-kantor.
b. Timbul gagasan pembukaan tanah 8 km dari lapangan Merdeka ke sebelah selatan (kebayoran Baru Sekarang) yang semula diperuntukkan bagi pembuatan lapangan terbang internasional baru menggantikan Kemayoran (didirikan menjelang perang dunia ke-2).
c. Jalan kereta api Tanah Abang-Tangerang dapat mempermudah pengangkutan bahan-bahan bangunan sebagai tepi dari deerah proyeksi perumahan Kebayran Baru tersebut.
d. Perencanaan diserahkan kepada Ir. M. Soesilo dari Biro Pusat Planlogi yang berhasil membuat kerangka rencana penggunaan Kebayoran.
e. Istilah Kota Sateli Kebayoran sebetulnya kurang tepat karena jarak kota Satelit adalah 15 km dari kota induknya dan sebagai satu kesatuan yang berdiri sendiri atau kegiatan sehari-hari.
f. Tanggal 1 Desember 1948 dimulai pembangunan Kebayoran Baru dengan pembayaran ganti rugi kepada penduduk 700.000 pohon terdiri dari 26 macam pohon buah-buahan, 1688 bagunan rumah, kios dan kandang-kandang ternak yang harus disingkirkan.
g. Blan Januari 1949 ganti rugi selesai dengan menghabiskan uang sebanyak 15 juta Gulden.
h. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya embangunan tanggal 18 Maret 1949 dan klemudian terselesaikan 2050 rumah yang semula sebanyak 2700 rumah kediaman

SEJARAH MUSEUM – MUSEUM DI JAKARTA

MUSEUM SEJARAH JAKARTA

Museum Sejarah Jakarta

Museum Sejarah Jakarta termasuk bangunan yang cukup tua, dengan usia yang sudah mencapai 400 tahun, pada waktu penyerbuan pasukan Sultan Agung dari Matram atas benteng VOC Belanda di Batavia tahun 1928 gedung ini terbakar.Peristiwa ini dapat kita saksikan dalam lukisan S. Sujoyono di Museum Sejarah Jakarta, yang melukiskan serdaddu VOC melawan tentara dari Sultan Agung.

Pada prasasti cukilan kayu yang berasal dari abad 18 menjelaskan bahwa gedung ini sebagai gedung Stadhis (Balai Kota), dilakukan pemugaran atau perbaikan pada tahun 1710, dengan demikian pada tahun tersebut bentuk sudah sempurna seperti yang kita saksikan sekarang.

Di samping itu, gedung ini dikenal dikalangan masyarakat dengan sebutan Gedung Bicara yaitu tempat pengadilan colonial Belanda. Bukti-buktinya masih ada seperti, kamar-kamar tahanan yang terdapat di bagian belakang, depan dan samping sebelah barat.Konon kabarnya di sini dilakukan hukuman yang sangat kejam, seperti hukuman gantung.

Pada masa penjajahan Balanda dulu gedung ini menjadi Balai kota atau Stadhuis yang ditemti oleh Gubernur Jnderal. Pada bagian depan gedung ini dibangun pula taman yang diberi Taman Fatahilah, untuk mengenang pahlawan.Fatahilah yang telah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa.Museum sejarah Jakarta memamerkan berbagai macam koleksi tentang kepurbakalaan, hingga zaman kemerdekaan.

Museum Wayang

Gedung ini dibangun pada tahun 1640 digunakan sebagai gereja yang diberi nama Oude Holansche Kerk, hingga tahun 1732. Pada tahun 1848 nama gereja diganti menjadi Niew Holansche Kerk. Di bagian tengah gedung dipergunakan sebagai kuburan khusus bagi para pembesar Belanda, yang meninggal dunia di Jakarta, antara lain: Jan Pieter Zoon Coen.

Pada tahun 1934 bekas gereja itu dijadikan gudang perusahaan Geo Wehry , yang pada tanggal 14 Agustus 1936 pemerintah Belanda menetapkan gedung ini sebagai monument. Kemudian gedung ini dibeli oleh Bataviasche Genootschaap Van Kunsten en Wtenschaapen, sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan di Indonesia. Pada tahun 1937 dijadikan Museum Jakarta.

Museum Wayang menampilkan koleksi beerbgai macam jenis wayang yang berasal dari dalam maupun dari luar negeri serta perangkat gamelan sebagai alat musik pengiring pertunjukan wayang. Setiap hari Minggu dua kali dalam sebulan diselenggarakan pagelaran wayang kulit maupun wayang golek dan demonstrasi pembuatan wayang.

Museum Bahari

Pada mulanya gedung ini gedung ini dibangun oleh VOC sebagai tempat penyimpanan rempah-rempah, dan secara bertahap. Tahap pertama tahun 1718, tahap kedua ketiga dan ke empat di tahun 1773 dan 1774. sekarang berfungsi sebagi museum, tempat menyimpan dan memelihara berbagai jenis model perahu, model kapal, perlengkapan dan alat-alat navigasi serta lainnya tentang kelautan.

Bentuk-bentuk perahu serta motif-motif hiasnya yang aneka ragam berasal dari seluruh nusantara. Museum Bahari menampilkan beberapa aspek sejarah daro tokoh-tokoh bahari. Tidak ketinggalan ditampilkan juga kehiduan mereka yang tinggal di pantai-pantai.

Museum Tekstil

Pada mulanya gedung ini milik orang Perancis, yang dibangun adad 19 kemudian oleh konsul Turki yang bernama Abdul Aziz Al Muszawi Al Katiri seorang bangsawan yang menetap di Indonesia. Pada tahun 1929 gedung tersebut dihibahkan kepada keluarganya. Kemudian pada masa perjuangan menyongsong kemerdekaan gedung dijadikan Markas Pemuda Pelopor dan Badan Keamanan Rakyat hingga sekitar trahun 1945.

Pada tahun 1947 gedung didiami oleh Lie Sion Pin, dan dia kontrakkan kepada Dinas Perumahan Departemen Sosial sebagai tempat penampungan orang-orang jompo. Pada tahun 1952 gedung ini dibeli oleh departemen social, dan dijadikan Kantor Jawatan Sosial.

Pada tahun 1960 oleh departtemen social dijadikan Asrama Pegawai yang menampung 40 keluarga. Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1975 Departemn Sosial menyerahkan gedung itu kepada Pemda DKI Jakarta, kemudian dijadikan Museum Tekstil. Museum ini memamerkan berbagai koleksi kain tenun dan batik dari seluruh wilayah Nusantara serta alat-alat tenun dan membatik secara tradisional.

Gedung Joeang 45

Pada masa Hindia Belanda Gedung ini merupakan sebuah hotel yang mewah bernama Schoper. Ketika Jepang menduduki Indonesia di jadikan kantor jawatan propaganda atau Sendenbu. Oleh jepang kemudian diserahkan kepada para pemuda Indonesia untuk dijadikan tempat pendidikan yang akhirnya dikenal nama Asrama Aangkatan Baru Indonesia. Oleh para pemuda gedung ini tidak dipergunakan untuk membanti Jepang, akan tetapi dijadikan tempat penggemblengan dalam rangka mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan pada tanggal 18 Agustus 1945 di gedung ini didirikan Komite Van Aksi yang bertugas untuk mempertahankan kemerdekaan. Pada tanggal 22 Agustus 1945 gedung ini ditetapkan sebagai maarkas pemuda. Oleh karenanya terkenal para pemuda Menteng 31. pada tangal 20 September 1945 Jepang mengadakan penggerebekan dan pengangkapa terhadap para pemuda Menteng 31.

Museum Joeang 45 menampilkan berbagai macan koleksi yang berupa foto, lukisan maupun alat-alat lainnya tentang peristiwa perjuangan merebut dan mempertahankan perjuangan bangsa.

Alamat : Jl. Menteng Raya 31. Jakarta Pusat
Open : 09.00-16.00

Museum Prasati

Di masa sebelum kemerdekaan RI di Jalan Tanah Abang I terdapat pemakaman/pekuburan tua di mana di dalamnya terseimpan kuburan pejabat dan tokoh-tokoh Belanda di masa itu yang dikenal dengan nama pemkaman Kebon Jahe. Setelah masa kemerdekaan, pemakaman tersebut masih digunakan untuk pemakaman umum bagi umat Nasrani yang pengelolanya dilakukan oleh Dinas Pemkaman DKI Jakarta.

Guna pemeliharaan kesinambungan sejarah yang pernah ada, baik yang berkaitan dengan sejarah Jakarta maupun sejarah Indonesia umumnya, maka pemakaman Kebun Jahe sejak tahun 1975 ditutup untuk tempat pemakaman dan mulai dipugar guna dijadikan Museum Taman Prasasti sehingga kelestarian sejarah serta nilai seni arsitektur yang tekandung di dalamnya dapat dipelihara dan meruakanbukti-bukti sejarah masa lalu.
Alamat :Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat
Open : 09.00-16.00

Museum Keramik dan Balai Seni Rupa

Dahulu gedung ini berfungsi sebagai Raad Van Justice atau dewan kehakiman Belanda yang dibangun tahun 1870. dalam Gedung Seni Rupa Jakarta terdapat dua buah museum, yaitu:
a. Museum Seni Rupa
Memamerkan aneka ragam karya-karya seni lukis dari berbagai aliran mulai karya Raden Sleh hingga karya mutakhir lukisan abstrak
b. Museum Keramik
Memamerkan berbagai macam kolesi keramik, baik keramik local maupun keramik asing

Alamat :Jl. Taman Fatahilah no 2, Jakarta Barat
Open : 09.00-16.000

Museum Muhammad Husni Thamrin

Disamping menampilkan dokumentasi perjuangan Muhammad Husni Thamrin juga ditampilkan koleksi berbagai peranan gedung ini ada masa-masa perjuangan bangsa mencapai kemerdekaan. Gedung ini pada waktu itu banyak dipergunakan oleh organisasi Panitia Persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sehingga dikenal dengan nama gedung Permufakatan

SEJARAH GEDUNG GEDUNG DI JAKARTA

1. Istana Merdeka

Rumah yang tertua di blok oleh orang Perancis (Francewijk) ini yang dahulu dinamakan Rijswijk, adalah Hotel der Nederlanden yaitu bangunan kuno yang histories yang sekarang tidak berbekas.

Bangunan ini dibuat oleh Pieter Tensy tahun 1794 sesuadah dia meninggal bangunan ini kemudian jatuh ke tangan Van Isseldijk (Raad van Indie) pada tahun 1812 dijual kepada Rafeles sebagai tempat tinggalnya. Raffles lah yang melebarkn pekarangan bangunan ini begitu pula dengan patung-patung yang berada di pintu masuk, beliaulah yang menempatkannya. Pada tahun 1826 perumahan ini dibeli oleh Pemerintah utnuk tempat kediaman para Comisarissan yang kemudian dihuni oleh Residen Van Batavia tahun 1827 – 1897.

Pada zaman Engelsetassenbestuur bangunan yang berada di sebelah Hotel der Nederlanden (dimana Raffles tingal) berdiamlah Hugh Hope sebagai Civil Comisioner atau Gubernur Pantai Utara tanah Jawa, kemudian Member of Council yang diadakan oleh Lord Minto untuk pengganti utama Raffles. Namun oleh kelihaiannya dalam diplomatik yang ulung ini dapatr disingkirkan secara halus. Gedung ini dibangun oleh Jonk Van Braam tidak lama sesudah Hotel Dernederlanden berdiri. Van Braam hingga akhir hyatnya masih mendiami kopelnya yang berada di sebelah selatan gedung ii. Setelah Van Braam meninggal dunia tahun 1820, rumah yang besar dan artistic ini dibeli oleh pemerintah untuk tempat tinggal para Gubernur Generalnya. Dulu gedung ini mempunyai dua tingkat, namun pada tahun 1848 telah dibongkar. Ruangan muka yang sekarang menghadap kea rah lapangan Monas kemudian diperluas untuk mendapatkan pemandangan yang terbuka.

Pembangunan tambahan yang terarah dari pada bangunan ini kesebelah selatan dipergunakan untuk kepentingan Negara, bila gubernur Jendralnya memerlukannya untuk kepentingan pesta-pesta dan juga pada waktu diadakan siding-sidang Dewan Raad van Indie. Kator sekretaris dari dulu berada di dekatnya di Lijkwijk. Pagar besi yang sekarang menutup halaman belakang Istana dibuat pada tahun 1875. istana Gubernur Jenderal mula-mula dihuni oleh G.G. van der Cappelen dari tahun 1816 -1826. kemudian menyusul Du Bus de Gesignies sebagai Comisarich General dari tahun 1826-1830. yang terakhir mendiami gedung ini ialai Gubernur Jenderal Tjarda Strarokenborg Staakhouwer pada tahun 1942. Setelah Indonesia merdeka gedung ini dipakai sebagai tempat kediaman resmi Presiden Republik Indonesia.

2. Gedung Joeang 45

Di jalan raya menteng 31 terdapat sebuah gedung tua (dulu Hotel Schomper) yang sekarang kelihatan wajahnya telah muda kembali setelah dipugar beberapa waktu yang lalu. Gedung ini diresmikan oleh presiden Suharto pada tanggal 19 Agustus 1974 dengan nama Gedung Joeang 45.

Gedung ini merupakan salah satu bagunan bersejarah yang dilindungi undang-undang Monumen Stbl .238-1931, seesuai dengan ketetapan Surat Kepustusan Gubernur Kepala Daerah khusus Ibukota Jakarta tanggal 10 Januari 19972 No Cb.11/12/72. Pada masa pendudukan Jepang dipergunakan oleh para pemuda Indonesia untuk membantu perang Jepang melawan sekutu. Tettapi dapat diputar balikkan oleh para pimpinan pergerakan, mendidik para pemuda tsb menyaiapkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pada zaman Hindia Belanda gedung ini belum berarti apa-apa bagi perjuangan bangsa Indonesia, karena gedung ini masih merupakan sebuah hotel mewah dengan nama Hotel Schomper.

Pada tanggal 8 Maret 1942 sesudah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang maka gedung ini kemudian diambil alih oleh Jepang dan diserahkan kepada Jawatan Propaganda Jepang (Sendenbu). Sejak bulan Juli 1942 gedung ini diserahkan oleh Sendenbu kepada para pemuda untuk digunakan sebagai tempat pendidikan.

Tetapi maksud dan cita-cita Jepang in berhasil diutarbalikkan oleh para pemimin pergerakan Nasional yang ditugaskan menjadi guru di tempat ini dengan menamakan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Pusat pendidikan ini kemudian dikenal dengan ASRAMA ANGKATAN BARU INDNESIA. Para engajar atau guru-guru yang memberikan pelajaran terdiri dari pemimpin-pemimpin pergerakan, seperti: Ir. Soekarno, Dr. Moh. Hatta, Mr. Muhammad Yamin, Mr. Soenario, Mr. ahmad Soebardjo, Mr. Amir Syarifudin, M.Z. djambek, Mr. Dajoh. Di sini diberikan beberapa mata pelajaran enting kepada para pemuda Indonesia yang mengikuti pendidikan tersebut, seperti Ilmu Politik, Ilmu Negara, Ilmu Internasionbal, Ilmu Sejarah, Ilmu Geopolitik dan lain lain.

Semua pelajaran yang diberikan dalam gedung ini kemudian distensil serta disebarluaskan kepada para pemuda di seluruh Indonesia. Pemuda-pemuda yang didik pada umumnya dating dan berkumpl atas kesadaran sendiri karena mempunyai tujuan dan cita-cita yang sma yaitu kemerdekaan Indonesia. Selanjutnya di gedung ini didirikan pula suatu organisasi setengah kepanduan dan setengah militer dengan nama Barisan Banteng. Barisan ini merupakan kader revolusi tempat menanamkan semangat kebangsaan Indonesia dan menaburkan benih kebencian anti Jepang. Oraganisasi ini kemudian berkembang keseluruh Jawa, terutama si kota-kota besar. Kemudian dalam tahun 1945 di gedung ii diwujudkan suatu persatuan emuda yang sebelumnya telah tergabung juga dalam Angkatan Baru Indonesia tetapi dalam bentuk yang lebih nyata pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan nama Komite Van Aksi (Panitia Aksi), yaitu dalam rangka mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Pada tanggal 22 Agustus ditetapkanlah secara pasti bahwa Gedung Menteng 31 dipakai markas mereka. Pengaruh Van Aksi dari Menteng 31 ini keseluruh Jakrta bahkan keseluruh Indonesia. Cetusan semangat Menteng 31 telah membakar jiwa raga rakyat seluruh Indonesia terutama para pemudanya. Lalu pada tanggal 20 September 1945 Jepang melakukan penggerebekan serta penangkapan terhadap pemuda-pemuda yang bermarkas di gedung Menteng 31 ini.

Gedung Joeang 45 sebagai suatu memorilal hall akan diarahkan sebagai pusat dokumentasi benda-benda perjuangan 45 dan selanjutnya gedung tersebut dapat dimanfaatkan untuk umum, terutama diharapkan bagi tunas-tunas muda sebagai generasi penerus perjuangan Bangsa Indonesia.

4. Gedung Arsip Nasional

Gedung yang sekarang berdiri dengan megah serta mempunyai arsitektur yang tersendiri di antara bangunan-bangunan baru yang sudah banyak di Jalan Gajah Mada ini pada tahun 1960 dibangun oleh G.G. Reiner de Klerk. Pada waktu bangunan dan keadaan gedung ini sudah banyak mengalami perubahan dengan keadaan yang kita lihat sekarang. Terutama keadaan bangunan-bangunan di bagian belakang gedung ini yang banyak mengalami perubahan dari bentuk semula.

Setelah Reiner meninggal, di dalam persil terdapat sebuah rumah besar, dua bangunan dapur, kandang kuda, garasi, tempat cuci, gudang, rumah-rumah pembantu, tampat penginapan para pembantunya dan beberapa bangunan lainnya yang tersebar di bagian belakang gedung ini.
Pada tahun 1780 de Klerk meninggal dunia, kemudian tidak lama menyusul jandanya. Setelah beberapa lama kemudian seorang yang bernama Johanes Sieberg membeli rumah ini beserta pekarangannya. Selama 30 tahun beliau mendiami rumah yang luar biasa besarnya.

Tetapi kirnya Johanes Sieberg yang kuat dan tangguh itu pun terpaksa harus tunduk pula pada daya tahannya dalam mengusrus perumahan yang besar ini. Pada tahun 1818 rumah itu dan pekarangannya kemudian dibeli oleh Lambart Zegers Veekens, tetapi orang ini pun tidak dapat tahan lama.

Rumah G.G. Reiner de Klerk ini pun akhirnya berpindah tangan lagi pada Lendert Miero. Dia adalah seorang bekas pegawai pribadi G.g. Reiners de Klerk sendiri pada tahun 1819. Lendert Miero ini adalah orang yang kelak menjadi seorang tuan tanah Pondok Gede.

Beberapakali diadakan keramaian didalam ruangan gedung ini yang dilakukan oleh Lembert Miero tidak seorang pun yang pernah mengetahui. Keadaan terus berlangsung sampai pada tahun 1834 Lendert Miero meninggal dunia. Keburannya berada didekat rumahnya di Pondok Gede.

Pada tahun 1814 rumah G.G. de Klerk ini kemudian dibeli oleh Diaconie, kemudian pada tahun 1900 untuk mencegah dari kehancurannya dari tangan para tukang tadah gedung ini diambil alih oleh Pemerintah Belanda. Kemudian beberapa waktu lamanya Dinas Pertambangan mengisi gedung ini. Dalam tahun 1925 dengan resmi oleh pemerintah pada masa itu diberikan kepada Dinas Arsip Negara. Sekarang gedung ini dipakai oleh Arsip Nasional yang berfungsi sebagai penyimpanan arsip-arsip negara

5. Gedung Departemen Keuangan

Dalam bulan Maret 1809 setahun setelah Daendels menjual tanah weltevreden, pemerintah Belanda memutuskan untuk membangun istana yang berhadapan letaknya dengan Lapangan Parade Waaterlooplein (Lapangan Banteng Sekarang).

Pembangunan dibebankan kepada Letnan Kolonel J.C. Schultze, ini tercatat pula sebagai pembangunan Societeit Harmonie di Batavia, walaupun ketika ini keadaan keuangan pemerintah sedang dalam krisis namun rencna-rencana pembangunan gedung tetap juga dilaksanakan.

Pemerintah Belanda lalu menetapkan bahwa bangunan induk dari sebuah gedung ini untuk dipakai bagi kepentingan Gubernur Jenderal sendiri, sedangkan bangunan lainnya dimaksudkan sebagai tempat bureau-bureau dari pemerintah Pusat, disebabkan hingga waktu itu Pemerintah Pusat belum bisa menjauhkan kantor-kantor bagiannya dari ruangan induknya.

Untuk merampungkan pembangunan gedung ini Pemerintah Belanda telah bekerja dengan sekuat-kuatya. Untuk bahan bangunan gedung ini antar lain: diambil bahan-bahan dari bekas bangunan-bangunan dalam Kaasteel Batavia.

Ketika bangunan induk selesai sebagian, dan bangunan-bangunan saya kanan baru stengah selesai, Gubernur Jendera Daendels diganti kedudukannya oleh Geubernur Jenderal Jansens. Jansens rupanya telah membiarkan bangunan ini terlantar tidak sempurna.

Baru ketika Du Bus berkuasa dalam tahun 1826 ia telah memerintahkan Ir. Tromp untuk menyelesaikan bangunan ini bagi kepentingan kantor-kantor Pemerintah Belanda di Indonesia.
Setelah bangunan ini selesai dalam tahun 1828 maka padfa tahun 1829 di belakang gedung ini ditanam beberapa tanaman hias yang indah sebagai kebun-kebun botani, namun sangat disayangkan bahwa pohon-pohon ini akhirnya mati begitu saja.

Dalam tahun 1835 dibagian ruangan bawah gedung in pernah pula dipakai sebagai kantor pos dan percetakan Negara, dan bagian lainnya dipakai oleh Hoogerchof dan Algemene Secretarie. Pada tanggal 1 Mei 1848 gedung ini dengan resmi dipakai oleh Departemen justitie, dan kemudian oleh Departemen Keuangan hingga sekarang. Dari gedung inlah sekarang masalah-masalah keuangan Negara dioleh dan digarap. Gedung ini sekarang masih tetap megah dan akan terus melanjutkan kisah sejarahnya pada masa-masa mendatang.
6. Gedung Departemen Luar Negeri

Dahulu di kompleks Gedung Departemen Luar Negeri yang terletak di Pejambon sekarang, kita hanya akn menjumpai sebuah hutan belukar yang penuh dengan rawa-rawa belaka. Keadaan ini baru agak berubah pada tahun 1648 setelah daerah ini dimulai didiami oleh penduduk.

Pada tahun ini keluarga Anthony Chastelyn telah mendapatkan tanah yang kemudian menjadi weltevreden ini. Agak lama juga keluarga Chastelyn menguasai kompleks hutan belukar serta rwa-rawa ini. Lalu untuk keperluan-keperluan pertanian, separuh dari tanah ini kemudian dibukanya bagi penanaman gula tebu, padi untuk keperluan VOC. Penggilingan tebu didirikannya agak ke pinggir kali, dan pada tahun 1689 beberapa bagian dari tempat ini disewakan kepada orang-orang China. Sampai pada tahun 1697 di tempat ini terdapat dua buah temat penggilingan tebu milik keluarga Chastelyn.

Setelah Anthony Chastelyn meninggal dunia dalam tahun 1714, maka tanah-tanah ini kemudian jatuh kepada putrannya yang pertama yang juga bernama Anthony. Beberapa tahun kemudian setelah Anthony muda ini meninggal dunia, maka oleh familinya tanah-tanah ini kemuidan jatuh kepada Justinus Vink yaitu dalam tahun 1733. Setelah justinus Vink, tidak diketahui lagi siapa pemiiknya, hanya diketahui setelah sekonyong-konyong tanah ini dikenal dan menjadi Hertog Park sepi.

Tentang gedung yang berdiri di kompleks ini yaitu Gedung Deparlu sekarang, tahun pendiriannya yang pasti dalam penelitian lebih lanjut serta belum dapat dipastikan secara tepat. Diperkirakan terjadi sejak tahun 1890 – 1950 atau pada pertengahan abad ke – 19
Tempat ini dahulunya pernah dipakai oleh Raad van Indie untuk tempat mengadakan pertemuan atau rapat-rapat. Hal ini disebabkan karena dianggap sangat sesuai dengan keadaan hawanya yang cukup nyaman bila dibandingkan dengan keadaan di bagian lain kota Batavia.

Ruang belakang dari gedung ini pernah pula dipergunakan oleh Volksraad sebagai kantornya dan dalam tahun 1926 dibangun lagi sebuah bangunan yang dipakai oleh Departemen Kehakiman. Pada tahun 1917 lalu diisi pula oleh Raad van Indie.

Ketika zaman revolusi 1945-1950 gedung ini senantiasa berpindah pindah penghun, antara lain dipakai untuk keperluan bersidang komite Indonesia Serikat dalam Zaman RIS serta keperluan keperluan lain. Lalu dalam tahun 1956 mulai dipergunakan oleh Departemen Luar Negeri hingga sekarang. Sedangkan gedung bekas Raad Van Indie dipakai Departemen Kehakiman. Tiang-tiangnya yang tinggi besar dan berbentuk “Dorisch” akan mengingatkan kita kepada bentuk Theater-theater kuno di Yunani. Dari teras depannya bentuk tiang-tiang ini kelihatan amat menarik sekali, demikian pula bentuk gedungnya yang indah sangat mengagumkan.

7. Gedung Groeneveld di Tanjung Timur

Gedung Groenevel di Tanjung Timur atau Gedung Landhuis Tanjung Oost adalah salah satu gedung tua yang indah terletak di sebuah daerah yang tenang dan tentram di jalan antara Jakarta dan Bogor pada kilometer Ke-15 atau 16 sebuah kelurahan Gediong, kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Landhuis Tanjung Oost dan daerah sekitarnya yang sudah berkali kali berganti pemilik sejak tahun 1962 mempunyai sejarah yang berbelit belit, pindah dari tangan yang satu ke tangan yang lain samapi sembilan kali. Secara singkat sejarah gedung tua ini sbb:

1) Bertepatan waktunya dengan pemberontakan Tionghoa pada tahun 1870 yang terjadi di Batavia, seorang anggota luar biasa dari dari Raad Van Indie yang bernama Pieter Van Develde berhasil menguasai tanah-tanah kepunyaan orang Cina yang bernama Ni Hoe Kong, seorang Kapten bangsa Cina dari Betawi waktu itu. Kemudian Van Develde memperoleh lagi tanah lain milik Adipati Wiratanu Datan. Dengan demikian tanah-tanah yang dimiliki oleh Pieter Van Develde sudah meliputi daerah-daerah bekas milik Ni Hoe Kong dan Adipati Cianjur, Wiranatanu Datan, yaitu daerah –daerah Tanjung, Cijantung, Cigongseng, (Tsi Gong Seng), Matijs Perigi dan Cicadas. Khusus daerah Tanjung adalah tanah yang dibei Van Develde pada tahun 1742. tanah ini terletak di tepi kali Ciliwung yang kemudian bertambah luas dengan pembelian-pembelian tanah yang lain.

2) Pembangunan Landhuis Tanjung Oost ini dimulai pada tahun 1760, atau tepatnya tanggal 23 April 1760. Van Develde meninggal pada tahun 1759, dengan demikian berpindahlah penguasaan atas Landhuis dan tanah-tanahnya kepada ke dua orang yang nama-namanya tersebut di dalam aktye penjualan/pembelian 23 April 1760, ialah Pieter Joan Bangemanan dan Andressan Jubbels yang tenyata tidak lama dapat menikmati ketentraman dalam gedung tersebut.

3) Pada tanggal 24 Mei 1762 Andrian Jubbels meninggal, dan sebelum itu dia talah menjual Gedung dan tanah-tanahnya kepada Jacobus Johannees Graan yang kemudian menyatukan tanah-tanah miliknya dan diberi nama “ Het Groeneveld” nama graan ini patut diingat, karena meskipun bukan dia yang membangun Landhuis tersebut, namun ia mempunyai andil yang lumayan banyaknya dalam memperindah gedung ini. Antara lain dia lah yang menghidangkan ukiran-ukiran yang indah dan menarik terpasang pada pinggiran-pinggiran panel pintu. Dia pula yang mula-mula mendatangkan batu-batuan dari Coromandel yang diberi tulisan “ Graan”

4) Setelah J.J. Graan meninggal pada tahun 1780, tak lama kemudian nyonya Graan meningal pula, maka gedung dan tanahnya jatuh ke tangan menantunya ialah Willem Vincent Van Riemsdijk. Dia meninggal pada tahun 1818 setelah mengalami pertikaian yang cukup lama dengan Ds. Johannes Hoyman, pemilik Landhuis Pondok Gede karena persoalan utang-piutang. Krisis ini mengakibatkan kematian Ds. Johannes Hooyman di rumahnya sendiri di Pondok Gede karena sebuah tembakan dari seorang yang berhasil dihasut oleh W.V.H. Riemsdijk.

5) Setelah dia meninggal dunia , yang meneruskan memegang kuasa atas gedung dan tanah-tanahnya serta seluruh kekayaannya jatuh ke tangan ke dua orang anaknya yang bernama Daniel Cornelis Helvatius van Riemsdijk dan Petrus Halvatius van Riemsdijk. Dengan sendirinya kekayaan tersebut terbagi dua. Namun kenyataan kehidupan Daniel lebih beruntung dari Petrus.

6) Daniel kemudian berhasil membeli seluruh kekayaan ayahnya yang jatuh ke tangan saudaranya. Maka jadi lah Daniel tuan tanah Tanjung Oost selama 40 tahun. Pada tahun 1860 setelah Daniel meninggal dunia, yang meneruskan memegang kuasa atas gedung dan tanah-tanah Tanjung Oost ialah Tjaling Ament pernah menjabat Residen Cirebon dari tahun 1834-1850. Tjaling Ament inilah yang talah berusaha susah payah mengolah tanah Tanjung Oost menjadi sebuah tanah yang serba guna, hingga dapat dinikmati benar-benar oleh anak cucunya hingga kurang lebih tahun 1931.

7) Orang terakhir dari keturunan Ament yang menguaai Gedung dan Tanah Tanjung Oost ialah Eduard Corneilla Ament yang pernah belajar di sekolah tinggi erdagangan di Antwerpen (Belgia). Orang inilah yang sebenar-benarnya memunyai andil paling banyak dalam memperbaiki dan memperindah Landhuis Tanjung Oost. Berkat pekerjaannya itulah gedung ini merupakan sebuah bangunan yang tetap dapat dikagumi bahkan untuk waktu-waktu mendatang. Bangunan ini bagaikan seekor burung raksasa. Bangunan induknya yang bertingkat, dan merupakan tubuhnya. Sedangkan bangunan di samping kiri dan kanan sayapnya yang dihubungkan dengan bangunan pada bagian atapnya saja. Mungkin pada mulanya bangunan yang merupakan sayap itu dibagian bawahnya dipergunakan sebagai garasi. Saying sekali akibat meletusnya Gunung Krakatau pada tahun 1883 atap gedung ini terpaksa diperpendek satu meter untuk menjaga agar jangan sampai mengalami kehancuran untuk kedua kalinya. Perubahan untuk tahun-tahun berikutnya ternyata merembet pula ke bagian-bagian lainnya. Salah satu dari perubahan yang sangat menyolok ialah berubahnya beranda depan depan yang sekarang. Jadi ruangan depan yang sekarang, dulunya ialah ruangan belakang

8) Meskiun demikian, begitu kita memasuki beranda ini kita akan segera tertarik oleh dua buah pintu masuk yang berukuran besar dengan ukiran-ukiran di sekelilingnya. Ukiran yang indah ini pada masa dahulu lebih diperindah lagi dengan pajangan (ilustrasi) mahkota para pangeran, dditambah lagi dengan tergantungnya beberapa buah perisai perak. Di uncaknya terukir seekor burung Graan yang terbuat dari kayu. Burung itu berdiri dengan satu kaki, yaitu kaki kanan, sedang kaki kirinya terangkat sambil mencengkram sebuah batu yang berwarna hijau. Kemungkinan besar burung Graan yang pernah menjadi pemilik dan penghuni dari gedung ini.
9) Menurut V.I Van de Wall , ukiran-ukiran kayu dalam gedung tersebut, mempunyai style seperti zaman Louis 16, kaca-kaca berwarna yang ada di atas diantara dua pilar de bagian deapan, besar kemungkinannya dipasang oleh penghuni yang erakhir. Lantinya yang sekarang yang belum pernah diganti masih khas ubin 18. keluarga terakhir Ament dikabarkan bunuh diri sebelum Jepang mendarat di Indonesia. Dalam tahun 1948 konsesi atas tanah dan gedung Tanjung Oost ini jatuh ke tangan Haji Sarmili dari Desa Pasar Rebo, yang dibeli dari seorang Belanda yang bernama Heydenan.

10) Pada tahun 1952, gedung tua ini ditempati oleh MOBRIG (mobil brigade polisi). Pada masa inilah sebuah lonceng besar sisa zaman kemegahan Landhuis ini telah dibawa mobrig yang menempatinya, dan entah dipindahkan kemana. Pada tahun 1960-1961 gedung tua ini dipergunakan untuk mengadakan up-grading bagi karyawan hotel Indonesia. Kemudian pada tahun 1962 Haji Sarmili menjualnya kepada MARBAK (Markas Besar Angkatan Kepolisisan)

11) Sekarang gedung tua yang mempunyai riwayat gemilang antara lain pernah dijadikan tempat pertemuan antara Geubernur Jenderal Mister GustaafWilliem Baron Van Imhoff dengan ratu Syarifah Fatimah dari Banten pada pertengahn abad ke 17. sebuah peninggalan sejarah Kota Batavia yang masih utuh di masa silam yang mencerminkan kehidupan mewah orang-orang Belanda sebagai tuan-tauan tanah memerah harta kekayaan Bumi Indonesia

8. Gedung Sumpah Pemuda

Bangunan yang bersejarah ini terletak di Jalan Keramat Raya 106 Jakarta. Peranannya kemudian amat menentukan dalam sejarah perjuangan Kebangkitan Nasional yaitu sebagai kegiatan pemuda seluruh Indonesia untuk membina persatuan menuju Indonesia Merdeka, dimana tanggal 28 Oktober 1928 di gedung bersejarah ini telah dikumandangkan sumpah emuda yang terkenal dengan sinya sebagai berikut:
a) Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu , Tanah Air Indonesia
b) Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa satu, Bangsa Indonesia
c) Kami Putra dan Putri Indonesia menjungjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia,.
Sumpah Pemuda itu merupakan suatu keputusan bersejarah yang diambil oleh Kongrees Pemuda-Pemuda dari seluruh daerah di Indonesia yang antara lain diwakili oleh: Jong Java, Jong Sumatra Bond, Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia dan Jong Islamintan Bond. Keputusan kongres ii meruakan suatu tindakan pemuda-pemuda Indonesia dari angkatan 1928 yang heroic di mana rasa persatuan Indonesia yang dicakup dalam kesatuan kesatuan Tanah Air, Kesatuan Bangsa, Kesatuan Bahasa itu dilambangkan dengan:
a) Lambang warna dengan pengibaran bendera Merah Putih
b) Lambing suara dengan melagukan Lagu Indonesia Raya ciptaan pujangga muda W.R. Supratman.
c) Lambing lukisan berupa lencana Garuda Terbang.

8.1 Peranan Gedung Sumpah Pemuda

Sebelum tahun 1928 gedung ini merupakan suatu asrama mahasiswa dari daerah-daerah di luar Jakarta yang melanjutkan strudinya pada sekolah-sekolah tinggi di Jakarta. Selain sebagai suatu asrama tempat tinggal, mahasiswa-mahasiswa ini juga menggunakan tempat ini sebgai tempat mereka berdiskusi dalam soal-soal politik, serta tempat mengadakan latihan-latihan kesenian.

Pada tahun 1928 gedung ini kemudian merupakan suatu tempat pertemuan pemuda Nasional yang terdiri dari bermacam-macam perguruan tinggi di Jakarta. Mahasiswa-mahasiswa ini memberikan nama pada gedung ini dengan nama”Indonesia Clubgebouw” yang terkenal dengan singkatan IC. Papan nama IC ini mereka pancangkan di gedung Kramat Raya 106. tindakan ini merupakan peristiwa bersejarah yang heroic, karena pada waktu itu pemerintah Belanda telah melarang penonjolan-penonjolan nama Indonesia. Namun para pemuda kita tidak merasa gentar dan tetap memancangkan nama perkumpulan mereka pada gedung tersebut.

Gedung ini selain tempat perdebatan politik, merupakan pula ruang yang berisi Koran-koran, buku-buku dan meja-meja bilyard. Di samping Indoneische Clubhuis. Di bagian belakang gedung ini terdapat beberapa kamar berukuran keci yang dipakai oleh beberapa mahasiswa yang berstudi sebagai tempat tinggal. Beberapa pemuda tersebut adalah: Moh Yamin, Amir Syarifudin, suryadi, (Surabaya), Suryadi (Jakarta), Asa,at , Abu Hanifah, A.K. Gani, Abas, Hidayat, F. Lumban Tobing, Sunarko, Kuncoro, Amir, Rusmali, Tamzil, Samanangsanbujo Urip, Mokoginta dan Hasan.

Para pemuda yang tinggal di gedung ini pada umumnya membayar makan
(In dekos) sekitar F. 7,50 sebulan dan kebayakan dari mereka berasal dari keluarga yang kekuatan ekonominya biasa saja, tetapi rata-rata mereka mempunyai kemauan yang besar untuk belajar dan berjuang demi kepetingan nasional.

Sejarah kemudian mencatat, bahwa hampir semuanya dari mereka ini akhirnya menjadi pimpinan bangsa Indonesia di berbagai bidang. Beberapa tahun kemudian mereka, karena suatu persoalan dengan pemilik gedung, maka pada tahun 1934 IC yang berada di keramat Raya 106 itu membubarkan diri serta mengalihkan kegiatannya di tempat yang baru, yaitu di kramat Raya 156 dan memilih pengurus baru dan ketuanya Dr. A.K. Gani yang sebelumnya jabatan ini dipegang oleh Dr. Rusmali sebagai ketua IC yang lama. Di bawah pimpinan A.K. Gani perjuangannya berlangsung hingga masa kemerdekaan.

Setelah para pemuda meninggalkan gedung ini, maka pemilik Sie kong Liang menyewakan gedung ini selanjutnya kepada orang Cina Pang Tjeng Yam dari tahun 1934 sampai 1937. Tahun 1937 gedung ini disewa juga oleh orang Cina Loh Ying Tjoe dari pemiliknya dari tahun 1939 sampai 1948. Setelah Refolusi Phisik gedung ini kemudian dijadikan Hotel oleh Loe Ying Tjoe dengan nama “Hotel Hersia”. Hotel ini berjalan sebagai hotel umum sampai tahun 1951 dan semenjak itu disewa oleh kantor Inspeksi Bea Cukai.

Gubernur KDKI Jakarta Ali Sadikin atas nama Pemerintah DKI Jakarta pada tahun 1973 telah menyelesaikan persoalan gedung ini dengan mengambil alih gedung tersebut dengan membelinya dari pemilik terakhir, yang sekarang dapat kita nikmati. Kemudian gedung ini resmi sebagai satu bangunan bersejarah di Ibukota yang hak hidupnya dijamin serta dilindungi oleh Undang-undang Monumen Sbtl 138-1931 berdasarkan Surat Keputusan Gubernur tanggal 10 Januari 1972, No Cb.11/1/12/1972.

9. Kantor Berita Nasional Antara.

Dalam suratnya pada tanggal 11 Oktober 1958 Adam Malik pernah menulis surat kepada Sudiro Ex- kepala Daerah Swantantra I Daerah Kota Praja Jakarta Raya tentang permintaanya untuk segera mengakui secara resmi gedung bersejarah.

Ditujukan kepada Soediro itu intinya agar Gedung Antara mendapat pengakuan Resmi sebagai bangunan bersejarah yang dibeli dari pemiliknya dengan harta pantas menurut keputusan Instansi Pemerintah yang berwenang.

Pada tanggal 17 Agustus 1945 gedung jalan Pos Utara no. 57, 59 dan 61 yang tadinya ditempati oleh domei Indonesia, diteruskan pemakaiannya oleh kantor berita Antara. Dari ruangan-ruangan inilah antara pada tanggal 17 Agustus 1945 itu dan seterusnya menyiarkan teks proklamasi dan perjuangan kemerdekaan ke Luar Negeri dan kepala cabang-cabangnya di Indonesia.

Dalam bulan Desember 1945 dengan kepindahan Pemerintah Pusat ke Yogyakarta “ Antara Pusat” juga ikut pintah, dan pemakaian ruangan-ruangan tersebut dilanjutkan oelh antara Jakarta sebagai cabang istimewa. Pada waktu serangan-serangan Belanda pertama bulan Juli 1947 ruangan-ruangan gedung ini oleh Belanda dibagibagikan kepada: Apotheeek van Gorkon yaitu ruangan no.57, fa Li Liong ruangan no. 59 dan kepada took meubel rotan Thung Sheng diberikan no.61.

Pada bulan November 1949 ruangan no.57 dikembalikan kepada Antara disertai janji bahwa ruangan-ruangan lainnya akan diusahakan lebih lanjut. Tetapi janji itu ternyata tidk terlaksana karena perubahan-perubahan bertepatan dengan pengoperan kekuasaan dari pemerintah Federal kepada Pemerintah RIS pada bulan Desember 1949.

Dari tahun 1952 – 1953 status gedung ini masih tetap dalam perjuangan. Pada tanggal 29 Setenmber 1954 Rapat Badan Pekerja dengan direksi memutuskan antara lain untuk meminta kepada pemerintah, Walikota, supaya gedung bersejarah ini dan pemakainya serta pemeliharanya diserahkan kepada Kantor Berita Antara. Hal ini mengingat peranannya yang amat besar dalam sejarah Kemerdekaan Republik Indonesia.

Atas dasar ini lah Adam Malik atas nama Kantor Berita Antara pada tanggal 11 Oktober 1958 dengan suratnya no.511/X/Dir/59 telah menulis surat kepada Soediro agar gedung ini dapat pengakuan resmi sebagai Gedung bersejarah.

Akhirnya ada tanggal 4 April 1959 Menteri Pendidikan dan Kebudayaab riyono dalam surat keputusannya no.35567/S/….telah menyatakan bahwa gedung-gedung di Jalam Pos utara No. 57,59,61 sebagai suatu gedung bersejarah. Dan pada tanggal 16 agustus 1961 Gubernur Kepala Daerah Jakarta Raya Dr. Soemarno Sastroatmodjo dalam surat keputusannya no.14647/PH telah memutuskan bahwa gedung ini di jalan Pos Utara no.57,59,61 (KANTOR BERITA ANTARA) sebagai gedung bersejarah yang harus dikuasai dengan seketika yang terletak dalam wilayah Kotapraja Jakarta Raya.

10. Museum Sejarah Jakarta

Berhadapan dengan Kantor Pos Jakarta Kota akan kita lihat suatu gedung tua, agak angker kelihatannya. Gedung ini pada masa penjajahan dahulu adalah Stadhuis (Balai Kota), kemudian digunakan sebagai gedung KODIM 0503 Jakarta Barat setelah masa kemerdekaan.

Berhubung gedung itu sangat baik arsitekturnya mendapat erhatian dari Pemerintah DKI, akhirnya dipugar, dan pada tanggal 30 Maret 1974 diresmikan pemakaiannya sebagai gedung Museum Sejarah Jakarta. Mengenai sejarah gedung ini dimulai zaman Batavia Lama.

Batavia Lama sebenarnya mempunyai beberapa buah Stadhuis . bekas gedung kodim 0503 ini adalah sebuah Stadhuis. Pada tahun 1627 gedung ini mulai selesai dibangun oleh pemerintah Belanda. Pada tahun 1649 pekerjaan ini dilanjutkan kembali. Kemudian dalam tahun 1707 diadakan perombakan di sana-sini dan beberapa tambahan mengenai betimeringnya (kayu-kayuan)

Pintu gerbang dan batu alam yang berukir dan di atasnya terdapat huruf-huruf, kemungkinan besar baru ditematkan pada tahun 1707. pada tahun 1710 oleh ihak uyang berwenang diadakan siding-sidang dan kegiatan-kegiatan lainnya. Selanjutnya dalam tahun 1912 kamar-kamar untuk para tahanan dan rumah-rumah sipil mulai selesai dibangun di tempat ini.

Dahulu dalam Stadhuis ini berkumpul seluruh aparat Pemerintah Voc , yaitu mulai Raas van justitie, College Van Huwelijk Zaken, dan para pendidik agama Kristen. Semuanya berkumpul di dalam gedug bicara ini. Kalder yang bertirai besi yang kuat adalah merupakan suatu saksi mati bahwa hukuman-hukuman di zaman VOC pernah dilaksanakan di gedung ini. Juga tahun 1740 ketika orang-orang Cina mengadakan pemberontakan di Batavia maka banyak sekali bangsa ini yang dihukum pancung di dalam Stadhuis ini.
Pada tahun 1830 Pangeran Dipenegoro seorang tokoh pejuang bangsa Indonesia yang terkenal dengan perlawanannya menentang penjajah Belanda pernah pula ditahan dalam tingkat ke II dari gedung ini. Kemudian beliau diberangkatkan ke tempat pengasingannya di Menado. Anehnya surat-surat kabar Belanda pada tahun itu yang mengenai ersoalan ini hanya bungkan saja.

Di dalam ruangan ini terdapat sebuah gambar pigura yang menutup setengah dari dinding atas pintu masuk. Gambar ini konon melukiskan keadaaan peradilan di zaman Sulaiman. Beberapa nilai dari gambar ini belum dapat kita ketahui.

Sekarang bekas gedung kodim 0503 itu dipergunakan oleh Pemerintah DKI sebagai Gedung Museum Sejarah Jakarta. Di mana di dalamnya kita bisa melihat sejarh Jakarta dari masa ke masa. Tepat di depan Gedung Museum Sejarah Jakarta terdapat suatu taman dengan air mancurnya yang mengingatkan kita kepada seorang pahlawan yang mempertahankan tanah Jakarta dari penjajahan yaitu Fatahilah/Faletehan. Taman ini dikenal dengan sebutan Taman Fatahilah.

11. Museum Wayang.

Di atas salah satu tempat bekas rawa-rawa yang dikeringkan pada tahun 1640 Belanda mendirikan sebuah Gereja. Tujuan pendirian gereja ini adalah untuk melayani kepentingan tentara-tentara Belanda dan penduduk sipil bangsa Eropa lainnya yang tinggal di Jakarta. Gereja ini diberi nama Oude Hilansche Kerk sampai taun 1732.

Dalam tahun 1733 gereja ini mengalami perbaikan-perbaikan yang disebabkan erosi dan ada waktu itu pula diadakan perbaikan bentuk serta perubahan di sana sini. Nama gerja itupun dirubah lagi menjadi Nieuw Holansche Kerk dan gereja ini terus berdiri sampai tahun 1848. oleh pemerintah Belanda Halaman gereja ini dipergunakan sebagai kuburan khusus bagi para pembesar Belanda maupun para tokoh Belanda lainnya yang meninggal di Jakarta. Prof. Dr.mijrs dalam bukunya berjudul De Graf kuburan Jan Pieter Zoon Coen terdapat ditengah-tengah halaman pekarangan gereja ini. Prof. Dr. Mijrs adalah seorang sarjana dalam bidang anatomi yang aktif bergerak dalam “Coen Commisie” yaitu suatu badan yang dibentuk oleh Pemerintah Belanda dalam tahun 1934 yang bertugas untuk meneliti secara alamiah tengtang tempat makam dari Gubernur Jenderal J.P Coen.

J.P. Coen menjadi Gubernur Jenderal Belanda dan amat terkenal di Indonesia yang memerintah dari tahun 1618 sampai 1622 dan dari tahun 1627 samapai 1629. sekarang diperkirakan bekas kuburannya itu terletak di sekitar Taman Museum Jakarta yaitu di suatu ruangan terbuka dalam gedung Ex Museum.

Di taman museum Jakarta ini sekarang kita jumpai tulisan dalam Bahasa Belanda sebagai berikut:
“OF DEZWPLEAT STOND VAN 160 TOT1732 DE OUDE HOLANDS CHE KERK OF KRUISKERK EN VAN 1736 TOT 1808 DE NIEUWE HOLANSCHE KERK OF VONDER HUT LAATSTE RUPPLAATS DE STICOVER VAN BATAVIA JAN PIETER ZOON COEN IN 1634”.

Dalam proses selanjutnya gedung ini mengalami perombakan total karena pada tahun 1808 gedung ini besert tanahnya dijual oleh Pemerintah Belanda dan dibeli oleh Perusahaan Geo Wehrydan Co, dan selanjutnya dijadikan gudang perusahaan sampai tahun 1934. Atas dasar hasil dari penelitian Coen Commisie maka pemerintah Belanda menetapkan gedung dan tanah pekarangannya sebagai sebuah monument berdasarkan keputusan pemerintah dengan besluit tanggal 14 Agustus 1936.

Setelah gedung dan tanah ini menjadi monument lalu dibeli oleh Bataviasche Genootshaap van Kunsten en Wetenschaappen yaitu sebuah Lembaga yang bergerak dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan di Indonesia pada waktu itu.

Dalam tahun 1937 oleh lembaga ini diserahkan kepada Stichting oud Batavia dan barulah selanjutnya gedung bekas gereja dan gudang ini betul-betuk dijadikan sebuah museum dengan nama Museum Oud Batavia. Pada tahun 1957 museum ini diserahkan keada LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia) dan semenjak itu namanya diganti menjadi Museum Jakarta Lama. Kemudian pada tanggal 17 September 1962 oleh LKI gedung ini diserahkan kepada pemerintah cq Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (P&K). akhirnya pada tanggal 23 Juni 1968 oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan Dep. P&K Museum ini diserahkan kepada Pemerintah DKI Jakarta dimana ditempatkan pula kantor Dinas Museum Sejarah DKI melakukan kegiatan-kegiatan sejarah dan permuseuman di Ibukota. Selanjutnya gedung ini oelh Pemerintah DKI Jakarta dijadikan Museum Wayang dan Kantor Dinas Museum & Sejarah DKI menempati lantai 18 di Balai Kota JL. Merdeka Selatan 8-9.

12. Museum Nasional

Gedung yang sekarang dikenal dengan nama Gedung Museum Pusat dahulu terkenal dikalangan rakyat Jakarta dengan nama “ Gedung Gajah” yakni menurut arca gajah perunggu yang ada di depannya. Arca ini adalah anugerah dari Sri Baginda Chulalong Korn dari Siam kepada Kota Jakarta dalam tahun 1871, waktu Baginda datang berkunjung. Dalam perjalanannya itu dihadiahkannya arca gajah seperti itu juga kepada Kota Singapura dan sekarang terdapat di depan Museum Raffles.

Museum ini dilahirkan pada tanggal 24 April 1778 dengan pediriannya yaituseorang anggota Raad Van Indie yang bernama J.C.M. Rader Macher menyumbangkan pula kleksi-koleksi benda antiknya, sebanyak enam lemari penuh dengan buku-buku perpustakaan.

Dahulu museum ini sesungguhnya didirikan oleh sebuah perkumpulan swasta yang bernama Bataviasch Genootshap van Kunsten en Wetenschaappen yang kemudian dirubah namanya menjadi LKI (Lembaga Kebudayaan Indonesia).

Latar bekalang dari pendirian gedung ni sebenarnya ada sangkut pautnya dengan kegiatan-kegiatan dan pembaharuan dalam berbagai negeri didirikan perkumpulan-perkumpulan Ilmu Pengetahuan dan salah satu diantaranya adalah De Holandsche Maat Schoppijder Wetenschappen yang didirikan di KotaHarlen pada tahun 1752.

Mula- mula di Jakarta akan didirikan pula suatu cabang dari perkumpulan ini. Tetapi setelah dipikir-pikir oleh orang kita, lebih baik didirikan seuatu perkumpulan yang berdiri sendiri. Demikian lah dalam tahun 1778 di Jakarta didirikan Bataviasche Genootschap van Kunsten en Wetenschappen yang bersemboyan untuk kepentingan umum yang kemudian berubah namanya menjadi LKI pada tanggal 29 Februari 1950.

J.C.M. Rader Mancher sebagai salah seorang pendiri museum kiranya telah mendirikan dasar pertama dari arti gedung museum ini bagi ilmu pengetahuan. Selanjutnya Museum Pusat ini langsung di bawah pengawasan Departemen P&K cq Direktorat Museum hingga sekarang dan berfungsi sebagai Museum Nasional

SEJARAH MESJID MESJID DI JAKARTA

1. Mesjid Marunda

Marunda adalah salah satu daerah di wilayah Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara. Daerah ini sangat dekat dengan Cilincing DKI yaitu di wilayah Tanjung Priuk, Jakarta Utara. Di daerah ini lah terdapat Mesjid Marunda yang tua dan bersejarah.

Menurut cerita rakyat Mesjid Marunda dibangun untuk pertama kalinya oleh Faletehan pendiri kota Jakarta. Konon masjid ini dibangun dengan tenaga ghaibnya dan kesaktiannya yang hanya selesai satu malam. Karena hal itu seolah-olah telah menjadi legenda yang sangat dipercaya oleh masyarakat stetempat, maka mesjid ini selain tempat beribadah juga merupakan tempat keramat oleh sebahagian penduduk yang mempercayainya. Mesjid ini sering mendapat kunjungan dari orang luar daerah untuk melakukan niat atau nazarnya. Mereka datang dari daerah-daerah cukup jauh seperti Madura, Cirebon dan juga daerah-daerah lainnya.

Dalam buku Priangan karangan Dr. F. de Haan, didterangkan bahwa daerah Marunda ini dalam abad ke-16 pernah menjadi pusat gerilyawan Islam dari Banten dan Jakarta. Dalam abad ke-17 ketika pasukan Mataram di bawah pimpinan Tumegung Bahurekso pada tahun 1628-1629 menyerang Benteng Batavia, maka mereka telah bersembunyi dan mengatur siasat dari Marunda ini. Dengan demikian Mesjid Marunda telah memainkan peranan pentingnya pula sebagai tempat penggemblengan mental para gerilyawan kita disamping dipakai sebagai tempat melakukan ibadah mereka.

Dalam tahun 1683-1689 pasukan Kapiten Tete Jonker yang beragama Islam pun telah menyusun siasat pertahnan dan pertempuran serta penyerangan terhadap musuh, mereka telah memakai masjid ini sebagai salah satu kegiatan mereka di samping tempat ibadah. Dari mesjid ini lah telah mendengung Jihad Fi Sabilillah perjuangan menentang penjajahan bangsa asing orang kulit putih yang ingin menancapkan kaki di bumi Indonesia yang kaya dan subur.

Mesjid ini terus memainkan peranannya sampai perang dunia II dan akhirnya pada awal revolusi fisik tahun 1945 daerah Marunda beserta mesjidnya ini tidak luput dari tugasnya yang abadi, dimana daerah Marunda telah mencatat suatu kenangan yang dapat dibanggakan dalam sejarah perjuangan bansa Indonesia. Marunda menjadi daerah ertempuran yang sengit antara pejuang kita melawan Belanda dan Jepang. Marunda akhirnya dibakar habis oleh Belanda sehingga banyak kerugian dan air mata berlinang yang dialami penduduk. Namun mesjid Marunda masih tetap menjalankan funsinya yang abadi sebagai rumah Allah dan sebagai tempat penggemblengan semangat para pemuda.

Di lihat dari segi arsitekturnya, maka Mesjid Marunda ini memiliki arsitektur dari abad ke 17 dan 18 di Indonesia. Bentok dari mesjid ini tidak banyak berbeda dengan Mesjid Angke yang terkenal itu dan terletak di daerah Angke. Mesjid ini juga mempunyai ubin tegelnya berwarna merah anggur berukuran 40×40 cm dan mempunyai tiang agungnya sebanyak 4 buah, dan atanya yang bersusun dua yang sampai saat ini tidak mengalami perubahan.

Dengan pemugaran yang dilakukan oleh pemerintah DKI Jakartacq Dinas Museum dan Sejarah DKI, maka kini Mesjid Marunda telah diselamatkan dari bahaya kehancuran yang disebabkan kurang terawat rapid dan usianya telah sangat tua.

2. Mesjid Kampung Bandan
Di Kampung Bandan Kelurahan Mangga Dua Utara, Kecamatan Penjaringan kita akan menjumpai sebuah mesjid tua. Mesjid ini didirikan pada tahun 1789 oleh Sayid Abdul Rachman bin Alwi Al Syadri yang meninggal tahun 1809 pada usia kurang lebih 70 tahun. Usaha pembangunan mesjid ini dilanjutkan oleh putranya Sayid Alwi bin Abdul Rachman Bin Alwi Al Syadri dalam tahin 193 dan selesai dalam tahun 1917.

Di dalam salah satu ruangan mesjid ini terdapat tiga buah makam, yaitu makam Sayid Muhammad bin Umar Al Kudsi yang meninggal pada tanggal 23 Muharam 1117 H atau tahun 1697 M. makam Sayid Ali Abdurachman bin Alwi yang meninggal pada tangal 25 Ramadhan 1112 H, atau 1602 M, yang ketiga makam Sayid Abdurachman bin Alwi Al Ayadri yang meninggal tanggal 18 Muharam 1326 H. ke tiga makam ini sering dikunjungi orang-orang berziarah dari daerah-daerah Klender, Bekasi dan Tempat-tempat lainnya, karena dua orang yang disebut pertama adalah dianggap para pejuang yang menyebarkan agama Islam di Kampung Bandan sedangkan makam yang ke tiga adalah makam dari pendiri mesjid tua itu.

Dalam tahun 1946 pada waktu pendudukan Sekutu pernah akan dibakar oleh tentara Inggris, karena dianggap sebgai markas pemuda pejuang. Di mesjid ini pada waktu itu banyak para jemaat yang tergabung dalam Laskar Lutung Kasarung yang berpusat di Klender, tetapi usaha tentara Inggrius ini dapat digagalkan.

Dalam tahun 1956 menurut keterangan dari salah seorang pengurus yaitu Sayid Zainal Abidin Alwi Asyadri di halaman belakang masjid ini pernah terjadi sesuatu keanehan. Ketika itu hari malam Jum’at dan terjadi hujan lebat yang disertai angina kencang. Sebuah pohon Malaka yang tumbuh dibelakang mesjid telah roboh dan keesokan harinya cabang-cabangnay dipotong oleh penduduk sedangkan batangnya yang besar telah roboh dan tergeletak di tanah. Pada hari berikutnya terjadi suatu peristiwa yang menakjubkan yaitu pohon yang rebah ini ternyata telah berdiri kembali seprti biasa. Seorang pun tidak dapat menerangkan kejadian ini. Sekarang apa penyebab pohon yang tumbang itu hidup kembali sedang cabang-cabangnya serta akarnya telah dicabut dan rusak.
Dalam tahun 1956 mesjid ini diperbesar dengan ruangan tambahan di belakang dan disamping. Menurut catatan pengurusnya maka luas kompleks mesjid ini seluruhnya 2700 m2, dimana pada bagian muka dari mesjid ini tersebar pula beberapa makam tua yang tidak dikenal.

Pada zaman Jepang Mesjid beserta makam-makam tua pernah disama ratakan dengan tanah alias dibumi hanguskan oleh Jepang, tetapi rencan inipun dapat digagalkan. Ada waktu peristiwa Gestapu/PKI oleh orang-orang komunis pernah direncanakan akan dipakai dan dijadikan dapur umum, namun Tuhan tetap menjaga keselamatan rumah suci ini hingga sekarang.

Mengingat nilai sejarah dari mesjid tua ini dimana telah pernah dipakai sebagai salah satu basis penggemblengan mental para pemuda pejuang di masa revolusi fisik, maka Pemerintah DKI Jakarta cq Dinas Museum & Sejarah telah memugar kembali bangunan mesjid kuno ini.

3. Mesjid Tambora

Dua abad yang silam di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Jembatan Lima telah dating sekelomok orang Tambora, Sumbawa. Kedatangan mereka ke daerah ini ialah selaku orang-orang tahanan ( hukuman dengan cara dibuang oleh Pemerintah Penjajah Belanda sebagai akibat menentang kekuasaannya). Kepada mereka dikenakan hukuman Rodi atau kerja paksa.

Di daerah baru ini orang-orang Tambora tersebut melakukan berbagai pekerjaan, antara lain membuat saluran air, mengeruk sungai dan sebagainya. Cukup lama juga mereka mendiami daerah ini, yang sebenarnya masih sedikit asing bagi mereka. Keadaan ini berlangsung terus-menerus sampai suatu saat mereka telah selesai menjalani hukuman rodinya. Tetapi setelah hukuman selesai orang-orang ini tidak pulang ke asalnya, tetapi menetap dan tinggal untuk selanjutnya di daerah ini. Sebagai orang-orang yang beragama Islam yang berjiwa penuh dengan perjuangan, mereka ini tidak berpangku tangan begitu saja. Dalam tahun 1181 H (1762 M) mereka mendirikan sebuah mesjid. Tahun pendiriannya dengan jelas dapat kita lihat sekarang pada bagian atas mimbar dari mesjid ini.

Di halaman mesjid tua ini masih kita dapati dua buah makam. Konon makam yang terletakdi bagian utara adalah makam K. Hustajib. Pada makam-makam ini tercatat angka tahun 1247 H. Diduga orang yang dimakamkan di situ semasa hidupnya adalah pimpinan dari orang-orang yang mendirikan dan mengurus mesjid ini.

Kekunoan dari mesjid ini tidak dapat kita ragukan karena selain catatan angak tersebut di atas, juga bentuk dan gaya dari mesjid ini banyak mempunyai pengaruh dari kebudayaan Hindu. Bukti-bukti lain yang menyatakan usianya sudah cukup tua ialah pada cungkup mesjid tersebut, tertulis tulisan arabnya, tiang-tiangnya dan tegel-tegelnya yang terdiri dari porselin. Dikatakan bahwa salah satu dari tiang mesjid ini hngga sekarang tidak mempan dipaku dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

Nama mesjid dan daerah ini dikenal dengan sebutan Mesjid Tambora, dan Gang Tambora. Dalam pemecahan wilayah Kecamatan Krukut dan Kelurahan Glodok, kama oleh Pemerintah DKI Jakarta/Walikota Jakarta Barat telah ditetapkan nama kecamatan Tambora hingga sekarang.

Sebelum tahun 1959 di sekitar mesjid ini dahulu banyak sekali beterbaran pekuburan lama. Tetapi saying sekali tahun 1950 kuburan-kuburan tua serta pohon-pohon yang meneduhinya rumah-rumah penduduk di atas tanah sekitar mesjid Tambora ini.

Sebelum tahun 1959 mesjid ini diurus oleh perorangan yang akirnya meningkat menjadi sebuah panitia yang berjalan silih berganti pengaruh. Untuk menstabilkan organisasi pengurus mesjid serta sebagai penghargaan terhadap amal sholeh serta jasa-jasanya dalam membangun mesjid ini meaka bentuk panitia ditingkatkan lagi menjadi bentuk Yayasan yang didirikan dengan Akte Notaris Prof. Mr. Rd. Soeja. No. 72 tanggal 12 Mei 1959. yayasan ini bernama YAYASAN MESJID DJAMI DAN PENDIDIKAN ISLAM TAMBORA.

Pada tanggal 1 Juni 1960 di halaman Mesjid ini di sebelah barat oleh Yayasan didirikan sebuah sekolah dasar bernama Sekolah Dasar Tambora yang telah diakui sederajat dengan SD Negeri oleh Pemerintah cq IPDA.

Peranan mesjid ini dalam masa revolusi kemerdekaan Indonesia sungguh tak dapat diabaikan begitu saja, karena mesjid Tambora ini telah dipakai serta diergunakan sebagai tempat pelindungan oleh pemuda-pemuda dalam melawan penjajahan Belanda. Tidak jauh dari mesjid ini terdapat sebuah tugu pahlawan untuk memperingati perjuangan para pemuda yang gugur ketika bertempur melawan Belanda dan sekutu-sekutnya.

4. Mesjid Djami Al Mansur

Pada waktu itu keadaan kota Jakarta sedang hangat-hangatnya. Di sekitar tahun 1947-1948 di mana serdadu NICA sedang banyak berkeliaraan. Di saat- saat demikianlah di menara mesjid Djami Al- Mansur berkibar-kibar dengan megahnya bendera Sang Saka Merah Putih.

Menurut penelitian yang diperoleh dan juga berdasarkan keterangan-keterangan dari Achmadi Muhammad salah seorang keturunan dari pendiri Mesjid Djami Al Mansur. Pada sekitar permulaan abad 18 telah dating ke Jakarta abdul Mihit yaitu putra dari pangeran Tjakrajaya sepupu dari Tumegung Mataram. Keberangkatannya dari Mataram ke Jakartadalam rangka membantu rakyat Jakarta untuk menentang penjajah Belanda. Karena usahanya secara fisik tidak berhasil maka Abdul Mihit berusaha melalui jalan lain untuk menentang penajahan. Caranya ialah dengan mendirikan mesjid di Kampung Sawah yaitu sekitar tahun 1717 M. kemudian di dalam mesjid ini diadakan ceramah mental agama rakyat Jakarta, dengan penekanan semangat menentang penjajah. Pekerjaan ini kemudian diteruskan oleh putranya yaitu Moch Habib dan seterusnya oleh keturunannya.

Karena letak arah kiblat dari mesjid ini tidak benar dibangun, maka oleh H. Imam Moh. Arsjad Banjarmasin(pengarang kitab yuang terkenal dengan nama Sabilal Muhtadin) dan dengan permufakatan bersama-sama ulama ketika itu, maka pada 2 rabiul akhir 1181 H atau 1 Agustus 1767 M, letak arah kiblat dari Mesjid Al Mansur ini dibetulkan. Kemudian di bawah pimpinan K.H. Moh. Mansur bin H. Imam Abdulhamid bin H. Imam Moh. Damiri bin Imam Moh Habib, pada tanggal 25 aya’ban 1356 H/1957 M, diadakan perluasan mesjid. Untuk menjaga agar tempat suci ini tetap terpelihara dengan baik dan agar makam-makam para ulama/aulia yang berada di tempat tersebut terpelihara, maka di sekeliling pekarangannya dipagar dengan tembok.

Dalam perjuangan menentang penjajah Belanda, mesjid ini ikut pula mengambil peranan yang amat penting dengan tokoh K.H Mansur yang menjadikan mesjid ini pusat latihan mental rakyat Jakarta. Di sinilah diadakan ceramah-ceramah pada para jemaah tentang cinta tanah air dan bagaimana pahitnya dijajah oleh Belanda.

Karena mesjid ini dipergunakan tempat penggemblengan mental para pejuang kita yang akan bertempur menentang penjajah Jepang danBelanda, maka tidak heran lahkita jika pada tahun 1947-1948 mesjid tersebut pernah ditembaki dan digrebek oleh serdadu NICA. Selain itu pula dengansangat beraninya K>H> Moh Mansur telah mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih di atas menara mesjid perjuangan ini. Karena tindakannya ini, maka beliau terpaksa digiring ke Hoof-Bereau untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya ini. Tetapi dengan tandas beliau menjawab, bahwa setiap bangsa mempunyai bendera sebagaimana bangsa Belanda sendiri.

Karena keaktifan beliau di dalam menentang penjajahan maka sebagai kenang-kenangan dan kehormatan beliau mesjid ini yang pernah dibina oleh K.H. Moh Mansur pada tanggal 1 Mei 1967, maka pengurusan mesjid ini yang mempunyai nilai sejarah dilanjutkan oleh satu Badan Panitia hingga dewasa ini.

5. Mesjid Kebon Jeruk

Terletak di Jalan Hayam Wuruk dekat jembatan penyebrangan Sawah Besar-Ketapang. Kubah asli mesjid ini memperlihatkan arsitektue gaya Cina, yakni bentuk-bentuk lekuk ke dalam yang lazimnya seperti kita jumpai pada atap-atap bangunan orang Cina. Mesjid ini pada sekitar tahun 1957 mengalami perbaikan yakni perombakan dan penambahan ruang sembahyang masih dapat kita saksikan bentuk asli mesjid ini walaupn sudah dilaksanakan perombakan atau pelebaran pada beberapa tempat.

Mesjid ini didirikan pada tahun 1786 merupakan mesjid pertama yang dibangun bagi peranakan di daerah Glodok. Di daerah Glodok pada waktu itu mereka (peranakan) tidak mempunyai tempat ibadah sendiri. Oleh karena itu dibangun mesjid ini di atas tanah seorang Kapten cina yang telah masuk agama Islam, terletak di bagian timur Molenvliet (jalan Gajah Mada)

Sedikit tentang pengertian sebutan peranakan yang diberikan kepada orang-orang Cina pada waktu itu. Di kalangan orang-orang yang telah menganut agama Islam. Dalam tahun berikutnya istilah peranakan ini dibeerikan pula kepada keturunan orang-orang Cina yang kawin dengan wanita-wanita pribumi. Pada umumnya mereka menikah dengan wanita-wanita asli Bali. Hal ini dikarenakan orang-orang Bali juga makan daging Babi yang ernyata merupkan kebiasaan orang-orang Cina.

Golongan peranakan iii pada umumnya tingak diantara orang-orang pribumi. Merka juga mempergunakan tempat-tempat ibadah (mesjid) yang dibangun oleh orang-orang pribumi. Keadaan semacam ini sering membnuat ejekan-ejekan terhadap peranakan dari orang-orang pribumi, karena mereka tidak mempunyai tempat ibadah sendiri. Untuk mengatasi ini maka pada tahun 1785 didirikan mesjid pertama sebagai tempat ibadah golongan peranakan. Mesjid ini sampai sekarang masih berdiri dan dikenal dengan nama mesjid Kebon Jeruk. Walaupun di sana sini ada tambahan tetapi bentik aslinya masih terlihat.

Di dalam mesjid tersebut ubin-ubin dengn gambar-gambar manusia dan hewan yang tentunya tidak diperbolehkan oleh agama Islam. Ssayang ubin-ubin tersbut sekarang sudah tidak ada lagi, telah dibongkar sewaktu mesjid ini dilakukan perombakan.

Pada bagian belakang Mesjid Kebon jeruk ini terdapat sebuah makam Islam. Pada batu nisan terdapat tulisan Cina yakni nama orang yang dikubur Fatimah Hwu. Terdapat angaka arab yang menyebutkan tahun 1792 (mungkin tahun meninggalnya), serta terdapat pula ornament-ornamrn seperti kepla naga. Menurut cerita yang diperoleh bahwa makam tersebut ialah makam istri Kapten Temiem Dosol seeng. Pada tahun 1827 meninggalnya Kapten peranakan terakhir bernama Mohammad Japar.

6. Mesjid DJami Pekojan

Sejarah singkat Mesjid Jami Pekojan ini, menurut keterangan yang dapat dikumpulkan dari kaum kerabat pengurus mesjid ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Almarhun K.H. Abdul Mu’ti wafat pada tahun 1943 dan telah meninggalkan catatan-catatan lisan pada penerusnmya.

Menurut perhitungan beliau dari Surakarta ke Jakarta diperkirakan pada abad 18, ketika itu Mesjid Pekojan ini telah berdiri. Pendiri dari mesjid ini seorang ulama kenamaan yaitu Komandan Dahlan, yang makamnya terletak si sebelah utara mesjid yang dikelilingi oleh batu-batu besar pahatan abad 18.

Mesjid Jami Pekojan yang teletak di Kampung Pekojan wilayah Jakarta Barat ini sangat erat hubungannya dengan mesjid kuno di keratin Surakarta dan Banten ada masa-masa yang silam.

Hubunganay dengan Mesjid di Surakarta ialah, setiap adanya yang meninggal dunia dari keluarga Sultan di Solo atau para ulama di Solo , maka berita ini disampaikan pula ke Mesjid Jami Pakojan agar dilakukan sembahyang Gaib dan berdoa guna meminta restu pada Illahi bagi yang meninggal. Hal semacam ini juga dilakukan pada mesjid-mesjid lain yang terdapat di Jakarta, selain mesjid ini mempunyai hubgunan dengan mesjid di Surakarta mesjid ini mempunyai hunbungan dengan mesjid Maulana Hasanudin di Banten. Hal ini dimana selalu mendapat kunjungan dari para ulama Banten.

Di sekitar mesjid ini masih terdapat makam-makam tua yang diperkirakan makam-makam dari para ulama besar pada masanya dengan adanya makam-makam itu maka mesjid ini seringkali diziarahi oleh banyak orang pencintanya. Dilihat dari batu nisan sekitar mesjid ini jelas terlihat bahwa makam-makam itu adalah makam-makam dari para ulama yang berpengaruh pada masanya. Sangat disayangkan tanda-tanda tulisan dan ukiran-ukiran pada nisan itu sudah mulai licin sehingga tak terbaca lagi, hampi xr terhapus oleh erosi alamiah.

Mesjid Pekojan ini merupakan salah satu mesjid tua dan berperan di Jakarta, serta sanga besar pengaruhnya pada penyebaran Agama Islam pada abad yanh lampau. Mesjid jami Pekojan ini merupakan induk mesjid di sekitarnya. Sebagai salah satu contoh perlu diketahui, bahwa para jemaah jumatannya tidak kurang dari 2000 orang setiap jumatnya.

Kalau kita memasuki mesjid jami Pekojan, maka arah kiblatnya akan terlihat sebuah mimbar yang cukup antic. Mimbar ini adalah salah satu hadiah dari salah seoran Sultan Pontianak di Kalimantan Barat pada satu abad yang silam, bentuk seta ukurann dari mimbar menunjukkan ukiran yang bermotif abad ke-18 dan sampai sekarang masih tetap terpelihara. Pada akhir-akhir ii, mesjid ini telah banyak mengalami perubahan. Namun demikian tidak mengurangi arti kekunoannya baik dilihat dari segi arsitekrur maupun arti ilmu pengetahuannya.

Di sekitar Mesjid, pada baagian timur terdapat sebuah Sekolah Dasar Islam dari PGAP yang mana seluruhnya di atur oleh sebuah panitia Mesjid Pekojan yang selalu berganti-ganti, menurut saat pengangkatannya sebagi pengurus.

Mengingat sangat banyaknya jemaah Jumat yang sering tidak tertampung olrh mesjid ini, maka pengurusnya masih mengusahakan terus untuk menambah ruangan. Perbaikan dan pemeliharaan telah dilakukan pla oleh Pemerintah DKI Jakarta melalui Dinas Museum dan Sejarah DKI sehingga dalam pelita ke II tahun 1970-1971 telah dilakukan pemugarannya dan tampak lebih wajar dan menarik.

Hal ini dilakukan mengingat pentingnya penyelamatan gedung bersejarah itu yang mana telah termasuk salah satu monumn atau peninggalan sejarah yang sangat beguna bagi kepentingan ilmu pegetahuan pada masa sekarang dan mendatang. Dengan telah dipugarnya Mesjid Jami Pekojan atau nama lainnya Mesjid Jami Annwier itu , maka berarti pula telah menambah obyek wisata di Jakarta atau akarta Barat khususnya yang terkenal dengan sebahagian wilayah tertua dati kota Jakarta yang menuju metropolitan.
SEJARAH GEREJA GEREJA DI JAKARTA

1. 1. Gereja Tugu

Gereja ini dibangun atas usah seorang pendeta yang bernama Van der Tydt dalam tahun 1725. pada saat itu jemaahnya baru 134 orang yang dibawa oleh Domingus Pietersen. Pada mulanya daerah ini dihuni oleh sekelompk oranorang portugis yang ditempatkan oleh Pemerintah Belanda akibat kalahnya orang-orang ortugis tersebut dalam tahun 1661. orang-orang Portugis ini kebanyakan dari daerah Benggala di India atau dari pantai Coromandel

Ketika terjadinya pemberontakan bangsa Cina dalam tahun1740, para penduduk desa ini terpaksa meninggalkan desa ini yaitu demi menjaga keselamatan jiwa mereka. Ketika itu bangsa Cina lalu membakar bangunan gereja yang pertama dari Gereja Tugu ini, sehingga menjadi rusak dan hancur seluruhnya.

Atas bantuan seorang tuan tanah yang bernama Justinus Van der Vinde, yaitu seorang hartawan dan dermawan dengan bantuan Gubernur Jenderal Van Imhoff dalam tahun 1744 gereja yang baru dibangun kembali dan dermawan ini akhirnya telah menghadiahkan gedung gereja ini kepada penduduk. Bersama dengan gedung ini diberikan pula oleh Van der Vink tanah persawahan seluas 15 Ha dan uang 2000 ringgit yaitu mata uang pada waktu itu. Hasil bunga dari uang ini digunakan mereka untuk merawat gereja ini. Tapi sangat disayangkan uang itu telah hilang pada waktu zaman peralihan, mungkin sekali telah dilarikan oleh orang-orang Inggris. Sedangkan sawahsawahnya sejak Perang Dunia ke II hingga sekarang masih tetap dikuasai oleh rakyat setempat. Dalam tahun 1747 telah ditasbihkan oleh seorang pendeta yang tertmashur bernama Johann Mauridts Mohir.

Dengan demikian pada mulanya gereja ini adalah sebutan Gereja Katholik. Tetapi sebagai akibat perkembangan sejarah agama Kristen di Batavia, maka kemudian gereja dan penduduk disana banyak yang beragama Kristen Protestan hingga sekarang. Dilihat dari gayanya gereja ini, dpat terlihat bahwa bangunan itu betul-betul mempunyai corak lama dari abad ke-17 dan ke-18. hal ini dapat terlihat dari bentuk loncengnya yang terdapat di luar gedung sekarang yang masih ada.

Sedangkan bentuk bangunan Gereja Portugis Tugu ini tidak mempunyai menara seperti yang lazim kita lihat pada bentuk gereja-gereja yang ada sekarang, dan mempunyai atap yang tinggi sekitar 7 sampai 8 meter.

Sesuai denganperaturan yang tercakup dalam monumeten Ordonatie 1931 dan mengingat pentingnya hal ini dilakukan penyelamatan gedung-gedung kuno yang mengandung nilai-nilai histories dimana sangat penting artinya kelak bagi ilmu pengetahuan masyarakat dan generasi mendatang, pada elita DKI yang ke-1 1969/1970. gereja Portugis Tugu ini telah dipugar oleh Pemerintah DKI Jakarta.

Mengingat pula di daerah ini hingga sekarang masih terdapat orang-orang keturunan portugis yang mempunyai adapt dan tradisi tersndiri yang unik dan menarik seperti yang terkenal dengan Pesta Panen, Pesta Mandi dan Upacara menembaknya maka dengan demikian akan berarti pula menambah sebuah lagi obyek kepariwisataan di daerah Ibukota Jakarta, disamping m,engangkat kembali sejarah kebesaran kota Jakarta dari penginggalan-peninggalan kuno dan bersejarah.

2. Gereja Sion

Dahulu gereja tua yang sekarang masih dapat kita saksikan terletak di jalan Jakarta ini bernama “De Portugese Buiten Kerk”. Mulai dibuat pada tanggal 20 Pebruari 1693. jadi sekarang telah berusia 290 tahun, telah cukup tua, dan kalau sekarang kakek dari kaek kakek. Namun gereja ini sampai sekarang tetap awet muda sama seperti dahulu ketika masih remaja usianya.

Pada tanggal 23 Agustus 1695 oleh Ds. Theodorus Zos, dan telah disksikan oleh Gebernur Jenderal Van Outhoorn beserta istrinya. Ternyata gereja ii mendapat para pengunjung yang banyak setelah kotbah-kotbah ini dilakukan. Kelihatan perkembangan yang demikian Dewan Gereja mulai memikirkan suatu jalan untuk menyelesaikan masalah ruangan gereja yang terasa kurang luas.

Atas usul dari G.G Camphyus dalam tahun 1689 lalu dilakukan pembeian sebidang tanah dari Gerbradt Niehoit. Setelah itu menyusul dibeli pula sebuah pekarangan pekarangan sehingga direncanakan gereja yang beru diperluas dan dapat menmpung sekitar 500 jemaat.

Pada tangal 19 Oktober 1693 diletakkanlah batu pertama dari pembangunan gereja ini. Dalam hal ini pemerintah Belanda telah sejak lama menginginkan agar orang-orang Portugis di Batavia dapat membangun gerejanya sendiri. Bagi kelancaran pembangunan Gereja Portugis ii Pemerintah Belanda telah mengambil kebijaksanaan pada waktu itu, ialah dengan cara emberikan biaya dari hasil-hasil penjualan barang-barang selundupan yang dibeslag, sedangkan separuh dari uang ii disebrikan kepada kas Diaconie di Pulau Foemosa. Kerjasama antara masyarakat Portugis dengan Kompeni sebenarnya telah dimulai sejak beberapa lama yaitu sebelum benteng Zelandia diberikan kepada Coxinga.

Uang kas gereja di Formosa selalu dikirimkan ke Batravia, sebagian diberikan kepada para pengungsi orang Perancis di Semenanjung Harapan. Sisanya sebanyak 3000 ringgit lalu diberikan kepada Gereja Portugis ii untuk pembelian alat-alat bangunannya/dari kerjasama antara masyarakat Portugis ini dengan Kompeni telah memberikan suatu gedung Gereja yang indah seperti yang dapat kita skaikan sekarang,

Dalam tahun 1695 Ds. Theodorus Zos telah mendapat penghormatan untuk menyampaikan suatu pidato pembukaan dalam Bahasa Belanda. Semenjak itu aktivitas-aktivitas gereja ini kian dikeanal dalam masyarakat Kristen di Batavia.

Dalam ruangan Gereja ini kita dapati serambinya yang disanggah oleh dua buah pilar yang bulat dan indah bentuknya. Atap gereja ii disokong oleh enam buah tiang bulat yang besar dang megah. Pilar-pilar bata tersebut dibuat dalam tahun 1725. sebuah kursi kotbah Styl Barokke tela dibeli dalam tahun 1695 dengan harga 260 ringgit. Sebuah orgel yang didapat di dalam gereja ini adalah hadiah dari masyarakat Portugis yang kaya raya, kursi-kursi model kuno di dalam gereja ini adalah hadiah dari G.G. van der Parra.

Pada pelita ke II Pemerintah DKI maka gereja ini telah dipugar oleh Dinas Museum dan Sejarah DKI yaitu mengingat pentingnya fungsi gereja ini sebagai salah satu bangunan tua dan bersejarah di Ibukota. Inilah Gereja Sion yang sekarang tambah muda dan cantiksetelah dipugar kembali oleh pemerintah DKI Jakarta.

3. Gereja Katedral
Gedung gereja yang megah ini terletajdi Jalan Katedral no 7 dan bergelr Gereja Santa Perawan Maria Diangkat Ke Surga. Menurut catatan sejarah pada tanggal 15 Mei 1808 sebagian dari tangsi di Paradeplain yang sejak 1829 disebut Waterlooplein dan sekarang menjadi Lapangan Banteng disediakan untuk upacara-upacara agama Katholik/

Dalam tahun 1828 dengan keputusan gubernur Jenderal, trumah yang dulu didiami oleh Gubernur Jenderal dan yang kemudia dipakai untuk Lapangan Banteng diberikan kepada umat Katholik untuk dijadikan gereja.

Pada waktu keadaan gedung mulai mengalamu kerusakan dan kurang baik, dan menelan biaya, perbaikan-perbaikan atas gedung ini pun dimulai lah. Dalam tahun 1979 Menara Gereja ini dinyatakan dalam keadaan bahaya akan runtuh dan atap gereja ini dinyatakan dalam keadaan bahaya akan runtuh dan atap gereja ini sudah dapat diperbaiki lagi. Tetapi dengan sedapat-dapatnya diadakan juga perbaikan-perbaikan pada akir Mei 1880 mulai dapat dipakai lagi. Kemudian pada tanggal 9 April 1890 karena runtuhnya slah satu tiang maka gedung gereja ini menjadi ambruk.

Pada akhir 1891 mulai dibangun gedung gereja yang baru yakni Katedral yang ada sekarang ini, tetapi setelah pondamennya selesai karena kekurangan uang, maka pembangunannya dihentikan. Barulah pada bulan November 1898 pembangunan ini diteruskan lagi dengan upacara peletakkan bartu pertama dilangsungkan pada tanggal 16 Januari 1899 dan pada tanggal 21 April 1901 gereja ini dibuka dengan resmi dan diberkati oleh Uskup E.S. Luypen. Hingga sekarang dipakai leh umat Katholik untuk melakukan uapacara-upacara keagamaannya.

4. Gereja Immanuel

Di Batavia pada masa pemerintahan diambil oleh de Batafse Republik terdapat beberapa gedung gereja,l gereja-gereja itu antara lain adalah: Gereja Koepel yang lama (oude Kopelkerk), Portugese Buitenkerk atau gereja Sion sekarang, Lutherse Kerk dan Kapel Kerk Weltevreden yang sekarang menjadi Gereja Pnhiel.

Pada waktu itu di Batavia terdapat dua Jemaat Kristen Protestan yakni suatu jemaat dari Gereja Lutheren. Karena gedung-gedung gereja yang terletak dikota maupun di weltevreden dianggap tidak lagi memenuhi syarat-syarat berhubung perkembangan masyarakat dan kebudayaan, maka majelis Jemaat Hervend dan Lutheren memutuskan sebuah gedung Gereja yang besar dan modern, di daerab Weltevreden atau klemudian terkenal sebagai daerah Gambir sekarang.

Keputusan ini diambil pada tahun 1832. untuk ini dibentuklah sebuah panitia bagi melaksanakan keputusan tersebut. Sebelumnya teklah diminta beberapa advis dari Haagse Commisie, yaitu sebuah panitia di Nederland yang mengurus soal-soal putusan-putusan pendeta-pendeta ke Indonesia untuk bekerja di Indische Kerk. Advis yang diberikan menyebabkan mereka mendapat izin dari Guberur Jenderal untuk melaksanakan maksud tersebut. Semuanya ini telaj memakan tempo 1,5 tahun. Keputusan bersama antara dua majelis ini diambil pada tanggal 2 Desember 1832, dan pada tanggal 20 Desember 1832 panitia dibentuk. Panitia ini mulai bekerja mempersiapkan segala urusan-urusan bagi pembangunan gedung gereja ini yaitu sebagai sebuah monument dari maksud Raja Willem I, yang akan dididrikan di Indonesia.

Tanah lalu dibeli di daerah Pejambon karena mengingat banyak orang-orang yang sudah berpindah dari daerah kota ke daerah-daerah Pintu Besi, Nusantara, Tanah Abang, Gambir dan Kebon Sirih. Untuk anggaran belanja p[embangunan gedung ini ditaksir akan memakan biaya sekitar f.92.000. jemaat laindari pulau Jawa dan Sumatra telah membrikan sumbangan pula sebanyak f.20.000. dengan demikian gereja ini telah dibangun sebagai usaha dari semua ejmaat besar Indiche Kerk dahulu, dan tepat ada waktu perayaan hari lahir Willem I maka diresmikan pemakaiannya. Gereja ini kemudian ditasbihkan dengan nama kehormatan “Willem Kerk” yaitu pada tanggal 24 Agustus 1839.

Bentuk dari gereja ini mungkin adalah hasi; perencanaan seorang arsitektur yaitu Tuan Horn dan merupakan pengarush Laat Reinaisance Styl yang kembali kepada type dari kebudayaan Yunani sebelum abad ke-2 Masehi. Dalam tahun 1948 nama Willemskerk diganti menjadi Immanuel atau Gereja Immanuel yang mengandung maksud Allah bersama kita. Dan memang bila perasaan ini dicantumkan di hati maka perasaan kedamaian akan senantiasa menyertai kita. Itulah Gereja Immanuel yang telah berusi lebih dari satu seperempat abad dan masih utuh menentang masa.

SEJARAH SINGKAT PENDIRIAN PATUNG DAN MONUMEN DI JAKARTA

1. Monument Nasional

Monumen Nasional atau Tugu Nasional atau disebut juga Tugu Monas didirikan tepat di tengah-tengah Lapangan Monas (sebelumnya dikenal dengan nama Lapangan Merdeka) Jakarta. Maksud dan tujuan pendirian monument itu adalah untuk mencerminkan jiwa perjuangan, memelihara dan meneguhkan semangat patriotic serta mempertinggi kemegahan perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia.

Mengingat bahwa kota Jakarta adalah tidak saja sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia, tetapi juga sebagai kota Proklamasi dimana diproklamasikan Kemerdekaan Bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, adalah menjadi alas an utama mengapa Tugu (monument) ini dibangun di Kota Jakarta.

Pekerjaan pembangunannya dimulai sejak tanggal 17 Agustus 1961 oleh panitia Monument Nasional. Tugu Nasional ini adalah bangunan arsitektur Indonesia yang monumental dan bersifat Nasional. Semua perencanaan dan pekerjaan konstruksi dilkukan oleh ahli-ahli dan kontraktor bangsa Indonesia. Beberapa alat, material dan tenaga-tenaga yang tidak cukup tersedia di dalam negeri, dipesan atau didatangkan dari luar negeri, yaitu antara lain:

a. Jepang : kerangka besi, lidah api, lift dan tangga darurat
b. Italia : semua bahan dan pekerjaan marmer, benda-benda
atribut Kemerdekaan, pagar pengaman di puncak
tugu, patung, Dipenegoro, domes’ dan kaca diorama.
c. Jerman Barat : semua instalasi listrik, sound system dan interior
d. Amerika Serikat : Instalasi Air Conditioning dan Plumbing
e. Perancis : Material konstruksi beton pratekan.

Sebagai pusat dan iwa dari Museum Nasional, maka Tugu Nasional menyiarkan daya pengaruh dan daya penariknya baik siang maupun malam hari, bagi segala yang ada atau yang akan ada di sekitarnya. Dan dia akan menyambut “Selamat Datang” kepada setiap orang yang memasuki Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini.

Tugu Nasional beserta Museum Sejarahnya, mengilhami perjuangan bangsa Indonesia pada masa sekarang dan masa-masa yang akan dating untuk mencapai tujuan nasional sebagai mana dimaksud ddalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, memperkuat kesadaran ber-Pancasila serta merupakan tonggak sejarah bagi pembinaan Orde Baru Pembangunan.

Bagian-bagian utama di lingkungan Monumen Nasional ini ialah meliputi:

Pintu Gerbang Utama

Untuk mencapai bagian ini harus dengan berjalan di atas plaza di sebelah utara, dimana para pengunjung akan dapat menikmati air mancur dan Patung Pangeran Dipenegoro, kemudian turun, masuk ke dalam terowongan di bawah jalan Ailang, naik/keluar tepat di halaman Tugu Nasional, yang sekelilingnya berpagar bamboo runcing.

Ruang Museum Sejarah

Ruangan ini terletak 3 meter di bawah tanah dalam bagian landasan tugu. Luas ruangan ini adalah 80 x 80 meter.. dan tingginya 8 meter. Seluruh dinding dan latai berlapis marmer. Pada keempat sisi masing-masing terdapat 12 jendela kaca, dimana pertunjukan peristiwa-peristiwa sejarah bangsa Indonesia. Adegan-adegan sejarah ini berbentuk diorama, yaitu:

a. Sebelah Timur : mulai dengan adegan manusia purba Bangsa Indonesia sampai dengan adegan perang Makasar.

b. Sebelah Selatan :mulai dengan adegan Perang Patimura sampai dengan adeganPerjuangan Taman Siswa dalam bidang Pendidikan

c. Sebelah Barat :mulai dengan adegan perjuangan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan sampai dengan Katholik Roma sebagai factor pemersatu bangsa

d. Sebelah Utara :mulai dengan adegan gerilya dalam perang Kemerdekaan sampai dengan adegan penentuan pendapat rakyat Irian Barat

Ruang Kemerdekaan

Ruang yang berada dalam Cawan Tugu ini berbentuk amphitheater tertutup, dimana setiap pengunjung sambil duduk dengan tenang dan khidmat dapat merenungkan dan meresapkan hikmah Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Di tengah-tengah keempat sisi badan Tugu di ruangan ini terpasang atribut-atribut kemerdekaan yaitu:

a. Sebelah Timur : Sangsaka Merah Putih

b. Sebelah Selatan : Peta Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dilapis emas

c. Sebelah Barat :Almari berukir, dengan didalamnya peti kaca tempat menyimpan Naskah Proklamasi

d. Sebelah Utara : Lamabang Negara Republik Indonesia “ Bhineka Tunggal Ika” yang mengandung Ideologi Negara yaitu Pancasila

Pelataran Cawan

Berada pada ketinggian 17 meter dengan ukiran luas 45×45 meter, melingkar badan Tugu. Pelataran Cawan yang seluruhnya dilapis marmer ini seakan akan baergantung tanpa tiang penyangga, dibuat dengan kkonstruksi pratekan. Dari sini dapat dilihat arena lapangan monas seluruhnya.

Puncak Tugu

Pelataran puncak Tugu berada pada ketinggian 115 meter. Dari tempat ini dapat dinikmati pemandangan di atas Ibu Kta Jakarta ke Segenap penjuru. Puncak Tugu ini dapat dicapai dengan sebuah elevator tunggal, yang mampu memuat 7 arang pengunjung dan dalam keadaan darurat dapat menggunakan tangga besi yang melingkari cerobong lift.

Api kemerdekaan

Sebuah lidah api berbentuk kerucut dengan ukuran tinggi 14 meter, garis tengah 6 meter, terbuat dari logam perunggu dengan berat kurang lebih 14,5 ton. Seluruh bagian permukaan luar dari pafda lidah api dini dilapisidengan emas murni sebanyak 32 kg.

Api kemerdekaan melambangkan semangat Kemerdekaan. Di dalam rongga lidah api inilah ditempatkan mesin lift.

Badan Tugu

Luas badan tugu bagian bawah : 8×8 meter, bagian atas 5×5 meter. Tinggi badan tugu ini 115 meter. Perlu dicatat, bahwa ukuran-ukuran konstruksi sedapat mungkin telah disesuaikan dengan angka-angka 17-8-45, yaitu angka-angka keramat Proklamsi Kemerdekaan Indonesia.
Pelaksanaan pembangunan melalui tahap tahap sebagai berikut:
a) Tahun 1958 samapai dengan 1959 Tugu Nasional dibangun olehPanitia Monumen Nasional/Komando Pelaksana Monumen nasional uang diketuai oleh Presiden RI. Pelaksanaan pembangunan dipimpin oleh Ketua Harian Jenderal TNI Umar Wirahadinata Kusuma; arsitek/Direksi Pelaksana yaitu Arsitek sudarsono, sedngkan bertindak sebagai penasehat konstruksi adalah Prof.Ir. R. Rooseno.

b) Mulai tahun 1969 sampai sekarang pembangunan Tugu (Monumen) Nasional diteruskan oleh Panitia Pembina Tugu Nasional (Kepres No.314 tahun 1968), yang diketuai oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, wakil ketua Gubernur Kepala Daerah Kusus Ibu Kota Jakarta dan Sekretaris Direktur JenderalKebudayaan Departemen P&K RI. Untuk pelaksanaan ekerjaan teknis sehari-hari dibentuk Team Pelaksana Pembina Tugu Nasional yang diketuai oleh Wakil Gubernur Bidang III Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta merangkap Pimpinan Proyek.
Panitia Pembina Tugu Nasional bertugas menyelesaikan, memelihara dan membina Tugu Nasional dan memanfaatkannya bagi kepentingan umum.
Perlu dikemukakan di sini beberapa catatan sebagai berikut:
 Tahun 1961-1968 semua pembiayaan proyek Monas dilaksanakan oleh Panitia Monumen Nasional yang berasal dari sumbangan masyarakat.
 Tahun 1968-1969 mendapat bantuan dari Sekretariat Negara
 Tahun 1969-1975 masa penyelesaian Pelaksanaan Pembangunan dan pembinaan oleh pPanitia Pembina Tugu Nasional
 Proyek Monas simasukkan dalam anggaran Pelita sebagai program pengembangan Kebudayaan Nasional, dan berada di bawah lingkungan Sekretariat Negara RI
 Tugu (monument) Nasional dimanfaatkan untuk pembinaan generasi muda dan pembangunan Kebudayaan Nasional, khususnya untuk memajukan kegiatan-kegiatan kepariwisataan serta rekreasi masyarakat, sejalan dengan usaha untuk menjadikan Kota Jakarta sebagai kota Metropolitan yang representative
 Bersdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No. D III-3923/d/6/75 tanggal 12 juli 1975, maka Tugu (monument) Nasional dinyatakan setiap hari dibuka utnuk masyarakat yang berhasrat berkunjung, baik berupa rombongan maupun perorangan.

Patung Pangeran Dipenegoro

Patung yang terletak di dalam Taman Monas ini dibuat oleh seorang pemahat kenamaan bangsa Italia yang bernama Covertaldo atas usaha bekas konsul general Honarair Indonesia, Dr. Mario Pitto (almarhum)

Dr. Mario Pitto adalah seorang usahawan terkemuka bangsa Italia dari keturunan keluarga yang berada. Beliau sangant mengagumi dan mencintai Indonesia.

Selama menjabat sebagai Konsul General Honorair di Indonesia, ia bercita-cita ingin menghadiahkan suatu kenang-kenangan kepada bangsa Indonesia untuk menyatakan rasa terima kasih dan hormatnya terhadap pemerintah Indonesia. Keinginan tersebut pada tahun 1963 dinyatakan kepada Dudta Besar Republik Indonesia di Italia yang [ada waktu itu dijabat oleh Teuku Muhammad Hadi Tayeb. Niat baik tersebut di tanggapi secara positif oleh Dubes Hadi Thayeb dan disarankan untuk membuat patung dari salah seorang pahlawan Indonesia. Diperlihatkan oleh Hadi Thayeb lukisan-lukisan para pahlawan Indonesia, maka Pangeran Dipenegorolah yang dipilih oleh Dr. Mario Pitto.

Untuk itulah maka penasihat Italia yang ditugaskan untuk membuat Patung Dipenegoro yaitu Cobertaldo dikirim ke Indonesia oleh Dr. Mario Pitto, guna mempelajari berbagai tipe orang Indonesia. Setelah berhari-hari mempelajari berbagai macam posisi kuda-kuda dan setelah meresapi lukisan Pangeran Dipenegoro dengan latar belakang sejarah perjuangannya, maka dibuatlah Patung Pangeran Dipenegoro.

Patung Pangeran Dipenegoro ini dibuat di Italia dalam waktu kkurang lebih satu tahun, selesai pada permulaan tahun 1965, lalu dikirim ke Indonesia yang diiringi sendiri oleh pematungnya. Pekerjaan pemasangan dan penempatannya di depan Monumen Nasional dikerjakan dan diawasi sendiri oleh Cobertaldo.

Patung Pangeran Dipenegoro terbuat daari brons, dan stellagennya atau dasarnya seharusnya akan dilapis dengan marmer Italia, akan tetapi hal yang terakhir ini tidak sempat dilaksanakan. Pemasangan patung selesai pada bulan Juli 1965 dan direncakan akan dapat diserahkan secara resmi kepada Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1965 oleh Dr. Mario Pitto dengan pemasangan plakat pada patung tersebut. Namun rencana Dr. Mario Pitto ini pun tidak dapat terkabul, berhubung keadaan Jakarta pada waktu itu tidak memungkinkan untuk diadakan sekedar upacara penyerahan. Hingga Patung Pangeran Dipenegoro ini tidak pernah diresmikan.

Adapun alsan pemasanagan Patung Pangeran dipenegoro ini di dalam Taman Monas ialah bahwa selain lokasi terrsebut berada dalam suatu taman yang berfungsi sebagai tempat rekreasi, dari sini pulalah pintu gerbanga masuk monumen Nasional melalui terowongan. Lahi pula tempat ini sangat strategis letaknya dilintasan jalur jalan silangmonas sehingga kemungkinan lebih banyak pandangan mata tertuju padanya dan kemudian meresapi makna serta perjuangan Pahlawan Pangeran Dipenegoro.

Patung Selamat Datang.

Patung di depan Hotel Indonesia ini dibuat dalam rangka persiap[an penyelenggaraan Asean games ke 4 di Jakarta pada tahun 1962. maksud dan tujuannya ialah untuk menyambut tamu-tamu yang tiba di Jakarta dalam rangka pesta olah raga tersebut. Patung itu menggambarkan dua orang pemuda dan pemudi membawa bunga dimaksudkan sebagai penyambutan.

Alasan untuk memilih tempat p[atung ini di sini ialah berdasarkan pertimbangan bvahwa Hotel Indonesia pada waktu itu merupakan pintu gerbang masuk kota Jakarta, dan dalam rangkaiannya dengan pertandingan-ertandingan Asean Games di Senayan merupakan pintu gerbang merupakan pintu gerbang menuju ke gelanggan olahraga tersebut.

Semua tamu asing yang dating ke Jakarta dari lapangan terbang internasional Kemayoran waktu itu, langsung menuju Hotel Indonsesia yang oleh panitia penyelenggara dijadikan pudsat penginapan tamu-tamu asing. Dengan demikian sebelum mereka memasuki pintu gerbang Hotel Indonesia mereka mendapatkan patung Selamat Datang ini di depannya.

Adapun kenyataannya sekarang setela peristiwa Asean Games tersebut telah belasan tahun yang berlalu dn perkembangan pembangunan kota dimana banyak dipasang patung-patung di tempat lain, maka penempatan patung ini masih tetap tepat. Ia merupakan pelengkap dari patung-patung yang kemudian banyak terdapat di tempat-tempat lain dengan berbagai variasi latar belakang sejarahnya.

Suatu bukti bahwa disamping pembangunan-pembangunan fisik, pemerintah membangun pula monument-monumen dan patung-patung yang dapt dijadikan kebanggaan generasi yang akan dating.Secara singkat sejarah pendirian patung ini adalah sebagai berikut:
 Pra disgn oleh Henk Ngatung Wakil Gubernur DKI Jakrta waktu itu.
 Ide berasal dari Bung Karno , mantan Presiden RI pertama
 Masalah filosofis yang ingin dicapai dengan pendirianpatung ini ialah keterbukaan bangsa Indonesia menyambut para olahragawan yang dating dari seluruh penjuru dunia.
 Berat patung lebih dari 5,5 ton
 Tinggi patung dari kepala sampai ke kai 5 meter, sedangkan tinggi seluruhnya sampai ujung tangan kurang lebih ada 7 meter.
 Tinggi vootstuk(kaki patung)10 meter, dikerjakan oleh P>N Pembangun Perumahan.
 Bahan pembuatan Patung Selamat Datang ini adalah Perunggu
 Pelaksana oleh team pematung Keluarga Arca dibawah pimpinan Edhi Sunaso, dengan team yang terdiri dari Trisno, Askabul, Sarpmo, Mon Mudjiman, Suwardhi dan Suwandi.
 Penanggung jawab pelaksana ialah Trubus (almarhum) dan Edhi Sunarso.
 Proses pembuatan dua kali dilakukan, yang pertama dibuat dengan tinggi 7 meter. Pada waktu itu Bung Karno meninjauSanggar Edhi Sunarso di Karangwuni dengan rombongan para menteri yang diikutsertai pla Duta Besar Amerika Serikat Mr. Jones guna melihat pelaksanaan pembuatan patung ini. Beliau menghendaki agar sedikit diperkecil, maka dibuat lagi dengan format kecil yaitu dengan tinggi 5 meter.
 Lama pembuatan patung ini memakan waktu kurang lebih 1 tahun
 Diresmikan pada tahun 1962 oleh Bung Karno.

Patung ini hingga sekarang masih tetap merupakan patung yang megah, seolah-olah mengucapkan selamat dating kepada para pengunjung Ibu Kota Jakarta.

Patung Bebaskan Irian Barat

Patung yang terdapat ditengah-tengah lapangan Banteng ini dibuat pada waktu perjuangan bangsa Indonesia untuk membebaskan Irian Barat mencapai puncaknya pada tahun 1962. ide berasal dari Bung Karno, kemudian diterjemahkan oleh Henk Ngatung dalam bentuk sketsa. Ide tersebut tercetus dari Pidato Bung Karno di jogjakarta, dimana dalam pidaato tersebut telah menggerakkan masa untuk bertekad membebaskan saudara-saudaranya di Irian Barat dari belenggu penjajahan Belanda.

Patung ini menggambarkan seorang yang telah berhasil membebaskan belenggu penjajahan Belanda. Secara singkat data-data patung ini adala:
 Tinggi patung seluruhnya samai tangan kurang lebih 11 meter
 Berat kurang lebih 8 ton
 Tinggi patung vootstuk 20 meter terhitung dari jembatan, sedangkan dari landasan bawah 25 meter
 Pelaksana oleh P.N Hutama Karya, dengan arsitek Silaban
 Pelaksana pematung oleh team pematung keluarrga Arca Yogyakarta di bawah pimp9inan Edhi Sunarso dengan team terdiri dari Trisno, Askabul, Sarpomo, Mon, Mudjiman, Suwandhi dan Suwardi.
 Lama pembuatan kuran lebih 1 tahun
 Diresmikan pada tanggal 17 Agustus 1963 oleh Bung Karno

Patung Dirgantara

Patung di bundaran Jalan Gatot Subroto ( depan Mabes AURI) ini dibuat berdasarkan rencana Edhi Sunarso, dikerjakan oleh team pematung keluarga Arca Yogyakarta. Pimpinan Edhi sunarso, pataung ini dibuat dari bahan perunggu..

Ide pertama berasal dari Bung Karno yang menhendaki agar dibuat sebuah patung mengenai penerbangan Indonesia. Patung ini menggambarkan manusia angkasa. Maksudnya ialah menggambarkan suatu semangat keberanian untuk menjelajah angkasa.

Data-data singkat mengenai patung ini adalah sebagai berikut:

 Arti filosofis melambangkan keberanian/kesatriaan dalam hal kedirgantaraan. Jadi yang ditekankan di sini ialah bukan pesawatnya, melainkan manusianya. Manusia dengan sifat-sifat jujur, berani bersemangat mengabdi yang dilambangkan dalam bentuk manusia dengan kejantanannya semaksimal tenaga.
 Tinggi patung 11 meter
 Tinggi vootstuk 27 meter, dikerjakan oleh PN Hutama Karya dengan Ir. Sutami sebagai arsitek pelaksana
 Berat patung 11 ton
 Patung ini dikerjakan oleh team pematung keluarga Arca Yogyakarta di bawah pimpinan Edhi sunarso, sedangkan pengecorannya dilaksanakan oleh pengecoran patung perunggu arsitek dekoratif Yogyakarta piminan I Gardono
 Lama pembuatan patung ini 1 tahun (1964-1965), akan tetatpi penyelesaian pemasangannya mengalami kelambatan yang disebabkan keadaan olitik mengalami kegoncangan sebagai akibat kudeta Gerakan 30 September/PKI yang terjadi pada akhir 1965.

Sampai dengan meletusnya G.30 S/ PKI patung ini belum selesai dipasang, bahkan patungnya sendiri belum dipasang sama sekali, sehingga timbul suatu isyu bahwa patung ini adalah menggambarkan alat pencukil mata (yang dipergunakan partai komunis Indonesia dalam gerakan kudeta).

Bung Karno ingin dengan keras hati selekas mungkin membuktikan bahwa isyu tersebut tidak benar, sehingga beliau menghendaki agar secepatnya patung itu dipadang.

Untuk biaya pemasangannya dengan pembiayaan pribadi Bung Karno, yaitu dengan menjual sebuah mobil pribadinya. Dalam pemasangan selalu ditunggui oleh Bung Karno, sehingga kehadirannya selalu merepotkan alat Negara.
Alat pemasangannya sederhana saja, yaitu dengan Derek tarikan tangan. Patung itu berat seluruhnya11 ton. Itu terbagi dalam potongan-potongan masing-masing 1 ton. Pemasangan patung ini selesai pada akhir 1966.

Adapun ini dipasang di tempat ini ialah dengan alasan tempat tersebut strategis merupakan pintu gerbang Jakarta selatan dari Lapangan Terbang Internasional Halim Perdana Kusumah, serta letaknya berdekatan dengan Markas Bear Angkatan Udara Republik Indonesia.

Patung Pemuda Menbangun

Patung yang terletak di bundaran air mancur Senayan ini dibuat oleh team pematung yang tergabung dalam Biro ISA (Insinyur, Seniman, Arsitektur) dibawah piminan Imam Supardi. Penanggung jawab pelaksanan ialah Munir Pamuncak.

Patung ini dibuat dari beton bertulang dengan dicoradukkan semen dan bagian luarnya dilapisi dengan bahan teraso. Pekerjaan dimulai pada bulan Juli 1971 dan selesai diresmikan bulan Maret 1972.

Rencana semula peresmiannya akan dilaksanakan dalam acara Peringatan Hari Sumpah Pemuda tahun 1971, akan tetapi pada saat itu penyelesaian patung belum siap sehingga mengalami kelambatan beberapa bulan.

Patung ini menggambarkan seorrang pemuda dengan semangat menyala-nyala membawa obor, menurut keterangan dari pematungnya, Munir Pamuncak, bahwa perwujudan patung ini ditekankan pada ekspresi gerak.

Patung ini kelihatan dari jauh sebagai hamper tidak berbusana, justru disinilah ditonjolkan oleh sang penciptanya, yaitu expresi gerak dari tokoh pemuda yang ditekankan sehingga nampak nyata guratan-guratan urat daging san pemuda.. makna obor di atas ialah sebagai alat penerang dan artinya secara filosofis ialah untuk menerangi hati yang gelap.

Bahwa pembangunan memungkinkan terbukanya kesempatan beerbagai segi yang menguntungkan, kiranya sudah jelas. Oleh karena itu pembangungan hendaknya berjalan terus. Kalau suatu saat pembangunan terpaksa seret atau berhenti, hendaknya diusahakan untuk menemukan sebab-sebab timbulnya hambatan, agar sedapat mungkin data diatasi sehingga pembangunan berjalan terus menuju sasaran yang ingin dicapai.

Pemuda hendaknya mengambil peran secara aktif dalam pembangunan. Partisipasi pemuda dalam pembangunan sangat diperlukan, karena di tangan pemudalah terletak hari depan suatu bangsa. Tujuan yang ingin dicapai dengan manifestasi patung ini adalah untuk mendorong semangat membangun yang pada hakekatnya harus dilakukan oleh para pemuda atau orang-orang yang berjiwa muda, maka patung ini diberi nama Patung Pemuda Membangun.

Alas an mendirikan Patung Pemuda Membangun di tempat ini adalah berdasarkan alsan praktis dan strategis. Praktis karena tempatnya luas, cukup memenuhi persyaratan untuk memasang patung yang besar itu. Strategis kartena tempat ini meruakan titik pertemuan dari dan ke segenap penjuru kota Kemayoran Baru dan sekitarnya, disamping dekat dari kompleks olah raga Senayan, serta tidak jauh dari Gedung Majelis Permusyawaratan Rakyat dimana rencana-rencana pembangunan utnuk setiap jangka waktu lima tahun ditetapkan.

Patung Pahlawan

Patung di Taman Segitiga Menteng ini dibuat oleh pematung kenamaan bangsa Rusia bernama Matveu Manizer dan Otto Manizer. Patung ini dihadiahkan oleh Pemerintah Unisoviet kepada pemerintah Reublik Indonesia sebgai manifestasi dari persahabatan kedua bangsa. Banyak orang mengira dan menanamkan patung ini patung petani, kartena patung ini menggambarkan dua orang pria-wanita. Prianya ini adalah tipe seorang petani menyandang senapan sedangkan wanitanya adalah tipe seorang ibu yang sedang memberikan sesuap nasi kepada sang pria.

Latar belakang terciptanya patung ini adalah sebagai berikut:

Pada kunjungan resmi Presiden Sukarno ke Uni Soviet pada akhir tahun lima puluh-an, beliau sangaat terkesan dengan adanya patung-patung yang dipasang di beberapa temat di Moskow. Kemudian Bung Karno diperkenalkan dengan pematungnya yaitu Matvei Manizer dan anak laki-lakinya Otto Manizer. Pada akhirnya Bung Karno mengundang kedua pematung tersebut berkunjung ke Indonesia guna pembuatan sebuah patung mengenai perjuangan bangsa Indonesia untuk kemerdekaan yang pada waktu itu dimaksudkan untuk membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda.

Kemudian kedua pematung tersebut dating ke Indonesia dan mengunjungi berbagai daerah di Indonesia untuk mendapatkan inspirasi untuk patung yang akan dibuat. Maka bertemu dengan penduduk setempat, di suatu desa di daerah Jawa Barat, mereka mendengar sebuah legenda atau dongeng mengenai seorang ibu yang mengantarkan anak laki-lakinya berangkat menuju medan perang untuk mendorong keberanian sang anak bertekad memenangkan perjuangan dan sekaligus selalu ingat kepada anak laki-lakinya. Begitulah bunyi dongeng yang mereka dengar dari rakyat di daerah Sunda, kemudian dibuatlah patung yang demikian.

Patung pahlawan ini dibuat dari bahan perunggu. Dib uat di Uni Soviet kemudian didatangkan ke Jakarta dengan kapal laut. Diresmikan oleh presiden Soekarno pada tahun 1963 dengan menempelkan plakat pada vootstuknya berbunyi: “ Bangsa yang menghargai pahlawannya adalah bangsa yang besar”.

Alas an memasang patung Pahlawan ini di tempat tersebut ialah karena tempatnya luas memenuhi persyaratan untuk sebuah patung besar dan tempat tersebut sangat strategis. Juga tidak jauh dari tempat Markas Korps Komando Angkatan Laut RI yang pada waktu itu sedang berjuang untuk membebaskan Irian Barat.

Patung Bahari

Patung yang terdapat di halaman Markas Besar Angkatan Laut RI ini dibuat atas ermintaan Menteri Panglima Angkatan Laut L.E. Martadinata almarhum, didresmikan pada tahun 1965. patung ini dibuat dari bahan perunggu dan dikerjakan oleh team pematung keluarga Arca Yogyakarta pimpinan Edhi sunarso.

Patung ini menggambarkan seorang manusia Bahari (pelaut) dengan perkakas vitalnya, jangkat merupakan symbol atau lambing kepahlawanan bahari. Makna secara filosofis ialah gugurnya seorang pahlawan pelaut tak dikenal, manusia dengan alat kebahariannya yang terjelma menjadi satu dan laut adalah bahagian dari jiwanya.
Alas an menempatkan patung Bahaari di sini ialah bahwa tempat ini bersejarah bagi angkatan laut RI semenjak berdirinya.
Adapun data-data patung ini secara singkat adalah sebagai berikut:

 Tinggi patung 3 meter
 Berat patung seluruhnya 1,5 ton
 Bahan dari perunggu
 Penaggung jawab pelaksana Edhi Sunarso, dengan team pematung keluarga Arca Yogyakarta dibantu oleh Hari Djauharudin
 Pengecoran dilaksanakan oleh pengecoran Patung Perunggu Artistik Dekoratif Yogyakarta pimpinan I Gardono
 Diresmikan dalam rangka peringatan Hari Dharma Samudrea tanggal 15 Januari 1967 oleh Menteri Panglima Angkatan Laut RI Laksamana R.E. Martadinata

Monumen Pancasila Sakti

Peristiwa Lubang Buaya merupakan suatu episode yang tragis dari celah-celah keseluruhan patriotisme perjuangan Nasional bangsa Indonesia.peristiwa penghianatan G.30s/PKI telah merupakan suatu fakta sejarah dimana pahlawan revolusi telah gugur karena diculik oleh oran-orang PKI. Ke tujuh Pahlawan Revolusi yang gugur akibat keganasan dan kekejaman PKI tersebut adalah: Jendreal ahmad Yani, Jenderal S. Parman, Jenderal Suprapto, Jendeereal Sutoyo, Jendreal Haryono M.T, Jenderal Panjaitan dan Kapten P. Tendean.

Ketujuh Pahlawan Revolusi ini diabadikan berbentuk patung dan monument yang berdiri dapa sebuah alas berbentuk lengkkung dengan hiasan relief. Pada relief ini dapat kita lihat peristiwa mulai prolog, kejadian sert epilog dan penumpasan D30s/PKI oleh ABRI dan rakyat. Dibelakan patung terdapat dinding latar belakang yang berbentuk trapezium yang tingginya 17 meter di mana terdapat relief bergambar Pancasila lambangNegara Republik Indonesia.

Bagian tugu tersebut di atas berdiri landasa yang berukuran 17x17 meter persegi dengan tangga yang tinggina 7 anak tangga (sapta marga ). Di atas landasan bagian depan kanan dan kiri terdapat pot api yang besar dan dinyalakan hanya pada waktu upacara Malam Hari, maksudnya untuk menghidukan tokoh-tokoh patung tersebut, karena gerakan-gerakan api menimbulkan bayangan-bayangan sehingga menambah suasana lebih khidmat.
Secara garis besar monument ini mempunyai wujud sebagai berikut:

 Cangkup di atas sumur di mana para pahlawan revolusi dipendam pertama kali
 Tugu yang merupakan batu peringatan terhadap tujuh pahlawan revolusi serta relief rangkaian cerita peristiwa sekitar G30S/PKI
 Lapangan upacara.

Maksud didirikannya bangunan monument Pahlawan Revolusi ini untuk:

 Mengungkapkan fakta sejarah kekejaman terror G30S/PKI
 Mengenang jasa dan perjuangan para pahlawan revolusi
 Menanamkan kesadaran kesaktian Pancasila]meningkatkan kesiap-siagaan dan kewaspadaan mental ideologis.

Tujuan utama dari pendirian monument pahlawan revolusi adalah:

 Disamping untuk mengenag gugurnya para pahlawan revolusi juga sekaligus untuk dijadikan suatu pusat pembinaan tradisi memeringati kesaktian Pancasila
 Untuk membulatkan tekad meneruskan perjuangan, mengawal serta mengamalkan daan selalu mempertahankan Pancasila secara gigih sesuai dengan naluri, amal bhakti para pahlawan perjuangan bangsa
 Dalam rangka mensukseskan pelaksanaan pembangunan lima tahun dengan berdasarkan kebenaran dan keampuhan Pancasila, menciptakan suasana tenang, waspada dan bijaksana serta mewujudkan kebulatan tekad dan daya juang bersendikan dan beriwa kemurnian Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Lebar platform pintu gerbang pertamanya 17 meter mempunyai tangga sebanyak 5 anaka tangga.
Gerbanga ini mempunyai:

 Jarak besi sumbu ke sumbu 17 cm
 Tinggi pagar 17 cm dari tanah
 Jarak antara kaki ke tembok 45 cm
 Di atas pagar temat motif bunga bakung
 Di atas tiang-tiang pagar motif garuda
 Lapangan upacara
 Gerbang utama dan jalur 7
 Cungkup yang terdiri dari: makara, tangga, surya, sangkakala, tumpang sari, hiasan plafonf, dan hiasan puncak atap
 Tugu yang terdiri atas patung-patung 7 pahlawab revolusi.

Secara singkat daa-data lain mengenai monument ini adalah sebagai berikut:

 Perencana/penanggung jawab Saptoto
 Pelaksana Edhi Sunarso
 Team pelaksana Mahasiswa jurusan Seni Patung STSRI/ASRI Yogyakarta
 Jangka waktupelaksanaan 1 tahun
 Tinggi patung-patung 7 pahlawan revolusi 2.5 meter
 Tinggi relief 1.5 meter panjangnya 20 meter
 Bahan pembuatan batu cor (artificier stone)
 Pelaksana landasa oleh Zenie Angkatan Darat pimpinan Kolonel Ir. Kamaryani
 Brat masing-masing tokoh patung kurang lebih 80 kg
 Di tepi lubang sumur di dalam cungkup terdapat batu bertulis berisi pernyataan tekad pejuang Pancasila yang berbunyi” Cita-cita perjuangan kami untuk menegakkan kemurnian Pancasila tidak mungkin dipatahkan hanya dengan mengubur kami di dalam sumur ini”. Lubang buaya, 1 oktober 1973.
 Diresmikan oleh Presiden RI Jenderal Suharto dalam acara Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober 1973.

Monumen Gajah Mada

Monument Gajah Mada terletak di halaman depan sisi kanan Masrkas Besar Kepolisisan RI, di perempatan jalan menuju Kebayoran Baru yang menghadap ke ruang lepas yang merupakan lapangan upacara kepolisisan Negara. Monument ini diciptakan oleh Mikhail Wowor dalam tahun 1962, yang tersiri dari Patung Gajah Mada dan Relirf Tribrata dan Catur Prasetya.

Makna monument

Monument memiliki fungsi yang bertingkat-tingkat, yaitu:
 Tingkat I memperingati/menghormati invidu yang berkepribadian dan yang mempunyai ide dan cita-cita yang luhur dan tinggi bagi masyarakat, maka dalam hal ini tokoh Gajah mada adalah tokoh ide yang dapat diartikan ide kita semua.
 Tingkat II memperkenalkan atau menyebarluaskan ide dan cita-cita tkoh masyarakat tersebut
 Tingkat III meletakkan sebuah tanda yang mengikat tempat dan waktu, dalam hal ini tinggak sejarah yang menghiaskan langkah-langkah yang telah dicapai dan mengukuhkan tekad melnjutkan perjuangan mencapai cita-cita.
 Tingkat IV melanjutkan cita-cita tokoh masyarakat dan mewariskan semangat juang kepada generasi mendatang agar tercapau cita-cita itu oleh kita semua
 Tingkat V mengjak kita untuk seecara minimal meniru semangat perjuangan tokoh ide tersebut dan secara maksimal melebihi atau menyempurnakan perjuangan tokoh tersebut sesuai dengan situasi dan kondosi zaman.

Makna Patung Gajah Mada

Gajah Mada adalah tokoh kepribadaian yang memiliki ide dan citra-cita yang tinggi terhadap kesejahteraan dan kebesaran serta persatuan bangsa Indonesia yang disimpulkan dalam tekad yang terkenal sebagai Sumpah Palapa yang maknanya ialah peersatuan bangsa Indonesia sebagai sayarat utama mencapai tujuan kesejahteraan tersebut.

Gajah Mada adalah tokoh kenegarran yang sekaligus pendekar kepahawanan bangsa yang telah mencaai kegemilangan dan menurunkan pedoman kesatriaan bagi pejuang-pejuang bangsa yang setelah berabad-abad dapat bertahan dan kini kita pakai yang kita kenal kesaktiannya “ Tribrata dan Catur Prasetya” yaitu :

Tribarata :
Polisi itu:
1) Restrasewakottama :abdi utama dari pada Nusa dan Bangsa
2) Negara Yarottama : warga Negara utama daripada Negara
3) Yana Annuqa Sanadharma : wajib menjaga ketertiban pribadi dari pada rakyat

Catur Prasetya

1) Satya Kaprabu : setia kepada Negara dan piminannya
2) Hanyaken musuh : mengeyahkan musuh-musuh Negara dalam masyarakat
3) Gineung Pratidina : mengagungkan Negara
4) Tan Satrisna : tidak terikat kepada sesuatu

Kesimpulan dari hakiki dan abdi dari Gajah Mada itu adalah Sumpah Palapa dan Tribrata/Catur Prasetya.
Secara singkat data-data mengenai patung ini adalah sebagai berikut:

1) Ukuran : tinggi monument seluruhnya 17 meter, tinggi vootstuk 8 meter. Arti simbolik melalui angka-angka ukuran tersebut adalah bermakna tanggal 17 Agustus
2) Bahan : terpadu secara kuat dan padat dalam essensi batu yang terdiri dari adonan semen, pasir, kerikil dan batu kali serta besi kerangka. Batu yang diwakili oleh beton cor dengan tekstur polos.
3) Berat : besi beton, semn, pasir, koral, kawat, paku dan batu kali seluruhnya berjumlah 323 ton.
4) Tenaga : tenaga kreatif : Mikhail Wowor, pemimpin danggar Wowor. Asisten admisnistrasi dan teknis: Edhi Kumaat. Kepala tukan 1 orang, dengan kelompok pekerjaannya 30 orang sebagai tenaga kasar, mereka adalah putra-putra Jakarta, asli dari Pondok Cina Jakarta Selatan.
5) Waktu : lamanya dibuat 3 bulan

Tahap Tahap Pembuatan

Monument dibangun dalam 4 tahap

1) Tanggal 27 Mei 1962 : kerangka besi patung dan pondasi sekaligus dikerjakan secara terpisah tempat, kemudian kerangka patung dinaikkan ke atas kaki patung dan disambung rangka-rangka besinya langsung, dipsang peti cornya.
2) Tanggal 27-31 Mei 1962: mengecor patung dalam waktu 24 jam, disusul dengan pengecoran relief. Dalam waktu 1 minggu peti cor dibuka secara berangsur-angsur, mulai dari kepala patung sampai mulai pematahan kasar.
3) Tangal 1-29 Juni 1962: pemahatan patung dan relief dimulai secara pesat, mengejar mengerasnya beton. Pada tanggal 1 Juli 1962: peresmian monument oleh Bung Karno.
4) Tanggal 15 Juli-15 Agustus 1962: setelah beton cukup membatu, dilaksanakan finisfhin touch selama satu bulan.

Latar Balakang Sejarahnya

Sejalan dengan pada waktu yang sama dengan pelaksanaan Trikora maka persmian Monumen Gajahmada pada saat dan dalam suasana upacara Pelaksanaan sukarelawan-sukarelawan Trikora oleh Presiden Soekarno pada tanggal 1 juli 1962. Maka Monumen Gajahmada menanamkan tekad Sumpah Palapa ke dada setiap pejuang sukarelawan Indonesia yang akan maju ke medan pertempuran.


Tinggalkan komentar

HAY OVERLANDER GUIDE! “INI DIA INFO CANDI CANDI DI JAWA”


Dalam menjalankan tugasnya sebagai guide overland sering kita dihadapkan pada beragam dan menjelimetnya informasi yang harus disimpan baik baik dalam otak kita, belum lagi susahnnya mencari sebuah tulisan yg informative dan lengkap. Dengan bangga namun dengan kerendahan hati saya sajikan tulisan berikut yang merupakan sebuah hasil retype dari sebuah buku lama. Mudah mudahan informasi ini dapat memberikan warna tersendiri dan melengkapi kurangnya informasi yang sering terjadi di sana sini.
Menjelaskan informasi candi kepada wisatawan layaknya sebuah aktifitas fitness, dimulai dari yang paling ringan sampai yang terberat. Katakan lah ini sebuah fitness otak yang memerlukan pengulangan demi melekatkan informasi kita kedalam alam bawah sadar, sehingga informasi itu bagaikan sebuah nomor hanphone yg apabila ditekan itu nomor pacar kita maka yang menerima bukan calon mertua kita, akan tetapi calon istri kita. “maaf ga bisa lupain guyon”.

Karena pembahasan yg ini sangat sulit maka perlu diingat syaratnyapun lebih berat untuk memahami ini, ingin tahu syaratnya. check this ou:
1. Minta ampunan dosa kepada ibu bapak kita, baik yg masih ada maupun yg sudah tiada.
2. khusus untuk guide yg masih punya utang iuran anggota kpd HPI segeralah bayar. Hihihihi
3. Berjanji saling menyayangi antar guide dan menjunjung tinggi aturan HPI
4. Berteriak keras keras ” I am a real guide ” 33 x
” I am a legal guide” 33 x
” I must be a professional guide” 99 x
5. Minum air teh hangat yg banyak supaya tidak serak. hahahaha

Okay brother n sister
‘let’s get it on”

Daftar Isi
Pengantar
Pendahuluan

CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH SELATAN
• Candi Prambanan
• Candi Kalasan
• Candi Sewu
• Candi Lumbung
• Cnadi Plaosan
• Candi Sojiwan
• Kraton Boko
• Candi Borobudur
• Candi Mendut
• Candi Pawon
• Candi Sukuh

CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH UTARA
• Candi-Candi Di Dataran Tinggi Dieng
• Candi Gedong Songo

CANDI-CANDI DI JAWA TIMUR
• Candi Badut
• Candi Kidal
• Candi Jago
• Candi Singosari
• Candi Jawi
• Candi Panataran
• Candi Rimbi
• Candi Ratu

CANDI-CANDI DI LUAR JAWA
• Kelompok Candi Muara Takus
• Kelompok Candi-Candi Gunung Tua
• Kelompok Candi Padas di Gunung Kawai-Tampak Siring

Ciri-ciri Candi Langgam Jawa Tengah
1. Bentuk bangunannya tambun
2. Atapnya nyata berundak-undak
3. Puncaknya berbentuk ratna atau stupa
4. Gawang pintu dan relung berhiaskan kala makara
5. Reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalis
6. Letak candi ditengah halaman
7. Kebanyakan menghadap timur
8. Kebanyakan terbuat dari batu andesit
• Candi Prambanan
Sebelum kita melihat bangunan candi satu-persatu, terlebih dahulu kita perhatikan sebentar keadaan alam sekitarnya. Jika pada cuaca baik dan kita duduk di tengah candi di bawah pohon Ketapang yang rindang, kita akan merasakan udara yang tidak panas, tidak dingin, tidak basah, tidak kering atau dengan perkataan lain udaranya sejuk dan nyaman.
Bila kita menengok ke Gungung Merapi yang kebiru-biruan terlihat bermahkotakan awan yang putih. Memandang ke selatan terlihat deretan pegunungan seribu yang merupakan tembok penghalang dari angin laut kencang. Tanaman padi tumbuh subur menghijau di tanah yang datar dan subur. Memang, tanah daerah Prambanan termasuk subur karena letaknya di kaki Gunung Merapi. Maka tidak salah jika banyak onderneming-onderneming memilih daerah tersebut, untuk usaha perkebunan.Menilik dari pemilihan tempat yang demikian itu, kita dapat membayangkan bertapa pandainya nenek moyang kita memilih tampat untuk mendirikan candi-candinya. Sebelum melihat dan meneliti candi, kita lihat dahulu maket yang terdapat di kantor Dinas Purbakala yang terletak di sudut sebelah timur lapangan candi. Maket tersebut seperti tertera di bawah ini:

Maket tersebut menggambarkan keadaan candi secara keseluruhan, sebelum mendapat kerusakan atau dengan kata lain sebagai pola untuk pembangunan kembali seluruhnya. Sesudah melihat maket dan kemudian melihat candi dalam keadaan sekarang, kita akan membandingkan serta mengetahui kekurangannya. Begitu juga dengan melihat maket, kita akan menggambarkan keadaan semula bentuk candi, kemudian baru dapat menetapkan menghargai nilainya.
Maket yang kita lihat mengambarkan rekonstruksi, seperti sudah diterangkan di atas, dari ujud yang asli dan terdiri dari latar persegi panjang dikelilingi tembok batu berbentuk bujur sangkar dengan garis tengah agak menyimpangbeberapa derajat dari jarum kompas. Latara belakang yang dikelilingi tembok ini, luasnya kira-kira 390 meter persegi dan untuk memudahkan uraian selanutnya kitsa sebut saja latar bawah.
Di dalam latar bawah terdapat latar lagi, kita sebut latar tengah yang temboknya keliling berjalan tidak sejajar dengan tembok dari latar bawah. Latar tengah ini bentuknya segi empat dan luasnya 222 meter persegi. Di tengah-tengah latar terdapat latar, kita sebut latar atas, bentuknya persegi empat dan tembok kelilingnya berjalan sejajar dengan tembok dari atar tengah: luasnya 110 meter persegi.
Latar bawah, tengah, dan atas masing-masing mempunyai empat pintu gerbang. Pada latar atas dan tengah, pintu gerbang tterletak di tengah-tengah tembo masing-masing. Sedangkan pada latar bawah, yaitu gerbangnya tidak terletak ditengah-tengah tembok keliling, tetapi dihaapkan sejurus sehingga3 intu gerbang dari 3 latar itu letaknya segaris. Latar bawah sama tingginya dengan tanah sekitarnya, sedangkan latar tengah sifatnya mendaki, terdiri dari datran-dataran yang meningkat dari bawah ke atas hingga empat deretan candi yang mengelilingi latar di atasnya. Sedangkan latas atas yang letaknya di atas sendidri, sifatnya rata dan mendatar, jika dibandingkan dengan latar bawah letaknya beberapa meter lebih tinggi dan merupakan latar yang terpenting.
Bila kita melihat di latar ke 3 kita mulai dengan latar bawah. Dalm maket , latar bawah terdapat kosong, kakrena sampasekarang belum dapat diketahui apa sebenarnya yang terdapat di atas latar bawah pada waktu dahulu. Mungkin juga candi-candi seperti di latar tengah, mungkin juga hanya ditanami pohon-pohon yang indah dan rimbun serta diergunakan sebagi hiasan atau tempat berteduh.
Kemudian kita beralih pada latar tengah sebagaimana diterangkan di muka, merupakan 4 dataran yang meningkat ke atas. Di atas dataran yang paling rendah terdapat 68 buah candi kecil, berderet dengan teratur sejalan dengan tembok yang mengelilingi latar tengah dan terbagi dalam 4 deretan oleh jalan penghubung antara pintu gerbang latar tengah dengan pintu gerbang latar aatas. Di atas dataran ke dua yang terhitung dari bawah, terdapat 60 buah candi kecil seperti di latar bawah. Selanjutnya diatas dataran ke tiga sterhitung dari bawah terdapat 52 buah candi dan di atas dataran ke empat yang tertinggi terdaat 44 buah candi. Deretan candi tersebut juga melingkar, sejajar ddengan dua deretan yang dibawahnya. Semua candi di latar tengah sama bentuknya, masing-masing mempunyai luas dasar 6 meter persegi dan tingginya 14 meter.
Sesudah selesai melihat keadaan latar tengah, sekarang beralih pada latar atas yang merupakan latar terpenting danseperti sudah diterangkanbahwa sifatnya mendatar rata. Di latar atas terdapat 2 candi besaar yang berhadaan satu sama lainni. Asing-masing deret terdiri dari 3 buah candi yang ada di dalamnya dan semua menghadap ke barat, yang ada di ujung utara bentuk dan besarnya sama dengan yang ada di ujung selatan, masing-masing mempunyai luas dasar meter persegi dengan tinggi 22 meter. Dalam deretan sebelah barat terdapat juga tiga buah candi menghadap ke timur dan semuanya lebih besar dari pada candi candi dalam deretan timur yang dihadapi.
Dari 3 buah candi yang letaknya di ujung selatan dan ujung utara, bentuk dan besarnya sama yang masing-masing mempunyai luas dasar meter persegi dengan tinggi 23 meter. Sedangkan candi yang berada di tengah, yakni candi terbesar dan tertinggi yang merupakan candi induk, memunyai uas dasar 34 meter persegi dengan tinggi 47 meter.
Di antara dua derertan dan 3 candi tersebut di atas, di ujung selatan dan utara dari jalan yang memisahkan dua deretan candi tersebut, terdapat sebuah cand kecil yang mempunyai luas dasar 6 meter persegi dengan tinggi 16 meter.
Di latar atas, kecuali terdapat 8 buah candi tersebut, masih ada 8 buah candi kecil lainnya. Empat bah terletak di pintu gerbang latar atas. Masin2masing candi kecil ini mempunyai luas dasar1,55 meter persegi dengan tinggi 4,10 meter.
Perlu diperhatikan bawa bila kita sudah melihat susunan dari keseluruhan candi, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa orang-orang yang membangun candi tersebut menganggaa bahwa candi induknya kurang penting yakni, bila dibandingkan dengan mercu kecil yang tidak seberapa menarik perhatian. Meercu tersebut terletak di sudut sebelah selatan dari tangga rtimur dan kelihatannya sebagai salah satu titik pusat lapangan percandiaan seluruhnya.
Candi Loro jongrang yang megah dengan 5 buah candi besar dan 2 bah candei apinya, terpaksa harus mengalah terhadapnya dan terdesak sediklit ke sebelah utara. Penemuan ini didapat selama penelitian dan hal yang demikian dapat juga dilihat pada candi-candi lain. Jika sejenak kita memperhatikan sisitim pembangian seperti yang terdapat di Candi Prambanan, yaitu ada 3 latar yang berbeda letak dan isinya, maka kita akan ingat akan pembagian ruangan pada rumah Jawa Asli(Jogja, Solo), rumah dan kuil Bali serta susunan Kraton (jogja, Solo).
Ruamah asli Bali juga terdiri dari 3 ruangan. Ruang pertama yang letaknya paling depan adalah kosong digunakan, didgunakan untuk bekerja sehari-hari atau untuk kandang ternak, rauang ke dua yang letaknya dibelakangnya. Merupakan tempat tinggal keluarga. Sedangkan ruang ke tiga yang letaknya paling belakang adalah ruang terpenting, karena dipergunakan untuk upacara keagamaan. Kuil di Bali juga terdiri dari tiga ruangan dan yang terpenting ialah ruang ke tiga, yakni berisi patung Siwa, Wisnu dan Brahma..

CANDI SIWA

Sesudah kita memperhatikan maket dan mengetahui garis-garis besarnya, sekarang kia melihat candinya satu demi satu. Kita mulai daricandi induknya yang disebut candi Siwaatau yang telah dikenal dengan sebutan Candi Loro Jongrang. Candi siwa ini sudah rusak. Mulai dibangun kembali pada tahun 1918, selesai dan dibuka dengan resmi oleh Presiden Soekarno pada tanggal 20 Desember 1953. Candi Siwa ini adalah candiyang terbesar, terletak di tengah deretan sebelah barat menghadap ke timur.
Candi ini disebut Candi Siwa karena didalamnya terdapat patung terpenting dan terbesat yanmg letaknya di kamar terbesar. Dengan gambaran demikian , dewa Siwa mendapat penghormatan lebih dari pada dua dewa lainnya. Sedangkan menurut pelajaran agama Hindu yang mendapatkan penghormatan tertinggi ialah Dewa Brahma yakni sebagai pencipta alam, kemudian Dewa Wisnu sebagai pemelihara alam dan Dewa Siwa sebagai perusak alam.
Tetapi untukdi Jawa, penghormatan dan kedudukan dewa-dewa tersebut agak berlainan. Yang terpentin adalah Dewa Siwa, ke dua Dewa Wisnu dan ketiga Dewa Brahma. Dewa Siwa mendapat enghormatan tertinggi, karena ada anggaan bahwa sesudah merusak ia akan menciptakan kembali. Oleh karena itu ada yang menghormatinya sebagai Maha Dewa, tetapi ada juga yang menghormat Siwa sebagai Dewa Kal, yakni dewa Perusak yang mempunyai empat tangan. Pandangan yang demikian ini, sekarang masih terdapat di Bali.
Jika kita, sebelum melangkahkan kai di tangga batu dan melihat menghadap candi Siwayang terdapat disebelah kanan kiri dinding tangga, maka terlihat pada kaki candi suatu candi kecil yang beratap tinggi seerta mempunyai kamr kecil yang berisi sebuah patung. Patung-patung kecil yang terlepas berdiri di antara 2 tiang, di atasnya terlihat menonjol ke luar gambar gabungan ka makara. Candi kecil semacam ini, terdapat di kanan kiri tiap tangga masuk.
Bila kita mengelilingi kaki candi dari luar, akan terlihat pada dinding kaku dua macam gambar yang berdampingan berganti-ganti. Yang pertama menggambarkan gambar kecil yang menonjol keluar dan berisi seekor singa berdiri diantara dua tiang, di atasnya terdapat kala makara. Gambar yang demikian ini juga terdapat pada semua didndin 5 candi besar lainnya, yang ke dua menggambarkan suatu pohon yang daunnya terphat halus dan dikanan bawah terdapat gamba hewanhewan yang terdiri dari: kijang, merak , kambing jantan, kelinci, kera , angsa dan lain lain. Sedangkan pada 5 candi besar lainnya, berupa burung berkepala manusia yang disebut Kinara.
Bila memasuki Candi Siwa, kita harus mendaki melalui tangga yang menghadap ke selatan, barat atau utara. Kemudian naik tangga ke atas, kita sampai di kamar besar yang letaknya di tengah- tengah bangunan candi dan di dalamnya berdiri patung Siwa yang besar.
Sebelum masuk ke dalam kamar, pada tangga terakhir dan sebelum sampai di pintu gerbang yang berdidri sendiri, beraatap dan di bagian depan akan terlihat gambar makara. Dikanan kiri pintu gerbang tersebut, pada setiap sudut luar terdapat suatu kamar yang beratap. Di dalam kamar berdiri sebuah patung Siwa yang membawa alat pemukul, menggambarkan penjaga pintu masuk. Patung penjaga semacam itu juga terdapat pada kebanyakan candi siwa yang ditempatkan di kanan kiri pintu masuk utama. Dipintu masuk lainnya, tidak terdapat penjaga-penjaga pintu seperti tersebut di atas. Pintu gerbang berata dan bermakara, kecuali pada tangga tersebut di atas yang juga terdaat pada semua tangga dari semua candi besar. Bangunan semacam ini pada waktu sekarang kita dapati juga pada rumah-rumah para bangsawan yang disebut regol, merupakan tempat penjagaan bagi peronda.
Sesudah melalui pintu gerbang yang beratap dan bermnakara ini, kita sampai pada gang terbuka. Dari tempat ini dengan membelok ke kanan atau ke kiri, dapat masuk di gang yang terus naik masuk di bagian depan kamar Siwa. Sebuleum masuk ke kamar depan, jika menengok ke atas akanterlihat gambar makara yang sangat besar. Kemudian kita masuk ke kamar depan yang agak pnjang dan lebar, merupakan salah satu dari 4 kamar yang melingkari kamar Siwa dan tempatnya di tngah-tengah.

Gambar 1. Candi Induk Kelompok Loro Jongrang
(Photo Lembaga Purbakala)

Perbedaannya, bahwa 3 kamar lainnya berisi patung seperti Guru, Ganesha dan Durga. Tetepi dikamar ini tidakl terdaat suatu apa, hanya sebagai kamar depan yang merupakan jalan masuk ke kamar Siwa. Baru sesudah melalui kamar depan, kita masuk dalam kamar Siwa. Di tengh-tengah kamar di atas landasan batu, berdiri patung Siwa yang dengan khidmat seperti mengheningkan cipta. Jika kita amati antara batu dan landasan kaki patung terdapat batu bundar berbentuk bunga teratai. Pada landasan bagian atas dibuat saluran keliling dan keluar melalui mulut naga di bagian utara batu landasan. Pada waktu dahulu jika patung dicuci dengan cucican yang mengalir ke bawah masuk di saluran kemudian keluar melalui mulut naga dan ditampung di jambangan air. Air cucian ini dianggapa mempunyai kekuatan gaib dan banyak orang ingin memilikinya.
Di atas landasan yang tingginya satu meter ini, berdiri atung Siwa yang menggambarkan raja Balitung.patung ini terbuat dari batudan tingginya 3 meter terhitung dari kakinya. Tanda-tandanya sebagai Siwa dapat dilihat: tengkorak dan sabit di mahkotanya, bermata tiga di dahinya, kulit harimau yang terganutung di pinggangnya, tangan kanan belakang memegang tasbih, tangankri belakang memegang penyapu lalat dan di belakang nya berediri senjata trisula.tangan depan kanan kiri dalam sikap sesuai dengan rautmuka dan pandangan matanya yang sedang bersemedi. Lengan kanan dan kiri menggenakan gelang (kelat bahu), berkalung susun di lehernya, tangan dan kaki memakai gelang, bermahkkota penuh dengan mutu manikam dan selendadng ular yang kealanya terlihat dari atas.
Semuaperhiasan tersebut mengambarkan seorang raja yang berpakaian kebesaran. Memang Raja Balitung digambarkan sebagai Dewa Siwa. Mengingat hal yang demikian sudah selayaknyalah bahwa Raja Balitung dipandang sebagai penjelmaan Dewa Siwa dan dihormati sebagai Dewaq Siwa. Maka setelah wafat raja Balitung dicandikan sebagai Siwa, untuknya dibuatkan patung yang dihormati dan dipuja oleh keturunan dan rakyatnya. Raja Balitung kecuali seorang raja, tettttapi juga seorang pendeta atau pemimpin agama.
Di bawah landasan patung terdapat suatu sumur yang dalamnya 13 meter dan berisi tanah. Pada kira-kira 5.75 meter didtemukan sebuah peti batu dengan tutup yang terletak di atas tanah berecampur arang dan barang serta tulang-tulang hewan. Tulang-tulang tersebut berasal dari kambing dan ayam, di antaranya terdapat lembaran-lembaran kecil dari emas dengan tulisan yang berbunyi Waruna sebagai nama Dewa Laut, dan Prawata sebagai Dewa Gunung. Di dalam peti terdapat lembaran-lembaran kecil dari emas dan kuningan, yang di bagi-bagi dalam petak-petak dan bercat, juga campuran arang, abu dan tanah. Abu tersebut berasal dari hewan yang dibakar. Ddalam peti itu juga terdapat 20 buah mata uang, berupa batu permata, merjan, potongan lembaran emasyang 5 diantaranya berbentuk kura-kura, naga, bunga teratai, tempat upacara agama, telor, sedangkan yang lainnya memuat tulisan tulisan.
Kita msih di dalam kamar itu juga. Jika kita melihat dengan teliti, ternyat terlihat bahwa pada didinding kamar ternyata dihias dengan sangat halus. Jika kita amati benar-benar ternyata hiasan itu aada tiga bagian yang terpisah dan berlainan. Bagian tengah dihias dengan gambarcakra dan trisula dalam bentuk bunga, sedangkan bagian kanan kirinya dihias dengan gambar bunga mawar. Sesudah melihat-lihat isi kamar tersebut, kemudian kita keluar dan membelok ke kiri. Gang ini adalah gang bagian pertama menuju ke pintu masuk dan menuju kamar Guru, yang sebenarnya mempunyai tangga masuk tersendiri, menghadap ke selatan dan sama keadaannya seperti tangga di depan kamar Siwa serta tangga-tanga yang lain. Gang ini berbelok-belok dengan menyudut dan belokan tersebut membagi dinding gang dalam enam bagian. Pada dinding tersebut digambarkan relief cerita Ramayana yang terdapat pada dinding.
Relief sebelah atas terdapat dua macam bentuk gambar. Gambar pertama menggambarkan kamar kecil bertiang dua, di atasnya terdapat kala atau makara. Di dalam tiap-tiap kamar kecil tersebut, terdapat tiga buah patung yang menggambarkan laki-laki dan perempuan saling berpelukan. Sedang gambar ke dua menggambarkan para penari dan pemukul bunyi-bunyian dalam sikap yang beraneka ragam. Yang sangat menarik perhatian ialah, bahwa bentuk dan sikap yang digambarkan sangat sesuaidengan sikap menusia seseungguhnya.
Sesudah melihat gambar-gambar di gang pertama, kita naik tangga batu sampai kepada jalan masuk ke kamar Guru yang menghadap ke selatan, menghadap candi Brahma. Dari luar sebelah selatan, kita dapat juga sampai di kamar ini dengan melalui tangga. Kita masuk kek kamar Guru yang berbentuk patung Siwa. Kamar dan patungnya lebih kecil, bila dibandingkan dengan patung Siwa yang lain. Dinding kamar tidak terhias.
Dari kamar guru ini kita keluar dan membelok ke kanan, masuk gang ke dua yang keduanya sama dengan gang pertama. Relief cerita Ramayana yang terdapat pada dinding gang merupakan kelanjutan cerita yang terdapat pada dinding gang pertama. Dari gang ke dua kita masuk ke kamar yang ke tiga.Kamar ke tiga ini menghadap ke barat dan berisi patung Ganesha yang berkepala gajah melambangkan Dewa Bahagia, sedang duduk dengan perut yang gendut. Pada patung tersebut terdapat tasbeh di tangan kanan belakang, kampak di tangan kiri belakang, satu kotak di tangan kiri depan yang sedang dihisap oleh belalainya dan salah satu dari gadingnya yang terputus dipegang ditangan kanan depan. Pada mahkotanya terdapat tengkorak dan bulan sabit sebagai tanda bahwa Ganesha adalah anak dari Siwa. Patung Ganesha ini melambangkan putera mahkota, juga sebgai patih dan panglima perang dari Raja Balitung.
Sesudah melihat kamar Ganesha, kita keluar membelok ke kanan masuk gang ke tiga yang sama keadaannya dengan gang terdahulu, hanya gambarnya melakukan cerita Ramayana yang terlukis pada dinding. Gambar tersebut merupakan cerita lanjutan dari cerita Ramayana. Dari gang ke tiga ini, kita masuk kamar ke empat yang menghadap ke utara Candi Wisnu. Di dalam kamar ini Patung Durga sebagai istri Siwa. Durga digambarkan berdiri di atas banteng Nandi yang sudah dikalahkan. Banteng tersebut sebetulnya adalah mahluk jahat yang menyamar dan sesudah dikalahkan, mahluk jahat tersebut ditarik dari badan banteng, lalu menunjukkan sifat sesungguhnya. Durga adalah Dewi Kematian, oleh karena itu menghadap ke arah utara yang merupakan mata angin kematian. Patung Durga ini dimaksudkan utnuk menggambarkan permaisuri Raja Balitung.

Gambar 2. Durga Mahisauramardani ( Loro Jonggrang )
[Gambar. Lembaga Purbakala]

Patung Durga oleh penduduk sekitarnya juga disebut Patung Loro Jongrang. Disebut Loro Jonggrang, yakni menurut legenda penduduk Prambanan akhirnya berkembang menjadi cerita rakyat. [baca Bandung Bandawasa: karya Pak Soet [drs. Soetarno], cetakan 1983. menceritakan Bandung dengan dibantu oleh ayahnya dan badan halus yang lain, membuat candi].
Garis besar cerita dari Lara Jonggrang adalah sebagai berikut: Seorang raja bernama Baka, yang bertahta di keraton atas gunung Baka sebelah selatan Prambanan, mempunyai seorang putri yang cantik jelita bernama Lara Jongrang. Seorang ksatria yang gagah perkasa dan sakti menginginkan meminang Lara Jonggrang sebagai istrinya, tetapi Lara Jongrgrang tidak menyukainya. Untuk menolak secara harus pinangan Bandung (nama kesatria yang meminang itu). Lara Jonggrang mengajukan tuntutan agar Bandung dapat memenuhi permuntaannya sebagai mahar. Mahar itu berupa 1.000 buah candi yang dibuat dalam waktu semaam. Bila Bandung dapat memenuhi permintaannya, Lara Jongrang bersedia dijadikan istrinya.
Bandung yang perkasa dan sakti, karena ingin sekali memenuhi permintaan Lara Jonggrang yang dicintainya, maka dia memanggil beribu-ribu badan halus untuk membuat candi yang diminta oleh Lara Jonggrang. Bandung dengan dibantu oleh beribu-ribu badan halus bekerja giat membuat candi sejak matahari terbenam, hingga semalam suntuk. Ketika malam hampir berakhir, tinggal sebuah candi yang belum jadi, Lara Jonggrang yang semalam suntuk tidak tidur dan selalu mengikuti jalannya pembuatan candi, merasa gelisah settelah mengetahui bahwa pembuatan candi hampir selesai yang berarti Bandung dapat memenuhi permintaannya. Apa yang akan terjadi ? padahal Lara Jonggrang ridak mencintai Bandung dan tidak sudi menjadi istrinya. Akhirnya Lara jonggrang menemukan akal baru, ia bermaksud menggagalkan pekeerjaan Bandung. Maka segera saja Lara Jonggrang keluar dari istana dan memerintahkan pada semua perawan untuk bangunserta mulai menumbuk padi dengan sekejap mata, seluruh daerah sekitar istana terdengah pukulan lesung bertalu-talu sangat ramainya. Para badan halus yang mendengar suara gemuruh disekitarnya dan suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan, mengira bahwa waktupajar sudah tiba, maka mereka segera lari terbirit-birit mewninggalkan tempat kerjanya karena takut kesiangan dan diketahui oleh manusia.
Melihat kejadian tersebut, Bandung merasa cemas. Dan ketika mengetahui tipu muslihat yang dilakukan oleh Lara Jongrang, Bandung sangat murka. Lara Jonggrang diumpat dan dikutuk menjadi patung yang sangat indah, yakni untuk melengkapiseribu candi permintaan Lara Jonggrang yang kurang satu. Para peerawan Prambanan disumpahi agar menjadi perawan tuabaru laku kawin.
Hingga sekarang timbul suatu kepercayaan, bahwa candi Durga yang beerada di Candi induk Siwa itu adalah penelmaan Lara jonggrang. Candi tersebut merupakan tempat Ziarah muda mudi yang ingin lekas mendapatkan jodo dan para pasangan yang ingin mendapatkan anak. Sayang arca ini yang indah ini telah rusak hidungnya, disebabakan tangan-tangan jahil. Memang arca itu indah sekali. Bila dilihat dari kejauhan tampak seperti hidu dan tersenyum.
Setelah melihat dan mengagumi kecntikan Lara Jonggrang, kita turun masuk gang yang ke empat sebagai yang terakhir. Keadaaannya sama dengan gang lainnya, dindingnya dihiasi relief Ramayana dan merupakan lanjutan dari cerita Ramayana. Dari gang keempat dan terakhir ini, kita keluar dari candi melalui tangga asalkita mula-kula memeasuki candi tersebut.
Adapun ceritra Ramayana yang terdapat pada relief di dalam gang Candi Siwa, urutan-urutannya seperti di bawah ini.

1. Di sebelah kiri, terlihat Wisnu duduk di atas luar dunia Ananta yang baru timbul dari laut dimana terdapat banyak ikan. Dibelkang Wisnu terlihat Garuda sedang memberikan bunga teratai biru kepada Wisnu. Didepan Wisnu, terlihat para raja yang meminta agar Wisnu suka turn ke dunia untuk memberantras perbuatan Rahwana yang sedang membuat kekacauan.
2. Terlihat keadaan petamanan Kraton Dasarata dari Ayodya. Sang mata sedang duduk bersama permaisuri dan membicarakan sesuatu, tiba-tiba datanglah seoerang abdi yang mengatakan ada tamu ingin menghadap. Di belakang sang Nata, terlihat seorang puteri dan di depan sang Nata terlihat ke empat orang puteranya, di antaranya terdapat Rama sebagai titisan Wisnu yang sudah ditaakdirkan untuk membunuh rahwanan yang sedang membuat kekacauan. Gajah dan kuda, merupakan lambang kebesaran raja.
3. Terlihat keadaan keraton dan sang pertapa Wisnu mitra sebagai tamu duduk di tempat yang agak tinggi, sedang minta kepada sang Nata agar memberikan izin pada puteranya untuk turut dengan sang pertapa untuk membunuh para raksasa yang menggangu sang pertapa sewaktu mengadakan sajian sebagai korban. Di depan sang pertaa duduk sang Nata dan dibelakangnya duduk para istrinya. Di sebelah kanan terlihat Rama bersama saudaranya, yaitu Laksamana.
4. Wiswamitra, Rama dan Laksanan dalam perjalanan ke tempat pertapa Wiswamitra melalui hutan yang sedang tidak aman, karena perbuatan raksasa perempuan bernama Tataka. Mereka berjumpa dengan Tataka dan Rama berhasil membunuhnya.
5. Terlihat tempat pertapa Wiswamitra yang sedang dirusak oleh para raksasa. Sesudah Wiswmitra, Rama dan Laksamana datang di situ dan para raksasa dibunuh oelh Rama. Marici pemimpin raksasa terlemar ke laut dan raksasa lainnya terbunuh. Sesudah aman kembali Wiswamitra mengadakan korban dengan saji-sajian.
6. Dalam Keraton Raja Janak sahabat Wiswamitra, hadir Wiswmitra, Laksamana Rama dan Raja Jenaka. Atas anjuran Wiswa mitra, dealam perlombaan Rama dapat menarik p[anah gaib dari Jenaka (di sebelah kanan) dan dilihatnya terlihat Sinta, yakni puteri raja Janaka beserta para pengiringnya, yang kemudian (Sinta) yang kemudian menjadi idtrinya karena Rama menang dalam perlombaan.
7. Sesudah kawin Rama kembali ke Ayodya bersama dengan Sinta dan Laksamana. Dalam perjalanan pulang, mereka berjumpa dengan Paracurama (berjanggut) yang mendengar bahwa Rama kuat menarik panah Janaka. Paracurama menantang Rama untuk menarik panahnya dan jika berhasil boleh membunuhnya, tetapi jika gagal Paracurana akan membunuh Rama.
8. Rama terbukti dapat menarik padnah Paracurana dan memenangkan perlombaannya. Tetapi Rama tak mau membunuh Paracurana dan minta kepda Paracuranan untuk emberikan apa yang ingin dilepaskan sebagai miliknya. Paracurana memilih melepaskan sorganya yang sudah dimiliki dan kemudian Rama memanahnya hingga lenyap.
9. Di keraton Ayodya, Dacarat sudah memutuskan untuk mengangkat Ramasebgaai penggantinya. Di luar istana sudahdiadakan sajian-sajian dan seluruh kota dihias, tiba-toiba isteri ke dua dasarata, yaitu kekayi yang mengetahui bahwa Rama akan diangkat jadi raja pengganti Dacarat berjanji kepaada kekeyi akan meluluskan dua peermintaaannya. Kekaki minta agar Rama dibuang ke hutan dan mengangkat Bharara, anak Kekayi diangkat sebagai penggantinya.
10. Terlihat penobatan Bharata, saudara Rama anak Dacarata dari istrinya ke dua, yani kekeyi. Do kota diadakan keramaian, terlihat rombongan penari dan seperangkat alat bunyian.
11. Sesudah Rama dibuang, Sang Nata dengan permaisuri Kansaliya (ibu Rama)sedang bersedih karena putusannya.
12. Terlihat Rama. Laksamana dan Sinta meninggal keistanan danpergi ke hutan.
13. Dacarata, karena menanggung sedih meninggal dunia.jenazahnya terlihat sedang diistirahatkan dalam peti sebelum di bakar. Olej kausaliya dan Barata dibagi-bagikan zakat kerpada para Brahmana.
14. Batara mengunjungi Rama di hutan dan minta kepada Rama agar mau kembali ke ayodya untuk memegang kerajaan. Rama menolaknya, tetapi Baraata memaksanya. Timbul kata sepakat antara Rama dan Barata, bahwa Barata tetap menjadi raja di Ayodya untuk mewakili Rama, karena Rama akan melanjutkan darmanya. Sebagai wakil dari Rama, kepada Barata diberikan tanda sandal Rama sebagai bukti bahwa barata menjalankan pemerintahan Ayodya atas nama Rama.
15. Perjalanan Rama, Sinta dan Laksamana didalam hutan. Sinta diculik oleh Raksasa Wirada, tetapi kedua satria itu dapat merebutnya dan raksasa raksasa tersebut berhasil dibunuhnya.
16. Cerita Rama, Sinta dan Burung Gagak. Sinta meletakkan dangin kijang di luar (tergantung di atas pohon, terlihat dua ekor kera). Seokor burung gagak akan mencuri daging itu, namun ketika diusir oelh sinta burung gagak menyerangnya, sehingga Sinta lari kepada Rama yang kemudian melepaskan panahnya kearah si burung. Burung melarikan diri dan terus dikejar oleh panah, sehingga burung tersebut kembali kepada Rama utnuk meinta pertolongan. Tetapi panah harus mengenai sasarannya dan Rama meminta p[ada siburung agar memilih, mana yang harus dikenai dan burung minta agar salah satu dari matanya saja. Panah (diu bawah lengan Rama) terlihat menembus kepala si burung, kemidian lenyap.
17. Seorang putri raksasa, adik Rahwana yang bernama Cupanakka menyamar sebagai putri cantik, menyatakan cintanya pada Rama dengan membri hadiah-hadiah agar dikawini.
18. Rama menolak permintaan Cupankka untuk mengawini dan menunjukkan Laksamana, tetapi Laksamana juga menolaknya.
19. Sinta dijaga oleh Laksamana, sedang Rama mengejar kijangkencana yang memperlihatkan diri. Memang ,seperti yang dimaksud oleh kijang, agar Rama meninggalkan Sinta.
20. panah Rama mengenai kijang. Raksasa Marici yang menyamar kijang kencana atas perintah Rahwana, sesudah terkena panah Rama keluar dari badan kijang kencana. Marici dengan meniru susara Rama mengaduh kesakitan, suara tersebut terdengar oleh Sinta, kemudian memerintahkan kepada Laksamana agar menolong Rama.
21. Rahwana menyamar sebagai pertapa mendekati Sinta dan menangkapnya.
22. Rahwana yang sudah berganti rupa lagisebagai Raksasa, terbang membawa lari Sinta. Burung Jatayu yang melihatnya terus menyerang dan berkelahi melawan Rahwana, tetapi kalah.Sinta sempat memberikan cincicnnya kepada Jatayu.
23. Jatayu yang sudah kalah dalam perang datang pada Rama dan sebelum menghembuskan nafasnya penghabisan , menyerahkan cincin Sinta kepada Rama. (dalam gambar Jatayu kelihatan masih segar bugar)
24. Seorang dewa yang terkutuk dan berganti rupa menjadi raksasa tidak berkepala (dalam gambar dengan kepala), tetapi mukanya terdapat dalam perut bernama Kabandha, menjumpai Rama dan Laksamana dalam perjalanannya. Raksasa itu menantang perang. Rama dalam berperang melepaskan anak panahnya untuk membinasakan Kabandha. Kabandha bergati rupa, kembali menjadi dewa dan terbang ke surga.;
25. dalam perjalanan lebih lanjut, Rama dan Laksamana menjumpai seekor buaya penjelmaan dewi dari surga yang terkutuk. Sesudah terkena anak panah Rama, buaya tersebut kembali lagi menjelma dewi dari khayangan dan kemudian terbang ke surga.
26. Rama dan Laksamana berjumpa dengan Hanoman yang menganjurkan agar pergi ke Sugriwas, Raja Kera.
27. Rama sudah lelah dan haus. Laksamana mengambil air dengan tempat anak panah ( Jawa, Endhong) tetapi airnya berasa asin, karena air itu sebetulnya air mata Sugriwa yang sedang menangis di atas pohon karena kehilangan kedudukannya sebagai raja dan permaisuri direbut oleh saudaranya., Walin.
28. sugriwa berjanji akan melawan Rahwana dan mencarikan Sinta, apabila Rama bersedia membantunya merebut kembali kerajaan dan permaisurinya yang direbut oleh saudaranya, yakni walin Sugriwa mweminta Rama agar menunjukkan kekuatan dan kecakapannya memanah, lalu Rama melepaskan anak panahnya yang dapat menmbus tujuh batang pohon kelapa yang beerderet.
29. Rama akan membunuh Walin dengan melepaskan anak [panahnya, kalau Sugriwa dan Walin sedang berperang. Tetapi karena sugriwa dan Walin anak kembar dan berwajah sama, Rama tidak dapat mengenali mana Sugriwa dan mana Walin. Oleh karena Rama tak berani melepaskan anak panahnya. Pertempuran antara sugriwqa dan Walin sangat seru. Ternyata Sugriwa kalah dalam perang tanding tersebut.
30. sesudah Sugriwa menggenakan daun-daunan agar dapat dikenali oleh Rama, maka perang antara Walin dan Sugriwa dimulasi lagi. Dengan adanmya tanda pengenal tadi, Rama dapat membunuh Walin dengan anak panahnya.
31. Sugriwa kembali menjadi Raja kera dan mendapatkan kembali permeisurinya yaitu Dewi Tara. Untuk mersyakan kemenangan tersebut, diadakan pesta meriah bersama para kera ank buah Sugriwa.
32. rama,Laksamana dan Sugriwa bersam-sama pergi ke tempat perundingan di pantai untuk mengatur rencana selanjutnya.
33. Rama dan Laksamana serta Sugriwa sedang berunding.
34. sugriwa dengan diikuti oleh parapanglima kera yang ada di belakangnya, mengusulkan kepada Rama dan Laksamana agar mengirimkan pemimpin-peminpin kera untuk mencari Sinta. Di belakanng Rama terdapat istri-istri Sugriwa yang berparas manusia ayu, sebagai pengisi ruangan digambar istana kera dan kelihatan terdapat gambar kera yang berada di atas atap.
35. hsanoman dalam mencari Sintasudah sampai di petamanan istana Rahwana, raja raksasa di Alengka. Hanoman bersembunyi dio belakang tumbuh-tumbuhan dan diketahui oleh seorang abdi perempuan Sinta. Hanoman bertemu dengan Sinta dan menceritakan tentang maksud dan tujuannya.
36. hanoman tertangkap oleh para raksasa dan akan dihukum bakar. Untuk membakarnya Hanoman dibungkus dan diikat dengan kaiin.
37. sesudah dibungkus, ekor Hanoman disiram minyak kemudian dibakar. Hanoman dapat melepaskan diri dan dengan ekornya yang terbakar ia meloncat-loncat diatas atap rumah-rumah serta membakar istana Rahwana.
38. Sesudah Hanoman kembali dari Alengka, ia menceritakan kejadian yang telah dialaminya kepada Rama, Laksamana dan Sugriwa.
39. Rama marah kepada dewa laut, karena diminta agar menunjukkan dirinya dan memberikan nasihat kepadanya tetapi tidak dihiraukan. Apabila dalam waktu dekat permintaan Rama tridak dihiraukan, laut akan dipanahnya hingga menjadi kering. Dewa laut takut kepada Rama, sehingga kemudian menampakkan dirinya dan memberikan nasihat kepada Rama. Dewa laut menasehatkan agar Rama membuat jembatan menuju Alengka.
40. para kera mengngkut batu dan melmparkannya ke laut, sedang ikan membantunya untuk menyusun bat-batu.
41. sesudah jembatan selesai, Rama, Laksamana dan Sugriwa dengan diikuti oleh tentara kera menyebrangi jembatan menuju Alengka.

CANDI BRAHMA

Candi Brahma letaknya disebelah embatan Candi Siwa, bentuknya lebih kecil dari Candi Siwa. Bebentuk empat , sudutnya mewnonjol ke luar. Bila dilihat dari luar pada dinding batu terdapat kamar kamar berisi singa berdiri yang terletak di antara dua tiang dan di atasnya terdapat gambar kala-makara. Candi Brahma berlainan dengan Candi Siwa. Candi Siwa hanya mempunyai satu pintu masuk yang menghadap ke timur. Dengan melalui pintu tersebut, kita naik tangga dan melalui pintu gerbang masuk ke satu-satunya kamar yang ada. Di dalam kamar terdapat patung Brahma sebagai dewa yang berkepala empat. Dewa tersebut adalah Dewa Pencipta Alam.
Patung Brahma itu sesungguhnya sangat indah, tetapi sekarang sudah rusak. Di bawah patung juga terdapat sebuah sumur. Sumur tersebut tidak berisi sesuatu apa pun kecuali tanah. Dinding kamare tersebut tidak dihias, hanya terdapat pada tiap sisi dinding satu batu yang menonjol tempat lampu minyak penerangan. Dari bawah membelok ke kiri, dari kiri membelok ke kanan, ssampailah di kamar melalui gang. Gang ini mengelilingi kamar Brahma dan pada dindingnya terdapat relief gambar lanjutan dari cerita Ramayana yang ada di candi Siwa. Diceritakan perang antara Rama, Laksamana dan tentara kera melawan Rahwana. Di antara nya kelihaatan Kumbakarna yang besar dan gagah perkasa diserang oleh beratus-ratus kera hingga mati, juga dalam perang ini Rahwana mati terbunuh. Sinta ditemukan kembali. Tapi Rama meragukan kesuciannya. Rama pada saat itu sudah mendapatkan kembali pimpinan atas kerajaannya dan terpaksa mengusir Sinta. Sinta pergi mengembara ke hutan dan melahirkan anaknya. Seorang pertapa menemukan dan memberikan perlilndungan padanya.

CANDI WISNU

Candi wisni terdapat disebelah utara Candi Siwa. Benmtuk, ukuran, serta relief dinding dan perhiasan dinding luar, sama dengan candi Brahma. Candi tersebut juga hanya mempunyai satu jalan masuk menuju kamar. Dalam kamar tersebut terdapat patung Dewa Wisnu. Dewa Wisnu digambarkan sebagai dewa yang mempunyai empat tangan dan mempunyai alat-alat seperti alat pemukul, tiram dan cakra. Di bawah Patung Wisnu, juga terdapat sebuah sumur yang hanya berisi tanah. Dinding kamar tidak dihias. Hiasan hanya terdapat pada tiap sisi dinding, satu batu yang menonjol tempat lampu minyak untuk penerangan.

UNTUK Dewa wisnu seperti di bawah ini.

Dari kamar kira masuk gang yang melingkari Candi pada dinding gang terdapat gambar-gambar dari verita Krewsna sebagai berikut.
1. Puteri Raksasa bernama Putana sedang mencari anak-anak kecil dan sedang menyusui Kresna serta saudara laki-lakio Kresna yang bernama Balarama, sedangkan air susunya mengandung racun ayng dapat mematikan. Karena tahu bahwa susu itu beerisi racun, maka Krewsna memegang susu iotu dengan sekuat tenaganya dan menghisap nyawa Putana hingga mati.
2. Kresna diikat pada lesung oleh ibu angkatnya yang bernama, Yakoda dan sedang sibuk mengaduk susu/untuk dijadikan mentega; waktu itu seharusnya Kresna sudah diberi minum, tetapi karena iar susunya sedang dimasak oleh ibu angkatnya dan susunya masih sangat panas, maka Kresna diletakkan di lantai. Karena itu Kresna menjadi marah, ia mengambil mentega dan menggosokkna badannya sendiri dan kera-kerea yang sudah jinak dengan mentega. Tentu saja ibu angkatnya marah.kresna diberi hukuman diikat pada lesung. Tetapi tali pengikatnya selalu kurang panjang, walaupun tali tersebut senantiasa disambung, namun masih kurang panjang. Tali pengikat Kresna akhirnya mengikat dirinya sendiri. Kemudia Kresna [pergi dan menyeret lesungnya, lesung beserta talinya menyangkut di antara pohon-pohon. Pohon yang tersangkut tali dan Kresna tumbang, sehingga lesungnya tertahan.
3. pohon nyiur di sebelah kiri mengambarkan hutan kelapa yang dialami oleh Dhenoeka, si Raksasa jahat yang menyamar sebagai keledai dan bersama dengan teman-temannya mengacau di hutan. Balarama memegang keledai pada kaki belakangnya dan memutarnyasedemikian rupa samapi lama di ataskepalanya, hingga keledai itu tak bernafas lagi. Sesudah itu keledai dilemparkan ke atas pohon kelapa dan dengan demikian raksasa yang jahat itu terbunuh.
4. anak-anak gembala sedang bermain-main. Satu di antaranya terdapat rambutnya ikal, dan sebutuknya adalah raksasa Palemba yang menyamar dengan maksud akan menggangguKresna dan Balarama.
5. menggambarkan perkalian antara Balarama dengan Pralemba. Berkali-kali Pralemba dapat dibunuh oleh Balarama, tetapi hidup kembali. Untuk membuat tipu muslihat, Kresna mengusulkan dalam perang nanti bahwa siapa kalah harus mendukung yang menang. Pralemba kalah mendukung Balarama di opunggungnya, dan sesudah di punggungnya balarama memukul kepala Pralemba sampai mati.
6. Terlihata banyak gambar sapi dan anak-anak gembala. Kresna sedang duduk membelakangi raksasa Arista yang menyamar sebagai banteng besar, dan sedang mengamuk di antara sapi-sapi lainnya. Karena ketakutan, sapi-sapi menggugurkan kandungannya. Balarama berdiri di belakang kresna dan menganjurkan agar jangan takut. Kresna menunjuk pada dirinya sendiri, seperti mau mewngatakan”saya akan membunuh banteng” seekor sapi mati mengambarkan semua sapi yang sudah mati dibunuh oleh Arista. Selanjutnya Arista menyetubuhi seekor sapi yang sedang menyusui anaknya. Kemudian Kresna mambanting raksasa dan banteng. Ini adalah Arista yang dibunuh oelh kresna, yang dengan kakinya menginjak lehernya.
7. dua orang perempuan sedang bermain-main dengan seorang anak kecil.
8. agaknya tentang matinya Tarunawarta. Dalam gambar terlihat dengan tangan, kepala dan kakinya ke atas menggambarkan raksasa Tarunawarta yang menyamar sebagai taufan dan melarikan Kresna. Tetapi Kresna membuat badannya menjadi sangat berat sehingga tidak dapat terangkat. Di dalam badan raksasa yang melengkung sebagai busur, terdapat seorang anak dan meurut penafsiran barangkali Kresna yang membunuh raksasa itu.
9. menggambarkan Kresna dan Balarama terjepit dalam lingkaran raj Ular Kaliya. Lalu dengan membesarkan badannya sedemikian besarnya, hingga ular terpaksa melepaskannya. Kresna dapat menghindarkan diri, kemudian membunuh ular tersebut.
10. barangkali gambar ular dengan mulut menganga keluar, gambar masih termasuk gambar nomer 9. ular yang mulutnya menganga itu berada di tengah hutan, di mana Kresna sedang menggembalakan ternaknya bersama-sama dengan anak gembala yang lain. Anak-anak gembala mengira, mulut ular tersebut adalah gua. Mereka kemudian masuk ke mulut ular yang menganga tersebut. Ketika Kresna ikut masuk, mulut ular itu menutup, Kresna membesarkan badannya sedemikian rupa, hingga mulut ular itu pecah dan dengan demikian anak-anak dapat tertolong semua.
11. menggambarkan matinya Sangkhacoeda. Dua orang anak mengejar seorang raksasa dan salah satu sudah memegang ikat pinggangnya, sedangkan yang lainnya menyepak dengan kakinya. Di kepala raksasa tersebut terdapat gambar tengkkorak. Pada gambar berikutnya, seorang raksasa dicekik oleh kresna dengan ikat pinggang. Cerita tersebut merupakan lanjutan dari cerita di depannya. Aa yang menafsirkan, bahwa cerita itu termasuk cerita Sankhacoeda.
12. dua orang Brahmana sedang sibuk berkorban. Barangkali dua Brahmana ini menggambarkan semua Brahmana yang dimaksud, dikirim sebagai utusan Kresna (seorang abdi berdiri di belakang seorang Brahmana) untuk minta makan (tetapi ditolaknya)

CANDI NANDI

Candi Nandi terletak dideretan sebelah timur. Candi ini mempunyai satu tangga masuk yang menghadap ke barat, tepat dijlan masuk Cndi Siwa, satu gang yang melingkari candi dan satu kamar. Jika dibandingkan dengan candi di sebelah kanan dan kirinya sama bentuknya, hanya kebih besar serta lebih tinggi. Dilihat dari luar, pada dinding kaki terdapat dua macam gambar yang berdamingan. Gambar pertama, merupakan kamar-kamar yang berisi seekor singa di antara dua tiang dan di atasnya gambat kala makara. Gambar ke dua merupakan suatu pohon yang daunnya terpahat halus dan di bawahnya di kanan kiri terdapat dua ekor burung. Gambar-gamabar semacam ini terdapat juga pada candi-candi lainnya di deretan sebelah timur. Juka kita msuk dengan melalui pintu masuk, kemudian masuk ke kamar, di dalmnya terdapat patung seekor lembu jantan besat berbaring menghadap candi Siwa. Lembu ini adalah Nandi, seekor lembu kendaraan Siwa.. kecualu patung Nandu,sseekotr ;emb kemdarran Siwa . kecuali patung Nandu dalam kamar terdapat dua patung llaunnya., patung yang satu menggambarkan dewa marahari “ Surya” berdiri di atas kereta ang ditarik oleh tujuh ekor kuda. Patung yang satunya lagi dmenggmbarkan dewa bulan “ Candra” berdiri di atas kereta yang ditarik oleh sepuluh ekor kuda. Dinding kamar seperti juga kamar dari dua candi lainnya, tidak dihias dan adanya batu menonjol pada sisi-sisi dinding untuk menempatkan lampu minyak sebagai pennerangan. Jika kita masuk gang, terlihat bahwa dinding gang belum berisi gambar seperti pada tiga candi besar dalam deretan barat.

CANDI ANGSA

Candi ini letaknya disebelah selatan Candi nandi, berhadapan dengan Candi Brahma. Hanya mempunyai satu tanga masuk, suatu kamar dan satu gang. Sepeerti candi Nandi dan candi lainnnya, belum dibangun kembali sehingga tidak dapat dilihat bentuk aslinya.
Dilihat dari luar, diding batu dihias dengan gambar sseperti pada Candi Nandi. Jika kita memasui kamar, di dalamnya kosong. Kita hanya dapat mengkiaskan bahwa candi ini dipergunakan untuk tempat/kandang binatang yang biasa dikendarai oleh dewa Brahma, karena tempatnya di depan Candi Brahma. Heewan kendaraan Brahmaadalah seekor angsa. Maka candi tersebut bernama Candi Banyak atau candi Angsa. Meskipun tidak terdapat banyak patung di dalamnya, namun terdapat sumur yang berisi tulang-tulang anjing bercampur tanah. Barangkali ini dimasksudkan sebagai sajian korban waktuk candi tersebut dibagun. Dinding kamar tidak dihias, hany terdapat batu untuk menempatkan lampu minyak sebagai penerangan. Jika kita masuk gang yang dilingkari kamar, didndingnya ternyata tidak dihias dengsan gambar-gambar.

CANDI GARUDA.

Candi ini letaknya disebelah utara Candi Nandi, berhadapan dengan Candi Wisnu. Keadaannya semua sama dengan Candi Angsa, baik bentuknya besarnya, perhiasan dinding, jumlah kamar, gang dan tangga masuk. Jika kita msuk ke kamar, terlihat di atas lantai sebuah patung Siwa yang lebih kecil dari pada patung Siwa di Candi Siwa. Patung ini ditemukan tertanam di bawah candi, tetapi sebetulnya tidak pada tempatnya untuk dipasang di kamar candi ini. Seharusnya yang harus ada di kamar ialah seekor burung Garuda. Karena menurut biasanya, seperti Nandi dan Angsa yang merupakan kendaraan, dei dalam seharusnya terdapat garuda sebagai kendaraan Wisnu yang berwujud burung Garuda. Kendaraan Wisnu yang disebut Garuda itu, berwujud burung yang badan atasnya berbentuk manusia dengan dua tangan, tetapi b erparuh. Bagian bawah berbentuk burung yang besayap, berekor, berkaki dua dan beerkuku tajam. Di punggungnya terdapat suatu tempat duduk untuk Wisnu, bila burung sedang terbang. Beberapa patung Garuda terdapat di halaman kantor Purbakalan hanya dalam ukuran kecil. Di bawah lantai terdapat sebuah sumur yang berisi tuang manusia bercamp;ur tanah, dan barangkali dimakskud sebagai korban sewaktu candi dibangun.

CANDI APIT

Candi ini ada dua buah. Letaknya satu di utara dan lainnya di selatan. Masing-masing dekat pintu masuk ke latar atas, ditengah-tengah deretan candi candi. Diberi nama candei apit, karena letaknya terapit oleh dua deretan candi. Kedua candi ini letaknya berhadap-hadapan, yang utara menghadap ke selatan dan yang selatan menghada ke utara. Masing-masing mempunyai tangga masuk, satu kamar dan tak mempunyai gang yang melingkar . hanya da hal yang istimewa tentang candi ini, ialah ketika candi ini suddah selesai dibangun kembali, kelihatan sangat indah.
Yang menimbulkan ertanyaan, aakah fungsi kedua candi tersebut? Apakah candi tersebut diergunakan untuk pos penjagaan? Bila pos penjagaan, mengapa letaknya dekat jalan masuk disebelah timur dan barat tidak ada ? hal tersebut mengingat sanggah di Bali. Mengingat adat agama Hindu pada jaman Raja Balitung yang begitu ketat, yakni sebelum menuju ke candi-candi induk mereka harus bersemedi terlebih dahulu dalam candi apit tersebut. Boleh jadi Candi apit yang satu khusus untuk bersemedi bagi wanita dan yang satunya khusus untuk pria,
Candi Apit merupakan tempat untuk semedi yang kecil bagi pemeluk Agama Hindu, kedudukannya sama dengan kapel (gereja kecil), danggah (pura kecli), langgar (musolla) dan terletak di suatu tempat tertentu. Candi Apit kelihatan indah, apakah untuk menanamkan rasa keindahan (estetika) dalam komplek Canadi yang megah tersebut.

CANDI PENJAGA

Kecuali 8 buah candi yang telah diuraikan di atas, masih terdapat delapan buah candi lainnya, kecil-kecil dan juga terdapat di atas latar atas. Candi-candi ini, empat buah masing-masing ditempatkan di tiap sudut latar dan emat buah lainnya masing-masing ditempatkan pada tiap pintu masuk. Bentuk candi ini sangat sederhana dan sangat kecil.

LAIN-LAIN

Candi-candi di komplek candi Prambanan, merupakan Candi Hindu terbesar di Jawa. Pembangunan pemeliharaan Candi Prambanan pada saat ini dilestarikan terus. Di sekitar candi yang berada di deepannya dibangun taman wisata Candi Prambanan dan tempat pentas sendratari Ramayana.
Wajah Prambanan sekarang lebih cantik, bila dibandingkan dengan keadaan pada tahun lima puluh-an. Didepan komplek candi di bangunpanggung pentas sendratari Ramayana dan taman Wisata Prambanan yang dapat mempercantik wajah kompleks Prambanan sehingga merupakan taman budaya yang sangat menarik para wisatawan luar dan dalam negeri.

CANDI KALASAN

Candi Kalasan disebut juga Candi Kalibening, terletak di sebelah kanan jalan pada kilometer ke tiga belas jurusan Jogjakarta-Surakarta. Candi tersebut dulu sangat indah, tetapi sekarang sudah rusak dan belum dibangun kembali. Menurut perkiraan candi tersebut dibangun oleh Raja Panangkaran, raja ke dua dari kerajaan Mataram Hindu. Pembangunan candi Kalasan erat hubungannya dengan Prasaasti Kalasan.
Prasasti Kalasan ditulis dengan huruf Pra-nagari, dalam bahasa Sansekerta dan berangka tahun 778 Masehi. Isinya ialah, bahwa para guru sang Raja “mustika keluarga Sailendra”’ (Sailindrawamasatilaka) telah berhasil membujuk maharaja Tejapurnapana Panangkaran (di tempat lain dalam prasasti ini disebut Kariyana Panangkaran) untuk mendirikan bangunan suci Dewi Tara dan sebuah biara untuk pendeta dalam kerajaan keluarga Sailendra. Kemudian Panangkaran menghadiahkan desa Kalasa kepada Sanggha.

Gambar 7 Candi Kalasan

Bangunan yang didirikan ini adalah Candi Kalasan di desa Kalasan, terletak di sebelah timur Jogjakarta. Candi ini sekarang kosong. Dahulu di dalam candi tersebut terdapat arca Dewi Tara yang besar dan sangat mungkin terbuat dari perunggu. Tejapurpana Pangangkara adalah Rakai Panangkara, pengganti sanjaya dan ini terbukti dari Prasasti Raja Balitung pada tahun 907. prasasti ini memuat daftar lengkap raja-raja yang mendahului Balitung; bunyi prasasti itu sebagai berikut” TULIS BELAKANGAN AJA
Jelaslah bahwa pemerintahan Sanjaya berlangsung terus, disamping pemerintahan Sailenra. Keluarga Sanjaya beragama Hindu dan memuja Siwa, sedangkan keluarga Sailendra beragama Budha beraliran Mahayana yang sudah condong kepada Tantrayana. Menilik kenyataan, candi-candi dari abad ke 8 dan 9 yang ada di Jawa Tengah utara bersifat Hindu, sedangkan yang ada di Jawa Tengah selatan bersifat Budha, maka daerah kekuasaan Sanjaya ialah bagian utara Jawa Tengah dan daerah kekuasaan Sailedra adalah selatan Jawa Tengah.
Pada pertengahan abad ke 9 kedua wangsa ini bersatu dengan sebuah perkawinan Rakai Pikatan dengan Pramodhawardhani, raja putri dari keluarga Sailendra. Demikianlah, maka dapat dikatakan bahwa keluarga Sailendra itu memegang kekuasaan di Jawa Tengah kira-kira satu abad (+700 – 850 Masehi). Dalam masa pemerintahan ini banyak sekali bangunan-bangunan suci didirikan utuk memuliakan agama Budha. Sudah kkita kenal Candi Kalasan memuliakan Dewi Tara, menurut prasasti tahun778.
Usia Candi Kalsan sama dengan usia Prasasti Kalasan. Bangunannya berbentuk persegi empat dengan sudut-sudutnya yang menonol keluar, dihias sangat indah dan pada tiap sisinya terdapat1pintu masuk ke kamar berukuran 3,5 meter persegi. Pada sisi ke empat yang letaknya menghadap ke timur, terdapat pintu masuk ke kamar terbesar dan letaknya di tengah-tengah bangunan. Didepan pintu masuk sebelah Timur terdapat dua patung raksasaduduk memegang alat pemukul dan ular. Didalam kamar tengah yang besar ini dahlu terdaat patung Dewi Tara.
Denah Candi Kalasan seperti tercantum di bawah ini. Denah Candi Kalasan ini dikutip dari Yzerman: Beschryving der Oudheden nabij de grens der recidentie Soerakarta van Yogyakarta. DIGAMBAR BELELAKANGAN AJA DENAH CANDI Kalasan.
Candi ini berdidri si atas sebasemen yang luasnya 14,20 meter persegi dan merupakan dasar bagi kaki candi, tetapi sekarang senagian sudah rusak dan bagian lainnya tertimbun tanah, yakni karena tanah disekitarnya makin lama makin menjadi tinggi. Di atas subasemen, melingkari candi, ada gang lebarnya 4,6 meter yang pada waktu dulu bertanding seperti gang-gang yang melingkari candi pada umumnya. Dari bawah ada empat tangga batu menuju gan dan dengan melalui pintu gerbang masing-masing tangga dari gang menuju ke 4 kamar yang sedah disebutkan di atas.

Di dinding sebelsh selatan, di kanan kiri jalan masuk dihias dengan sangat indah, terdapat dua kamar yang memuat gambar Bodhisatwa. Dalam kamar kamar ini dindidng-dinding sisi tidak terdpat sesuatu, barangkali dahulu berdiri atung Bodhisatwa, karena sekarang tinggal terlihat landasannya saja.

Di atas badan candi, terdapat atap candi yang pdada puncaknya terdapat suatu dago seperti juda terdapat di puncak Candi Borobudur. Atap tersebut bertingkat tiga, satu dengan yang lain berbeda. Di bawah sendiri dari badan candi, dipisahkan oleh suaatu kaki atap yang dihias pada sisi luarnya. Atap yang di bawah sendiri bentuknya masih bentuk badan candi, ialah berbentuk persegi 20 dan dihias pada sisinya dengan kamar-kamar yang dulu berisi patung Bodhisatwa duduk di atas bunga teratai. Sekarang masih tingal tiga buah.atap tingkat dua berbentuk persegi delaan dan tiap sisinya mempunyai kamar-kamaran yang yang berisi Dhiyanibudha dan di kanan kiri kamar-kamaran terdapat gambar Bodhisatwa yang berdiri. Dikamar-kamar tersebut, masih terdapat satu patung Dhiyanibudha. Atap tingkat tiga mempunyai delapan kamar-kamaran yang juga berisi patung Dhiyanibudha dan sekarang tinggal sebuah.

Denah Candi Kalsan berbentuk silang Yunani dengan ruang-ruang dalam (Latin: Cella) berisi empat. Diatasnya semula terdapat sejenis stupa dihiasi pahatan-pahatan dan plester yang hingga kini masih tampak sisa-sisanya. Lengkung-lengkung kala makara, penyungkup sebuah relung dengan hiasan khayangan di atasnya, dipahat sangat indah di Candi Kalasan itu.
GAMBAR CANDI KALASAN BELAKANGAN AJA

Keistimewaan Candi Kalasan seperti halnya Candi Sari, berbeda dengan candi-candi yang lain. Perbedaan tersebut adalah, bahwa dua candi tersebut dilekati dengan campuran pasir, seperti halnya dengan pembuatan tembok pada waktu sekarang. [lester tersebut sampai sekarang masih dapat dilihat. Candi Kalasan merupakan Kuil Budha.
CANDI SARI
Candi Sari sidesbut juga Candi Bendah, letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan, tetapi di sebelah kiri jalan agak masuk ke Desa dan terlihat dari jalan besar.
Dalam abad ke 19 didapatkan pada kira-kira jarak 130 meter dari Candi Kalasan, suatu runtuhan candi yang menurut perkiraan candi ini sebagai tempat tingal para pendetra pada zaman dahuu. Candi Sari yang sekarang letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan. Jadi jelaslah bahwa Candi Sari hanyalah meruakan sebagian saja dari kumpulan candi yang telah hilang. Candi Sari dibangun bersamaan dengan Candi Kalasan.

Diperkirakan dahulu terdapat tembok batu yang mengelilinginya. Pintu masuk candi dijaga oleh patung raksasa memegang gada dan ular, seperti yang trerdapat di depan Wihara Palaosan. Banyaknya patung penjaga ada dua buah. Candi itu bertingkat dua, berbentuk persegi panjang dan dibuat dari batu alam. Diddalamnya terdapat tiga cella; dalam cella yang sebelah selatan terdapat bekas-bekas tangga. Gayanya hampir menyerupai Candi Kalasan.

Candi Sari merupakan Wihara dengan panjang bangunannya 17,32 meter dengan lebar 10 mewter. Lantai vihara letaknya 1,60 meter lebih dari tanah dan dapat didcapai melalui tangga batu di sebelah timur yang sekarang sudah tiada. Dari tangga ini , sampai pada sebuah gang ( pada wakti ini sudah hilang) yang mengelilingi bangunan candi. Bila mengelilingi candi melalui gang, terlihat bahwa dinding luarnya dihias sangat indah. Kecuali hiasan dinding terlihat juga dua baris jendela, baris atas dan baris tengah. Fungsi jendelan untuk penerangan di waktu siang dan pertukaran udara keluar dan masuk dalam kamar-kamar yang berhubungan. Dari depan terlihat tiga jendela dibagian atas, dibagian tengah dua jendela dan diantara dua jendela tersebut terdapat intu masuk kedalam wihara. Pada dinding belakan bagian aatas terdaat juga tiga jendela dan dibagian tengah juga tiga jendela. Pda dinding kanan dan kiri di bagian atas masing-masing mempunyai dua jendela, di bagian tengah masing-masing juga dua jendela tetapi salah satu tertutup dan terukir. Atap candi sudah tidak terlihat lagi. Agaknya atap tersebut terletak diatas psasangan batu-batu yang menutup kamar-kamar di bawahnya dengan kuat dan mempunyai dua talang untuk mengalirkan jalan air hujan ke luar.

Sesudah mengelilingi wihara dengan melalui gang, kita pergi ke kamar tengah yang mempunyai pendoipo dengan melalui pintu yang menghadap ke timur. Di dalamnya terdapat tiga kamar, masing-masing berukuran panjang 5,80 meter, lebar 3,46 meter dan letaknya berjajar. Dua kamar yang ada di kanan dan kiri, berhubungan dengan kamar tengah melalui pintu dan jendela. Pada tia-tiap kamar, di dinding kamar bagian belakang terdapat suatu tempat yang agak tinggi, yang dahulu dipergunakan sebagai tempat upacara agama dan menempatkan p[atung-patung. Di dinding kamar kanan dan kiri , terdapat kamar-kamran ayng dipergunakan untuk menempatkan penerangan. Dinding dalam tidak terhias.
Mula-mula wihara tersebut memp[unyai dua tingkat kamar, tingkat atras memunyai tiga kamar dan tingkat bawah juga mem[unyai tiga kamar. Di tingkat atas masih kelihatan terdapat bekas tangga yang menuju ke ata. Sesuai dengan barisan jendela bagian atas. Akan tetapi lantai kamar-kamar tingkat atas sudah tidak ada lagi hanya msaih terlihat tempat balok-balok kayu yang menjadi pendukung lantai atas. Rupa-rupanya kamar atas hanya dipergunakan sebagai tempat tinggal, terbukti bahwa jendela-jendela di barisan atas semua mempunyai bekas yng menunjukkan bahwa daun-daun pintu atau jedelanya dapat dibuka. Hal tersebut terihat dengan adanya lubang-lubang kecil utnuk tempat paku/pen, berputarnya daun jendela.

Dibandingkan dengan Candi Kalasan, Candi Sari agak lebih lengkap. Di bawqah ini kami sajikan denah Candi Sari yang dikutip dari J.W Yzerman dalam bukunya “Beschrijving der Oudhedennabij de grens der residentie Soerakarta on Jogjakarta”.

Denah Candi sari ditulis belakangan
Gambar 9 di tulis belakangan

CANDI SEWU

Candi Sewu terletak di sebelah utara Peambanan, di tapal batas antara daerah Jogjakarta dan Surakarta. Candi tersebut seledai dibangun ira-kira tahun 1098 M.
Candi Sewu terdiri dari sebuah Candi induk, dikelilingi oleh kurang lebih dua ratus lima puluh buah candi-candi pewrwara yang tersusun dalam empat baris. Candi ini termasuk Candi Budha. Semua bangunannya terbuat dari batu candi Sewu mempunyai pagar tembok batu yang melingkari lapangan candi dan berbentuk persegi empat.

Pada tiap sisinya, terdapat pintu gerbang sebagai jalan masuk lapangan candi. Pada tiap pintu masuk, terdapat dua buah patung raksasa yang duduk menjaga dan bersenjata ganda.

DENAH CANDI SEWU ditulis belakangan

Apabila memasuki lapangan candi dari arah timur, akan terlihat ditengh-tengah candi pusatnya. Candi pusat tersebut berbentuk persegi empat dengan sudut-sudutnya yang meniljol ke luar. Pada tiap sisinya, terdapat bentuk candi bujur sangkar yang menonjol ke luar dan masing-masing mempunyai kamar yang dapat didcapai dengan melalui tangga batu depan. Dengan melalui tangga dan kamar di bagian timur, kita dapat masuk ke kamar tengah, kamar terbesar, sedangkan tiga kamar lainnya tidak berhubungan dengan kamar tengah. Setiap kamar mempunyai atap yang rendah, sedangkan kamar tengah atapnyalebih tinggi dan menjulang ke atas ditengah-tengah empat atap lainnya.
Dengan melalui gang yang sempit, kita dapat mengelilingi candi dan dapat melihat bagian luar dari candi yang penuh dengan gambaran. Dengan melalui gerbang, kita dapat sampai pada gang dalam dari kamar depan. Di semua kamar, baik kamar depan maupun kkamar tengah, tidak terdapat lagi patung-patung.

GAMBAR 10 ditulis belakangan.

Candi psat ini terletak di tengah-0tengah deretan candi kecil, bejumlah 240 buah, berderet dalam empat deretan melingkari candi pusat dan berbentuk hamir persegi empat. Antara deretan ke dua dengan deretan ke tiga, terdapat lima buah candi yang lebih besar tetapi sudah rusak.

CANDI LUMBUNG

Candi Lumbung terletak di sebelah selatan Candi Sewu, dan bentuknya lebih kecil daripada CandiSewu. Terlihat bahwa kelompoktersebut terdiri dari candi pusat yang sudah rusak dilingkari oleh enam belas candi kecil berbentuk persegi empat. Candi ini sudah masuk dalam daerah Kabupaten klaten Surakarta.
Candu pusatnya berbentuk persegi 20. dilihat dari luar, disamping pintu masuk dan semua dinding terdapat gambar- gambar sebesar orang, baik lakilaki maupun perempuan, seperti yang terdapat di Candi Kalasan dan Candi Sari. Di dinding luar terdapat kamar-kamr yang barangkali untuk emnempatkan patung-patung Dhyani Budha. Atap ‘candi sudah ‘runtuh dan agaknya dahulu beratap seperti CAndi Sewu.

Dari sebelah timur, melaluli gang dapat masuk ke kamar candi yang berbentuk persegi empat dan berukuran 350 meter persegi. Pada dingng belakang terdapat tiga kamar-kmaran juga pada dinding selatan dan utara.
Pada dinding depan sebelah timur, di kanan kiri pintu masuk, masing-masing terdapat satu kamar-kamaran. Di semua kamar-kamaran tersebut tidak terdapat patung. Bentuk candi- candi kecil yang melingkari hampir sama bentuknya dengan candi-candi kecil di Candsi Sewu, tetapi semua tidak atau belum dihias dan tak mempunyai pendopo seperti di candi Sewu. Hanya bedanya candi kecil menghadapkan candi pusatnya..

CANDI PALAOSAN

Dandi Palaosan terletak di sebelah timiur Candi Sewu. Candi Palaosan bisa juga dicapai dari stasiun kereta api, kemudian menyebrangi jalan raya Jogja-Solo ke arah utara. Candi Palaosan agak jauh letaknya dengan Candi Prambanan.
Candi palaosan ini baru ditemukan pada pertengahan abad ke-19 dan keadaannya sangat rusak. Candi Palaosan yang dibangun Rakai Pananagkaran, merupakan hadiah pada permaisurinya yang beragama Budha. Hal tersebut dapat dilihat dari tulisan ada dua bangunan stupa percandian di kanan kiri jalan masuk ke candi induk sebelah utara, yang bertuliskan asthupa sri maharaja rakai pikatan, dan anumoda rakai gurunwangi dyah saldu.

CATATAN KAKI BELAKANGAN hal 66

Bangunan atau tulisan di atas bangunan stupa itu merupakan tambahan pada waktu kemudian. Hal ini dapat dilihat dari [erbedaan tulisan yang ada dengan tulisan pada candi Perwara yang lain. Denah candi Palaosan terlihat seperti di bawah ini. Denah tersebt dikutip dari M>L. Van Goor, dalam bukunya “ Korte Gids voor de tempel-bouwvallen in de Pembananvlakte, Diengplateau en Gedong Sanga.

GAMBAR DENAH DAN KETERANGAN BELAKANGAN

Sebagaimana telah dijelaskan diatas, bahwa Candi Palaosan baru diketemukan sekitar pertengahan abad 19.di sekitar candi ada tembok batu yang melingkarinya, berbentuk bujur sangkar. Lapangan tersebut dibagi menjadi dua bagian dan bentuknya hampir persegi empat.
Untuk dapat memasuki lapangan tersebut kita harus memasuki dari barat, melalui gerbang dari masing-masing lapangan yang terpisah satu dengan yang lain. Di atas tiap lapangan berdiri saatu bangunan dan tidak merupakan candi, tetapi suatu wihara yang bentuk dan susunannya sama dengan wihara yang sudah diketahui di candi sari. Wihara-wihara tersebut menghadapa ke barat dan juga terdiri dari dua tingkat, tetapi bangunan tersebut sudah rusak.
Seperti halnya pada candi Sari, tingkat atas diergunakan sebagai tempat tinggal poara pendeta dan tingkat bawah untuk keperluan keagamaan. Terdapat banyak patung disini, tetapi sekarang sudah dipindahkan/ditempatkan di museum Jogja. Wihara ini mempunyai pendopo dan dari sii kita dapat masuk kedalam yang terdapat tiga kamar. Pada dinding kamar terdapat kamar-kamaran yang berisi patung-patung. Pada dinding belakang di tempat yang agak tinggi dan dipergunakan untuk mengadakan korban, juga ditempatkan patung*)
Diluar tembok batu yang melingkari dua vihara, ada tembok batu lagi yang melingkat sejajar dengan tembok dalam. Di antara tembok dalam dan luar ini, terdapat deretan candi-candi kecil melingkar sejajar dengan jalannya dua tembok tersebut di atas. Deretan pertama terdiri dari candi-candi kecil, sedangkan deretan kedua dan ketiga terdiri dari batu-batu bundar tempat bekas berdirinya stupa. Di atas batu-batu ini, terdapat stupa kecil berupa sangkar yang bagian atasnya sekarang masih kelihatan.
Dalam deretan stupa-stupa ini, pada sudut-sudutnya terdapat satu candi yagn diddalamnya berisi satu patung dhyanibudha dan sew3aktu diteliti oleh Yzerman patungnya patungnya masih berada di tempat tersebut.*)
Disebelah utara dari kelompok candi yang dilengkapi oelh tembok batu ini, terdapat kelompok lain yang juga dilingkari oleh kelompk batu dalam bentuk bujur sangkar, yaksni sebgai tembok lajutan dari kelompok pertama. Di tengah-tengah lapangan yang dikelilingi tembok batu ini, terdapat suatu teras kosong dan berbentuk persegi empat. Disekitar teras tengah dalam tembok batu, terdapat batu-batu bundar tempat berdiri stupa seperti lapangan yang pertama.**)
Disebelah selatan dari kelompok candi yang pertama, dimana terdapat dua wihara, terdapat lapangan kosong yang juga dikelilingi dengan tembok batu dalam bentuk bujur sangkar dan tembok tersebut merupakan bagian dari tembok sebelah utara. Sebelah selatan dari lapangan kosong ini, terdapat lagi lapangan lain yang juga dikelilingi oleh tembok batu dalam bentuk bujur sangkar. Di tenagh-tengah juga terdaat teras, dahulu di atasnya tiga buah patung. Sekitar teras yang ditengah-tengah bagian utara, timur dan selatan terdapat tiga dereran batu bndar tempat berdirinya stupa, sedangkan di bagian barat terdapat dua deret candi.

Jadi bila dilihat keseluruhannya, empat lapangan tersebut merupakan satu lapangan candi yang luas, dikelilingi oleh tembok batu dengan bentuk bujur sangkar yang dibagi dalam empat lapangan oelh tembok penghubung. Sedangkan bila dilihat dari jalannya tembok bagian luar menuju ke barat, menunjukkan bahwa lapangan didepan kelompk tersebut merupakan satu gugusan lanjutan yang masih kosong.

CANDI SOJIWAN

Candi Sojiwan letaknya kira-kira 2 km sebelah selatan jalan kereta api, sebelah selatan Prambanan; merupakan bagian dari suatu kelompok candi dan bentuk wihara. Candi Sojiwan berlandaskan agama Budha dan merupakan tempat pendarmaan Rakritan Sanjiwana yang menganut agama Budha. Rakiyan Sanjiwana adalah nama lain dari Sri Pramodawardani, anak Samarotungga yang kawin dengan Rakai Pikatan.*
CATATAN KAKI DI TULIS BELAKANGAN HAL 71

Lapangan candi dikelilingi oleh tembok batu. Sekarang tinggal fondamennya saja, berbentuk bujur sangkar dan jaraknya kira-kira 40 meter. Untuk memasuki lapangan, melewati bagian barat. Di depan candi, terdapat dua patung raksasa yang memegang gada dan ular. Salah satu patung ini, sekarang berada di halaman bekas rumah asisiten residen Klaten.
Denah Candi Sjiwan seperti tampat di bawah ini:
DIGAMBAR BELAKANGAN
CATATAN KAKI JUGA DITUIS BELAKANGAN.

KERATON BOKO
Keraton Boko letaknya kira-kira 2 kilo meter dari Candi Prambanan. Apabila dari Candi Prambanan kita melihat ke selatan, terlihat membentang dari timeur ke barat suatu deretan gunung yang merupakan lanjutan lari pegunungan seribu dan biasa disebut Gunung Kidul. Lanjutan gunung ini berhenti pada aliran kali Opak yang mengalir dari utara ke selatan, juga melalui sebelah barat candi Prambanan. Hampir pada akhir lanjutan gunung tersebut, di atas terdapat bekas-bekas reruntuhan kereaton dan pada umumnya disebut Keraton Boko.
Disebut Keraton Boko, karena menurut legenda di situlah letak istana Ratu Boko, saudara Loro Jonggrang. Mungkin juga keraton, tersebut milik raj-raja Mataram yang membuat Candi-candi di dataran Prambanan. Bahwa peninggalan tersebut bukanlah berupa candi, melainkan bangunan keraton. Karena di tempat tersebut terdapat bekas tembok benteng dan juga gang yang kering (selokan lebar dan dalam, terdapat disekeliling keraton di samping benteng sebagai alat pertahanan). Kecuali keraton, juga terdapat bekas perumahan yang banyak jumlahnya disekitar keraton tersebut.

Sebagaimana telah diterasngkan, untuk mencapai keraton tersebut harus melalui gunung, dan ditengah-tengah perjalanan ke atas harus melalui dua goa. Goa ini tidak sama besarnya. Yang satu tingginya 1,30 meter, lebar 3, 70 meter dan masuk 2,90 meter sedangkanyang lain lebar 3 meter dan masuk 1,70 meter. Di dalam goa ini, pada dinding belakang terdapat dua kamar-kamaran dan tidak berisi patung. Machenzie, ketika mengadakan penelitian menemukan sebuah patung di depan goa yang petrtama.
Apabila kita sampai di atas, terlihat bahwa tembok keraton hanya tinggal fondamennya saja. Panjangnya 54 langkah dari selatan ke utara, dan 45 langka dari barat ke timur.
Pada tembok bagian utara, terdapat pintu masuk dan pada tembok bagian selatan, kecuali pintu masuk juga terdapat suatu pendopo. Di sebelah timur keraton terdapat tempat berukuran kecil yang digali dan lebih ke timur lagi lebih besar.
Ketika MaCkenzie mengadakan penelitian, juga menemukan sebuah patung yang menggambarkan seorang laki-laki dan perempuan berkepala dewa sedang berpeluk-pelukan.. dan diantara tumpukan batu-batu diketemukan satu tiang batu yang digambari binatang-binatang seperti: gajah, kuda, dan lain-lain. Dalam tembok yang melingkari keraton, diketemukan suatu batu dengan tulisan Nagari yang dapat memberi kesan, bahwa raja dan orang yang membuat keraton tersebur beragama Budha. Menurut cerita dari mulut ke mulut dua goa tersebut digunakan oleh sang Prabu untuk bertapa jika sang Raja akan memutuskan suatu hal yang penting. Di gunung itu, diketemukan tempat-tempat pengambilan batu-batu yang dipergunakan untuk pembuatan candi-candi di dataran Prambanan. Batu-batu di tempat ini, tergolong Zandsteen (batu Besar) yang hanya dapat digunakan untuk landasan dan isi candi, tetapi tidak dapat dipahat untuk dijadikan patung.
Berhubung yang didapat di tempat tersebut hanya fondamennya, dapat diperkirakan bahwa dinding dan atapnya terbuat dari bahan yang mudah rusak dan bukan dari bahan batu, melainkan terbuat dari kayu serta atapnya terdiri dari sirap atau genteng biasa.
Di atas gunung sebelah utara keraton boko, terdapat sebuah candi Dowang dan sebelah timur Candi Ijo.
Di sebelah selatan keraton Bokobawah, kita dapati Candi Ngaklik, Watu Gudig, Geblog, Bubrah, Singa dan Grimbiangan yang kesemuanya sudah rusak. Ada kemungkinan bahwa candi-candi ini didirikan oleh raja-raja yang menganut agama Siwa.

CANDI BOROBUDUR

Lokasi dan Keadaan Alam Sekitarnya.
Candi Borobudur terltak si pusat jantung Pulau Jawa, dengan puncaknya yang menjulang ke angkasa dikelilingi bukit Manoreh yang membujur dari arah timur ke barat dan gunung- gunung berapi: Merapi dan Merbabu di sebelah timur, Sumbing dan Sindoro di sebelah barat, dengan pemandangan yang hijau indah membentang sejauh mata memandang. Kesemuanya itu menimbulkan suasana tenang, aman dan tenteram.
Borobudur termasuk dalam wilayah Kabupaten Magelang, Karesidenan Kedu, Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Tengah. Dari Jogjakarta, jaraknya 41 Km ke arah utara melalui jalan raya menuju Magelang.
Temat candi itu dapat ditempuh dengan mudah dan sarana perhubungannya sudah baik. Apabila tidak mempergunakan kendaraan sendiri, orang dapat menempuhnya dengan memakai kendaraan umum seperti bis, taksi, atau colt. Kendaraan-kendaraan umum itu ada yang mengadakan trayek ke Borobudur. Tetapi apabila tidak menggunakan kendaraan bermotor , dapat turun di Muntilan, kira-kira 27 km dari Jogjakarta dan dari sana dapat melanutkan perjalanan dengan dokar atau andong. Dengan kendaraan seperti ini, akan lebih enak menikmati suasana sepanjang perjalanan.

Kenikmatan dari Tuhan yang diberikan kepada mahlukNya dapat kita rasakan, betapa Mahakuasa dan Mahamurah anugerah Tuhan terhadap hambaNya. Disepanjang jalan yang dilalui dengan dokar atau andong, terbentang sawah-sawah nan hijau dan menguning memberikan pemandangan yang demikian indahya. Air yang melimpah mengalir di parit-parit sepanjang jalan. Angin meniup sepoi-sepoi basah, sungguh segar dan nyaman rasanya ditengh-tengah daerah yang kaya dan makmur itu. Dari kejauhan, apabila kita melepaskan pandangan ke arah barat laut Bukit Manoreh, tamaklah bentuk bangunan Borobudur yang berwarna ke hitam-hitaman. Hal ini mengikatkan kepada umat manusia kepada Tuhan, bahwa manusia yang pandainya luar biasa pun tidak akan dapat menyamai kekuasaan Tuhan yang dapat menciptakan alam sedemikian indah dan menakjubkan.
Alangkah bahagia nya, apabila umat manusia senantiasa dapat memelihara lingkungan hidup pemberian Tuhan itu. Memang benar-benar indah pemandangan di perjalanan yang menuju Borobudur. Nampaknya yang memprakarsai dan membangun Borobudur terlebih dahulu mengadakan penelitian mendalam, sehingga yang akan dibuatnya benar-benar mengagumkan. Sampai di desa Mendut, kita akan melalui sebuah candi yang juga terkenal, ialah Candi Mendut yang akan diuraikan pada bab 10.
Dua kilometer kemudian, kita memasuki desa Borobudur dan searah jalan lurus akan tampak di hadapan kita bangunan megah menulang di atas bukit. Itulah Borobudur. Sekarang Taman Wisata Borobudur sudah selesai dibangun, sehingga menambah keanggunan cagar budaya Borobudur yang megah.
Apabila memasuki halaman Borobudur, kita berada di sebelah timur. Memang dari arah inilah seharusnya kita memulai perjalanan ke Borobudur. Bila kita naik ke atas, mengitari tiap-tiap lorong dan selasar Borobudur, maka kita harus berpradaksina; artinya pada tiap tingkat kita mengarah ke kiri. Jadi bangunan ini ada di sebelah kanan kita.

Arti Borobudur sampai sekarang belum diketahui secara jelas. Namun, kata Borobudur berasal dari gabungan kata- Bara dan Budur. Bara berasal dari kata Sanskerta “ Vihara”, yang berarti kompleks candi dan bihara atau asrama ( Prof. Dr. Poerbocaraka dan Struterheim). Sedangkan kata Baudur mengikatkan kita pada bahasa Bali : Beduhur, yang artinya di atas. Jadi nama Borobudur kira-kira berarti asrama atau bihara (kelompok candi) yang terltak di atas bukit. Memang di halaman sebelah barat laut Borobudur sewaktu diadakan penggalian ditemukan sisa-sisa bekas sebuah bangunan, yang mungkin sekali bagunan bihara.

Pendapat lain dikemukakan oleh J.G Car4paris, erdasarkan Prasasti Cri Kaluhunan (842 M). Di dalam prasasti itu terdapat sebuah kuil bernama Bhumusambhara, yang menurut pendapat beliau nama itu tidak lengkap. Agaknya masih ada sepatah kata lagi untuk “gunung”di belakangnnya, sehingga nama seluruhnya seharusnya “ Bhumisambharabhudira”. Dari kata inilah akhirnya terjadi nama Borobudur. Tidak jauh dari Borobudur sekarang masih ada desa yang bernama “Bumisegara”. Dan masih banyak lagi teori teori dari ara ahi tentang arti nama Borobudur.

Borobudur jelas merupakan bangunan suci agama Buddha. Di India bangunan yang berhubungan dengan nama Buddha disebut stupa. Stupa ialah bangunan berbentuk kubah, berdiri di sebuah lapik dan diberi payung di atasnya.
Adapun arti stupa ialah:
• sebagai tempat menyimpan reliek ( penginggalan-peninggalan yang dianggap suci): benda-benda, pakaian, tulang belulang sang Buddha, arhatdan bhiksu terkemuka yang dinamakan juga dhatugarbha (diagoba).
• Sebagai tanda peringatan dan penghormatan kepada sang Budhha serta Snggha (Yang Mahatinggi),
• Sebagai lambang suci agama Buddha pada umumnya.

Akhirnya stupa itulah yang dipuja dan disebut Caitya.

Bangunan Borobudur, pada hakikatnya adalah stupa juga. Karena mengalami erkembangan, sehingga yang lama menjadi bentul arsitektur lain dari pada yang terdapat di negara-negara beragama Buddha lainnya. Apakah dengan demikian Borobudur juga mempunyai arti dan fungsi seperti disebut di atas? Pada waktu diadakan penggalian tanah di bawah stupa induknya dalam tahun 1842 oleh residen Kedu Hart Mann, sama sekali tidak ditemukan Reliek.

J.G de Carparis mengemukakan suatu pendapat yang sangat berbeda. Dia menghubungkan Borobudur dengan asal usul keturunan raja-raja Sailendra. Pada piagam dari tahun 842 M, terdapat kalimat” kamulan I Bhumi sambhara”. Kata “Kamulan” berasal dari kata Sansekerta “ mul” (akar, asal), berarrti tempat suci yang berhubungan dengan asal mulanya kerajaan (Wangsa Sailendra). Sedangkan arti “Bhumisambhara” sebagaimana telah diutarakan di atas. Dengan demikian bangunan Borobudur menurut sarjana tersebut adalaha tempat pemujaan atau penghormatan nenek moyang dari wangsa Sailendra. Bila demikian maka Borobudur merupakan perpaduan dari dua unsur kebudayaan yaitu kebudayaan Indonesia asli dan kebudayaan dari luar. Begitu pula bentik bangunannya, merupakan sebuah bentuk campuran; stupa di atas punden berundak (ciri khas kebudayaan zaman pra sejarah di Indonesia).

GAMBAR SEBELAS DITULIS BELAKANGAN.

Waktu didirikan, Keturunan dan Penemuannya Kembali

Hingga sekarang, belum pernah ditemukan sumber-sumber tertulis yang menyebutkan kapan, bagaimana dan berapa lamacandi Borobudur dibangun, sehingga secara pasti tidak dapat ditentukan usianya. Beberapa bukti telah dikemukakan oleh para ahli untukl menentukan usia candi Borobudur. Pada bagian kaki Borobudur yang tertutup, terdapat tulisan-tulisan singkat berbahasa Sansekerta dengan huruf Kawi. Dengan menbandingkan huruf-huruf tersebut dan dihubungkan dengan prasasti-prasasti bertarikh yang terdapat di Indonesia, maka sementara sarjana berpendapat bahwa Borobudur dibangun sekitar tahun 800 M. Pada tahun tersebut di Jawa Tengah berkuasa raja-raja Wangsa Sailendra yang menganut agama Buddha Mahayana, sehingga daatlah dikatakan bahwa Borobudur yang juga bersifat agama Buddha Mahayana itu ada hubungannya dengan Wangsa Sailendra.
Kurang lebih 1 ½ lamnya Borobudur menjadi pusat temat berziarah bagi penganut agama Buddha di Jawa. Akan tetapi dengan runtuhnya kerajaan Mataran Hindu, kira-kira dalam perempat abad ke 10 M yang dibarengi dengan perpindahan kekuasaan politik dan kebudayaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, maka sejak itulah bangunan-bangunan suci Jwa Tengah, termasuk Borobudur diserahkan kepada nasibnya sendiri, terbengkalai, tak terurus di alam terbuka dan akhirnya dilupakan orang. Tumbuh-tumbuhan mulai merajalela merusak bangunan susci itu. Alam pun memeinkan peranannya dengan adanya gempa bumi yang disebabkan letusan Gunung Merapi. Sebagian bangunan dan terutama bagian-bagian atasnya runtuh, sedangkan sebagiannya lagi tertimbun tanah. Sejak itu pula Borobudur hilang dari pandangan.

Baru dalam abad ke 18 M menurut Babad Tabah Jawi, terdapat berita singkat tentang larinya Mas Dana yang memberontak melawan Pakubuwono I (1709-1710) dan ditangkap di Deswa Borobudur. Lima puluh tahun kemudian, 1775-1758 seorang Pangeran Jogjakarta mengunjungi Borobudur untuk melihat seribu arca”.

Kemudian pada tahun 1884 perhatian orang mulai tertuju lagi ke Borobudur, Sir Thomas Standford Raffles sebagi Gubernur Jenderal yang memerintah jajahan Inggris di Jawa (1811-1815), sewaktu berkunjung ke Semarang mendapat berita bahwa di desa Borobudur ada sebuah bangunan purbakala yang masih terpandam di dalam tanah. Rafles segera mengirimkan seorang perwira bernama H.C. Cornelius untuk melihat sebuah bukit yang penuh ditumbuhi pohon-pohon dan semak belikar.

GAMBAR 12 DITULIS BELAKANGAN

Tamapak di atas bukit itu batu-batu berserakkan. Dengan bantuan penduduk desa H.C Corneslius segera melakukan pembersihan dengan menebangi pohon-pohon , membakar semak belukar dan menyingkirkan tanah dari atas bukit it. Pembersihan memakan waktu yang cukup lama, sehingga baru pada tahun 1835 atas usaha residen Kedu, bentuk candi dapat ditampakkan seluruhnya, menjulang ke atas.

Dalam tahun 1842, Hart Mann melakukan penyeidikan terhadap stupa induk Borobudur yang menjadi mahkota bangunannya. Stupa ini oelh Cornelius sudah kedapatan terbongkar dan menganga pada bagian tubuhnya. Maka Hart Mannn hendak mengetahui, apa yang tersimpan dalam rongga stupa itu. Dalam penyelidikannya itu tidak ada laporan sama sekali, sehingga cerita yang tersebar tentang didapatkannya sebuah arca Buddha dalam rongga trersebut kemudian diragukan kebenarannya. Soalnya ialah, bahwa arca tersebut yang dibuat dari batu dan berukuran sama dengan arca-arca Buddha lainnya, belum selesai pembuatannya dan rendah mutu seninya. Selain jelas wajahnya, lengannyapun tidak sama panjangnya. Stupa bukanlah digunakan untuk menyimpan arca, apalahi arca seperti barang yang diafkir. Sebaliknya dikemukakan juga pendapat bahwa arca yang tidak sempurna itu justru dimaksudkan sebagai penggambaran Adi Buddha atau Buddha tertinggi, yang karena sempurnanya tidak dapat terlukiskan.*)
CATATRAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

Bagaimanapun juga berkat usaha Har Maan maka berubahlah pemandangan di desa Borobudur. Kini, pedesaan datar itu diberi mahkota berupa sebuah bangunan kuko yang emnjulang tinggi di atas kebun dan sawah penduduk. Kiranya pemandangan yang indah ini dianggap perlu juga dinikmati pengunjung, sehingga di puncak stupa induk didirikan sebuah bangunan dari bambausebagai tempat untuk menikmati pemandangan sambil minum teh.*)
Pada tahun 1945, didatangkanlah seorang ahli potret bernama Schaefer untuk mengabadikan relief-relief candi Borobudur. Ternyata hasilnya sangat memuaskan, sehingga pada tahun 1849 diambil keputusan untuk melukis Candi Borobudur dengan lukisan tangan. Yang kemudian dilaksanakan oleh F.C Wilsen dari Zeni Angkatan Darat, selam empar tahun bertugas untuk menyelesaikan seluruh gambar bangunan beserta reliefnya. Karena suatu hal, tugas penyusunan monografi Borobudur diserahkan kepada pemerintah. Kemudian pemerintah menyerahkan penyusunan monografi Borobudur kepada Leremans, monografi tersebut baru selesai tahun 1859, dan hasilnya diterbitkan dalam tahun 1873.*) CATATAN KAKI DIDTULIS BELAKANGAN

Sangat disayangkan, karena kurangnya pengertian dari para pejabat pemetrintah pada waktu itu, tidak sedikit batu-batu candinya yang hilang karena perbuatan tangan-tangan jahil. Tidak kurang dari delapan cikar, penuh dengan arca-arca dan batu-batu berukir dari bangunan Borobudur (tentunya dipilih yang baik), telah diangkut ke Thailand sebagai hadiah atas kunjungan raja Chulalangkon di Indonesia dalam tahun 1896.
GAMBAR 13
GAMABR 14

Residen kedua yang ditugaskan untuk memberikan hadiah tersebut, rupanya ingin menunjukkan jasa-jasa baiknya terhadap raja Thailand, sehingga dipilih jenis dan bentuk yang baik. Antara lain lima Dhyani Buddha, tiga diantaranya diambilkan dari tempat-tempat aslinya dilerung-lerung, dua arca singa yang tidak ada cacatnya, sebuah pancuran makara, kepala-kepala singa dari sayap-sayap tangga, kepala-kepala penghias dari relung-relung serta gapura-gapura dan masih banyak lagi yang lain.

Sejak ditemukannya kembali Borobudur, dimulailah usaha-usaha memperbaiki dan memugar bangunan Borobudur. Mula-mula hanya dilakukan perbaikan-perbaikan kecil di sana sini, serta pembuatan gambar dan photo relief-reliefnya. Pemugaran pekerjaan yang dapat dikatakan agak besar, pertama diadakan pada tahun 1907-1911 di bawah pimpnan Th. Van erp.

Pemugaran oleh Th. Van Erp itu, dimaksudkan terutama untuk menghindarkan kerusakan-kerusakan lebih lanjut dari bangunan borobudur. Dengan [ekerjaan Van Erp itu, untuk sementara candi Borobudur dapar diselamatkan dari kerusakan yang lebih parah. Walaupun bagian\bagian dari tembok-temboknya terutama tiga tinggkat dari bawah di sebalah barat laut, utara dan timur laut masih banyak yang tampak miring dan menghawatirkan. Gapura-gapuranya hanya beberapa saja yang dapat disusun kembali, pagar-pagar langkah, relief-relief dan patung Buddha masih banyak pula yang masih belum terpasang kembali di tempat asalnya.

Menurut pendapat Van Erp, miringnya tembok-tembok induk itu tidak membahayakan bangunan Borobudur. Pendapatnya tersebut sampai 50 tahun kemudian, ternyata benar. Tetapi sejak 1960, pendapat Erp mulai diragukan. Pada tahun 1956, atas permintaan pemerintah Republik Indonesia kepada Unesco, datanglaj Prof. Dr.C Coremans dari Belgia ke Indonesia untuk mengadakan penelitian sebab-sebab kerusakan batu-batu candi, khususnya Vandi Borobudur. Sebagai hasilnya, ia berkesimpulan bahwa air merupakan penyeban utama dari semua kerusakan itu. Air hujan yang meresap kedalam dasar tanah bangunan candi dan melalui celah-celah batu, telah mengikis permukaan tanah dasarnya sehingga memperlemah daya tahan tanah yang berfungsi sebagai fondasi bangunan. Lama kelamaan tanah dasar menjadi jenuh, air terkumpul di tempat-temat tertentu dan membentuk kantong-kantong air. Hal ini menyebabkan tanah pada akhirnya menjadi lunak.

Selanjutnya salah satu kepustusan sidang umum Unesco ke 15 di Paris dalam tahun 19668, Unesco sangat menaruh minat da perhatian terhadap masalah yang dihadapai Indonesia untuk pembangunan Borobudur. Sebagai tindak lanjut Unesco berjanji untuk memberikan bantuan kepada Indonesia guna menyelamatkan Candi Borobudur, yang juga merupakan satu keajaiban dunia. Kemudian pada tahun berikutnya, unesco mengirimkan tenaga-tenaga ahlinya dari berbagai bidang ilmu pengetahuan untuk mengadakan survey dan penelitian antara lain penelitian microbiology terhadap batu-batu candi Borobudur dan erencanaan teknis rekonstruksinya. Dalam melaksanakan tugasnya itu, para ahli unesco bekerja sama dengan para ahli Indonesia. Dengan bekal yang ada sebagai hasil kerja tenaga-tenaga bangsa Indonesiasendiri di Borobudur, berhasillah beberapa jenis pekrjaan lebih ditingkatkan dan disempurnakan lagi.

Dalam rangka mencari dan mengumpulkan dana untuk membantu anggaran biaya penyelamatan pusaka budaya bangsa itu, maka pada tahun 1970 Presiden Republik Indonesia telah menugaskan kepada Menteri Perhubungan untuk membentuk sebuah tim atau panitia yang dapat menangani masalah-masalah tersebut. Pembangunan Candi Borobudur tahun 1969 dimasukkan dalam rencana Pembangunan Lima Tahun, sebagai Proyek Pembangunan Lima Tahun, sebagai proyek pembangunan kebudayaan nasional. Dengan demikian, dapat diharapkan adanya anggaran pembiayaan secara berturut-turut bagi pemugaran Candi Boreobudur. Inilah yang menjad paktor okok guna berhasilnya suatu pekrjaan yang dihadapi.

Mengingat begitu kompleks masalah Borobudur ini, maka untuk menangani semuanya itu diperlukan suatu ioeganisasi yang teratur dan terkoordinasi/ akhirnya pada tahun 1971, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membentuk Badan Pemugaran Candi Borobudur (BPCB) yang diketuai oleh Prof. Ir. Rooseno, sebagai sekretaris diangkat Prof. R. Soekmono, disamping tugasnya selaku pimpinan proyek, kepala Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN). Badan inilah yang akan menangani semua masalah Borobudur, baik yang bersifat nasional mauupun internasional. Juga dibantu oelh staf ahli dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, antara lain dari LPPN, Mikrobiologi danMekanika tanah dariFakultas Teknik Universitas Gajah Mada, ahli Geologi dari ITB dan ahli beton dari Universitas Saraswati. Sebagai konsultan ialah Nedeko (Nederlands Engineering Consultants).
Adapun rencana pemugaran itu meliputi tiga macam pekerjaan pokok, yaitu: pembongkaran dan pemasangan batu-batu candi (tekno Arkeologis), pembetonan Fondasi (teknik sipil), pembersihan serta pengawetan batu-batunya (Cemiko-Arkeologis). Bagian candi yang dipugar ialah empat tinggkat dari bawah berbentuk bujur sangkar (Rupadhatu). Sedangkan kaki candi (Kamadhatu) dan bagian atas candi, berupa teras-teras bundar dengan stupa=stupa (Arupadhatu) tidak akan diopugar karena keadaannya masih cukup baik.
GAMBAR 15 DITULIS BELAKANGAN.

Pemugaran Borobudur memekan waktu selama 6 tahun, dengan biaya US $ 16.500.000 dan selesai pada akhir tahun 1982.

BANGUNAN BOROBUDUR

BANGUNAN Borobudur didirikan di atas dan si sekitar lereng sebuah bukit, berbentuk punden berundak. Berbeda dengan bangunan-bangunan suci lainnya, di mana orang-orang yang akan melakukan ibadat dapat masuk ke dalamnya. Di Borobudur orang hanya bisa naik ke atasnya melalui tangga-tangga pada ke empat sisinya.

Bangunan Borobudur pada hakikatnya adalah bangunan stupa, namun tidak sebagaimana lazimnya stupa yang berbentuk kubah, tetapi merupakan punden berundak dengan enam tingkat berbentuk bujur sangkar. Tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa induk sebagai puncaknya. Semua bagian itu merupakan satu kesatuan, dan secara keseluruhan m,erupakan bangunan satu bangunan stupa.

Disamping sebagai lambang tertinggi agama Buddha, stupa Borobudur juga merupakan tiruan dari alam semesta, yang menurut filsafat agama Buddha terdiri dari tiga bagian besar yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Kamadhatu adalah sama dengan alam bawah, tempat manusia biasa. Di Borobudur adalah bagian kaki.. Rupadahatu sama dengan alam antara, setelah manusia meninggalakan segala keduniawian. Di Borobudur ada empat tingkat yang berbentuk bujur sangkar. Arupadhatu sama dengan alam atas, tempat para dewa.. di Borobudur ada tifga dataran berundak (teras), termasuk stupa induk.
Ukuran pada dasar bangunan Borobudur 123 meter persegi(di sudut yang membelok hanya 113 m), tingginya 31,5 m sampai pinakelnya yang sekarang sebagian tidak ada lagi. Batu andesit yang dipergunakan untuk membnuatbangunan-bangunan Borobudur, sebanyak 55.000 meter kubik.

Tingkat Kamadhatu yang sekarang, tidak lah sebagaimana aslinya. Batu-batu polos yang banyak jumlahnya, tidak kurang dari 11.600 meter kubik, telah menutupi kaki asli bangunan Borobudur ketika bangunan itu longgar sebelum pembangunannya selesai seluruhnya. Pada tahun 1885, Yzerman secara kebetulan telah menemukan kaki bangunan yang asli di bawah tembok batu bagian ini. Pada tembok kaki yang asli itu, disekeliling Borobudur terdapat 160 relief yang menggambarkan adegan-adegan dari Karmawibhangga, yaitu melukiskan tentang hukum sebab akibat. Relief ini telah dibuat fot-fotnya oelh Chepas pada tahun 1891, dengan terlebih dahulu menyingkirkan batu-batu penutup kaki bangunan aslinya. Di sudut Tenggara Borobudur sebagian kaki bangunan aslinya sekarang masih dapat dilihat.

Kira-kira seperempat dari jumlah relief-relief itu, bagian atasnya masih terdapat tulisan-tulisan singkat yang dimaksudkan sebagai petunjuk bagi para pemahat, adegan apa yang harus dipahatkan disana. Di antara relief-relief itu terdapat tanda-tanda belum selesai pengerjaan. Jadi besar kemungkinan ketika pekrjaan pemahatan itu belum seesai seluruhnya, bangunan Borobudur mulai longsor sehingga terpaksa harus segera ditutup kaki aslinya berhubung adanya sesuatu hal teknis dan alasan keagamaan.

Tingkat Rupadhatu terdiri dari empat lorong bujur sangkar, dan di bagian luar dari tiap=tiap lorong itu diberi pagar langkah. Di atas pagar-pagar langkah, terdapat relung-relung dengan puncak-puncak stupa kecil yang di dalamnya berisi arca-arca Buddha. Di tengh-tengah dari tiap lorong pada ke empat sisi bangunan Borobudur, terputus untuk tempat tangga yang menghubungkan masing-masing lorong pada tingkat-tingkat berikutnya. Pada dinding lorong dari tingkat ini berisi relief yang menggambarkan cerita-cerita dari naskah Sansekerta: Gandawyuha, Lalitawistara, Jataka, dan Awadana. Tingkat ini juga kaya akan hiasan-hiasan beraneka ragam, seperti Kalamakara, daun-daun spiral, bunga-bungaan, dan sebagainya.

Sebelum orang sampai ke tingkat Arupadhatu yang sebenarnya, terdapat tingkat peralihan suatu dataran ayng batas luarnya masih berbentuk bujur sangkar tetapi tembok dalamnya sedah berbentuk bundar, lingkaran yang atidak berula dan tidak berakhir. Setingkat kemudian, orang akan berada di tingkat ini. Orang akan merasakan suatu suasana yang tenang, murni, dan tenteram. Dari dunia atau alam maya, orang berada di alam samadi.

GAMBAR 16 DITULIS BELAKANGAN.

Berlainan sekali dengan tingkat terdahulu, tingkat ini yang terdsiri dari tiga dataran (teras) berundak berbentuk bundar (lingkaran), sama sekali tidak terdapat relief maupun hiasan-hiasan. Di atas masing-masing memuat berturut-turut dari bawah ke atas : 32,, 24 dan 16 buah stupa yang do dalamnya berisi arca-arca Buddha.

Deretan teratas dari stupa-stupa ini, lubang-lubang yang terdapat pada dinding stupanya berbentuk segi empat dan harmikanya (bagian antara badan dan puncak stupa) bersudut delapan. Sedangkan stupa-stupa pada dua deretan bawahnya, lubangn-lubangnya bewrbentuk selah ketupat dan harmikanya bersudut empat. Apa arti dari perbedaan-perbedaan itu, semuanya belum dapat diketahui.

Stupa induk berukuran lebih besar daripada stupa-stupa lainnya dan terletak di tengah-tengah merupakan mahkota dari seluruh monumen. Garis tengah stupa induk ini 9,90 m dan tingginya sampai di bagian bawah pinakel 7m. Terletak si atas Padmaganda dan pinakel dahulunya diberi payung (chattra) bertingkat tiga (sekarang tidak terdaat lagi). Stupa induk ini tertutup rapat, sehingga orang tidak bisa melihat bagian dalamnya. Da dalamnya terdapat kamar (ruangan) yang sekarang tidak berisi. Ada pendapat yang mengatrakan, bahwa ruangan itu untuk tempat menyimpan arca atau relief, tetapi pendapat itu masih diragukan kebenarannya.*) CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

RELIEF BOROBUDUR
Seluruh monumen memuat sebelas sei relief dengan tidak kurang dari 1.460 buah adegan dan di antaranya dikenal dari naskah-naskah tertentu, sedangkan sebagian lainnya ada yang masih belum jelas. Memeang, tidak begitu mudah untuk mengenal kembali cerita atau adetgan-adegan pada relief-relief di Borobudur. Pertama-tama, mungkin karena cara kerja dari pemahat atau perencanaannya, yang kadang-kadang menyiompan dari naskah-naskah yang dipakai. Umpamanya saja, dengan menghilangkan bagian dari cerita tertentu yang sekiranya dapat mengganggu atau menimbulkan perasaan kurang senang dari pengunjung-pengunjung bangunan suci itu. Jadi adegan-adegan yang sifatnya sensasional atau menakutkan tidak dipahatkan.

Hal yang ke dua ialah mengenai teknik engerjaannya. Di dalam menggambarkan tokoh-tokoh pada relief, tidak dibedakan antara masing-masing pribadi. Memang ada bentuk-bentuk khusus untuk tiap-tiap jenis orang, seperti bentuk atau tipe utnuk raja atau dewa, tipe brahman atau pendeta, dan tipe manusia yang lainnya. Akan tetapi, selanjutnya tidak diberikan tanda-tanda yang jelas dari masing-masing tokoh itu. Dengan demikian apabila dalam satu adegan ada dua orang raja brahman, maka orang tidak bisa mengetahui dengan pasti raja dan brahman siapakah yang dimaksudkan dalam adegan tersebut.

Selain telah kita ketahui sebelumnya tentang cerita dari naskah-naskah tertentu, maka selebihnya hanyalah dugaan atau kira-kira saja. Untuk mengikuti jalannya relief-relief, orang memulai dari pintu gerbang Borobudur sebelah timur dan tiap-tiap tingkat berjalan ke kiri. Jadi monumen selalu ada di sebelah kanan kita.*).

Pada tembok kaki asli yang sekarang tertutup, terdapat relief-relief yang menggambarkan tenteang kehiduan sehari-hari di dunia, adegan-adegan di neraka dengan siksaan-siksaan bagi orang berdosa dan adegan-adegan di surga. CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN,
GAMABR17 DITULIS BELAKANGAN.
Certa-cerita ini diambil dari naskah asli Karmawibangga. Naskah tersebut melukiskan hukum karma atau hukum sebab akibat. Jadi, tia-taiap perbuatan manusia yang jahat atau tidak baik akan mendapatkan pambalasan berupa siksaan-siksaan bagi orang-orang yang berdosa itu di neraka. Sebaliknya, mereka yang semasa hidupnya berbuat baik akan mendapat pahala di surga.

Dengan mengikuti adegan-adegan dari hukum karma yang sangat mengesankan bagi yang melihatnya, maka timbul keinginan bagi penganut agama Buddha untuk berusaha mematikan hidup ayng berulang kali, karena hidup adalah menderita (samsara/dukkha). Jalan untuk mencapai tujuan itu ialah dengan mengikuti ajaran-ajaran sang Buddha Gautama, yang terdapat pada relief di lorong-lorong Borobudur tingkat berikutnya.

Lorong 1
1. 1.Pagar Langkah : memuat dua deret relief (atas dan bawah). Keduanya melukiskan tentang kehidupan sang Buddha di masa lalu (awadana dan jantaka) sampai dengan adegan ke 135 deret atas, dikenal dari naskah Sansekerta Jarakamala.
2. Tembok Induk :memuat dua deret cerita(atas dan bawah). Deret atas menggambarkan riwayat hidup sang Buddha Gautama, dimulai pada saat ia berada di surga Tushita sampai untuk yang pertama kali mengajarkan pengetahuannya di Taman Lumbini. Riwayat hidup sang Buddha Gautama ini, dikenal dari naskah Sansekerta Lalitawistara. Sedangkan deretan bawah, emnggambarkan kehidupan sang Buddha di masa-masa lalu dan hanya sebagian saja yang dapat dikenal kembali atau awadana dan jantaka.

Lorong II
1. Pagar Langkan mungkin lanjutan kehidupan sang Buddha di masa-masa lalu, hanya berbeda adegan daripadanya dikenal kembali. Antara lain yang terdapat pada sudut barat laut, yaitu Bodhisatwa menjelma sebagai burung merak dan tertangkap memberikan ajarannya.
2. Tembok Induk: memuat 128 relief yang menggambarkan cerita dari naskah Gandawyuda (nashkah ini beum pernah diterbitkan). Menurut riwayat, bodhisatwa Sudhana yang mencapai pengetahuan tertinggi dengan berkelana kian kemari menemui berbagai macam orang utnuk berguru. Pertama ia datang kepada Manjucri dan setelah mengunjungi berbagai orang serta dewa-dewa, akhirnya kembali lagi ke Manjucri (berakhir). Relief-relief 15, merupakan proolog dari cerita Gandawyuda. Relief 16 relief 127, Sudhana dihadapan Manjucri, ia dikenal, di bawahnya dipahatkan kantong-kantong uang (menurut cerita karena ayahnya orang kaya raya.). relief 128 (terakhir) menemui Maitreya. Di sini ternyata adegan terakhir menemui Maitreya, sedangkan menurut naskah masih ada dua adegan lagi, yaitu waktu keunjungannya kepada Bodhisatwa, Samantabhadra dan Manjucri.
Lorong III
1. Pagar Langkan: seluruh lorong ini memuat riwayat Bodhisatwa Maitreya, sedangkan relief selanjutnya memuat adegan-adegan yang sampai sekarang masih belum dikenal.
2. Tembik Induk: memuat riwayat hidup seorang Boddhisatwa (Samantabhadra), yang di Jawa dianggap sebagai calon Buddha terakhir di masa mendatang. Keterangan dan kesimpulan relief tersebut ialah sebagai berikut: Pada umumnya, dapat dikatakan bahwa susunan arca Buddha di Bodobudur sesuai dengan sistem enam Dhayani Buddha. Pada relung-relung di tingkat II – V, ditempai lima Dhyani Buddha dan Dhyani Buddha.. yang ke enam, yaitu Wairasatwa menempati stupa-stupa berlubang didataran berundak. Sedangkan stupa induk sebagai pusat, merupakan titik pusat dari selruh bangunan Borobudur semestinya ditempati oleh Adi Buddha, berupa Wairadhara, yang merupakan asal dari segala permulaan sehingga dengan sendirinya berasa di atas ke enam Dhyani Buddha. Adi- Buddha ini tidak harus berwujud arca, sesuai dengan sifatnya yang niskala. Dengan demikian, maka seluruh arca Buddha yang terdapat di Borobudur berjunlah 504 + 1. Adapun mengenai susunan relief juga sesuai dengan filsafat agama Buddha, yakni dengan adanya sepuluh tingkatan kehidupan Boddhisatwa (Dacabodhisattaabhumi), yang bercita-cita dan bertujuan untuk mencapai kedudukan terakhir yaitu sebagai Buddha, dengan terlebih dahulu melalui tingkat-tingkat terrendah sampai ke tingkat tertinggi. Kakai bangunan Borobudur yang merupakan tingkat terrendah, menggambarkan kehidupan keduniawian dengan adegan-adegan Karmawibangga*.) GAMABR 18 DAN CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN. Kemudian tingkat-tingkat selanjutnya menggambarkan riwayat hidup sang Buddha di masa lalu, sebagai contoh tentang kehidupan yang penuh dengan kebajikan dan kebaikan budi sampai dapat mencapai tingkat kebudhaan (terlepas dari sifat-sifat keduniawian). Kemudian, dilanjutkan dengan riwayat hidup Maitreya sebagai calon Buddha pertama di masa mendatang. Terakhir, memuat riwayat hidu Samantabhabadra sebagai caolon Buddha terakhir di masa mendatang.

ARCA-ARCA BUDDHA

Arca-arca Buddha menghiasi Borobudur mudah di kenal, karena selalu digambarkan serwujud manusia dan tidak pernah beranggota badan banyak. Pakainanya selalu jubah seorang rahib, yang terdiri dari tiga bagian ( yang kelihatan hanya dua) yaitu:
a. Pakaian Luar: pada sikap duduk, bahu kanannya terbuka.
b. Pakain Dalam: tampak pada kakinya. Di atas kepalanya ada semacam gulungan rambur (ushisha) dan rambut yang keriting melingkar ke arah kanan. Di antara dua kening (alis mata) ada tonjolan kecil (urba), juga pada Boddhisatwa. Arca yang berdiri sendiri tidak pernah memegang sesuatu di tangannya ( kecuali dalam cerita relief, seperti Cakhyamuni memegang memegang mangkok minta-minta), tetapi tangannya bersikap tertentu (mudra) dan setiap mudra mempunyai arti tertentu pula. Mudra-mudra itulah yang dapat membedakan masing-masing Buddha, sebab hal-hal yang lainsemuanya sama, baik Dhyani maupun Manushibuddha (erutama Cakhyamuni) bermudsra seperti Dhyani Buddha.

Di dalam relung-relung di atas pagar langkan tingkat pertama yang menghadap ke luar, terdapat arca-arca manusia Buddha yang menjelmakan dirinya di dunia fana. Pada tia-tiap arah, detempati oleh masin-masing manushi –Buddha tertentu: kanakamuni (timur), Kacyapa (selatan), Cakhyamuni (barat), dan Maitreya ( utara). Jumlah ini ada 92 bauah.

Di dalam relung-relung yang mengellingi tiga lorong terdapat Dhyani- Buddha, masing-masing dapat dibedakan kerena tempat dan sikap tngannya. Pada tiap tingkat sekeliling lorong terdapat 92 arca. Jadi, keseluruhan arca di dalam relung-relung ini berjumlah 3×92= 276 buah.

Di sebelah timur : Aksobhya dengan bhumispar camudra (bumu dipanggil menjadi saksi)
Disebelah Selatan: Ratna Sambhawa dengan Waramudra (memberi anugerah atau berkah).
Di sebelah Utara : Amogasiddha dengan abhayamudra (tidak takt bahaya).
Di sebelah Barat : Amithba dengan dhyanamudra (mengheningkan cipta/semadi).

Pada tiap tingkat lima keliling lorong, terdapat arca Buddha yang menghadap ke semua arah (keseluruhannya berjumlah 64 buah), ialah Dyani Buddha Waicocana, yang menguasai zenith dengan witarkamuda (sedang mengajar artau berbicara). Di atas rtelah dikemukakan, bahwa sistem Dyani Buddha yang terdapat di Borobudur ialah sistem atau susunan enam Dyani Buddha. Jadi, di atas lima Dyani Buddha yang telah diutarakan (yang menempati relung-relung pada tingkat II-IV) ada Dyani Buddha yang ke enam, yaitu Wajrasatwa dengan darmacakramudra (memutar roda darma= hukum atau ajaran kebenaran).
Dyani – Budha Wajrasatwa inilah yang menempati stupa-stupa berlubang pada tingkat Arupadhatu, seperti telah diutarakan di atas.
GAMBAR 18 DITULIS BELAKANGAN

Susunan Dhyani Buddha pada Candi Borobudur, seperti gambar di bawah ini.
1. Dhyani Buddha dalam relung- relung yang menghadap ke timur.
2. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang menghadap ke selatan.
3. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang menghadap ke barat
4. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang menghadap ke utara
5. Dhyani Buddha dalam relung-relung yang pada lorong tingkat pertama
6. Dhyani Buddha dalam dalam stupa-stupa di tingkat Arupadhatu.
7. Arca Buddha yang belum selesai. Menurut beberapa pendapat berasal dari stupa induk, tetrapi kebenarannya masih dipertentangkan oleh para ahli dan kini masih merupakan tanda tanya.

GAMBAR 19 DIDTULIS BELAKANGAN,

SEJARAH HIDUP SANG BUDDHA GAUTAMA

Sejarah hidup sang Buddha Gauatama yang erat sekali hubungannya dengan
Borobudur, dilukiskan pada tembok induk, lorong I deret atas, berdasarkan Lalitawistara.
B
Bila kita masuk gapura timur, sang Boddhisatwa berada di surga Thusita dan memberitahukan kepada dewa-dewa tentang penjelmaannya yang akan datang sebagai manusia. Para dewa turun ke dunia dengan menjelma sebagai kaum brahman dan mengajarkan kitab-kitab Weda. Setelah mendengar bahwa Buddha akan turun ke dunia, para Pratyeka Buddha ( orang yang telah mencapi pengetahuan tinggi, tetapi belum dapat mengjarkan kepada orang lain) yang ada di dunia segera berangkat ke surga. Sang Boddhisatwa memberi pelajaran kepada dewa-dewa di surga Tushita. Sebelum turun ke duna, sang Boddhisatwa mewnyerahkan mahkotanya kepada Maitreya, calon pengganti Buddha di dunia yang akan datang. Para dewa bermusyawarah tentang ujud penjelmaan sang Bodhisatwa di dunia nantinya.

Gambar Raja Cuddhona dari Kapilawastu dan permaisuri Maya dalam kamarnya sebagai calon orang tua Sang Boddhisatwa. Permaisuri Maya dalam kamarnya sedang menghadapi dewi-dewi. Para dewa setuju untuk mengantarkan sang Boddhisatwa ke dunia. Sang Boddhisatwa turun ke dunia. Sang Bodhisatwa mendapat penghormatan terakhir di sura Tushita.
Dengan pengiring-pengiringnya, sang Bodhisatwa turun ke dunia. Dewi Maya bermimpi, bahwa seekor gajar putih telah masuk ke pangkuannya. Dewa-dewa menyampaikan hormat dengan menyembahnya. Dewi Maya ke hutan Acoka. Hal ini digambarkan dalam relief Borobudur yang ke-16 sampai dengan ke 30/
Gambar ke-31 sampai dengan ke-45, menceriterakan peristiwa kelahiran yang diikuti kemangkatan Dewi Maya. Sang Boddhisatwa yang sejak lahir ditinggalkan ibunya, diasuh oleh Dewi Gutami. Cinta kasih Dewi Gutami kepada Boddhisatwa, tidak ubahnya seperti kepada puteranya sendiri.
Dalam relief itu menceriterakan juga sang Boddhisatwa sejak kecil, belajar di sekolah, gurunya pengsan melihat sang Boddhisatwa, sang Boddhisatwa menuju seorang dewa, sang Boddhisatwa duduk di bawah sebatang pohon, sang Boddhisatwa kawin dengan Puteri Gopa. Kemenakan raja Dewadata, karena dengki membunuh seekor gajah dengan sekali pukul. Sang Boddhisatwa melemparkan gajah itu sendiri dengan kedua jari kaki sehngga melampaui tembok kota. Relief ke 46-75 menggambarkan peristiwa lanjutan sang Bodhisatwa mengikuti sayembara ketangkasan, sejak dari ilmu hitungf sampai memanah, yang mana Bodhisatwa memperoleh kemenangan dan ia akhirnya dapat kawin dengan Dewi Gopa. Tetapi setelah kawin sang Bodhisatwa ingin meninggalkan keduniawian. Sebenarnya maksud sang Bodhisatwa itu dihalang-halngi oleh orang tuanya secara tidak langsung, dengan melalui berbagai cara agar sang Bodhisatwa mengurungkan niatnya. Namun dengan keteguhan hatinya yang membaja, sang Bodhisatwa tetap meninggalkan istana untuk meneruskan tujuannya.

Relief 76- hingga 90, menggambarkan pejalanan sang Bodhisatwa sesudah menggalkan istana dan kisah perjalannnya hingga sang Bodhisatwa akan memperoleh wahayu sebagai Buddha.

Relief 91 hingga 105, menceritakan sang Bodhisatwa setelah mendapat wahyu dan rintangan-rintangan yang dhadapinya setelah mendapatkan wahyu. Segala godan dapat diatasinya, sehingga sang Bodhisatwa dapat penghormatan dar para dewa dan biddadari.

Relief 106 -120 menceritakan para dewa agar sang Buddha menyebarkan pengetahuannya. Selanjutanya, sang Budha mulai mengajarkan agama Buddha. Mula-mula ada yang menentangnya, tetapi akhirnya banyak murid-murid yang mengikutinya. Murid-murid memandikan sang Buddha dengan air dari segala telaga padma, dan sejak itu sang Buddha mulai mengjarkan agama Buddha.
GAMBAR 20 DITULIS BELAKANGAN

LAIN-LAIN
Untuk mempelajari Borobudur lebih lanjut dapat membaca Borobudur Selayang Pandang, karya Ders. R. Soetarno, Ak (Pak Soet), Penerbit; Tiga Serangkai, Solo.

Satu Abad Usaha Penyelamatan Candi Borobudur, karya: Soekmono, Penerbiat; Yayasan Kanisus.

Borobudur, karya: Jurgan D. Wickert, PT. Intermasa.

GAMBAR 21 DITULIS BELAKANGAN

CANDI MENDUT

Candi Mendut terletak 2 km dari Candi Borobudur. Candi ini adalah candi Buddha, didirikan oleh raja pertama dari wangsa Sailendra yang bernama Raja Indra pada tahun 824 Masehi. Di dalam candi ini terdapat tiga buah patung, masing-masing patung Buddha Cakyamurti yang duduk bersila, bersikap sedang berkhotbah, patung Avalokiteswara yaitu Bidhisatwa penolong manusia, patung Maitreya yaitu Bodhisatwa pembebas manusia di kelak kemudian hari.
Awalokiteswara, ialah sebuah arca dengan Amitabha di mahkotanya. Sebagai Padmapani, ia memgang sebatang bunga teratai merah ditangannya. Pada dinding candi, terdapat pahatan-pahatan yang merupakan dongeng kanak-kanak.
GAMBAR 21 DITULIS BELAKANGAN

Candi ini sering kali dipergunakan untuk melakukan upacara agama Buddha. Pada upacara Waisyak, candi Mendut dibanjiri umat Buddha dari seluruh penjuru tanah air yang akan melakukan upacara agama tersebut.
Usia candi Mendut lebih tua dari pada Candi Borobudur. Candi ini berbentuk persegi empat, mempunyai ruang masuk di atas teras bertangga. Di atas ruang persegi empat tersebut, terdapat atap bertingkat-tingkat; pada setiap tingkat terdapat banyak stupa dan tingkap-tingkap. Hiasannya sangat indah..
GAMBAR 22 DITULIS BELAKANGAN

CANDI PAWON.

Candi Pawon letaknya kira-kira 1 km dari Candi Mendut dan tidak jauh dari Candi Borobudur. Candi Pawon adalah candi Buddha. Bila diteliti lebih lanjut, pahatan-poahatan yang terdapat pada candi Pawan adalah pendahuluan dari Candi Borobudur. Mungkin Candi Pawon adalah makan dari raja. Candi ini terbuat dari batu, letajnya di tengah-tengah antara Candi Mendut dan Candi Borobudur, dalan satu garis sumbu. Agaknya dibangun untuk Kubera. Berdiri di atas, teras agak lebar-lebar dan bertangga. Seluruhnya dirias dengan dagoba-dagoba dan dingdsing luar dengan gambar-gambar simbul.
GAMBAR 33 DITULIS BELAKANGAN.

CANDI SUKUH

Candi Sukuh terletak di lereng sebelah barat G. Lawu wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Karang Anyar, Surakarta Jawa Tengah. Merupakan punden berundak-undak yang menghadap ke barat dan makin meninggi ke arah timur. Ada beberapa tingkat teras punden ini sebenarnya tidak jelas lagi. Yang tinggal sekarang hanya empat tinggkat paling atas saja. Candi ini berasal dari abad ke 15, dengan unsur-unsur Indonesia asli, sangat kelihatan menonjol dari pada unsur-unsur India. Candi tersebut meruakan bangunan suci agama Syiwa, yang di Indonesia berbentuk lingga dan digambarkan secara realistis sebagai alat kelamin laki-laki.

Candi Sukuh dan Cetha terletak pada ketinggian 910 dan 1470 m di atas permukaan laut. Jaraknya dari Kota Solo kurang lebih 35 km, dapat dijangkau dengan kendaraan roda empat sampai di tempat. Meskipun tidak merupakan peninggalan purbakala yang terbesar di Indonesia, namun merupakan candi yang sangat menarikl, karena ke dua candi itu memiliki rahasia dan sampai sekarang belum terungkakan seluruhnya. Dibandingkan dengan Candi Borobudur dan Prambanan, maka relief-relief yang terdapat pada ke dua candi itu tampak wagu dan sederhana, seakan-akan merupakan karya seni orang-orang terpencil dan bukan ahli pahat batu.

Agama yang dianut pada waktu itu adalah Hindu, terutama di kalangan keraton dengan dewa-dewa sepert i Syiwa, Brahma dan Wisnu.sedangkan para puiteri yang serba sederhana tetap pada kepercayaannya, bahwa roh-roh para leluhur serta badan-badan halusnya merupakan sumber pengaruh dan kekuatan hidupnya. Candi yang oleh agma Hindu dipakai sebagai tempat untuk memuja dewa-dewa, oelh orang Jawa dianggap sebagai kediaman leluhurnya.

Meskipun orang-orang Hindu berusaha sekuat-kuatnya untuk menggantikan pemujaan terhadap leluhur itu dengan pemujaan kepada dewa-dewa, namun pemujaan terhadap leluhur berjalan terus, karena bagi oeng Jawa pemujaan terhadap leluhurnya senantiasa menjadi unsur pokok di dalan hidunya.

Halaman Candi Dukuh terdiri dari tiga teras. Dahulu apabila orang hendak mencapainya harus melewati tangga batu yang panjang dari dataran samai di halaman candi tersebut.
Relief candi ini mengisahkan cerita Kuno Sudamala. Cerita ini dimulai dengan relief seorang yang diikat pada batang pohon “ Kepuh Randu”, sedangkan didepannya berdiri seorang dewi yang berwajah menakutkan sambil mengangkat sebilah pedang, dikawal oleh serombongan hantu (kepala lepas, tangan lepas, dan lain sebagainya,). Orang yang diikat ini adalah Sadewa, Pandawa termuda yang dipersembahkan kepada Batari Durga (ratu dari para hantu) oelh Dewi Kunti yang kerasukan hantu pula. Sadewa akan dapat meruwat atau membebaskan durga dari kutukan yang berewajahraseksi, menjadi dewi yang cantik kembali. Awalnya sejak Durga dikutuk oleh Batara Guru, karena berbuat serong dengan seorang gembala. Durga menjadi raseksi dan diusir seta harus turun ke dunia di Setra Gandamayu. Kutukan itu telah dilaksanakan.
Durga berhasil dibebaskan oleh Sadewa, sebagaimana tampak pada relief.
Selanjutnya, tampak Sadewa yang oelh Dewi Uma diberi nama Sudamala (artinya: Suda berarti bersih dan mala artinya dosa) berlutut penuh hiormat dihadapan Batari Durga beserta pengikutnya yang juga telah pulih kembali menjadi dewata. Semat, punakawan setia dari pandawa yang dalam relief terdahulu tampak jongkok penuh ketakutan, sekarang menirukan majikannya menyampaikan sembah pula. Tiga wanita tampak berdiri di atas bantal teratai, menandakan kedudukan mereka sebagai penghuni Kayangan yang telah terbebas dari kutukan.

Relief berikurnya, yang dapat kita lihat adalah adegan pertemuan antara Sadewa beserta pengikutnya dengan pendeta buta Tambrapetra dari prangalas beserta anaknya Ni Padapa bersama pankawannya. Cerita Sudamala mengisahkan, bahwa atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskan dan menjadi Dewi Uma kembali itu, Sadewa harus melangsungkan perkawinan dengan anak seorang pendeta buta. pertapa itu pun berhasil pula dibebaskan dari kebutaannya oleh Sadewa.
Kemudian kita melihat seorang raksasa bernaka Kalantaka diangkat dan ditusuk oleh Bima, yaitu kakak Sadewa. Pada bidang relief ini, terdapat inskripsi dengan anggka tahun 1371 caka (1449 M). Bima yang kita jumpai pada beberapa tempat di Candi Sukuh, daat kita kenal dari pahatannya yang telanjang, dan juga dari kainnya dengan motif kotak-kotak. Ia mempunyai kuku panjang, yang dipergunakannnya sebagai senjata untuk menyobek perut musuhnya.

Di pelataran yang agak tinggi, kita lihat di sebelah utara ada relief raksasa yang tidak berbahaya lagi karena sudah mati dan dipukuli oleh dua orang punakawan, sedangkan pahlawan yang mewmenangkan peperangan pergi ke sebelah kiri. Kita lihat pula relief Sadewa sedang berlutut dihadapan Kalanjaya, saudara Kalantaka ang berdiri di hadapannya dalam ujud asli sebagai dewa.
Sebelum peninjauan dilanjutkan, baiklah kita kemukakan bebrapa catatan tentang adanya gaya seni pahat di Candi Sukuh. Bagi mereka yang mengenal dunia pewayangan, akan segera menarik kesimpulan bahwa relief-relief yang dibuat seolah-olah begitu saja diambil dari adegan-adegan pakeliran, seperti adegan Bima yang mengangkat musuhnya dengan tangan dan membantingnya atau melemparnya jauh-jauh.

Bedasarkan [enelitian yang pernah dikerjakan, menunjukkan bahwa seni orang Hindu yang dimasukkan ke Nussantara pada permulaan tarikh masehi, telah diresapi dengan cepatnya oleh orang Jawa. Kemudian oleh orang Jawa pengaruh tersebut telah dikembangkan sedemikian rupa, sehingga timbul bentuk-bentuk baru, wajah-wajah baru dan ungkapan-ungkapan baru. Sifat dari seni itu berubah-ubah, mengikuti perkembangan-perkembangan sejarah alam pikiran orang Jwa, yang memiliki norma hukum sendir dan tidak dinilai menurut norma atau hukum yang lain.

Sementara di atas teras ke tiga, kita melihat sebuah tugu yang berdiri sendiri di atas sepetak tanah dengan tinggi 85 cm dan luas 11,60 X 7,80 m. Bentuk tugu ini persegi dan dihiasi dengan relief:di satu sisi ada berdiri dua orang wanita, sedang dil sisi lain seekor burung Garuda sedang terbang. Pada kedua sisi lainnya kita lihat sederetan naga yang merayap berurutan. Gambar-gambar ini termask didalam cerita dua orang wanita bersaudara, Kadru dan Winata, dikisahkan dalam cerita Hindu kuo yang terbesar.

Kadru dan Wibnata bertaruh tentang warna ekor kuda Uccha Icrawa, dan barang siapa yang kalah harus mengabdikan diri kepada yang lain. Kadru memenagkan pertaruhan ini. Oelh karena dibantu oleh anak-anaknya yang berujud 1.000 ekor ular dan secara licik telahmemberi bisa kepada ekor kuda tersebut ssehingga warnaya berubah, sedangkan
Winata hanya mempunyai anak seekor garuda dan seorang anak yang tidak berkaki, bernama aruna. Akhirnya Winata mengabdi kepada Kadru, tetapi akhirnya Winata berhasil dibebaskan dari perbudakan oleh Garuda.
Agak jauh dar tempat ini, terdapat sebuah tugu lagi yang dihias pada dua sisi. Bagian belakang menampakkan seorang raja bersenjatakan sebilah keris, dan raksaasa yang terbang di angkasa. Sangat disayangkan, bahwa tidak jelas siapakah yang dimaksud sebenarnya. Tetapigambar pada sisi muka artinya jelas, dimana digambarkan seekor Garuda yang membumbung tinggi ke angkasa sambil mencengkram seekor gajah pada cakar yang satu dan seekor kura-kura pada cakar yang ain. Ada pun cerita yang dikisahkan adalah sebagai berikut:

Pada susatu hari, Sang Garuda mendengar bahwa untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan, ia harus mampu merebut air minuman dewa-dewa amerta dan menyerahkannya kapada para naga. Seketika ia mengambil keputusan untuk melaksanakannya dan pergilah ia, setelah mendapatkan petunjuk-petunjuk yang baik. Di tengah perjalanan ia merasa lapar dan membuka paruhnya lebar-lebar seperti goa. Suara sayapnya yang bergemuruh, menyebabkan seluruh anggota suku ketakutan dan lari memasuki paruh sang Garuda tersebut, kemudian ditelannya.
Akan tetapi tenggorokaannya menjadi gatal, karena diantara orang-orang yang ditelannya itu terdapat beberapa orang brahmana, maka Sang Garuda memuntahkannya kembali.
Untuk menghilangkan laparnya, ia menyambar seekor gajah dan kura-kura (sebenarnya dua bersaudara yang kena kutuk, menjatuhkannya lalu memakannya. Dengan demikian dua bersaudara yang bernama Supratika dan Wibhawasu tertebus dari kutuk, kembali menjadi manusia. Kemudian sang Garuda terus menuju tempat penyimpanan Amerta di Kayangan, tetapi adanya tombak-tombak dan roda-roda yang terdiri dari manusia tidak memungkinkannya untuk masuk. Dengan cara memperkecil dirinya sang Garuda berhasil menyelinap masuk dan merebut amerta setelah melawan para dewa yang mengejarnya. Akhirnya amerta tersebut diserahkan kepada para naga. Sewaktu para naga tersebut memeandikan diri dan akan meminum amerta yang dapat memberikan hidup abadi, datanglah Batara Indra merebutnya. Para naga menjilat-jilat tempat dimana air tersebut diletakkan, dan karena tajamnya rumput-rumput disitu, lidah para naga itu terbelah, sebagaimana kita lihat sampai sekarang.
Namun demikian, hanya sebagian kecil dari cerita yang menarik ini terpahat di tugu ini, sedangkan sebagian besar lengkapnya dapat kita kemukakan di bagian atas dari sebuah tugu yang berdiri di pojok petak terngah dan tinggi. Di ditu kita lihat, sang Garuda di muka gubug tempat penyimpanan amerta dengan tombak-tombak dan pisau-pisaunya. Di sana kita melihat Garuda berlindung di belakang Wisnu yang memberikan karunia kepadanya, karena selama perjalanan ia tak mencicipi amerta sedikitpun. Dan di sana , ada pula adegan-adegan lain yang kurang jelas.
Tugu ke tiga bagian bnelakangnya memperlihatkan kepada kita Arjuna, kita kenal dengan adanya yang bergambar kera, dan rombongan punakawan berbaris dengan membawa sebuah gong peperangan.
Tugu yang ke empat, memperlihatkan seorang tokoh pahlawan kera seperti (Hanoman) dari cerita Rama, bersama-sama dengan seorang tokoh raja berdiri di muka seorang pertapa yang menundukkan kepalanya di tugu tersebut.
Akhirnya kita berdiri dimuka sebuah hiasan yang aneh, berbentuk tapal kuda di kanan kirinya berujung kepala kijang, sayang sekali sudah rusak. Di dini kita sekali lagi menemukan Bima berdiri di muka Batara Guru, penguasa kayangan.
Di bawahnya, masih ada pahatan-pahatan yang menggambarkan seorang wanita dengan anak kecil dan di dekatnya terdapat hiasan rumah panggung.
Di bawahnya lagi terdapat gambar dua tokoh yang seolah-olah memperebutkan bayi. Mungkin ini ada hubungannya dengan upacara “ ruwatan” untuk anak tunggal, agar tidak terkena bala (bencana).
Untuk pada monumen pokok, terlebih dahulu kita melewati dua ekor kura-kura yang besar (kura-kura adalah lambang dari dunia). Seterusnya dengan mendaki tangga yang terjal, maka samailah pada bagian atas dari monumen pokok. Dari tempat ini, kita dapat memandang serta menikmati keindahan alam pegunungan di sekitarnya, dan jauh kedataran kota Solo. Apakah yang terpendam di dalam monumen itu, tak seorangpun mengetahuinya karena tidak pernah diselidiki. Satu hal yang menarik perhatian, yaitu adanya relief sepasang naga yang melingkar pada kepala pintu gerbang di atas tangga dan di dalamnya sebagian kosong.
Tentunya air hujan dapat mengalir turun dari bangunan asli melalui temat ini; menilik dari adanya beberapa saluran air dalam batu-batu, maka kita sekarang dapat mengetahui, bahwa di situ pernah ada suatu jaringan saluran air.
Hal yang demikian kita jumpai pada dua pelataran yang ditinggikan, terutama di sebelah utara, di mana suatu jaringan saluran yang agak rumit sangat menarik perhatian.
Di depan bangunan pokok tersebut, kita dapati pula bangunan yangserupa candi dengan deretan relief ganda.
Di dalam bangunan ini dan yang dari Sukuh, yaitu Kyai Sukuh berdiam diri. Di situlah biasanya orang bersaji dan membakar kemenyan di depan relung.
Di smping monumen pokok, kita dapati beberapa patung Garuda yang berdiri sendiri.
Di bawah ini disajikan gambar Candi Sukuh dan Relief yang memberikan kesan kepada pengunjungnya, bahwa permulaan hidup adalah tergantung kepada Lingga dan Yoni
GAMBAR 24 DITULIS BELAKANGAN
GAMBAR 25 DITULIS BELAKANGAN
GAMBAR 26 DITULIS BELAKANGAN.

CANDI-CANDI DI JAWA TENGAH UTARA

CANDI-CANDI DI DATARAN TINGGI DIENG.

Di atas dataran tinggi Dieng masih terdapat beberapa candi Hindu. Candi-candi yang berada di dataran tinggi Dieng, antara lain: Candi Gatutkaca, Arjuna, Semar, Srikandi, Punta dewa, Sembadra. Candi-candi ini, letaknya kurang lebih 2km dari Kawah Sikidang.
Dieng termasuk daerah Tingkat II Kabupaten Wonosobo, Dati I Propinsi Jawa Tengah. Dieng mrupakan daerah pariwisata, pemandangannya sangat indah dan memiliki peninggalan-peningglan sejarah. Suhu-suhu rata-rata berkisar antara 13 sampai 17 derajat Celcius. Di situ terdapat empat telaga vulkanik, yaitu Telaga Warna, Telaga Pelingon, Telaga Siterus dan Bale Kambang. Peninggalan sejarah berbentuk candi-cand, jumlahnya 7 buahdan candi-candi ini sangat tua umumnya.
GAMBAR 27
GAMBAR 27 DITULIS BELAKANGAN.

Candi-candi tersebut dibangun oleh Wangsa Sanjaya. Pada abad ke 8 dan 9, yang ada di Jawa Tengah Utara bersifat Hindu. Candi-candi ini, merupakan tempat Ziarah raja-raja di Jawa Tengah yang beragama Hindu.

CANDI GEDONG SONGO

Candi Gedodng Songo terletak 10 Km dari Ambarawa, di lereng Gunung Unggaran. Candi ini berjumlah sembilan buah dan terpencar di atas bukit-bukit.
GAMBAR 29 DITULIS BELAKANGAN
Antara satu dengan lainnya saling berjauhan letaknya. Candi Gedong Songo termasuk candi tertua di Jawa. Dibangun oleh raja-raja Wangsa Sanjaya. Candi ini dibangun kira-kira pada abad ke 7-8 MCandi ini dibangun kira-kira pada abad ke 7-8 Masehi.

Ciri-Ciri Candi Langgan Jawa Timur

1. Bentuk bangunannya ramping
2. Atapnya merupakan perpaduan tingkatan,
3. Puncaknya berbentuk kubus,
4. Makara tidak ada, dan pintu relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala,
5. Reliefnya timbul sedikit saja, dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit,
6. Letak candi di bagian belakang halaman,
7. Kebanyakan menghadap ke barat,
8. Kebanyakan terbuat dari bata.

CANDI BADUT

Untuk pertama kali Jawa Timur muncul dalam sejarah , pada tahun 760 Msehi. Di desa Dinoyo (sebelah barat laut Malang) ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 760 M, bertuliskan huruf Kawi dan berbahasa Sansekerta. Prasasti ini menceritakan, bahwa pada abad ke 8 ada kerajaan yang berpusat di Kanjuruhan (desa Kajuron sekarang) dengan rajanya bernama Dewa Sinha. Ia berputra Limwa, yang setelah menggantikan ayahnya menjadi raja bernama Gajayana. Gajayana mendirikan sebuah tempat pemujaan untuk Dewa Agastya. Arcanya yang melukiskan Agastya ini dahulu dibuat dari kayu Cendana kemudian diganti dengan arca batu hitam.
Peresmian arca ini dilakukan ada tahun 760 dan upacara dilakukan oleh pendeta-pendeta ahli Weda. Pada kesempatan itu sang Raja menghadiahkan tanah, lembu, budak-budak dan segala yan dierlukan untuk melangsungkan upacara. Juga diperintahkan mendirikan bangunan-bangunan untuk keperluan para Brahman dan para tamu.
GAMBAR 30 DITULIS BELAKANGAN.
Bangunan purbakala yang terdapat di dekat desa Kejuron itu adalah Candi Badut, yang untuk sebagian masih tegak. Dalam candi ini, ternyata bukan arca Agatya yang didapat, melainkan sebuah lingga. Mengingat adanya perkataan “ Putrikeswara” dalam prasati Dinoyo tersebut, mungkinsekali lingga itu merupakan lambang Agastya, yang memang selalu digambarkan seperti Syiwa dalam ujud sebagai Mahaguru.
Apa hubungan kereajaan Kanjuruhan dengan kerajaan Mataram, tidak diketahui. Agama di kedua kerajaan itu adalah agama Syiwa, memuja Agastya menggunakan lingga sebagai lambangnya. Menitik darisudut seni bangunannya. Candi Badut termasuk candi yang berlanggam Jawa Tenga. Kenyataan-kenyataan ini dihubungkan dengan berita Tionghoa, dikatakan oleh Holing antara tahun 742 dan 755 dipindah ke timur, ke Po-lu-kia sieu, oleh Raja Ki-yen.
Jadi jelaslh bahwa candi Badut dibangun pada jaman kerajaan Hindu Mataran.*)
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN
CANDI KIDAL.

Candi Kidal letaknya 7 km sebelah tenggara candi Jago di daerah Pakis, satu tempat antara dua kota Malang dan Tumpang sebuah candi Syiwa, tempat menyimpan abu jenazah raja Anusapati dari kerajaan Singosari. Bangunan ini mulai dipakai sebagai candi, sekitar tahun 1248 M. Candi Kidal terbuat dari batu alam. Denahnya berbentuk persegi empat, dengan bagian bawah yang tinggi dan tangga yang menjorok serta hiasan yang dipahat sangat indah.
Bila kita melihat Candi Kidal, akan teringatlah pada sejarah kerajaan Singosari. Yang menurut Kitab Pararaton kita mengetahui bahwa Anusapati bukanlah anak Ken Dedes dengan Ken Arok, melainkan anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung. Pada waktu Ken Dedes diperistri oleh Ken Arok, ia sedang hamil tiga bulan.sesudah dewa Anusapati mengetahui dari ibunya, bahwa Ken Arok bukanlah ayahnya. Ayahnya yang sebenarnya ialah akuwu Tunggul Ametung, yang telah mati dibunuh oleh Ken Arok. Setelah mengetahui kematian ayahnya, Anusapati ingin membalas kepada Ken Angrok. Kemudian dengan menyuruh seorang pangalasan dari Batil, ia berhasilmelenyapkan Ken Angrok.
GAMBAR 31 DITULIS BELAKANGAN
Sepeninggal Ken Angrok, Anusapati menjadi raja. Ia memerintah selama lebih kurang dua puluh satu tahun (1227 s/d 1248 M). Akhirnya berita kematian Ken Angrok yang dibunuh oleh Anusapati terdengar pula oleh Tohjaya, anak Ken Angrok dari Ken Umang. Panji Tohjaya tidak senag akan kematian ayahnya se4perti itu, dan berusaha pula untuk menuntus balas. Lalu pada tahun 1248 Anusapati dapat dibunuh oleh Tohjaya, ketika keduanya sedang menyambung ayam. Anusapati didharmakan di Kidal*.)
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

CANDDI JAGO

CANDI Jago terletak18 km dari timur Kota Malang, di daerah Tumpang. Candi ini dibangun oelh raja Kertanegara untuk ayahnya, Raja Jaya Wisnuwardhana dari Candi Tumpang; di dalam Nagara Kertagama dinamakan Jajaghu.arsitekturnya khusus, karena dibuat seperti punden di gunung teras punden. Ataponya yang dahulu terdiri darei konstruksi ijuk, kini telah hilang. Candi Jago dihiasi ornamen sangat mewah seta gambar timbul yang melukiskan cerita-cerita binatang, hikayat-hikayat Kunja rakanda, Arjuna dan Kresna. Tokoh-tokohnya berbadan bungkuk, berkepala besar; dikelilingi bunga-bungaan dan tumbuh-tumbuhan; sikap kaki, bahu dan lengan yang tak biasa, menimbulkan kesan seperti wayang. Pada gambar timbul tersebut, sering terdapat lukisan pekarangan rumah dengan bale; seperti yang masih terdapat di Bali dewasa ini, yakni teras (tingkat) dari batu. Di atas teras terdapat empat tiang dengan sebuah atap di atasnya; antara teras dan atap terdapat lantai tempat duduk dari kayu.
GAMBAR 32 DITULIS BELAKANGAN
Gambar di Candi Jago, mirip dengan yang terdapat dei Candi Panataran. Semula ada sebuah arca perwujudan Wisnuwardhana berbewntu amoghapasya, berlengan delapan. Arca-arca lain yang mengelilinginya antara lain Bhrkuti, Symatara, Sudana kumara dan Haygriwa disimpan di museum pusat, Jakarta. Beberapa arca kecil ada di Brit Meuseum London. Pada tahun 1286, kerta negara mengirim sebuah arca yang disatukan dengan arca candi Jago*) ke Jambi agar dipuja rakyat Melayu dan rajanya di Dharmasyraya menjadi sekutu Singosari dalam penaklukan Sriwijaya.
Di halaman Candi Jago, ada pula sebuah arca kecil Bhariwa, yang meungkin merupakan perwujudan Adityawarman ketika masih Werdhamantri di keraton Majapahit. Setelah menjadi Maharajadiraja di suwarnadwipa, adityawarman membuat arca Manjusri di Candi Jago memuat tulisan, sedang dibagian lainnya menyebutkan nama Adityawarman yang mengaku lahir dari keluarga Rajapatni.
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

CANDI SINGOSARI

Candi Singosari letaknya 10 km dari Kota Malang. Candi ini merupakan kuil Syiwa yang besar dan tinggi. Dahulu termasuk dalam kompleks kota Singosari lama. Sekarang tinggal pondamen dan reruntuhan di sana-sini. Banyak patung di candi ini, beberapa diantaranya kini tersimpan dalam museum-museum di Jakarta dan di luar negeri. Kapan candi itu didirikan belum dapat dipastikan, mungkin dalam abad ke 13.
Candi Singosari tempat memuliakan Raja Kertanagara sebagai Bhairawa. Kecuali dimuliakan di Candi Singosari, juga dimuliakan di Candi Jawi sebagai Shyiwa dan Buddha, di Sagala bersama dengan permaisurinya Brajadewi sebagai Jina (Wairocana dan Locana).
GAMBAR 33 DITULIS BELAKANGAN.
Candi ini dibangun tinggi seperti menara dengan dasar tinggi, cella kecil; pintu masuk berhias patung Kala. Pada pintu dan tangga tidak terdapat lagi makara, hanya motif yang serupa garis-garis dan salur-salur bunga. Gaya Singosari kelihatan sekali pengaruhnya di Sumatera, yakni kerjaan Minangkabau, seperti terbukti pada patung Bhairawa di sungai Langsat (Bukittinggi).
Arca Ken dedes sebagai Dewi Prajnaparamita di Candi Singosari, melambangkan kebijaksanaan agung.
GAMBAR 34 DITULIS BELAKANGAN.

CANDI JAWI

Candi Jawi terletak di kaki gunung Welirang, Jawa Timur. Candi ini adalah makan Raja Kertanagara, Raja Singosari, sesuai dengan tradisi agama syiwa-Buddha. Cerita Candi Jawa ini dimuat dalam Negara Kertagama pupuh 56 dan seterusnya, dengan nama Jajawa. Dari tahun 1938 -1940, dilakukan pengerukan dan perbaikan pada candi Jawi, kita akan mengingat peristiwa yang terjadi yang berhubungan dengan peristiwa tersebut.
Demikian ceritanya:
Kmitab Pararaton menceritakan bahwa dalam usaha meruntuhkan kekuasaan Kertanagara, Jayakatwang mendapat bantuan adai Arya Wiraraja, Adiati Sumenep yang telah dijauhkan dari keraton oleh Raja Kertanagara. Wiraraja itulah yang memberitahukan kepada Jaktwang mengenai waktu yang tepat untuk menyerang Singosari, yaitu pada saat sebagian kekuatan tentara Singosari berada di Melayu.*)
Serangan Jakatwang, dilancarkan antara pertengahan bulan Mei dan pertengahan bulan Juni 1292**). Pasukan Kediri di bagi dua, menyerang dari dua arah. Pasukan menyerang dari utara ternyata hanya sekedar untuk menarik pasukan Singosari dari keraton. Dan siasat itu berhasil. Setelah pasukan Singosari di bawah pimpinan Wijaya dan Ardaraja menyerbu ke utara serta mengejar musuh yang selalu bergerak mundur, maka pasukan Jakatwang yang menyerang dari arah selatan menyerbu ke keraton, dan berhasil membunuh Kertanagara yang menurut Pararaton sedang bermabuk-mabukan. Sumber lain menyebutkan bahwa Raja Kertanagar meninggal bersama para Brahmana.

Jadi rupanya raj sedang melakukanm upacara ke agamaan. Dengan gugurnya raja Kertanagara pada tahun 1292, seluruh kerajaan Singosari dikuasai oleh Jakatwang. Raja Kertanagara dicandikan di Singosari dengan tiga arca perwujudan, yang melambangkan Trikarya, yaitu sebagai Syiwa _ Buddha dalam bentuk Bhairawa yang melambangkan Nirmanakaya, sebagai Ardhanari lambang Sambhogakaya, Sambhogakaya, dan sebagai Jina dalam Aksobhya yang melambangkan dharmmakaya*). Masih ada satu tempat lagi ayng biasanya ditafsirkan tempat pecandian raja Kertanegara, ialah Candi Jawi.
Candi Jawi, menurut Kakawin Nagara kertagama, dibuat oleh Raja Kertanagara sendiri. Di dalam kitab ini, Candi Jawi dilukiskan sebagai bersifat Syiwa dibagian bawah danbersifat Buddha di puncaknya. Di dalamnya terdapat arca Syiwa yang sangat indah dan Aksobhya di atas mahkotanya. Tetapi karena Kelurahan dhatnya, yaitu sunyata, maka arca Aksobhya itu hilang. Di bagian lain, dikatakan bahwa hilangnya arca tersebut disebabkan jarena candinya disambar petir ada tahun 1331.**)
Penelitian di candi Jawi menunjukkan, bahwa ternyata memang pernah dilakukan pemugaran terhadap candi itu pada masa yang lampau. Antara lain karena kelihatan dengan nyata, bahwa kaki candi dan sebagian tubuhnya terbuat dari jenis batu lain dari puncaknya yang berbentuk dagob. Seklain itu sebagian besar arcanya terdapat dalam keadaan hancur. Sperti dinyatakan di dalam kakawin Negarakertagama, memang arca induknya ialah Syiwa Mahadewa yang tinggal kepala saja. Juga dengan masih didapatkan bagian-bagian arca Ardhanari, Brahmana, Ganesya dan dua arca lainnya, serta sebuah arca Durga dan Nandiswara yang masih utuh. Didapatkan juga sebuah batu candi berangka tahun saka 1254 (1332 M). Mungkin sekali angka pemugaran Candi Jaei, setelah disambar petir pada tahun 1331.
CATATAN KAKI DITULIS BELAKANGAN.

CANDI PANATARAN

Candi Panataran terletak 11 km dari kota Blitar. Kompleks pecandian terletak di Desa Panataran, Kecamatan Ngelengok, Daerah Tingkat II Kabupaten Blitar, Propinsi Jawa Timur. Kompleks ini, semula di kelilingi tembok dengan gerbang masuk di sisi barat dan kini tinggal sisa-sisanya. Antara lain dua buah arca Dwarapala, yaitu arca raksasa penjaga pintu.
GAMBAR 35 DITULIS BELAKANGAN
Luas kompleks percandian 180 m x 60 m, terbagi dalam tiga halaman. Pada halaman paling barat terdapat tiga bangunan utama, yaitu: di sudut barat laut, sebuah teras memanjang dari utara ke selatan (di Bali disebut “ Bale Agung”) sebuah teras lain yang biasa disebut “Pendopo Teras”, terdapat di tengah halaman dan berpahatkan angka 12 97 Saka (1375 M); bangunan utama ke-3 ialah sebuah candi indah yang biasa disebut “ Candi Angka Tahun”, karena di atas pintu masuk terdapat pahatan angka 1291 Saka ( 1369 Masehi); candi inilah yang dikenal umum sebagai Candi Panataran.
Pada halaman tengah, terdapat candi Naga sebagai bangunan penting. Diberi nama demikian , pelipit atas tubuh candinya dihias pahatan ular besar melingkar disekelilingnya. Di halaman timur, terdapat Candi induk yang terdiri dari tiga tingkat. Pada tingkat pertama terdapat pahatan relief Ramayana, dan adegan Hanoman datang di Alengka sebagai utusan Rama, sampai dengan tewanya Kumbakarna.
GAMBAR 36 DIDTULIS BELAKANGAN

Jalan cerita relief ini, mulai dari atas halaman tempat candi induk dan dengan mengikuti arah yang berlawanan dengan jalannya jarum jam, dimulai dari sudut sebelah barat. Pada tingkat kedua dipahatkan cerita Kreisynayana; cerita yang mengisahkan bagaimana Krisyna mem[eroleh istrinya, Rukmini. Rellief ceritanya dimulai dari sisi barat, tepat disebelah kanan (utara) tangga naik menuju tingkat ke dua dan berkeliling menurut arah jarum jam. Tingkat ke 3 tidak berpahatkan relief cerita, hanya berhiaskan pahatan naga dan singa bersayap yang amat indah. Bagian atas dan atap candi induk sudah tidak ada; mungkin dahulu dibuat dari kayu. Di luar komplek halaman masih ada dua peninggalan penting, sebuah di sudut tenggara halaman, berupa sebuah pemandian dengan pahatan angka 1337 Saka ( 1215 Masehi); sebuah lainnya terletak kurang lebih 200 meter di timur laut halaman, juga sebuah pemandian yang menghadap ke arah barat.

CANDI RIBI

Candi Ribi terdapat di Desa Pulosari, kecamatan Bareng, daerah Tingkat II Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur. Bangunannya dibuat dari batu dan merupakan peninggalan jaman Majapahit, kira-kira pada abad ke 14. beberapa arca yang indah ialah arca Parwati, yang m,erupakan p[erwujudan Tribuwana. Arca ini disimpan di museum Pusat Jakarta.
Tribuwana Tunggadewi Jayawisnuwardani adalah Raja Majapahit yang bertahta pada tahun 1328-1350. dari masa pemerintahan Tunggadewi, telah terjadi pemberontakan di Sadeng. Pemberontakan itu dapat dipadamkan oleh Gajah Mada*).
CATATAN KAKI DITULIS SBELAKANGAN
Dalam kitab Pararaton, menyebutkan sebuah peristiwa yang kemudian amat terkenal dalam sejarah, yaitu Sumpah Palapa Gajah Mada.
GAMBAR 37 DITULIS BELAKANGAN.

BAJANG RATU.

Bajang Ratu adalah gapura yang terbuat dari batu bara di daerah Trowulan, situs Kota Majapahit. Gapura ini beruliran dari atas sampai bawah. Jenisnya: gapura tertutup yang berbeda dengan Waringin Lawang, sebuah Gapura, di daerah Trowulan juga yang bentuknya termasuk candi bentar.
Melihat kelaziman di Bali, maka candi bentar adalah gapura masuk ke gugusan kraton. Sedangkan gapura tertutup ada dalam gugusan keraton, maka Bajang ratu termasuk di dalam keraton Majapahit atau gugusan sebuah tempat kediaman anggota kerajaan. Menurut cerita setempat, gapura ini dilalui bangsawan Majapahit yang lari ketika Majapahit diserang oleh tentara Raja-raja Islam pada tahun 1478. menurut tradisi setempat, seorang pegawai negeri tak boleh naik ke atas gapura, karena ia dapat terkena sial dan akan diecat dari jabatannya
GAMBAR 38 DITULIS BELAKANGAN..

CANDI-CANDI DI LUAR JAWA

KELOMPOK CANDI MUARA TAKUS
Kelompok Candi Muara Takus teroetak di daerah Propinsi Riau, Sumatera. Letaknya antara Sungai Kampar Kanan dan Sungai Kampar Kiri. Banyak terdapat peninggalan peradaban agama Buddha dari abad ke II dan ke 14; berupa komplek berpagar tembok batu dengan gerbang di utara. Di dalamnya terdapat tempat bangunan, yaitu stupa-stupa: Candi Tua, Candi Bungsu. Mahligai Stupa, dan sebuah teras Candi palangka. Kecuali komplek itu, masih ditemukan bekas-bekas bangunan yang lain.
GAMBAR 39 DIDTULIS BELAKANGAN

KELOMPOK CANDI-CANDI GUNUNG TUA

Gunung Tua adalah kota kecil di Tapanuli Selatan. Di tempat tersebut, pernah ditemukan sisa-sisa biara Buddha dan sebuah arca Lokanantha dengan satu Tara yang mengandung tulisan dalam bahasa Batak, bahwa arca tersebut dibuat oleh juru pandai Surya 1024.
Candi-candi kelompok Gunung Tua ini, terdiri dari berbadai “ Biaro” sebagai candi induk yang letaknya berjauhan. Dari tulisa-tulisan yan didapatkan, dapat dikertahui dengan jelas sifat=sifat Trantayana. Bangunan kuno tersebut oleh orang Tapanuli disebut Bahal, dan kemudian diberi nama “ Biaro Bahal”
Biaro Bahal I,II dan III saling berhubungan dan terdiri dalam satu garis yang lurus. Biari Bahal I adalah yang terbesar, kakinya berhiaskan papan-pap[an disekelilingnya dan berukiran tokoh yaksa yang berkepala hewan sedang menari-nari. Rupa-ruanya para penari itu memakai topeng hewani, se[erti pada upacara di Tibet. Di antara semua papan berhiasan itu ada ukiran singa yang duduk. Di Bahal II, pernah ditemukan sebuah arca Heruka, ialah arca Demonis yang mewujudkan tokoh panteon agama Buddha aliran Mahayana, sekte Bajrayana atau Tatrayana. Heruka berdiri di atas jenazah dalam sikap menari; pada tangan kanannya memegang tongkat. Bahal III berukiran hiasan daun.

KELOMPOK CANDI PADAS DI GUNUNG KAWI-TAMPAK
SIRING
KELOMPOK Candi padas di Gunung Kawi ini, terletak di daerah Tampak Siring, Bali. Candi ini merupakan makam Raja Bali yang bernama Anak Wungsu. Raja Anak Wungsu ioni adalah putera dari Raja Udayanna yang bungsu. Putera Raja Udayana yang sulung adalah Airlangga, yakni memerintah di Jawa Timur. Anak Raja Udayana, yakni Airlangga yang kemudian kawin dengan puteri Raja Darmawangsa di Jawa Timur.
Marakata yang kemudian menggantikan raja Udayana dan Anak Wungsu, menggantikan kakaknya Marakata. Marakata wafat antara tahun 1025 Masehi. Marakata dimakamkan di Camara. Dimana Camara ini, nelum diketahui secara tepat. Namun letaknya di kaki Gunung Agung.
GAMBAR 41 DITULIS BELAKANGAN.
Permaisuri Udayanga yang bernama Mahendradatta, wafat pada tahun 1010 dan dimakamkan di Burwan (Kutri dekat Gianyar) serta diwujudkan sebagai Durga.
GAMBAR 42 DITULIS BELAKANGAN.

Anak wungsu adalah pengganti Marakata. Raja ini memerintah sekitar tahun 1049. selam masa pemerintahannya, Anak Wungsu meninggalkan cukup banyak prasasti, yaitu 28 buah. Di samping itu masih ada lagi beberapa buah prasasti di Goa Gajah, Gunung Panulisan dan Sangit.
Anak Wungsu memerintah Bali paling sedikit 28 tahun. Pemerintahannya berjalan dengan aman dan tenteram. Anak Wungsu sangat dicintai oelh rakyatnya. Ia dekat dengan rakyatnya. Hal tersebut terbukti dengan oeninggalan prasatinya yang menyebar diseluruh Bali. Oleh rakyatnya, Anak Wungsu dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Anak Wungsu merupakan pengganti aliran Waisnawa, dengan catatan bahwa ia tidak melupakan pula kebaktiannya terhadap dewa-dewa Trimurti lainnya, terutama Dewa Syiwa. Sedangkan rakyatnya menganut agam Syiwa dan agama Buddha.
GAMBAR 43 DITULIS BELAKANGAN.
Pada saat pemerintahan raja Anak Wungsu perdagangan juga sangat maju sehingga sudah melakukan perdagangan dengan negeri lain. Pada saat itu terkenal adanya wanigrama (saudagar laki-laki) dan wanigrami ( saudagar wanita), yang ikut melaksanakan p[erdagangan demi untuk kemakmuran rakyat/bangsanya. Nama Anak Wungsu harum, seperti nama Airlangga (kakaknya). Be;iau wafat sekitar tahun 1080 Masehi dan dimakamkan di Candi Padas Tampak Siring.


Tinggalkan komentar

CARA TOUR GUIDE MEMBURU INFORMASI BY Iwan Parmal Saputra


Berprofesi sebagai pemandu wisata tentunya tidak akan pernah lepas dengan pencarian ide ide baru, baik itu berupa informasi maupun teknik2 baru. Suatu informasi dan teknik2 baru perlu dikembangkan karena pada khakekatnya kedua hal tersebut akan mengalami penurunan nilai sesuai dengan berkembangnya zaman. Sebuah informasi perlu diupdate setiap saat begitu pula teknik teknik guiding sekarang ini bahkan telah cenderung menjurus kesebuah cita rasa yang lebih tinggi yaitu seni guiding atau the art of guiding. Untuk itu maka para pemandu akan disibukkan dengan pencarian informasi dengan berbagai cara yang sesuai dengan minat dan kenyamanan masing masing.

Pencarian informasi bisa didapatkan melalui berbagai sumber bisa itu sebuh buku, koran, majalah, jurnal, data statistik, dll. Kegitan ini bukan saja akan menguras waktu dan keuangan akan tetapi juga menguras tenaga. Kenapa ? karena kita harus menyediakan waktu dan tempat khusus untuk melakukan itu semua. Untuk menghemat waktu dan keuangan gituuuuu lohhhh..tentu mesti dicarikan sebuah alternatif dimana setiap pemandu wisata dapat mengakses informasi tersebut kapan saja dan dimana saja (bisa di rumah, di bus, kedai kopi, bahkan di rumah pacar sekalipun…Sorry buat yang jomlo) sehingga tidak lagi terhalang oleh jarak dan waktu. Dengan demikian kita tidak akan terlambat dalam mendapatkan informasi termutakhir.

Lalu cara apa yang paling sesuai?….Internet itulah jawabannya.
Dengan internet siapapun apalagi guide tentunya akan mendapatkan sebuah kenyamanan tersendiri bila mengakses informasi sebab selain costnya murah dibandingkan dengan membeli buku atau berlangganan koran atau majalah setiap bulan, juga dapat memperoleh pilihan informasi yang sesuai dengan keinginan. Adanya search machine (mesin pencari ) membuat pencarian informasi bisa jauh lebih cepat dibandingkan dengan browse sebuah buku, koran ataupun majalah, selain itu kita dapat memperoleh informasi yang beragam dari berbagai sumber yang berbeda. Ini dapat merangsang ( jangan diartikan yang macam macam bro) daya analisis kita dalam menyikapi sebuah informasi.

Lalu bagaimana cara melakukan itu semua?…
Segala sesuatu berdasarkan rencana dan kesiapan kita. Namun cara yang paling mudah jelas tidak lagi pergi ke warnet karena menurut saya pribadi warnet adalah sarangnya virus yang setiap saat mengancam data data yang kita punya. Gimana dunk?…lama banget pake muter muter segala!!! sabaar bro caranya gampang, lakukanlah petunjuk seperti di bawah ini:

1. Siapkan mental: sebab yang mentalnya kurang kuat akan angin anginan dikemudian hari.
2. Siap malu bila diketahui nanti tidak dapat mengoperasikan komputer..makanya harus berani nanya.
3. Mengeluarkan kocek: untuk beli sebuah netbook ya ga mahal harganya cuma 2 – 4 jutaan. (bagi guide uang segitu dapat diperoleh dalam beberapa hari)..info: yang bilang mahal itu orang pelit alias kikir bin keked cucunya kedekut. Sorry tidak ada maksud menyindir bro!
4. Keluarkan uang utk kedua kalinya ..apalagi?….sabar bro..sebuah netbook (lap top kecil yang handy dan trandy) dan internet connection. Nah uang ini nanti digunakan untuk membeli seperangkat alat alat shalat…eh sorry… kaya dipernikahan ajah..maksudnya seperangkat alat internet connection berupa, modem, dan kartu perdana internet. Untuk modem yang bagus dan reliable bisa gunakan Huawei tipe E161(dijamin kenceng bro) harganya murah sekitar Rp. 330.000 dan kartu internetnya sementara yang paling terbagus menurut saya adalah “3 (three).
Cape juga nih nulis ..gini ajah supaya lebiih jelas ikuti info di bawah ini dah (saya dapatkan sumber ini dengan cara kopi paste ..hehe biar cepet )

Review Kecepatan Internet Unlimited 3

Referensi dari http://www.ogameslucky.com/review-kecepatan-internet-unlimited-3

by admin on July 4, 2010

Internet Unlimited 3

Rupanya perang tarif provider seluller bukan hanya pada biaya SMS, Telpon (Panggilan) ternyata perang tarif ini mulai merambah ke layanan Internet. Mudah-mudahan ini bukan sekedar perang tarif tapi lebih kepada penyediaan internet murah yang bisa dijangkau semua kalangan untuk berbagi kepentingan online seperti facebook, twitter dll.
Kali ini yang menarik perhatian saya adalah 3 (Three) yang ternyata memberikan penawaran menarik untuk tarif internet unlimited dengan harga super murah, cuma dengan Rp. 25.000 per bulan kita mendapat akses internet dengan kecepatan hingga 1,8 Mbps.
Dengan kuota mulai dari 500MB sampai 5GB, tri menawarkan solusi alternatif internet murah.
Cara daftar internet unlimited tri sangat mudah yaitu cukup dengan mengirim SMS ke 234 dengan format MAU kuota, anda sudah untuk berlangganan internet unlimited 3. Berikut ini adalah cara daftar internet 3 beserta daftar paket internet 3 (tri) :

KIRIM ke 234 (gratis) Kuota/Bln Tarif/bln
MAU 500MB 500 MB Rp. 25 ribu
MAU 1GB 1 GB Rp. 35 ribu
MAU 2GB 2 GB Rp. 50 ribu
MAU 5GB 5 GB Rp. 99 ribu

Untuk berhenti berlangganan internet tri, cukup kirim SMS ke 234 dengan format STOP (spasi) kuota, contoh anda berlangganan internet 3 paket 500MB, maka untuk berhenti berlangganan format SMS adalah : STOP (spasi) 500MB, kirim ke 234.
Setlah pemakaian internet melebihi kuota maka kita masih bisa menikmati layanan internet dengan kecepatan max 64kbps.
Pada dasarnya daftar internet tri ini sangat mudah, karena cukup melakukan SMS, kemudian nanti akan ada SMS balasan dari tri.
Review Kecepatan Internet Unlimited 3
Selain murah tentu saja kecepatan akan menjadi ukuran kualitas layanan internet murah, dan inilah kecepatan internet tri yang saya dapatkan:
Speed 3
Walau Sinyal HSPDA 1 Bar, kecepatan 3 bisa mencapat 178kbps
Kecepatan Tri
Ini lebih mantap lagi, kecepatan internet 3 mencapa1 445.55kbps
Setting User dan Password Internet unlimited 3 (tri) Pada Modem
Untuk dapat menikmati akses internet 3 dengan kualitas broadband HSPDA maka perlu dilakukan setting untuk user dan password three sebagai berikut:

APN : 3data
User : 3data
Password : 3data
Dial Number : *99#
Setting ini saya gunakan pada modem ZTE MF626
Bagaimana Cara Cek Sisa Kuota Pemakaian 3 Unlimited
Banyak dari teman-teman yang berkomentar bertanya bagaimana cara cek sisa kuota pemakaian internet 3, sayangnya sampai sekarang (setidaknya saat saya tulis artikel ini) tri belum menyediakan fasilitas untuk cek sisa pemakaian (quota 3), tapi seperti yang sudah saya sebutkan diatas, walau quota unlimited 3 sudah habis anda masih bisa online dengan kecepatan maksimal 64kbps. Jika pemakaian internet 3 unlimited sudah melebihi kuota maka akan ada SMS dari 3 yang isinya seperti ini
Name/Number: 9090
Time: 2010-07-04 21:09:28
Content: Kamu tlh melebihi kuota,kecepatan max 64kbps.Kirim FREE Nama Paket ke 234 utk dpt tambahan kuota dan kec.normal.Cth FREE 5GB ke 234 utk dptkan kuota 5GB(Rp99rb blmPPN).Pilihan:500MB,1GB,2GB,5GB.Info tarif:hub 200 atau tri.co.id/broadband

Kesimpulan Kecepatan Internet Tri
1. Browsing lumayan cepat, walau membuka beberapa tab sekaligus.
2. Halaman web yang mengandung file flash/animasi lainnya juga cepat tampil sempurna 100%
3. Lancar membuka blogspot terutama saat berkomentar (karena saya bermasalah dengan Indosat 3G yang tidak bisa berkomentar pada blog yang menggunakan mode kotak komentar embeded bellow post).
4. Lancar membuka YM (berbeda dengan Indosat 3G yang sering error / susah konek saat buka YM)
Pada intinya saya merasa cukup puas dengan kecepatan 3.
Tapi ingat, hasil yang saya dapatkan ini bisa saja berbeda dengan hasil yang akan anda dapatkan, karena akses internet dipengaruhi beberapa faktor seperti :
1. Tersedia atau tidaknya jaringan 3G/HSPDA.
2. Sibuk/padat atau tidaknya jaringan yang kita akses.
3. Kualitas sinyal yang kita dapat.
4. Hardware yang digunakan, terutama modem. Karena akses internet di PC menggunakan Hp sebagai modem akan berbeda kecepatannya jika dibandingkan dengan menggunakan modem 3G/HSPDA.
Catatan :
• Kecepatan HSPDA saat ini hanya bisa dinikmati di wilayah Jakarta & Surabaya ( saya sendiri di bogor masih bisa mendapat HSPDA walau 1 bar).
• 3G tersedia di wilayah Jakarta, Surabaya & Denpasar.
• EDGE tersedia di seluruh jaringan tri Indonesia.
• Tarif belum termasuk PPN 10%
• Langganan internet 3 diperpanjang otomatis per 30 hari.
• Jika pulsa tidak mencukupi maka otomatis akan didaftarkan pada paket yang lebih rendah (contoh ketika pulsa tinggal 30 ribu, dan anda daftarkan paket 1GB, maka otomatis anda hanya akan mendapat kuota yang 500MB)

Itulah sedikit review tentang kecepatan internet 3, sengaja saya tidak menggunakan tools/web untuk cek speed internet karena kurang relevan mengingat koneksi internet akan turun naik, jadi saya lebih pilih melihat speed yang ditampilkan oleh software bawaan modem ZTE MF626.

Semoga saja para provider Internet Indonesia akan terus meningkatkan kualitas koneksi mereka, bukan hanya selama masa promosi apalagi cuma perang tarif.
Kesimpulan akhir (sementara) kualitas internet tri unlimited:
Kecepatan :
Lumayan stabil dan cepat termasuk buat streaming youtube (belum pernah saya rasakan lancar membuka video di youtube selama pakai Indosat 3G).
Download :
Ziddu, kecepatan saya dapat 10-20kbps.
Rapidshare, kecepatan three saya dapat 10-50kbps (download video ukuran 11,17MB). Untuk yang lain belum saya tes.
Harga :
Super murah, cuma 25 ribu perbulan bisa online sepuasnya, tentu saja kecepatan akan disesuaikan setelah melebihi kuota, tapi jika dibandingkan dengan provider lain jelas ini sangat murah.
Kemudahan :
Internet dari tri ini sangat mudah digunakan, cuma lewat SMS kita sudah bisa menikmati internet sepuasnya, tidak seperti beberapa provider lain yang mengaruskan membeli modem khusus (biasanya CDMA) yang di lock, atau tidak usah pakai acara beli perdana (harganya lumayan muahaal diatas 100ribu) seperti Telkomflash, Indosat M2.
Hasil yang saya dapat belum tentu sama dengan yang akan anda dapatkan, setidaknya buat saya saat ini tri yang terbaik apalagi jika dibanding Indosat 3G.
Semoga bermanfaat.
Update :
Kekurangan Koneksi Internet Three

1. Rupanya three ini menggunakan shared IP, artinya sangat besar kemungkinan IP yang anda dapat digunakan juga oleh orang lain. Sistem shared IP biasanya akan bermasalah bagi pemain PTC, atau download2 gratisan seperti rapidshare dan paypal. Ini salah satu bukti bahwa tri menggunakan shared IP :
Pesan yang saya dapat saat membuka Neobux. Yang menjadi bukti bahwa ip tri di share.
Another user using your IP address already
viewed this advertisement in the last 24 hours…

2. Ada plugin wordpress yang menolak koneksi dari tri, entah apa nama pluginnya tapi sepertinya plugin anti spam yang mendeteksi IP 3 sebagai spammer karena ada blog yang tidak bisa diakses saat menggunakan tri, dan sepertinya masalah bukan pada server hosting yang menolak/ditolak provider 3, tapi pada blog yang bersangkutan, karena setelah saya cari blog lain yang menggunakan hosting yang sama, saya masih bisa akses.
Update #2
Buat yang sedang mencari cara setting hp untuk dijadikan modem menggunakan kartu 3, silahkan baca postingan berikut ini Cara setting Internetan Menggunakan HP Nokia sebagai Modem ke Komputer
Update #3
Karena banyak yang bertanya tentang perbedaan kartu 3 biasa dengan kartu perdana 3 internet maka saya jawab (sesuai keterangan CS 3 melalui email) bahwa ke dua kartu tersebut tidak memiliki perbedaan spesifik yang artinya semua kartu 3 bisa digunakan untuk berlangganan internet 3 unlimited selama saldo pulsa utama anda mencukupi, ingat pulsa utama bukan pulsa + bonus.
Cara Cek Sisa Kuota Pemakaian Internet 3
Untuk mengetahui berapa banyak pemakaian kuota 3 anda cukup sms dengan format INFO[spasi]DATA kirim ke 234. Tunggu sms balasan dari 3 yang memberikan informasi pemakaian internet 3, contohnya kira2 seperti gambar dibawah ini (saya cek kuota 3 dengan sms melalui modem)
Cek Sisa Pemakaian Internet 3
Solusi Gagal Daftar Internet 3
Belakang banyak yang tanya kenapa selalu gagal daftar internet 3 atau sudah kirim sms MAU tidak mendapat balasan juga, nah untuk mengatasi tidak bisa daftar internet 3 ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

1. Pastikan pulsa utama cukup untuk langganan internet 3, mulai 22 november 2010 harga langganan unlimited 3 untuk 500MB sudah naik menjadi 29.000 (belum PPN) jadi total ditambah PPN adalah 31.900. Ingat pulsa utama bukan pulsa + bonus, cek dulu saldo pulsa anda dengan cara *111*1#. Karena berdasar pengalaman saya kalau pulsa tidak mencukupi tidak akan mendapat balasan dari 3.

2. Kalau daftar dari hp bisa diakses dengan cara *234# & ikuti pentunjuknya.

3. Kalau 2 cara diatas belum mendapat jawaban juga ikuti saran dari abdul hakim , caranya adalah :
ikut bantu jawab ya, coba ketik MAU(SPASI)5GB, walau pulsa anda hanya cukup untuk register yang 500mb, nanti dapet balesan kalo anda bisa nikmati layanan data 500Mb.
ini pengalaman saya blum lama ini.
Itulah sedikit tambahan bagi anda yang tidak berhasil daftar internet 3 (jika tidak berhasil juga coba hubungi CS 3 supaya mereka cek nomor anda)

Selamat mencoba Bro…Ssssst bila udah punya semuanya ini internet tolong digunakan untuk yang baik2 ajah jangan lihat2 yang ga bener
entar bukan belajar malah kepanasan and kecanduan. Pak Haji bilang Terlaaaaaaluuuu. OK udah ah bro mau rehat dulu cape nih.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.